Category Archives: Movies

Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012)

Pernahkah terlintas pikiran seperti ini saat menonton film di bioskop: “Ide cerita yang demikian bodoh, kok ada ya yang mau mendanai pembuatannya hingga puluhan (bahkan ratusan) juta dolar?” Nah, film “Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012)” ini adalah jenis film yang membuat saya berpikir demikian.

 

 

Konsep bahwa presiden AS yang mengesahkan undang-undang anti perbudakan adalah seorang pemburu vampir sungguh absurd. Ditambah dengan alur cerita yang menikung tak tentu arah, salah satunya adalah cerita tentang disewanya gerombolan vampir oleh pasukan Konfederasi untuk melawan pasukan Union, sempurnalah olok-olok sejarah dalam film ini.

Namun demikian, dengan bujet film senilai US $ 70 juta, sajian evek visual dalam film ini tentu saja memukau. Jika yang dicari adalah adegan berkelahi, aksi penuh ledakan, dan ceceran darah, ini adalah film yang cocok dan cukup menghibur.

Suksesnya penjualan novel Twilight series yang kemudian juga meledak di layar perak rupanya memberi inspirasi ke banyak orang untuk menulis cerita tentang vampir yang meleset dari koridor umum.

Ya, saya bukan penggemar cerita tentang vampir pop. Jika ada film tentang vampir yang saya harapkan kemunculannya, itu adalah adaptasi dari novel The Historian buah karya Elizabeth Kostova.

Menonton “Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012)” rasanya seperti makan junk food. Tak ada pengetahuan berharga yang kita dapatkan, lebih-lebih inspirasi. Seperti junk food, film ini begitu saja masuk ke diri kita dan segera keluar untuk kemudian dilupakan.

Benarlah kata seorang teman saya di Twitter ketika itu, “Wustuk, save your money!

Prometheus (2012): Upaya Menjawab Pertanyaan Besar Manusia

“Prometheus (2012)”, film fiksi ilmiah garapan Ridley Scott ini banyak disebut-sebut sebagai prekuel dari “Alien (1979)” garapan sutradara yang sama. Bukan! Ini adalah sesuatu yang lain. Setidaknya, itulah kesimpulan saya yang sedikit banyak didukung oleh pernyataan sang sutradara dan Damon Lindelof (penulis skenario kedua, setelah Jon Sphaits) diberbagai kesempatan.

 

Prometheus (2012)

 

Film ini tidak menyuguhkan rentetan aksi seru kejar-kejaran manusia melawan makhluk asing yang haus darah. Tidak juga parade senjata berat penghancur raksasa dari luar angkasa yang gelap. Film ini, dibanding dengan pendahulunya, nyaris tidak mencekam sama sekali.

Namun, tentu saja suguhan visual effect-nya luar biasa mempesona, jika tidak boleh dibilang sempurna. Bahkan dibanding “Avatar (2009)” karya James Cameron yang fenomenal itu, “Prometheus (2012)” boleh dibilang punya kualitas setara!

Tampilan 3D-nya pun sangat mumpuni, mengingat gambar dalam film ini diambil menggunakan kamera 3D yang juga digunakan James Cameron untuk merekam filmnya. So, menonton film ini dalam format 3D sangatlah direkomendasikan.

Jika pernah membaca buku “Contact (1985)” tulisan Carl Sagan atau “Sphere (1987) milik Michael Crichton”, maka “Prometheus (2012)” akan mudah sekali kita pahami.

Film berdurasi 124 menit ini mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dalam kehidupan manusia melalui visual effect-nya yang benar-benar memanjakan mata. Beberapa pertanyaan besar itu diantaranya adalah:

“Dari mana kita berasal?”, “Apa misi kita di dunia?”, dan “Kemana kita pergi setelah ini?”

Menggugah. Membuat gelisah. Bagi sebagian orang, barangkali akan membuat marah.