Rock is Dead!

Sore ini, Rabu (20/6),  15 hari sebelum jadual penyelenggaraannya, Java Rockingland (JRL) 2012 resmi dibatalkan! Adalah Dewi Gontha sendiri yang memberikan pernyataan itu kepada media.

Rock is dead!

 

 

 

Ya, setelah sebelumnya sukses bergulir selama 3 tahun berturut-turut, akhirnya JRL terpaksa dikubur. Ini, tentu saja, sangat erat kaitannya dengan putusnya kerja sama bisnis Java Production selaku penyelenggara dengan sponsor utama mereka, Gudang Garam.

Festival rock terbesar se-Asia Tenggara itu menemui ajalnya di tengah derasnya hujan sindiran dan hujatan calon penonton.

Sejak penjualan tiket pre-sale dibuka dua minggu yang lalu, tak satu pun nama beken yang tercantum di daftar performer JRL 2012. Ini membuat geram sebagian calon penonton, termasuk saya yang memang setiap tahun membeli tiket terusan tanpa terlalu peduli siapa bintang yang bakal dipanggungkan nantinya.

Hawa lesu semakin santer terasa, karena bahkan dua minggu sebelum perhelatan, masih tak ada nama mentereng dari luar negeri yang tercantum di jadual resmi. Sungguh mengkhawatirkan!

Maka ketika gong kematian itu akhirnya benar-benar berbunyi, sebenarnya dampaknya tidaklah terlalu mengagetkan. Jauh-jauh hari, di dalam hati, kita semua juga sudah menduganya.

Ah!Setelah hati nurani pejabat publik mati, sekarang giliran musik rock.

Ya, ya, ya… Di Indonesia, rock is dead!

Di Luar Jakarta Ada Kehidupan Juga, Lho!

Beberapa hari terakhir ini, Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia bikin gerah orang Indonesia, khususnya orang Batak. Mereka berencana memasukkan Tortor dan Paluan Gondang Sambilan dari Mandailing, Sumatera Utara, ke dalam Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005.

Singkat cerita, itu adalah upaya administratif untuk mengesahkan Tortor dan Paluan Gondang Sambilan sebagai budaya asli Malaysia. Upaya-upaya seperti itu, berdasarkan pengalaman selama ini, adalah berita basi dari negara tetangga. Harap maklum saja.

 

 

Yang menarik, setidaknya bagi saya, justru reaksi orang Indonesia sendiri, terutama dari dunia Twitter. Sungguh kocak, mencengangkan, dan barangkali, sedikit memalukan.

Kenapa? Karena yang marak kemudian adalah tweet berisi cemooh terhadap bangsa sendiri.

Intinya, sebagian pengguna Twitter malah menyindir. Mereka bilang: “Emang Tortor masih ada?”, “Memangnya kita pernah peduli sama budaya bangsa?”, atau “Sekarang aja ribut kalo udah mo diklaim Malaysia!”

Semua itu, menurut hemat saya, adalah pernyataan yang keluar dari mulut orang-orang Jakarta. Atau setidaknya, para penduduk kota besar Indonesia. Mereka jarang, atau bahkan tidak pernah, keliling ke daerah.

Mereka tidak tahu bahwa budaya seperti Tortor itu sesungguhnya masih alive and kickin’ di tempat kelahirannya. Bahkan di tempat-tempat yang jauh, dimana orang-orang Batak perantauan bermukim.

Reaksi seperti itu, bagi saya, hanya bermakna satu hal: bahwa orang kota yang gemar menyindir ini perlu memperluas tongkrongannya, tidak mentok seputaran sevel, mal, dan club saja. Mereka ini, sebaiknya, segera diajak travelling keliling Indonesia, hahaha!

Ngopi Yuk!

Ngopi. Ngobrol. Cari ide. Bagi sebagian orang, bahkan hingga hari ini, konsep itu terdengar aneh. Mengada-ada.

Tapi coba lihat!

Saat ini, bahkan bocah-bocah ingusan yang hidupnya masih mengandalkan uang jajan dari orang tua pun sudah pandai nongkrong di kedai kopi modern. Mereka tak canggung memesan berbagai jenis minuman berbasis kopi yang untuk menyebutnya (apalagi menuliskannya) pun sungguh sulit!

 

 

Espresso. Cappuccino. Caffe Americano. Caffe machiato. Dan sebagainya. Dan sebagainya…

Sesungguhnya, konsep “ngopi, ngobrol, cari ide” bukanlah sesuatu yang baru. Konsep itu sudah lahir ratusan tahun yang lalu. Di Arab.

Ya, betul! Di Arab! Bukan di Italia, Perancis, atau Amerika.

Setelah pertama kali “ditemukan” oleh suku Oromo di Ethiopia, kopi kemudian menginvasi dunia Arab. Adalah kaum sufi yang pertama kali menyelundupkan biji kopi dari Ethiopia ke Yaman.

Sejak saat itu, tak butuh waktu lama bagi kopi untuk menjadi primadona dunia. Kedai kopi dengan cepat menjamur di kawasan Arab, bahkan di kota Mekah.

Dulu, pada periode 1.500-an Masehi, para imam di Mekah sempat melarang kehadiran kedai-kedai kopi. Mereka menuding kedai kopi sebagai tempat berkumpulnya para pemberontak. Tempat rencana-rencana jahat disusun.

Rupanya sejak awal kedai kopi memang ditakdirkan menjadi wadah bagi ide-ide liar. Bagi daya hidup yang terus bergejolak, menolak tunduk pada keseragaman jaman yang mengekang.

Kopi, dengan demikian, adalah teman terbaik bagi pikiran dan jiwa yang merdeka!