Tag Archives: navicula

Kami No Mori

Navicula adalah bakat dan berkah. Sebagian malah menyebutnya mukjizat. Namun, lebih dari semua itu, Navicula adalah kerja keras. Sangat keras.

 

Kami No Mori – Navicula

 

Jika hari ini nama Navicula diucapkan dengan rasa hormat, bahkan dielu-elukan, maka itu bukan ujug-ujug. Tidak sekonyong-konyong. Bukan konspirasi media demi menipu orang sedunia. Meminjam istilah Tukul, itu adalah kristalisasi keringat mereka.

Sejak September 2012 hingga Januari 2013 mendatang, Navicula (sudah dan akan terus) menggelinding dalam konser-konsernya di Kalimantan, Jakarta, Kanada, Bali, Amerika Serikat, hingga Australia.

Namun, ditengah kesibukan yang kian menggila itu, mereka menepati janjinya: meluncurkan sebuah album kompilasi khusus bagi para pendukung konser kampanye penyelamatan orangutan mereka di pelosok Kalimantan tempo hari.

“Kami No Mori”. Demikian album kompilasi tersebut mereka namai. Itu adalah bahasa Jepang untuk Hutan Para Dewa.

Berisi 13 lagu lama dan baru, album tersebut dapat dibeli secara digital melalui website Navicula seharga US $ 5 atau lebih, terserah pada kesediaan pembelinya.

Lagu favorit saya, tentu saja, adalah dua lagu terbaru mereka yang berjudul “Harimau! Harimau!” dan “Di Rimba”. Dua lagu yang membuat mereka tidak lagi melulu terdengar sangar, melainkan solid, elegan dan sangat dewasa.

2012, yang digembar-gemborkan sebagai tahunnya kiamat, rupanya menjadi matahari baru bagi Navicula. Semua keteguhan hati dan kerja keras mereka berbuah manis. Keberuntungan juga bertubi-tubi menghampiri.

Bicara soal Navicula kini tak sama lagi. Tak ada lagi olok-olok tentang band daerah pra-sejahtera, sebagaimana yang sesekali dilontarkan Robi di panggung.

Navicula, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saat ini tengah berlari kencang menuju ke tingkatan yang lebih tinggi. Yang lebih pantas.

Semoga Tuhan, juga Navicula sendiri, memberkati…

Semakin Radikal

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa Eddie Vedder, selain merupakan seorang vokalis rock kelas dunia yang rendah hati, adalah juga aktivis lingkungan hidup garis keras. Tato di betis kanan bagian dalamnya adalah logo dari Earth First! , sebuah gerakan lingkungan hidup radikal yang menyerukan slogan agresif ini: “Tak ada kompromi dalam membela Ibunda Bumi!”

 

 

Dalam spektrum kehidupan yang berbeda, demikian juga Robi. Vokalis Navicula, kumpulan musisi asal Bali yang digelari Green Grunge Gentlemen ini, tanpa ragu menyatakan diri sebagai sosok yang peduli dan mau repot-repot berbuat banyak demi kelestarian lingkungan hidup.

Tak hanya melantunkan lagu-lagu rock keren bertema lingkungan seperti Zat Hijau Daun, Kali Mati, Over Konsumsi, Metropolutan, hingga Orangutan dan Harimau! Harimau! , Robi menyeret Navicula ke dalam pusaran aktivitas pelestarian lingkungan yang semakin hari semakin radikal. Dan dia, setidaknya dari yang terlihat, melakukan itu semua dengan kesadaran penuh dan semangat petualangan yang polos layaknya seorang anak kecil.

Dalam konser Sound for Orangutan di kantor Rolling Stone Indonesia di Kemang, Jakarta Minggu (30/9) malam tadi, terlihat jelas sudah seradikal apa Navicula saat ini.

Diawali dengan penayangan video petualangan mereka selama di Kalimantan, Navicula malam itu menyuarakan keberpihakannya pada hutan dan hewan-hewan khas Indonesia yang kini terancam musnah oleh perluasan kebun kelapa sawit.

“Awalnya kami bermaksud konser di tengah hutan, namun akhirnya ternyata kami kesulitan mencari hutan di Kalimantan,” seru Robi, separuh berkelakar separuh bersedih.

