Spesies Langka Khas Indonesia: Spizaetus bartelsi

Ini adalah bagian dari materi kampanye “10 Spesies Khas Indonesia yang Terancam Punah” dalam pagelaran “Pearl Jam Nite V: Do The Greenvolution” tahun 2010 lalu. Semua ilustrasi digambar oleh Davro, sementara materi tulisan disusun oleh saya dan Helman Taofani.

 

Spizaetus bartelsi (gambar oleh Davro)

 

Di antara ragam spesies yang terancam punah, yang harus mati-matian kita pertahankan adalah elang Jawa. Bila burung pemangsa ini punah, yang menjadi pertaruhan adalah usangnya simbol negara, Garuda.

Meski nama Garuda diambil dari karakter mitologi India, tapi model yang diambil sebagai lambang burungnya adalah elang Jawa (Spizaetus bartelsi).

Bagaimana para pendiri bangsa menegaskan elang Jawa sebagai model untuk Garuda tentu tak lepas dari statusnya (dulu) sebagai pemuncak rantai makanan di hutan-hutan di tanah Jawa. Citra sebagai burung yang gagah dan dominan tentu menjadi pengharapan filosofis untuk disematkan ke Indonesia.

Secara morfologis, jambul yang menyembul di bagian belakang kepalanya menjadi ciri khas yang mudah dikenali dari burung yang hanya hidup di pulau Jawa ini. Burung monogami ini hanya menghasilkan satu butir telur sepanjang hidupnya. Maka dari itu, kelestarian spesies ini berada di alarm bahaya ketika pucuk-pucuk pohon yang menjadi tempat mereka bersarang mulai berkurang dengan ekstrim.

Rilisan mutakhir dari The IUCN Red List of Threatened Species, elang Jawa sudah berada di ambang kritis. Dengan tingkat reproduksi yang rendah, tak heran memang bila jumlahnya kian susut dengan angka yang mencekam.

Maka pertaruhannya adalah wawasan kebangsaan kita. Apa jadinya bila kita tak mampu menjaga simbol negara? Mungkin akan sangat aneh bila kanguru dan emu – yang menjadi simbol negara Australia – punah. Itu sebabnya mereka mati-matian menjaga dua binatang simbol negara tersebut.

Langkah serupa harus mulai dipikirkan pemerintah bila burung yang menjadi simbol negara ini masih tetap eksis di alam liar. Memamerkan aura kuasanya di udara hutan-hutan Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *