Category Archives: Kram Otak!

Pengamen dan Etos Kerja Kita

Untuk mengukur etos kerja bangsa Indonesia, kita tidak perlu repot-repot (dan mahal-mahal) melakukan penelitian antropologi mendalam menggunakan pendekatan etnografi. Turun saja ke jalan, lihat bagaimana kehidupan disana.

Tentu saja, bukan dengan kacamata belas kasihan, melainkan dengan cara pandang kritis, jika tidak mau dibilang sinis.

 

Lihatlah pengamen!

Di warung-warung tenda atau di lampu merah, mereka bekerja. Ya, garis bawahi kata ini: BEKERJA.

Bagaimana aturan beban kerja dan bayaran mereka? Sederhana. Satu lagu, satu bayaran.

Teorinya sih begitu. Kenyataannya? Banyak sekali pengamen yang ngacir setelah dapat uang gopek atau seribuan.

Lagunya kan belum selesai? Bodo amat!

Ya memang begitu itu etos kerja kita, orang Indonesia. Di level pekerjaan yang mendapat bayaran uang receh maupun di level yang bayarannya bisa bergepok-gepok uang seratus ribuan.

Tentu saja, seperti biasa, kita bisa berkelit. Ah, gak semua gitu kok! Oknum tuh!

Ya, oknum. Oknum ndasmu!

Di Luar Jakarta Ada Kehidupan Juga, Lho!

Beberapa hari terakhir ini, Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia bikin gerah orang Indonesia, khususnya orang Batak. Mereka berencana memasukkan Tortor dan Paluan Gondang Sambilan dari Mandailing, Sumatera Utara, ke dalam Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005.

Singkat cerita, itu adalah upaya administratif untuk mengesahkan Tortor dan Paluan Gondang Sambilan sebagai budaya asli Malaysia. Upaya-upaya seperti itu, berdasarkan pengalaman selama ini, adalah berita basi dari negara tetangga. Harap maklum saja.

 

 

Yang menarik, setidaknya bagi saya, justru reaksi orang Indonesia sendiri, terutama dari dunia Twitter. Sungguh kocak, mencengangkan, dan barangkali, sedikit memalukan.

Kenapa? Karena yang marak kemudian adalah tweet berisi cemooh terhadap bangsa sendiri.

Intinya, sebagian pengguna Twitter malah menyindir. Mereka bilang: “Emang Tortor masih ada?”, “Memangnya kita pernah peduli sama budaya bangsa?”, atau “Sekarang aja ribut kalo udah mo diklaim Malaysia!”

Semua itu, menurut hemat saya, adalah pernyataan yang keluar dari mulut orang-orang Jakarta. Atau setidaknya, para penduduk kota besar Indonesia. Mereka jarang, atau bahkan tidak pernah, keliling ke daerah.

Mereka tidak tahu bahwa budaya seperti Tortor itu sesungguhnya masih alive and kickin’ di tempat kelahirannya. Bahkan di tempat-tempat yang jauh, dimana orang-orang Batak perantauan bermukim.

Reaksi seperti itu, bagi saya, hanya bermakna satu hal: bahwa orang kota yang gemar menyindir ini perlu memperluas tongkrongannya, tidak mentok seputaran sevel, mal, dan club saja. Mereka ini, sebaiknya, segera diajak travelling keliling Indonesia, hahaha!