Review Album Musik: “Revelation of Universe” oleh Freak

IMG_20160425_113844

Ada sedikit nuansa bunyi Nirvana, Silverchair, dan Bush di album terbaru Freak berjudul “Revelation of Universe” yang baru saja diluncurkan 16 April 2016 lalu. Not a bad thing. Mereka terdengar modern dan penuh energi. Sedikit muram dan marah di sana-sini, Freak hadirkan sealbum penuh nuansa musik alternative rock/grunge yang bisa dinikmati tanpa perlu mengerutkan dahi.

Seperti banyak rock band asal Bandung lainnya, mereka sedikit condong ke metal. Sekilas dengar, mereka nyaris terdengar seperti Besok Bubar, namun dengan nada yang lebih manis dan dinamis. Suguhan musik mereka, setidaknya di album ini, memang lumayan banyak memainkan pola keras-sunyi layaknya album awal Silverchair atau, dalam konteks genre, album grunge pada umumnya yang berkiblat ke Nirvana.

“Wayout”, lagu pertama di album ini, sangat kece. Sebagai nomor pembuka, lagu itu terasa energik, modern, manis, dan menggugah semangat perlawanan. Lagu ini adalah sebuah anthem tentang jati diri, tentang perjuangan melawan tudingan sekeliling dan berusaha menggapai impian.

Selanjutnya adalah “Walk This Way”. Masih tetap keras dengan sedikit nada-nada miring. Reff di lagu ini, yang bunyinya “Walk this wayTake my handNo more fearNo more complain…” rasanya bakal sangat enak kalau diteriakkan bersama dalam konser panas tengah malam.

Ya, Freak memang menggunakan bahasa Inggris dalam lirik-lirik lagunya. Di album ini, hanya lagu kesepuluh berjudul “Meliar Terbakar” yang berbahasa Indonesia.

Berurutan kemudian hadir “Fake” yang lumayan banyak menyuguhkan eksplorasi gitar, “We Will Find The Way” yang terdengar sangat manis, “Coming Home” yang menyuguhkan musik bergaya Bush dengan nuansa vokal ala Kurt Cobain, “Get Up” yang sedikit berbau balada, “Mind Control” yang anggun dan kaya nuansa, sekaligus merupakan salah satu favorit saya di album ini, “Say Hello and Goodbye” yang terdengar garage dan mengingatkan saya pada masa-masa kuliah, “Tonight” yang pedih dan sarat perenungan, “Meliar Terbakar” yang sangat metal, dan “The End” yang sesuai judulnya, terdengar seperti lambaian tangan perpisahan.

Secara keseluruhan, album “Revelation of Universe” milik Freak terbilang sangat memuaskan. Fresh. Mereka tidak berkutat di nuansa gelap grunge, tidak juga menyentuh tema-tema putus asa untuk lirik lagunya. Mereka tidak memaksa dirinya untuk terdengar marah dan berbahaya. Sebaliknya, mereka memilih arah bunyi dan tema lagu yang berbeda, yang jauh lebih relevan dengan jaman.

Freak, menurut hemat saya, patut dicermati sepak terjangnya di kemudian hari.

Parahita Nan Sempurna

Malam masih sangat belia ketika “Pohon Tua Bersandar” mengalun di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Kamis, 5 April. Sialnya, saya mendengarkan lagu pembuka konser “Parahita” gelaran G-Production yang memanggungkan DDHEAR (Dialog Dini Hari dan Endah N’ Rhesa) tersebut dari luar ruang konser. Ya, saya dan beberapa penonton lainnya terpaksa menunggu di pintu masuk hingga lagu itu usai. Panitia konser kali ini benar-benar meletakkan musik sebagai menu penting dan melarang penonton yang datang terlambat memasuki gedung konser di tengah-tengah mengalunnya lagu. Cool.

