Category Archives: Music

Endah N Rhesa Rilis Single Baru Berjudul “SSSLOW”

Dalam lagu “Liburan Indie” yang dirilis pada 2015, Endah N Rhesa (EAR) melantunkan lirik unik nan asyik berisikan banyak sekali nama musisi Indonesia. Saya tidak tahu mana yang indie dan mana yang bukan. Rasanya itu tidak terlalu masalah, meski judulnya memang jelas bicara soal indie. Dalam lirik itu termuat Sir Dandy, Trio Lestari, Efek Rumah Kaca, Navicula, SID, dan masih banyak lagi.

Tepat 5 tahun kemudian, dalam masa wabah Covid-19 yang bikin pusing dan bahkan sekarat banyak musisi Indonesia, EAR merilis single baru yang isinya adalah judul-judul lagu dari berbagai musisi dunia. Siapa saja musisi yang mereka masukkan? Ini daftarnya: Johnny Nash, Cindy Lauper, Aerosmith, Ben E King, Lionel Ritchie, AHA, Phil Collins, The Beatles, Boys II Men, Bob Dylan, Alanis Morissette, EAR, Celine Dion, dan The Carpenters. Supaya seru, silakan cocokkan sendiri nama-nama musisi ini dengan judul lagu mereka di klip musik “SSSLOW” yang baru saja dirilis pada 21 Mei kemarin.

Mengamati EAR dari dekat (sejak saya menulis buku tentang karier musik mereka), saya memahami bahwa baik Endah maupun Rhesa selalu punya pertimbangan panjang dan matang tentang karya yang mereka rilis. Mereka bukan tipe musisi yang merilis musik apa adanya dan berharap audiens mau menerima. Jauh sekali dari itu. Jadi saya tidak heran kalau kemudian komposisi musisi yang dicomot pun dibuat demikian berimbang antara perempuan dan pria. Silakan dicek.

Di tengah hantaman wabah Covid-19 yang tak kunjung reda ini, kehadiran lagu-lagu baru dari musisi menjadi penghiburan tersendiri. Lagu-lagu mereka, selain enak didengar, juga seperti menyisipkan pesan lembut tentang harapan. Tentang keinginan dan kemampuan untuk terus melanjutkan hidup. Hidup kita semua yang demikian berharga.

Apa pun itu, pertanyaan saya sebenarnya cuma satu: kemoceng dalam klip lagu ini sebenarnya menyimbolkan apa?

DDH Rilis Single Baru Berjudul “Garis Depan”

Akhirnya Dialog Dini Hari (DDH) benar-benar sampai ke sana. Ke tempat di mana musisi menanggalkan atribut hiburan dari tubuhnya dan meninggalkan peran lamanya sebagai peramu bunyi. Di tempat barunya itu, DDH menyucikan diri dan merelakan tubuh musik mereka menjadi alat suling kenyataan. Hasil sulingan itu tentulah bukan lagi sekadar sebuah lagu, melainkan cerita tentang manusia. Tuturan tentang zaman yang sedang kita lewati. Kita perjuangkan. Sebuah kesaksian.

Menyusul “Kulminasi II” yang bertutur tentang porak-porandanya tatanan hidup akibat dihantam badai korona, hari ini DDH merilis “Garis Depan”. Siapa pun pasti langsung bisa tahu, “Garis Depan” bicara soal perjuangan tenaga medis di seluruh penjuru dunia menghadapai badai kematian korona. Perjuangan sepi dan mengerikan yang hampir sepenuhnya mereka jalani sendiri, karena tidak ada yang orang awam bisa lakukan untuk membantu. Paling jauh, kita hanya bisa meringankan beban pekerjaan dan hidup mereka dengan berdiam di rumah agar tidak tertular atau menulari yang lain. Syukur-syukur dengan itu laju wabah bisa ditahan.

