Category Archives: Movies

Civil War yang (Sialnya) Bikin Saya Berpikir Soal Industri Koran

Captain-America-Civil-War-Key-Art

Tentu saja “Captain America: Civil War” menyenangkan untuk ditonton. Penuh humor, menyuguhkan banyak adegan laga seru, dan membanjiri audiens dengan efek visual mumpuni. Berdasarkan rekam jejak satu dekade terakhir, kita bisa dengan yakin dan aman bilang, Marvel banget!

Sejak film pertamanya, saya jelas #TeamIronMan. Captain America, menurut opini pribadi dan pengalaman hidup saya, kelewat mulia. Orang seperti itu hanya ada di komik. Lha, ini kan memang diangkat dari komik?

Demikian dekat jadual tayang dan ketatnya persaingan (setidaknya yang ditampilkan di media massa) antara DC dan Marvel membuat kita rasanya tidak mungkin untuk tidak membandingkan pengalaman menonton “Batman v Superman: Dawn of Justice” dan “Captain America: Civil War”.

Bagi saya, produk DC terasa kelewat muram dan banyak lubang di plot ceritanya, sementara produk Marvel terasa sangat ringan dan nyaris seperti menonton film untuk anak-anak (kode umur film ini memang 13 tahun ke atas). Bahkan saat terjadi pertempuran pun kita bisa merasa bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Mereka, #TeamIronMan dan #TeamCaptainAmerica seolah sedang bersenda gurau saja, menggunakan kemampuan manusia super dan senjata canggih masing-masing. Mereka tidak benar-benar ingin saling menyakiti, apalagi membunuh. BTW, kehadiran Spidey dan Ant-Man sungguh menghibur!

Sialnya, menonton kedua film itu, yang lahir di kepala saya justru pertanyaan ini: bagaimana proses yang dilalui oleh DC dan Marvel sehingga bisa membalik bisnis komik yang sudah menjelang bangkrut menjadi sebuah kerajaan film (dan dapat dipastikan juga, merchandising) yang nilai keuntungannya berlipat puluhan kali?

Barangkali saya sedang lelah. Barangkali saya sedang berpikir tentang masa depan industri koran, tempat saya sehari-hari cari makan. Barangkali memang seperti itulah film yang bagus, yaitu film yang bisa membuat kita merefleksikan kenyataan yang sedang kita hadapi saat ini. Membuat kita berpikir.

Seolah membaca apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran saya, pagi ini Haidar Bagir menulis opini di Harian Kompas (28/4) mengenai payahnya minat baca orang Indonesia. Judul opininya, “Amnesia Buku”. Dalam opininya, dia menjelaskan betapa teknologi dan cara hidup masa kini telah melahirkan kelompok masyarakat yang dangkal, yang hanya mau baca sebaris dua baris saja, baik pengetahuan umum maupun berita. Kelompok ini sama sekali tidak tertarik pada keluasan dan kedalaman literatur. Mereka disebutnya sebagai The Shallows. Pantas saja makin sedikit orang yang merasa perlu beli dan baca koran. Sungguh celaka.

DC dan Marvel jelas sudah lolos dari lubang maut itu. Dari buku mereka terbang ke film. Istilah anak sekarang, mereka menang banyak!

Dari industri komik yang sekarat, tokoh dan narasi dipindahkan ke film, kemudian disuntik dengan efek visual dosis tinggi dan disempurnakan dengan upaya marketing tercanggih di muka bumi. Simsalabim! Mendadak semua orang menjadi jauh lebih kaya.

Sayangnya, tidak seperti komik, koran tidak memiliki tokoh dan narasi. Koran hanya punya kebenaran yang disuguhkan setiap hari. Ke mana kebenaran akan dipindahmediakan supaya relevan dengan jaman? Lebih ngeri lagi, siapa yang masih peduli pada kebenaran?

Star Wars Episode VII: The Force Awakens

kylo-ren-header

Tiga hari diputar dan “Star Wars Episode VII: The Force Awakens” sudah mengeruk pendapatan sebesar setengah milyar dolar AS dari seluruh dunia. Seperti diprediksi banyak orang, film ini tampaknya akan jadi yang terbesar tahun ini, kalau bukan sepanjang sejarah.

Kita memang sudah tidak lagi ternganga melihat suguhan perang bintang. Kapal yang menjelajah galaksi dengan kecepatan cahaya bukan barang baru dalam film layar lebar. Kesaktian film ini, kalau boleh disebut demikian, adalah kemegahan cerita, kehadiran banyak tokoh baru yang unik dan penuh misteri, serta kesegaran dinamika dialog dan hubungan emosional antar tokohnya. Efek visual, tentu saja, sangat mumpuni.

Selama dua jam lebih kita diseret ke dalam aksi demi aksi. Semua jenis pertarungan sepertinya ada di film ini. Tawuran di langit menggunakan pesawat tempur, banyak. Duel menggunakan light saber, sama banyaknya. Pertempuran darat bermodalkan pistol dan senapan laser, tak kalah jamak. Sebut saja jenis pertarungan yang kamu kenal, hampir pasti ada.

Suasana mencekam yang hampir semuanya berhubungan dengan kehadiran Kylo Ren pun seperti enggan meninggalkan kita. Betapa tokoh jahat yang baru muncul itu merasuk ke alam pikiran kita, (sepertinya) sengaja dihadirkan untuk menggantikan sosok Darth Vader yang sudah bercokol 38 tahun lamanya.

Dari semua itu, bagi saya, yang paling menghantui adalah pertanyaan-pertanyaan ini, yang lahir dan terus hidup bahkan lama setelah film “Star Wars Episode VII: The Force Awakens” berakhir: siapakah Rey? Siapakah Finn? Poe Dameron, tokoh baik atau jahat? Kenapa Kylo Ren menjadi demikian terobsesi pada The Dark Side? Siapakah Snoke dan bagaimana dia jadi demikian berkuasa? Latihan pamungkas seperti apa yang akan dia suguhkan pada Kylo Ren? Dan Luke, ah, apa yang akan dilakukannya nanti?

Sayangnya atau untungnya, tergantung cara kamu memandang dimensi waktu, jawaban dari pertanyaan-pertanyan itu kemungkinan besar akan hadir 17 bulan mendatang, saat “Star Wars Episode VIII” tayang. Selamat menunggu!

Review Film: “Godzilla (2014)”

Godzilla (2014)

Kesombongan manusia adalah berpikir bahwa kita yang mengontrol alam dan bukan sebaliknya. Demikian Dr. Ichiro Serizawa berkata kepada Admiral Stenz saat melihat, dengan sangat takjub, pada Godzilla yang berenang perkasa di samudera, di depan kapal induk mereka yang sangat besar.

Dan benarlah adanya, seluruh kecanggihan teknologi perang yang dimiliki manusia tidak berdaya sama sekali di hadapan makhluk buas purba berukuran raksasa yang datang dan memporakporandakan kota-kota besar di dunia. Semua dibuat rata dengan tanah!

Dengan total pendapatan di hari pertama USD 38,5 juta, “Godzilla (2014)” jadi film dengan pembukaan pendapatan terbesar sepanjang tahun ini. Mengalahkan “Captain America: The Winter Soldier 2014” dan “The Amazing Spiderman (2014)” yang sudah lebih dulu tayang di bioskop.

Sesungguhnya tidak ada hal baru dan terlalu menarik dari film ini. “Godzilla (2014)”, dengan beberapa perubahan mendasar seperti asal muasalnya yang bukan dari eksperimen nuklir dan makanannya yang bukan ikan melainkan nuklir, sepenuhnya bertumpu pada citra yang sudah dibangun sejak lama oleh Godzilla ciptaan Toho Company, Ltd.

Sepertiga pertama dan terakhir dari “Godzilla (2014)” sangat solid. Sebaliknya, pertengahan film ini terasa membosankan dan kehilangan banyak momentum. Barangkali karena di bagian itu porsi manusianya dominan sehingga ketegangan, kekaguman, dan rasa penasaran kita akan makhluk buas purba yang ukurannya sangat besar itu seperti dibendung.

Ukuran Godzilla di film ini, saya ulangi, sangat-sangat-sangat besar!

Jika kamu mencari keindahan plot cerita, dialog, atau akting kelas dunia, “Godzilla (2014)” tentu saja bukan film yang cocok. Namun jika kamu bisa cukup terhibur melihat dunia porak-poranda oleh kekuatan alam yang mengerikan dalam wujud makhluk buas purba berukuran raksasa, saya jamin film ini akan sangat memuaskan. Ongkos produksi sebesar USD 160 juta benar-benar digunakan dengan baik.

Melihat kenyataan bahwa “Godzilla (2014)” sudah meraup USD 196 juta dalam 3 hari pemutaran saja, saya rasa banyak orang yang setuju dengan saya. Film ini menyenangkan sekali untuk ditonton!