Memasuki ruangan yang hampir sepenuhnya gelap, kecuali area panggung yang bermandikan cahaya lembut, saya melihat bahwa hampir semua kursi penuh terisi. Wow! Jujur saja, dengan harga tiket yang boleh dibilang lumayan mahal, kehadiran demikian banyak penonton membuat saya kagum. Ah, ternyata masih banyak kok penikmat musik sejati yang mau merogoh kocek untuk musisi lokal, asal suguhannya memang berkelas dan pantas.

Saya berani bertaruh, semua penonton yang hadir malam itu akan mengamini bahwa konser “Parahita” sungguh berkelas dan memuaskan!

Saya sama sekali tidak mengenal karya-karya EAR. Memang benar, saya sempat beberapa kali nonton konser mereka, termasuk konser kecil di Rolling Stone Indonesia beberapa tahun lalu, sebelum mereka terkenal seperti saat ini. That’s it. Saya tidak mengikuti sepak terjang mereka. Jadi, semalam, setelah pulang dari konser, saya bertanya ke Dadang melalui Whats App, “Lagu yang tadi blues jamming itu, kayaknya bukan lagu kalian, ya?”

Seperti biasa, nyaris terdengar sombong dan sangat berpuas diri, Dadang membalas, “Semua lagu kita berdua, gak ada cover. Yang bahasa Inggris semua lagu EAR.”

Pagi ini saya cari tahu melalui internet dan ternyata lagu tersebut berjudul “Baby It’s You”. Saya menanyakan lagu tersebut ke Dadang karena itu adalah salah satu momen fenomenal dalam konser “Parahita” tadi malam.

Tampil hanya berdua, Dadang dan Endah menyuguhkan kolaborasi blues yang sungguh aduhai. Setelah membuka lagu dengan permainan slide guitar yang mumpuni, Dadang kemudian dengan sangat fasih meningkahi permainan gitar Endah, yang menurut hemat saya, terbilang ciamik. Berdua, mereka silih berganti menyemburkan nada-nada blues dari senar gitar dan pita suara yang kadang terdengar merdu, kadang penuh energi, dan sesekali bebas lepas seperti ledakan gunung berapi.

Malam itu sepertinya memang digariskan untuk jadi pameran kesaktian masing-masing anggota DDHEAR. Brozio gonta-ganti instrumen, dari bass ke keyboard ke pianika hingga ke solo performance membawakan lagu manis milik EAR berjudul “When You Love Someone”. Tidak cukup sampai di situ, pada penghujung konser, saat membawakan “Oksigen”, dia juga bergantian unjuk gigi dengan Rhesa, menyuguhkan solo bass yang keren. Deny, jangan ditanya. Saking dahsyat permainannya, saya sampai lupa di lagu apa dia menghantam dengan solo drum yang luar biasa mempesona. Dia, menurut saya, DNA sejatinya adalah rocker.

Singkat cerita, DDHEAR memang sakti!

Yang menarik, setidaknya bagi saya, tentu saja Dadang. Memulai konser dengan sedikit gugup, dia lambat laun menguasai keadaan dan membuat suasana menjadi hangat dengan celetukan-celetukan garingnya. Ya, dia memang garing. Tapi, ini anehnya, kegaringan itu justru terasa pas pada tempatnya. Kepolosan kata-katanya seolah menjadi pelengkap bagi kalimat-kalimat terpelajar yang sering disisipkan Endah dalam sapaannya kepada penonton di setiap jeda antar lagu.

Usai Rhesa memamerkan solo bass yang keren sekaligus menghibur, Dadang nyeletuk, “Sudah paham kan, kenapa kita bisa main di Java Jazz? Gara-gara dia, tuh!” Atau, selesai Brozio membawakan solo performance “When You Love Someone”, Dadang masuk ke panggung dan bilang, “Habis Zio nyanyi, kayaknya aku jadi gak asyik gini. Menang gimbal doang.” Contoh lain, “Aku barusan dikasih baju nih, sama Rhesa. Katanya biar kayak aktivis. Omong-omong, aktivis sebelah lagi ulang tahun, tuh!” Tentu saja yang dimaksud adalah Robi Navicula, yang hari itu memang kebetulan sedang berulang tahun.

