Category Archives: Coffee

Kedai Kopi: Coffeebeerian

Doyan ngopi? Gemar minum bir? Kira-kira bagaimana ya rasanya jika kedua minuman kegemaran kamu itu disatukan dalam sebuah sajian?

 

 

Coba saja dan cari tahu jawabannya di Coffeebeerian, kedai kopi dan bir unik di bilangan Panglima Polim, Jakarta Selatan!

Kenapa unik? Karena di kedai ini, espresso dan bir dingin dicampur, dijadikan sebuah minuman jenis baru. Emang enak? Soal rasa, setiap orang tentu punya preferensinya masing-masing. Namun yang jelas, mencicipi minuman ini merupakan pengalaman kuliner yang menyenangkan.

Sesuai rekomendasi barista/bartender di Coffeebeerian, saya mencoba tiga jenis racikan andalan mereka. Salah satunya diberi nama Black Pony.

Black Pony terbuat dari espresso, dua jenis bir (stout dan pilsener) dan mint. Disajikan dalam gelas tinggi yang dingin berembun, kopi bir ini katanya adalah yang terkeras di kedai itu.

Sesap sedikit dan rasakan gas dari bir berhembus di rongga hidung, membawa sejuknya mint dan segarnya aroma kopi. Hahahaha, sebuah sensasi yang lucu!

Saya lupa nama dua racikan lainnya.

Yang pertama disajikan dalam gelas whiskey. Terasa lebih ringan dibanding Black Pony dan pekat dengan nuansa lemon. Dingin dan segar!

Racikan ketiga tidak banyak beda dengan blended coffee kedai-kedai modern lainnya. Manis, gurih Almond dengan sedikit aroma kopi. Bedanya, ada rasa bir dan soda yang cukup menonjol.

Ya, meski menurut saya mencampur kopi dan bir bukanlah ide brilian, tapi lumayan seru juga untuk menambah pengalaman kuliner, hehehe…

Reposisi Kopi

Ketika Bang Iwan muncul sebagai bintang iklan Top Coffee, sebagian orang Indonesia barangkali tertawa sembari bertanya-tanya. Aduh Bang, ngapain sih ngiklanin kopi? Emang duit konser udah seret, ya?

 

 

Namun lambat laun kita jadi biasa. Dan sebagian teman kantor saya ternyata beneran membeli Top Coffee. Mereka pindah dari merek kopi sachet sebelumnya. Luar biasa!

Tak berapa lama kemudian muncullah iklan Kapal Api yang menampilkan Agnes Monica sebagai bintang utamanya. Eh, ada apa nih? Perang kopi sachet? Sepertinya sih, ya!

Gitar, rokok, gang sempit dan sosok Bang Iwan memang lekat dengan citra kopi. Setidaknya, citra kopi sejak dulu kala di negeri ini, yang merupakan minuman murah meriah teman nongkrong dan bicara omong kosong.

Sementara Agnes yang menampilkan citra mulus, kaya, modern, muda, dinamis dan terutama bergigi putih bersih (yang tidak mungkin dimiliki peminum kopi sejati) nyaris tidak ada hubungannya dengan kopi. Lho! Apakah ini berarti Kapal Api melakukan kesalahan pencitraan?

Jika melihat reputasi mereka, rasanya tidak mungkin. Dua penjelasan yang masuk akal adalah:

 

  1. Top Coffee, dengan badai kampanyenya, rupanya cukup berhasil membuat Kapal Api khawatir. Seberapa besar pangsa pasar yang sukses mereka gerogoti, hanya musang yang tahu
  2. Kapal Api, daripada hanya bereaksi menangkis gempuran iklan Top Coffee, memilih untuk sekalian mereposisi kopi sachetnya. Dari produk konsumsi orang tua, terutama lelaki, kopi sachet diubah menjadi produk yang wajar diminum cewek cantik seperti Agnes Monica

Dan ternyata reposisi kopi tidak hanya terjadi dalam kemasan plastik milik perusahaan raksasa semacam Kapal Api, melainkan benar-benar turun sampai ke selokan. Ke urat nadi kota kita ini. Jakarta…

Fenomena kecil ini merayap di sudut-sudut jalan ibu kota. Dalam bentuk berdirinya berbagai kedai kopi lokal di tengah mal dan plaza yang gemerlapan. Dalam wujud naiknya derajat gaul dari anak ingusan yang menyeruput kopi, tak peduli kopi yang diseruputnya itu beneran kopi atau sampah berisi gula dan perisa belaka.

Dua tahun dari sekarang, barangkali semua kedai makanan di mal menjual kopi dan kita semua kesulitan mencari teh manis panas, karena semua orang mau keren. Dengan cara meminum kopi…

Kedai Kopi: Toko Sedap Pematang Siantar

Sudah sejak lama saya tahu jika di Pematang Siantar terdapat sebuah kedai kopi legendaris bernama Kok Tong. Beberapa kali saya berkunjung ke sana. Namun bodohnya, saya sama sekali tidak tahu jika tak jauh dari situ juga terdapat sebuah kedai kopi yang tak kalah legendarisnya: Toko Sedap!

 

 

Sebenarnya ketidaktahuan saya itu sah-sah saja, karena Toko Sedap lebih dikenal oleh orang luar sebagai produsen selai srikaya dibanding kedai kopi. Dengan harga Rp. 80.000 per kg, selai srikaya yang lezat ini boleh dibilang adalah salah satu oleh-oleh wajib bagi setiap orang yang berkunjung ke Pematang Siantar.

Di siang bulan November yang gerah itu, saya memesan secangkir kopi susu dan setangkup roti bakar dengan selai srikaya. Rotinya tipis dan dibakar kering. Di Jakarta, roti semacam ini dapat ditemui pada sajian Ya Kun Kaya Toast. Gurih, renyah dan sedikit manis.

Cita rasa kopi Toko Sedap ternyata sangat berbeda dari Kok Tong. Mengejutkan!

Jika secangkir kopi Kok Tong terasa tebal dan tegas, maka secangkir kopi Toko Sedap terasa lebih tipis, lengkap dengan sedikit rasa pahit. Namun keduanya sama menimbulkan efek “kenceng” akibat kandungan kafeinnya yang tinggi.

Bagi saya, bagian paling mengasyikkan dari kegiatan minum kopi di kedai tradisional seperti ini adalah memperhatikan cara penyajiannya. Seperti kebanyakan kedai kopi Sumatera lainnya, Toko Sedap juga menerapkan metode seduh menggunakan penyaring kain yang bentuknya seperti kaos kaki besar.

Si pengelola kedai dengan cekatan menambahkan sesendok bubuk kopi ke saringan yang sudah separuh penuh. Ya, saringan itu masih berisi sisa bubuk kopi dari beberapa penyajian sebelumnya.

Air panas dari dandang besar kemudian dituangkan ke saringan itu dan air tetesannya ditampung dalam sebuah teko. Sembari menunggu seduhan kopi menetes habis, dia menuangkan air panas ke dalam cangkir kosong. Setelah beberapa saat, air itu dibuang dan cangkir dibiarkan kosong kembali.

Seduhan kopi dari dalam teko kemudian dituangkan ke cangkir tersebut. Namun, sebelum masuk ke cangkir, seduhan kopi tersebut sekali lagi harus melewati saringan.

Terakhir, dia menuangkan susu kental cair ke dalam cangkir yang sudah nyaris penuh berisi seduhan kopi yang mengepul dan menebar aroma nikmat tersebut. Ah, sungguh mantap!