Category Archives: Books

Buyology: Truth and Lies About Why We Buy

buyology-book

Setiap hari kita membeli. Apa pun alasannya, kita pasti membeli. Entah itu barang atau jasa, entah itu kita butuhkan atau sekadar jadi korban bujuk rayu iklan. Ya, kalau mau jujur, kita semua adalah korban iklan.

Tepat untuk alasan itulah Martin Lindstrom, seorang ahli marketing yang banyak membesarkan brand-brand beken di seluruh dunia, menulis buku berjudul Buyology: Truth and Lies About Why We Buy. Buku tersebut diterbitkan oleh Crown Business pada tahun 2008.

Salah satu penemuan penting – meski sebenarnya sudah diduga banyak orang jauh sebelum buku itu diterbitkan – adalah kenyataan bahwa 90% keputusan membeli kita ambil secara tidak sadar. Artinya, bukan pertimbangan logis yang kita andalkan untuk membeli, melainkan pertimbangan alam bawah sadar.

Coba ingat-ingat kembali, bagaimana proses pengambilan keputusan kita saat mau membeli air mineral, biskuit, buku, baju, kendaraan, dan rumah? Bahkan saat membeli rumah pun, pertimbangan utama biasanya mengikutsertakan perasaan. Bukankah jamak orang bilang begini saat mempertimbangkan untuk membeli rumah yang akan ditempati bersama keluarga: “Harganya pas. Rumahnya bagus. Tapi kayaknya feeling saya gak sreg. Agak gimana, gitu.”

So, marketers, jangan menjalankan kampanye yang hanya mengandalkan logika. Justru kampanye yang menggugah alam bawah sadar konsumenlah yang akan menghasilkan banyak penjualan.

Temuan-temuan penting dan mengejutkan dalam buku itu disusun dari penelitian sepanjang 3 tahun. Dalam penelitian bernilai 7 juta dolar AS tersebut, Martin Lindstrom menyertakan 10 profesor/doktor, 200 peneliti, dan sebuah komite etik. Delapan perusahaan multi-nasional terdaftar sebagai pihak yang membiayai penelitian tersebut. Dalam pengujian efektivitas materi iklan, penelitian tersebut menggunakan bantuan alat pemindai gelombang otak bernama functional-MRI dan electroencephalograph.

Bagi brand yang gemar menjalankan strategi product placement, buku tersebut punya penjelasan yang sangat mengejutkan: sebagian besar product placement ternyata tidak berguna. Hanya buang-buang uang!

Ambil contoh Ford di ajang American Idol. Dibanding Coca-cola yang mengeluarkan dana beriklan sama, Ford boleh dibilang kurang berhasil. Kunci keberhasilan Coca-cola dalam American Idol adalah menyatunya brand minuman ringan tersebut dalam keseluruhan narasi acara, mulai dari minuman di meja juri, yang tentu saja diminum dalam banyak kesempatan, hingga nuansa merah di ruang tunggu keluarga peserta.

Intinya, brand hanya bisa memetik hasil optimal dari product placement kalau brand tersebut menyatu secara utuh dalam event, bukan sekadar muncul tanpa konteks yang jelas bagi audiens.

Banyak temuan lainnya yang membuka mata kita terkait efektivitas beriklan dari sebuah brand. Satu yang tak kalah menarik adalah kenyataan bahwa asosiasi brand sangat kuat mempengaruhi keputusan kita membeli.

Misalkan, kita disuguhi tiga pilihan air mineral. Satu brand dari Denmark, dua lainnya dari Texas dan Meksiko. Kita sama sekali tidak tahu ketiga brand tersebut. Besar kemungkinan kita akan memilih brand dari Denmark karena pengetahuan Geografi kita memahami bahwa Denmark memiliki pegunungan bersalju dan sungai yang jernih, sebaliknya Texas dan Meksiko memiliki banyak gurun dan padang rumput. Asosiasi brand air mineral sangat kuat dengan pegunungan, sehingga alam bawah sadar kita memberi saran: pilih brand dari Denmark!

Secara umum, Martin Lindstrom menyusun bukunya untuk meyakinkan kita bahwa masa depan periklanan akan sangat berbeda dari kondisi saat ini. Logo, kampanye hard-selling berbasis keunggulan fitur, dan atribut iklan yang menumpukan rayuan pada respon indera dan logika lainnya akan bergeser menjadi lebih “halus”. Asosiasi, subliminal message, nuansa, dan atribut alam bawah sadar lainnya akan semakin menonjol.

Apa pun itu, sebagai konsumen, kita tentu saja tetap menjadi korban, ha-ha-ha!

VOXTORY: Creative Inspiration

Audiobook Rock Memberontak
Audiobook Rock Memberontak

Why it matters? Apa pentingnya tahu cerita di balik proses berpikir kreatif seseorang? Jawabannya terangkum dalam ungkapan legendaris milik T.S Elliot: immature poets imitate, mature poets steal.