Suasana ruang konser yang memang didesain untuk menikmati suguhan musik seutuhnya, ditambah dengan sajian DDHEAR yang luar biasa memukau, semua kemudian disempurnakan oleh kehangatan yang terbangun antara penonton dan penampil. Gelak tawa, koor massal, dan riuh tepuk tangan bersatu menjadi narasi utuh dari sebuah pertunjukan musik nan berkelas. Sungguh, konser “Parahita” tadi malam adalah menu musik bergizi tinggi. Saya hanya bisa berdo’a semoga suguhan seperti ini bakal semakin marak dan jamak untuk kita nikmati.

Jiwa yang Berani dalam Kata-kata

Che dan Robi di Filosofi Kopi
Che dan Robi di Filosofi Kopi

Ya, saya tahu. Lagu “Jiwa yang Berani” belum resmi dirilis. Di dunia ini, barangkali tidak sampai 100 orang saja yang pernah mendengarnya. Meski, tentu saja, saya sudah mendengarkan versi akhirnya puluhan kali banyaknya. Bukan lantaran lagu itu khusus ditulis Che Cupumanik dan Robi Navicula untuk buku saya yang berjudul “Rock Memberontak”, melainkan karena saya memang menyukainya. Mencintainya, bahkan.

Karena kita semua, termasuk saya sendiri, tidak tahu kapan lagu tersebut akan dirilis ke publik, kali ini saya deskripsikan saja dalam kata-kata.

Lagu dibuka dengan petikan gitar. Kering, nyaris terdengar seperti bunyi kayu. Tak berapa lama, vokal Robi masuk, membawakan bait “Bawakan aku bintang dalam pekatnya malam yang kelam… Bawakan aku sinar, ciptakan suar terangi jalan…”. Bersamaan dengan pukulan drum yang jatuh berdentam di kejauhan, Che menyusul. “Mimpi menjadi api hanyalah untuk jiwa yang berani… Cinta yang tak pernah beku bersemayan dekat dengan jantungku…”

Setelah itu, lagu berganti arah. Kelar bagian intro dan verse yang  bernuansa industrial layaknya Nine Inch Nails dengan sentuhan modern berbau Incubus, bagian selanjutnya menghantam keras. Raungan gitar dipadu berondongan drum yang terdengar liar, nyaris seperti permainan Keith Moon. Bersama, Che dan Robi menyanyikan “Lipat gandakan senjata walau diancam bahaya… Kita manusia merdeka dan ini bukan dosa…”

Memasuki reff, nuansa grunge menyeruak. Bukan grunge yang gelap seperti Alice in Chains, melainkan yang manis dan nyaris terdengar pop layaknya Nirvana dan Foo Fighters.

“Kita rangkai harapan… Kan kuberi pengorbanan… Atas nama karya…” demikian bait dalam reff berbunyi, berulang sebanyak dua kali, sebelum kemudian ditutup dengan sedikit hentakan dan lagu kembali masuk ke mode petikan gitar.

Dari situ, verse hingga reff diulang penuh. Tidak ada sesuatu yang baru, sampai kemudian solo guitar Ian Zat Kimia memecah pola. Gitarnya meraung seperti lepas dari kerangka lagu. Menembus dinding telinga dan kemudian menancap di kepala. Terjun bebas ke dalam hati dan bersemayam di sana. Raungan gitar itu, bagi saya, adalah pernyataan keras untuk melupakan grunge sebagaimana yang selama ini kita imani dan bergerak maju.

Raungan gitar itu sungguh brutal, megah, dan anggun. Tiga puluh lima detik yang terdengar indah di telinga.

“Jiwa yang Berani”, bagi saya, dan barangkali bagi kalian semua nantinya (kalau akhirnya lagu ini dirilis ke publik), adalah ajakan yang sangat berani untuk terus berkarya, menembus batas-batas yang ada, dan meninggalkan definisi grunge yang sudah usang.

Beli buku Rock Memberontak.