Meski banyak sekali yang mencibir bahwa korona hanyalah omong kosong, kita yang punya akal sehat dan cukup gemar membaca tentulah sadar, ini bukan perkara sepele. Hadirnya korona di tengah umat manusia sudah dipastikan akan mengubah arah kebudayaan. Kita semua saat ini sedang berdiri di atas patahan kebudayaan. Kalau tidak dihadapi dengan serius dan sepenuh hati, korona bagi kita bisa berdampak layaknya meteor bagi dinosaurus.

Saya tidak pernah membayangkan bakal hidup dan menyaksikan secara langsung runtuhnya kapitalisme dan demokrasi. Bukan karena perang, melainkan karena virus. Betapa sistem ekonomi yang dibanggakan banyak orang pintar di seluruh dunia nyatanya tidak berdaya – dan bahkan semakin memperburuk keadaan – ketika berhadapan dengan korona. Dan lihatlah betapa demokrasi Indonesia yang memang pekat berkutat dengan politik identitas nyatanya hanya mampu menghasilkan jajaran pemerintah/penguasa yang sama sekali tak becus bekerja.

Mendengarkan “Garis Depan”, menikmati perubahan peran DDH dari musisi menjadi penyaksi, saya teringat sepotong sajak milik Rendra. Judulnya “Sajak Sebatang Lisong”. Demikian dia berseru, seperti biasa, dengan berapi-api dan terdengar sepenuhnya benar: “Aku bertanya/Tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon/Yang bersajak tentang anggur dan rembulan/Sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya”.

Barangkali dua bulan di rumah dengan sebulan di antaranya didera sakit membuat saya kelewat serius. Atau sebaliknya, barangkali kita terlampau bebal dan menganggap sepele semua persoalan, karena kita terbiasa berdoa kepada Tuhan dan mengharapkan pertolongan pihak lain. Bukan menolong diri sendiri.

Teruslah manyuguhkan kesaksian melalui lagu-lagu indahmu, DDH. Saya sama sekali tidak keberatan.

Cupumanik Rilis Single Anyar “Yang Kan Terjalani”

Siapa pun yang pernah jatuh hati pada album perdana Cupumanik (rilis 2005) dipastikan bakal suka single teranyar mereka yang berjudul “Yang Kan Terjalani” (rilis 2020). Apa pasal? Dalam single itu termuat semua yang sebelumnya jadi ramuan maut Cupumanik: lagu manis yang nyaris terdengar syahdu, lirik serius nan puitis, permainan instrumen yang harmonis, dan vokal yang terdengar seperti lelaki kesepian yang baru saja dihantam badai kehidupan. Ramuan yang anehnya mereka lupakan saat menyusun album kedua (Menggugat, 2014).

Barangkali saat itu mereka kehilangan Rama. Atau mungkin Che sedang kepengin marah-marah. Entah.

Tapi “Yang Kan Terjalani” jelas jadi bukti bagaimana indahnya Cupumanik kalau hadir secara utuh. Dan kita bisa cermati – juga nikmati – betapa sesungguhnya Che bisa bernyanyi dengan cara yang sama sekali berbeda.

Saat ini kita masih terperangkap dalam badai korona. Belum ada titik terang sedikit pun. Manusia seperti dipaksa untuk mengurung diri di rumah dan banyak merenung. Tentang hidup, relasi, dan tentu saja tentang dirinya sendiri. “Yang Kan Terjalani” terasa pas sekali, karena lagu itu memang bicara soal relasi manusia. Tentang cinta.

“Biar/tumbuh liar dalam kalbuku/kutunggu kau jinakkan hasrat/tentang dirimu/” begitu Che berulang menyanyikan chorus. Sesekali pelan, sesekali kuat. Nyaris tercekat.

Dalam balutan bunyi yang disuguhkan Cupumanik kali ini, penggalan lirik itu terdengar seperti bisik lirih lelaki yang memasrahkan hatinya. Berhadapan dengan cinta, lelaki memang hanya bisa pasrah. Tidak ada satu pun kekuatan yang bisa memaksakan cinta. Biarkan saja cinta tumbuh dengan kekuatannya sendiri.

Biar… biar…