All posts by wustuk

Lokus, Proyek Punk Rock Salman Aristo dan Gengnya

Menyandingkan nama Salman Aristo dengan naskah atau bahkan penghargaan bergengsi industri perfilman Indonesia adalah perkara mudah. Namun jadi tidak biasa urusannya kalau namanya disandingkan dengan musik profesional. Di semesta itu, namanya boleh dibilang sama sekali belum pernah terdengar.

Bersama Lokus, Salman merilis 10 lagu bernapaskan punk rock yang terangkum dalam sebuah album dengan judul yang khas. Khas Salman, maksud saya: penuh pemikiran. Judul albumnya Pastiche, Solidus, dan Remahan Lainnya. Unik? Atau malah memusingkan? Coba saja Googling, apa arti kata pastiche dan solidus.

Saya berani taruhan kau malas Googling. Jadi saya jelaskan saja secara singkat. Judul album itu kira-kira maknanya adalah kumpulan bunyi-bunyian yang mereka susun dari kepingan pengaruh bunyi-bunyian musisi lainnya yang sudah terlebih dulu berlaga di industri musik. Bukan mencontek, melainkan dengan jujur mengakui mengambil banyak pengaruh dari sana-sini.

“Anti Stagnan” jadi nomor pembuka. Punk rock. Bukan jenis yang meledak-ledak, melainkan yang sedikit mengalun. Dengan vokal yang melodius. Sangat bisa dinyanyikan bersama.

Dan sejak lagu pertama, lirik sudah jadi sesuatu yang menonjol. Barangkali malah jadi bagian terpenting. Tidak ada tema yang sepele. Tidak ada untaian kalimat yang tidak perlu. Sejak detik pertama saya langsung mendapat kesan bahwa Lokus menjadikan lagu-lagunya sebagai kendaraan untuk mengirimkan pesan ke siapa pun yang mau mendengarkan.

Lagu kedua berjudul “Mengindahkan Kami”. Sebuah tantangan yang terang-terangan dilemparkan ke wajah kemunafikan. Hembusan napas panas di tengkuk orang-orang yang rakus. Yang doyan memperkaya diri sendiri dengan bayaran penderitaan orang lain.

“Perubahan Tak Butuh Rating”. Nah, ini dia! Jelas ini bicara soal industri televisi, perfilman, atau media massa pada umumnya. Semua orang yang cukup waras juga paham, betapa rendah standar mutu konten di negara ini. Semua berkilah bahwa itu demi mengikuti selera pasar. Pasar yang mana? Dan musiknya, well, ini salah satu lagu yang sangat saya sukai di album ini.

Sarkas. Tidak mungkin dicapai tanpa tingkat kecerdasan tertentu. Dan dalam lagu keempat, “Kelas Menengah Indonesia”, itu dicapai dengan mulus. Bagi saya, nomor ini bakal terdengar wajar kalau jadi lagu Slank. Rock yang enak, tidak terlampau keras atau cepat, dan bicara soal orang Indonesia. Khususnya kelas menengah. Ya. Tentang kau yang sedang baca tulisan ini. Dengarkan saja sendiri lagu ini, nanti pasti tersenyum kecut.

“Kisah Tentang Janji” jadi yang kelima. Sepertinya lagu cinta. Not for me.

Lagu keenam jadi salah satu yang paling seru. “Adil Berani” judulnya. Kencang musiknya, kencang juga pesannya. Barangkali ada sisipan nafas Pramoedya di dalamnya. Sepertinya asyik dinyanyikan ramai-ramai sambil mengacungkan tangan kiri yang terkepal di udara.

Soal Slank tadi, saya tarik kembali. Lagu ketujuh yang diberi judul “Belajar Bernapas” punya intro  dan verse yang akan mengingatkan generasi X pada era Slank yang masih doyan bermain-main dengan bunyi-bunyian. Lirik lagu ini spektrumnya benar-benar absurd. Dari napas menggelinding ke cinta hingga penjara. Silakan dimaknai sendiri nanti.

Tempo turun di lagu kedelapan. Bagaimana pun, album rock yang baik tentulah harus punya balada. “Personal Itu Politik” tidak bicara soal cinta. Setidaknya bukan cinta yang bermakna asmara. Ia bicara soal cinta pada negara. Pada bangsa. Pada kesetaraan dalam hidup bagi manusia.

Nomor sembilan adalah salah satu favorit saya. “Di Dunia Kerja” kembali memadukan punk rock dan lirik sarkas yang cerdas. Sangat cerdas. Nada vokalnya pun tidak bisa dibilang jelek. Enak untuk dinyanyikan. Simak liriknya: Dengarkan baik-baik/Apa yang dikatakan rupiah/Sebab itu satu-satunya perintah. Modyar kowe, mas!

Album ini ditutup dengan “Kudeta Merangkak”. Judul yang sangat rawan di era kedua pemerintahan Jokowi yang entah kenapa menjadi sangat mirip dengan gaya Orba. Kritik sedikit, dihajar buzzer. Kumpul massa diskusi, digilas aparat. Ini adalah pilihan yang cantik.

Lagu kesepuluh ini meninggalkan napas punk rock yang kental di telinga sehingga memunculkan keinginan untuk memutar ulang album.

Memutar ulang album. Ah, saya memang generasi analog. Bodo amat.

