Mustaine

“Mustaine”. Demikian buku setebal 400 halaman terbitan “!t Books” tahun 2010 itu diberi judul. Sebuah otobiografi mungil berisi kisah hidup dari gitaris/vokalis/penulis lagu yang sangat bertanggung jawab pada ledakan musik metal di akhir ’80-an, Dave Mustaine. Kisah gelap, saya maksud benar-benar gelap dan mengerikan, yang rasanya hanya masuk akal jika diceritakan sendiri oleh… Setan!

 

Paperback: 400 pages
Publisher: It Books; Reprint edition (August 9, 2011)
Language: English
ISBN-10: 0061714402
ISBN-13: 978-0061714405
Product Dimensions: 9 x 6 x 1.1 inches

 

Menjadi pengedar ganja di usia belasan tahun, tak perlu waktu lama bagi dirinya untuk kemudian tenggelam dalam seks bebas, konsumsi alkohol berlebihan, hingga kecanduan heroin dan kokain.

Sepanjang hidupnya (ya, Mustaine masih hidup, aktif menulis lagu, dan tetap bermain di Megadeth hingga hari ini, jika kamu penasaran), dia sudah 17 kali masuk rehab. Bukan angka yang sedikit, untuk ukuran orang yang masih bernafas dan berfungsi di level tertinggi musik metal dunia.

Dua ratus halaman pertama buku ini terasa seperti perjalanan wisata ke neraka.

Bagi saya, yang idolanya adalah Pearl Jam, band kecil dari Seattle yang notabene tidak gemar narkoba dan cenderung anti groupies, membaca “jeroan” Megadeth dalam buku ini benar-benar memberi pamahaman baru tentang musik metal dan segala atribut sampingannya.

“Whoa!”, “Shit!”, atau “Dear, God!” adalah reaksi yang muncul setiap dua atau tiga halaman sekali, hahaha!

Namun, tentu saja, Mustaine adalah gitaris dan penulis lagu yang luar biasa hebat. Dan dia, tak diragukan lagi, adalah musisi sejati. Jenis yang paling mengerikan dari semuanya: musisi yang tak henti berkembang menjadi semakin baik dan tak segan memecat rekan satu band jika kemampuan bermusiknya dirasakan tidak lagi mampu mengikuti perkembangan dirinya. Dan Mustaine, sungguh tidak memiliki rasa sungkan untuk melakukannya!

Hingga detik ini, sudah 18 orang yang pernah menjadi personil resmi Megadeth, dengan Mustaine sebagai satu-satunya anggota asli yang tak tergantikan. Jika kamu adalah musisi metal yang super berbakat, barangkali Megadeth adalah tempat terakhir yang akan kamu datangi untuk mencari pekerjaan bergaji tinggi.

Awal karir musiknya, keikutsertaannya membangun Metallica, dendam kesumatnya pada Lars Ulrich, terbentuknya Megadeth, kesuksesan internasional yang diraihnya, hingga kecanduan narkoba dan kekacauan hidup yang kemudian melanda seiring kesuksesan tersebut, semua diceritakan dengan lugas. Tanpa polesan. Lurus dan keras, seperti sayatan gitarnya.

Terlalu lurus untuk ukuran orang awam seperti saya, sehingga saat membacanya saya mual dan kepala terasa sedikit pusing.

Bagaimanapun, seratus halaman terakhir buku ini, menurut saya, adalah perjalanan yang penuh inspirasi. Sebuah fase hidup yang mungkin tidak semua orang bisa rasakan. Sebuah periode dimana Mustaine lama hancur berantakan, dan kemudian, layaknya burung Phoenix, Mustaine baru muncul dari abu kehancuran itu.

Ini adalah potongan cerita hidupnya yang bisa disederhanakan menjadi dua hal saja: cinta dan Tuhan.

Ya, betapapun miripnya Mustaine dengan sosok iblis, ternyata dia masih bisa diselamatkan (lebih tepatnya, menyelamatkan dirinya sendiri) dari kehancuran total. Adalah istrinya yang cantik dan keyakinannya pada Tuhan yang akhirnya menjadi cahaya pemandu, menuntunnya keluar dari lorong gelap kehidupan yang puluhan tahun telah memerangkap jiwanya.

Alkohol, heroin, kokain, dan seks bebas, beberapa tahun belakangan ini sudah tak lagi menjadi keseharian baginya. Semua sudah menjadi masa lalu. Sampai kapan? Hanya dia, dan barangkali Tuhan, yang tahu.

Mustaine, dengan Megadeth-nya, masih terdengar mengerikan dan 100% metal. Namun hatinya, jika semua yang tertuang dalam otobiografi ini benar-benar jujur, sepertinya sudah penuh dengan cahaya kehidupan. Tak ada lagi dendam disana. Tak ada lagi kegelapan.

Lalu, bagaimana dengan Lars Ulrich?

“Semua dendam itu tak lagi penting. Aku rasa aku sudah memahami peranan Lars dalam hidupku. Yang terpenting adalah menghargai apa yang sudah kuraih. Bukan menyesali segala yang seharusnya bisa kuraih, namun kenyataannya tidak,” demikian Mustaine berujar, menutup babak gelap dari empat puluh tahun pertama hidupnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *