Dari Bob Dylan untuk Arjen Robben

Akhirnya Arjen Robben lah yang paling pertama menangis di Piala Eropa 2012. Air matanya membasahi rumput di stadion Metalist, Ukraina. Air mata itu, ironisnya, menjadi semir yang membuat sepatu centilnya CR7 semakin mengkilap!

 

Arjen Robben

 

Tiga kali bertanding, tiga kali kalah!

Bagi tim sepakbola kelas dunia seperti Belanda, yang juga adalah finalis Piala Dunia 2010, pencapaian itu bisa dibilang sangat memalukan! Entah akan ditaruh dimana muka Bert van Marwijk dan segenap pemangku jabatan penting di organisasi sepakbola negeri kincir angin itu.

Bersama Robben menangis pulalah seluruh rakyat Belanda. Juga semua penjudi yang barangkali terlanjur mempertaruhkan segalanya pada Belanda.

Namun itulah wajah sepakbola, juga kehidupan, yang sesungguhnya. Omong kosong tentang peringkat, prediksi, dan segala analisis teknis pra-pertandingan lainnya tinggallah omong kosong. Yang menentukan, pada akhirnya, adalah performa di lapangan. Di pertandingan sesungguhnya.

Entah apa yang terjadi dalam rentang dua tahun terakhir ini di tubuh timnas Belanda. Sebuah unit sepakbola yang super efisien menaklukkan lawan-lawannya di Piala Dunia 2010 bisa terpuruk demikian memilukan. Tak mampu memetik satu poin pun dalam tiga pertandingan di babak penyisihan Piala Eropa 2012!

“It’ll soon shake your windows… And rattle your walls… For the times they are a-changin’…”, demikian Bob Dylan bernyanyi.

Barangkali lirik itu cocok sekali untuk merangkum wajah sepakbola Belanda saat ini. Gerombolan jenius bola yang seolah sibuk mengagumi kehebatannya sendiri dan mengabaikan perkembangan terbaru lawan-lawannya.

Untuk Arjen Robben beserta seluruh rakyat Belanda yang sedang meratapi nasib sepakbolanya, kiranya hanya Bob Dylan jugalah yang tahu bagaimana ungkapan terbaik untuk membuat mereka tetap bersemangat dan menegakkan kepala.

“For the loser now… Will be later to win… For the times they, they are a-changin’…”

Lengkung Langit (2012): Bersyukur itu Indah

Beruntunglah Sahabat Pagi yang semalam (14/6) datang ke konser peluncuran album “Lengkung Langit (2012)” milik Dialog Dini Hari (DDH) bersama pacar, istri, atau kekasih gelapnya. Mereka bisa enak-enakan duduk di lantai, berpegangan tangan, dan saling membisikkan bualan tentang cinta, dengan diiringi belasan lagu merdu DDH yang terentang dari album pertama hingga keempat!

 

Sampul album Lengkung Langit (desain oleh Davro)

 

Omong-omong, “Lengkung Langit (2012)” adalah album ketiga mereka. Album keempat masih dalam tahap penggodokan.

Bersyukur. Saya sering sekali mendengar kata ini diucapkan dalam pidato tahunan Jakob Oetama. Tak pernah lelah, dan juga tak pernah bosan, beliau selalu menekankan pentingnya bersyukur dalam menjalani hidup yang semakin hari semakin ruwet ini.

Rupanya itu jugalah semangat “Lengkung Langit (2012)”. Bersyukur.

Pohon Tua, disela-sela penampilannya di Triss Living, Kemang semalam, menyampaikan bahwa album “Lengkung Langit (2012)” adalah

perwujudan rasa syukur DDH atas keindahan hidup dan musik yang sudah mereka reguk selama ini.

Album yang diluncurkan dalam bentuk piringan hitam dengan jumlah sangat terbatas ini juga, dikatakan dengan sangat bangga olehnya, adalah pencapaian musikal yang signifikan bagi DDH dari sisi recording.

Adrian Adioetomo membuka konser intim semalam dengan 4 nomor delta blues. Dua diantaranya disuguhkan menggunakan teknik slide guitar yang sungguh mumpuni. Luar biasa!

Usai konser, dalam sesi ngobrol santai di halaman, dia menyinggung soal gitar yang dipakainya malam itu. Sebuah dobro yang cantik, produksi tahun ‘30an. Alamak!

Sesi DDH dimulai dengan penayangan klip video lagu “Lengkung Langit”. Dalam klip itu, DDH menampilkan wajahnya yang lucu, ceria, dan penuh canda.

“Manuskirp Telaga” dibawakan Pohon Tua sendirian saja, bertemankan gitar kopong andalannya dan harmonika. Suasana mendadak jadi syahdu. Nyaris mistis.

Berturut-turut kemudian DDH menyuguhkan “Beranda Taman Hati”, “Pelangi”, “Satu Cinta”, “Renovasi Otak”, “Rehat Sekejap”, “Aku Dimana”, “Pohon Tua Bersandar”, “Tentang Rumahku”, “Pagi”, “Aku adalah Kamu”, “Lagu Cinta” dan “Lengkung Langit” feat Tika, “Oksigen”, serta “Hati-hati di Jalan”.

Koor audiens paling seru, seperti biasa, terjadi saat “Pagi” dan “Oksigen” membahana. Ruang Triss Living yang disesaki Sahabat Pagi malam itu bergemuruh. Konser akustik, dengan band, audiens, tata suara, dan rancang ruang yang tepat, sungguh bisa benar-benar menggetarkan jiwa!

Bagi saya, tentu saja, “Tentang Rumahku” adalah yang paling indah. Sebuah lagu sederhana yang membongkar definisi usang kita tentang konsep rumah. Sebuah lagu tentang jiwa yang merdeka. Indah…

Keceriaan, keintiman, dan semangat kegembiraan malam itu mendadak sirna ketika “Pohon Tua Bersandar” berkumandang.

Udara di sekitar Pohon Tua seolah tersedot habis. Hampa.

Semburat aura gelap menyeruak dari dirinya. Pohon Tua, dalam meditasi lagunya, seakan terhisap kembali ke masa-masa gelap dalam hidupnya. Ke periode yang demikian menekan dan menghancurkan. Ke sumber sesungguhnya dari mana lagu ini berasal. Ke kepedihan…

“Pohon Tua Bersandar”, sebagaimana pernah dia ceritakan kepada saya dalam sebuah kesempatan, adalah ibu dari semua lagu. Itulah lagunya lagu. Sesungguhnya lagu.

Namun DDH bukanlah kegelapan. DDH adalah jawaban manis pada pahitnya kehidupan. DDH adalah rasa syukur. DDH adalah cinta.

Maka sesuai namanya, Pohon Tua, Brozio, dan Deny akhirnya benar-benar menyuguhkan dialog dalam nada, ketika dengan ringan, elegan, dan luar biasa mempesona mereka membawakan “Aku Dimana” sembari bertukar kata sesama mereka dan ke Sahabat Pagi yang setia menikmati, menyesap wine, dan menyuguhkan aksi solo menggunakan instrumennya masing-masing.

Wine yang mereka reguk malam itu, omong-omong, rasanya nikmat sekali! Sayang saya hanya bisa mencuri segelas saja.

Malam itu, di hadapan segenap Sahabat Pagi, DDH meluncurkan album terbarunya. Dalam damai musiknya, DDH menyampaikan pesannya pada dunia: tak peduli sekalut apapun hidup ini, kita selalu bisa mengandalkan cinta. Cinta, cinta, dan hanya cinta…

So, Sahabat Pagi di seluruh Indonesia, salam beribu cinta!

Prometheus (2012): Upaya Menjawab Pertanyaan Besar Manusia

“Prometheus (2012)”, film fiksi ilmiah garapan Ridley Scott ini banyak disebut-sebut sebagai prekuel dari “Alien (1979)” garapan sutradara yang sama. Bukan! Ini adalah sesuatu yang lain. Setidaknya, itulah kesimpulan saya yang sedikit banyak didukung oleh pernyataan sang sutradara dan Damon Lindelof (penulis skenario kedua, setelah Jon Sphaits) diberbagai kesempatan.

 

Prometheus (2012)

 

Film ini tidak menyuguhkan rentetan aksi seru kejar-kejaran manusia melawan makhluk asing yang haus darah. Tidak juga parade senjata berat penghancur raksasa dari luar angkasa yang gelap. Film ini, dibanding dengan pendahulunya, nyaris tidak mencekam sama sekali.

Namun, tentu saja suguhan visual effect-nya luar biasa mempesona, jika tidak boleh dibilang sempurna. Bahkan dibanding “Avatar (2009)” karya James Cameron yang fenomenal itu, “Prometheus (2012)” boleh dibilang punya kualitas setara!

Tampilan 3D-nya pun sangat mumpuni, mengingat gambar dalam film ini diambil menggunakan kamera 3D yang juga digunakan James Cameron untuk merekam filmnya. So, menonton film ini dalam format 3D sangatlah direkomendasikan.

Jika pernah membaca buku “Contact (1985)” tulisan Carl Sagan atau “Sphere (1987) milik Michael Crichton”, maka “Prometheus (2012)” akan mudah sekali kita pahami.

Film berdurasi 124 menit ini mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dalam kehidupan manusia melalui visual effect-nya yang benar-benar memanjakan mata. Beberapa pertanyaan besar itu diantaranya adalah:

“Dari mana kita berasal?”, “Apa misi kita di dunia?”, dan “Kemana kita pergi setelah ini?”

Menggugah. Membuat gelisah. Bagi sebagian orang, barangkali akan membuat marah.