Category Archives: Movies

The Amazing Spiderman (2012)

Sosok Andrew Garfield jelas jauh sekali berbeda dibanding Tobey Maguire. Melalui dirinya, Spiderman menjadi lebih gelap, serius, galau, dan berbau jalanan. Kesan muda, culun, rumahan, dan antusias yang ditampilkan dalam ketiga film Spiderman sebelumnya, lenyap.

 

 

Sebagian lebih menyukainya. Sebagian barangkali tidak. Saya sendiri, sayangnya, tidak bisa menentukan pilihan dengan pasti.

Spiderman, bagi saya, adalah sosok yang luar biasa menarik. Melihat dia bergelantungan di gedung-gedung pencakar langit kota New York memberi sensasi tersendiri. Sensasi kebebasan. Ketegangan. Sensasi petualangan. Hidup.

Dengan demikian, saya memang tidak pernah terlalu peduli pada sosok dibalik topeng laba-laba itu. Peter Parker.

Satu-satunya alasan keberadaan Peter Parker, menurut saya, adalah agar Spiderman punya kehidupan normal, sebagai manusia, yang mudah kita mengerti.

Dengan dana produksi sebesar US $ 220 juta, “The Amazing Spiderman (2012)”, tak perlu diragukan lagi, berhasil menyuguhkan wisata visual yang memukau. Jika ada yang terasa kurang, barangkali itu adalah sosok The Lizard yang kurang sangar untuk standar musuh bebuyutan jagoan dunia sekelas Spiderman.

Salahkan tim produksi film ini, karena sosok The Lizard sesungguhnya sangat sangar sampai-sampai terpilih sebagai urutan ke-62 penjahat dalam komik yang paling bengis sepanjang masa!

Dan alur ceritanya, ah! “The Amazing Spiderman (2012)” kelewat banyak menampilkan hal-hal klise. Disamping itu, terasa betul bahwa banyak hal yang dipaksakan dalam cerita kali ini.

Jika kita memang mengikuti Spiderman dari mulai komik, film kartun, hingga layar lebar, maka “The Amazing Spiderman (2012)” seolah ditulis oleh pengarang yang tidak sepenuhnya memahami karakter Spiderman maupun Peter Parker.

Benarkah demikian? Tidak! Salah satu penulisnya, Alvin Sargent, adalah juga penulis bagi ketiga film Spiderman sebelumnya.

Barangkali dia kalah suara dari dua rekan penulisnya, James Vanderbilt dan Steve Kloves. Juga dari sang sutradara Marc Webb, yang menggantikan posisi Sam Raimi.

Namun demikian, untuk hiburan musim kemarau, rasanya “The Amazing Spiderman (2012)” sudah lebih dari cukup!

Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012)

Pernahkah terlintas pikiran seperti ini saat menonton film di bioskop: “Ide cerita yang demikian bodoh, kok ada ya yang mau mendanai pembuatannya hingga puluhan (bahkan ratusan) juta dolar?” Nah, film “Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012)” ini adalah jenis film yang membuat saya berpikir demikian.

 

 

Konsep bahwa presiden AS yang mengesahkan undang-undang anti perbudakan adalah seorang pemburu vampir sungguh absurd. Ditambah dengan alur cerita yang menikung tak tentu arah, salah satunya adalah cerita tentang disewanya gerombolan vampir oleh pasukan Konfederasi untuk melawan pasukan Union, sempurnalah olok-olok sejarah dalam film ini.

Namun demikian, dengan bujet film senilai US $ 70 juta, sajian evek visual dalam film ini tentu saja memukau. Jika yang dicari adalah adegan berkelahi, aksi penuh ledakan, dan ceceran darah, ini adalah film yang cocok dan cukup menghibur.

Suksesnya penjualan novel Twilight series yang kemudian juga meledak di layar perak rupanya memberi inspirasi ke banyak orang untuk menulis cerita tentang vampir yang meleset dari koridor umum.

Ya, saya bukan penggemar cerita tentang vampir pop. Jika ada film tentang vampir yang saya harapkan kemunculannya, itu adalah adaptasi dari novel The Historian buah karya Elizabeth Kostova.

Menonton “Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012)” rasanya seperti makan junk food. Tak ada pengetahuan berharga yang kita dapatkan, lebih-lebih inspirasi. Seperti junk food, film ini begitu saja masuk ke diri kita dan segera keluar untuk kemudian dilupakan.

Benarlah kata seorang teman saya di Twitter ketika itu, “Wustuk, save your money!

Prometheus (2012): Upaya Menjawab Pertanyaan Besar Manusia

“Prometheus (2012)”, film fiksi ilmiah garapan Ridley Scott ini banyak disebut-sebut sebagai prekuel dari “Alien (1979)” garapan sutradara yang sama. Bukan! Ini adalah sesuatu yang lain. Setidaknya, itulah kesimpulan saya yang sedikit banyak didukung oleh pernyataan sang sutradara dan Damon Lindelof (penulis skenario kedua, setelah Jon Sphaits) diberbagai kesempatan.

 

Prometheus (2012)

 

Film ini tidak menyuguhkan rentetan aksi seru kejar-kejaran manusia melawan makhluk asing yang haus darah. Tidak juga parade senjata berat penghancur raksasa dari luar angkasa yang gelap. Film ini, dibanding dengan pendahulunya, nyaris tidak mencekam sama sekali.

Namun, tentu saja suguhan visual effect-nya luar biasa mempesona, jika tidak boleh dibilang sempurna. Bahkan dibanding “Avatar (2009)” karya James Cameron yang fenomenal itu, “Prometheus (2012)” boleh dibilang punya kualitas setara!

Tampilan 3D-nya pun sangat mumpuni, mengingat gambar dalam film ini diambil menggunakan kamera 3D yang juga digunakan James Cameron untuk merekam filmnya. So, menonton film ini dalam format 3D sangatlah direkomendasikan.

Jika pernah membaca buku “Contact (1985)” tulisan Carl Sagan atau “Sphere (1987) milik Michael Crichton”, maka “Prometheus (2012)” akan mudah sekali kita pahami.

Film berdurasi 124 menit ini mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dalam kehidupan manusia melalui visual effect-nya yang benar-benar memanjakan mata. Beberapa pertanyaan besar itu diantaranya adalah:

“Dari mana kita berasal?”, “Apa misi kita di dunia?”, dan “Kemana kita pergi setelah ini?”

Menggugah. Membuat gelisah. Bagi sebagian orang, barangkali akan membuat marah.