Endah N Rhesa Rilis Single Baru Berjudul “SSSLOW”

Dalam lagu “Liburan Indie” yang dirilis pada 2015, Endah N Rhesa (EAR) melantunkan lirik unik nan asyik berisikan banyak sekali nama musisi Indonesia. Saya tidak tahu mana yang indie dan mana yang bukan. Rasanya itu tidak terlalu masalah, meski judulnya memang jelas bicara soal indie. Dalam lirik itu termuat Sir Dandy, Trio Lestari, Efek Rumah Kaca, Navicula, SID, dan masih banyak lagi.

Tepat 5 tahun kemudian, dalam masa wabah Covid-19 yang bikin pusing dan bahkan sekarat banyak musisi Indonesia, EAR merilis single baru yang isinya adalah judul-judul lagu dari berbagai musisi dunia. Siapa saja musisi yang mereka masukkan? Ini daftarnya: Johnny Nash, Cindy Lauper, Aerosmith, Ben E King, Lionel Ritchie, AHA, Phil Collins, The Beatles, Boys II Men, Bob Dylan, Alanis Morissette, EAR, Celine Dion, dan The Carpenters. Supaya seru, silakan cocokkan sendiri nama-nama musisi ini dengan judul lagu mereka di klip musik “SSSLOW” yang baru saja dirilis pada 21 Mei kemarin.

Mengamati EAR dari dekat (sejak saya menulis buku tentang karier musik mereka), saya memahami bahwa baik Endah maupun Rhesa selalu punya pertimbangan panjang dan matang tentang karya yang mereka rilis. Mereka bukan tipe musisi yang merilis musik apa adanya dan berharap audiens mau menerima. Jauh sekali dari itu. Jadi saya tidak heran kalau kemudian komposisi musisi yang dicomot pun dibuat demikian berimbang antara perempuan dan pria. Silakan dicek.

Di tengah hantaman wabah Covid-19 yang tak kunjung reda ini, kehadiran lagu-lagu baru dari musisi menjadi penghiburan tersendiri. Lagu-lagu mereka, selain enak didengar, juga seperti menyisipkan pesan lembut tentang harapan. Tentang keinginan dan kemampuan untuk terus melanjutkan hidup. Hidup kita semua yang demikian berharga.

Apa pun itu, pertanyaan saya sebenarnya cuma satu: kemoceng dalam klip lagu ini sebenarnya menyimbolkan apa?

DDH Rilis Single Baru Berjudul “Garis Depan”

Akhirnya Dialog Dini Hari (DDH) benar-benar sampai ke sana. Ke tempat di mana musisi menanggalkan atribut hiburan dari tubuhnya dan meninggalkan peran lamanya sebagai peramu bunyi. Di tempat barunya itu, DDH menyucikan diri dan merelakan tubuh musik mereka menjadi alat suling kenyataan. Hasil sulingan itu tentulah bukan lagi sekadar sebuah lagu, melainkan cerita tentang manusia. Tuturan tentang zaman yang sedang kita lewati. Kita perjuangkan. Sebuah kesaksian.

Menyusul “Kulminasi II” yang bertutur tentang porak-porandanya tatanan hidup akibat dihantam badai korona, hari ini DDH merilis “Garis Depan”. Siapa pun pasti langsung bisa tahu, “Garis Depan” bicara soal perjuangan tenaga medis di seluruh penjuru dunia menghadapai badai kematian korona. Perjuangan sepi dan mengerikan yang hampir sepenuhnya mereka jalani sendiri, karena tidak ada yang orang awam bisa lakukan untuk membantu. Paling jauh, kita hanya bisa meringankan beban pekerjaan dan hidup mereka dengan berdiam di rumah agar tidak tertular atau menulari yang lain. Syukur-syukur dengan itu laju wabah bisa ditahan.

Meski banyak sekali yang mencibir bahwa korona hanyalah omong kosong, kita yang punya akal sehat dan cukup gemar membaca tentulah sadar, ini bukan perkara sepele. Hadirnya korona di tengah umat manusia sudah dipastikan akan mengubah arah kebudayaan. Kita semua saat ini sedang berdiri di atas patahan kebudayaan. Kalau tidak dihadapi dengan serius dan sepenuh hati, korona bagi kita bisa berdampak layaknya meteor bagi dinosaurus.

Saya tidak pernah membayangkan bakal hidup dan menyaksikan secara langsung runtuhnya kapitalisme dan demokrasi. Bukan karena perang, melainkan karena virus. Betapa sistem ekonomi yang dibanggakan banyak orang pintar di seluruh dunia nyatanya tidak berdaya – dan bahkan semakin memperburuk keadaan – ketika berhadapan dengan korona. Dan lihatlah betapa demokrasi Indonesia yang memang pekat berkutat dengan politik identitas nyatanya hanya mampu menghasilkan jajaran pemerintah/penguasa yang sama sekali tak becus bekerja.

Mendengarkan “Garis Depan”, menikmati perubahan peran DDH dari musisi menjadi penyaksi, saya teringat sepotong sajak milik Rendra. Judulnya “Sajak Sebatang Lisong”. Demikian dia berseru, seperti biasa, dengan berapi-api dan terdengar sepenuhnya benar: “Aku bertanya/Tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon/Yang bersajak tentang anggur dan rembulan/Sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya”.

Barangkali dua bulan di rumah dengan sebulan di antaranya didera sakit membuat saya kelewat serius. Atau sebaliknya, barangkali kita terlampau bebal dan menganggap sepele semua persoalan, karena kita terbiasa berdoa kepada Tuhan dan mengharapkan pertolongan pihak lain. Bukan menolong diri sendiri.

Teruslah manyuguhkan kesaksian melalui lagu-lagu indahmu, DDH. Saya sama sekali tidak keberatan.