Sudah separah itukah kerusakan lingkungan di Kalimantan? Sayangnya, ya!

Dalam video singkat itu, terlihat bagaimana Navicula menjadi corong suara, menjadi pengeras isu yang memang sudah genting, bagi masyarakat adat Kalimantan yang kini tersingkir. Mereka, dengan nekat, memposisikan diri di tengah-tengah konflik sosial antara masyarakat adat yang mewakili suara hutan dan hewan-hewan dengan pejabat administrasi negara dan aparat keamanan yang mewakili kepentingan pemodal dan pemilik kebun sawit.

Melihat kehadiran senjata api dan senjata tajam dalam adegan itu, saya berani jamin bahwa ini sama sekali bukan posisi yang ideal, jika mereka ingin berumur panjang dan hidup nyaman tanpa ancaman.

Sejak saat itu, Navicula bukan lagi sekedar musik rock yang keras dan terdengar keren. Lebih dari itu, mereka adalah suara alam Indonesia yang berteriak meminta hak hidup, yang bergaung dalam cara yang semakin radikal…

Navicula Suarakan Penderitaan Orangutan via Crowdfunding

“Dalam kekuatan yang besar terkandung tanggung jawab yang besar pula,” demikian ucapan paling terkenal dari Ben. Dia adalah paman dari Peter Parker, pemuda tanggung yang lebih kita kenal sebagai Spiderman.

 

 

Barangkali itu jugalah yang jadi motivasi bagi Navicula, band grunge paling beken se-Indonesia yang bercokol di Bali. Memiliki popularitas, serta (ini yang lebih penting lagi) kredibilitas tingkat nasional, mereka merasa terpanggil untuk menyuarakan kebaikan. Menyampaikan pesan-pesan pencerahan kepada audiensnya yang luas.

Sejak hari pertama, Navicula memang lantang menyuarakan keberpihakannya pada pelestarian alam. Dan itu bisa dipastikan bukan omong-kosong belaka.

Robi, di sela-sela kesibukannya bernyanyi dan menulis lagu, tak pernah lelah mengkampanyekan semangat peduli lingkungan. Pada penggemar musik grunge, orang pemerintahan, hingga anak-anak sekolah yang masih ingusan. Dan dia melakukannya sepenuh hati, tanpa liputan dari koran maupun televisi.

Belakangan ini bahkan ada kekhawatiran bahwa dia akan pensiun dari bisnis rock dan menjadi petani organik tulen. Lihat saja halaman rumahnya, juga rumah teman-temannya, yang dibajak dan ditanaminya dengan berbagai jenis sayuran!

Maka tak heran jika kampanye penyelamatan Orangutan dari ancaman perkebunan kelapa sawit yang dibungkus dalam sebuah proyek Kickstarter.com bertajuk “Golden Green Grunge for Rare Red Apes: Navicula Borneo Tour” mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Semua percaya bahwa kampanye itu sungguhan. Bukan bagian dari aji mumpung ala artis kebanyakan, demi mendongkrak citra dan popularitas atau sebatas proyek masturbasi Corporate Social Responsibility (CSR) belaka.

Kick off proyek ini dilakukan di Kedai Tjikini, Jakarta, 16 Juni 2012 yang lalu. Saya beruntung bisa hadir dalam konser akustik yang berlangsung seru tersebut. Dalam kesempatan itu, tampil juga Adrian Adioetomo, Dialog Dini Hari, serta Balian yang merupakan side project milik Made Navicula dan Gembul Navicula.

Pada hari Senin, 16 Juli 2012, menyisakan 13 hari dari tenggat waktu, proyek dana bersama (crowdfunding) itu berhasil melewati targetnya yang ditetapkan sebesar US $ 3.000.

Saya sendiri kurang paham apakah itu artinya pengumpulan dana dihentikan atau terus dilanjutkan. Yang jelas, sebagai bagian dari konser kampanye Orangutan ini, Navicula akan tampil di Medan 23-24 Juli 2012 mendatang, sebelum menggelar konser utamanya di Kalimantan.

Medan dan Kalimantan, bersiaplah meraung bersama Navicula!