Dengan mengetahui, better yet memahami, latar belakang pikiran kreatif seseorang, kita bisa “mencuri” kehebatan mereka.  Itu dipastikan akan merangsang dan menginspirasi simpul-simpul kreativitas kita. Pada akhirnya, kita dapat menerjemahkan “gaya mereka” untuk kemudian melahirkan karya-karya kita sendiri.

Cerita inspiratif, terutama dari dunia musik dan kreatif, belakangan ini kian langka. Media massa yang menyajikan cerita panjang dan mendalam seperti majalah kian tidak diminati konsumen dan akhirnya berhenti terbit. Memang benar, sekarang marak media-media online. Sayangnya, sebagian besar media online tersebut tidak menyajikan cerita bermutu, mendalam, dan menginspirasi. Mereka sibuk dengan gosip dan sensasi. Murahan!

Itulah yang memicu Pronky dan saya untuk melahirkan VOXTORY, narasi mendalam tentang dunia kreatif, khususnya musik.

Media yang akan kami gunakan untuk menuturkan narasi tersebut adalah teks, gambar, dan suara. Ketiganya akan diracik dalam sebuah halaman blog agar audiens yang berminat menikmatinya bisa meraih kepuasan penuh. Membedah pikiran kreatif akan terasa sangat menyenangkan dan menantang.

Ladies and gentlemen, please welcome… VOXTORY!

Jiwa yang Berani dalam Kata-kata

Che dan Robi di Filosofi Kopi
Che dan Robi di Filosofi Kopi

Ya, saya tahu. Lagu “Jiwa yang Berani” belum resmi dirilis. Di dunia ini, barangkali tidak sampai 100 orang saja yang pernah mendengarnya. Meski, tentu saja, saya sudah mendengarkan versi akhirnya puluhan kali banyaknya. Bukan lantaran lagu itu khusus ditulis Che Cupumanik dan Robi Navicula untuk buku saya yang berjudul “Rock Memberontak”, melainkan karena saya memang menyukainya. Mencintainya, bahkan.

Karena kita semua, termasuk saya sendiri, tidak tahu kapan lagu tersebut akan dirilis ke publik, kali ini saya deskripsikan saja dalam kata-kata.

Lagu dibuka dengan petikan gitar. Kering, nyaris terdengar seperti bunyi kayu. Tak berapa lama, vokal Robi masuk, membawakan bait “Bawakan aku bintang dalam pekatnya malam yang kelam… Bawakan aku sinar, ciptakan suar terangi jalan…”. Bersamaan dengan pukulan drum yang jatuh berdentam di kejauhan, Che menyusul. “Mimpi menjadi api hanyalah untuk jiwa yang berani… Cinta yang tak pernah beku bersemayan dekat dengan jantungku…”

Setelah itu, lagu berganti arah. Kelar bagian intro dan verse yang  bernuansa industrial layaknya Nine Inch Nails dengan sentuhan modern berbau Incubus, bagian selanjutnya menghantam keras. Raungan gitar dipadu berondongan drum yang terdengar liar, nyaris seperti permainan Keith Moon. Bersama, Che dan Robi menyanyikan “Lipat gandakan senjata walau diancam bahaya… Kita manusia merdeka dan ini bukan dosa…”

Memasuki reff, nuansa grunge menyeruak. Bukan grunge yang gelap seperti Alice in Chains, melainkan yang manis dan nyaris terdengar pop layaknya Nirvana dan Foo Fighters.

“Kita rangkai harapan… Kan kuberi pengorbanan… Atas nama karya…” demikian bait dalam reff berbunyi, berulang sebanyak dua kali, sebelum kemudian ditutup dengan sedikit hentakan dan lagu kembali masuk ke mode petikan gitar.

Dari situ, verse hingga reff diulang penuh. Tidak ada sesuatu yang baru, sampai kemudian solo guitar Ian Zat Kimia memecah pola. Gitarnya meraung seperti lepas dari kerangka lagu. Menembus dinding telinga dan kemudian menancap di kepala. Terjun bebas ke dalam hati dan bersemayam di sana. Raungan gitar itu, bagi saya, adalah pernyataan keras untuk melupakan grunge sebagaimana yang selama ini kita imani dan bergerak maju.

Raungan gitar itu sungguh brutal, megah, dan anggun. Tiga puluh lima detik yang terdengar indah di telinga.

“Jiwa yang Berani”, bagi saya, dan barangkali bagi kalian semua nantinya (kalau akhirnya lagu ini dirilis ke publik), adalah ajakan yang sangat berani untuk terus berkarya, menembus batas-batas yang ada, dan meninggalkan definisi grunge yang sudah usang.

Beli buku Rock Memberontak.