Category Archives: Music

Single Anyar Endah N Rhesa: Done Anyway

Endah N Rhesa (EAR) yang tampil mesra dan santai di panggung, sungguh berbeda dengan yang saya jumpai di markas mereka Earhouse, Pamulang. Terlebih saat bicara soal musik dan arah kreatif. Keduanya sama bersemangat. Dan sangat serius.

Maka ketika – di sela wawancara materi buku mereka – saya berkesempatan mendengarkan beberapa lagu yang akan masuk ke album teranyar EAR (saat itu saya belum diberi tahu apa judul albumnya), diskusinya berkutat di seputar isu: apakah warna baru yang mereka pilih akan berbuah manis atau sebaliknya, bikin celaka. Sebuah diskusi yang kelewat serius dan jelas bukan bidang keahlian saya. Apa pun, itu diskusi yang sangat menarik. Terlebih karena kopinya malam itu enak.

Tapi bukan itu yang kepengin saya bicarakan di sini. Bukan. Saya kepengin bicara soal single ketiga mereka yang berjudul Done Anyway.

Pertama kali dengar, yang muncul di kepala adalah Macy Gray. Dan ternyata nama itu tidak muncul di kepala saya saja, melainkan di banyak kepala. Cara Endah mengambil nada dan bernyanyi di lagu itu, entah memang demikian atau ini hanya kesan dari kuping awam saja, serak namun bertenaga. Alih-alih terdengar lelah, dia malah terdengar nyaris ceria. Benar-benar terdengar seperti Macy Gray.

Musiknya, lagi-lagi bagi kuping awam saya, semacam perpaduan ciamik antara John Mayer dan Jack Johnson. Jenis musik yang membuat kita kepengin angkat koper dan pergi berlibur. Leyeh-leyeh di tepi pantai sambil menyeruput bir dingin.

Anehnya, dan ini benar-benar tidak bisa saya cerna hingga hari ini, tema lagu itu ternyata tentang bubaran. Bukan bubaran toko tentu saja (itu lebih cocok untuk jadi tema lagu bagi Sawung Jabo atau Iwan Fals), melainkan bubarnya sebuah hubungan asmara. Lha, kok bisa?

Entahlah. Tanya saja Endah.

Dan saya memang benar-benar bertanya ke dia. Dengan bangga kemudian dia menunjukkan rilis pers yang ditulisnya sendiri, yang menjelaskan lagu itu sebagai sebuah perayaan perpisahan. What the fuck? Whatever.

Sampai hari ini, saya menolak tema lagu itu. Di kepala saya, lagu itu adalah ajakan berenang ke pantai. Dan, dengan setengah botol wine yang baru saja saya habiskan saat saya mulai menulis post ini, biarlah kita sepakat bahwa lagu itu memang nyanyian liburan.

Hey ho, let’s go!!!

Pralaya – Single Teranyar DDH

Kalau kita memahami Dialog Dini Hari (DDH) sebatas Tentang Rumahku, maka tentulah kita akan merasa seperti tersesat saat mendengar Pralaya, single teranyar mereka. Benar-benar tersesat.

Pralaya seolah sebuah arah yang sama sekali berbeda. Serius, megah, mewah. Ia tidak lagi bicara soal “aku yang begini dan begitu” melainkan soal kita. Soal bangsa Indonesia. Atau, setidaknya, soal perkiraan mereka tentang masa depan bangsa kalau pertikaian politik yang memalukan ini terus kita lakoni.

Entah disengaja atau tidak, rasanya tidak ada waktu yang lebih tepat untuk merilis Pralaya ketimbang sekarang, beberapa saat setelah sidang MK yang memamerkan kepandiran politik usai. Sidang yang membuang begitu banyak waktu dan biaya, dan nyatanya hanya bisa menyisakan ancaman demo lanjutan dan skenario usang jabat tangan bagi-bagi kekuasaan.

Tentu saja tidak ada muatan politik dalam Tentang Rumahku. Manis, lurus, demikian mudah untuk dicintai. Tapi penikmat musik waras di seluruh dunia tentu tak mau terima kalau entitas folk sesakti DDH hanya menulis lagu cinta. Mereka punya kewajiban moral untuk menuliskan kenyataan. Merekam zaman dalam susunan nada dan lirik abadi. Menjadi saksi dalam setiap lagunya.

Dan, kalau kita sudah cukup lama mengenal mereka, sebenarnya ada sebuah EP yang dirilis DDH pada tahun 2010. Di situ ada Nyanyian Langit dan Manuskrip Telaga, yang dalam banyak aspek – terutama spiritual – sangat layak diberi predikat sebagai bahu raksasa di mana Pralaya disandarkan.

Dalam kemegahan lukisan suaranya, Pralaya menghadirkan kembali pernyataan seni yang menyentak, bahwa musik memang sejatinya tidak boleh dan tidak bisa tercerabut dari situasi sosial politik yang menggulung penulisnya. DDH, pada akhirnya, memang bukan band biasa-biasa saja.

Pohon Tua di Indofest 2019

Menikmati Pohon Tua mendendangkan lagu-lagu bertemakan keselarasan jiwa manusia dan alam memang nikmat. Terlebih kalau itu digelar di tengah audiens yang memproklamirkan diri sebagai para penikmat alam (karena sebutan pecinta alam, menurut saya, terlalu berat beban moralnya), di sebuah acara pameran perlengkapan kegiatan outdoor berskala nasional bertajuk Indofest 2019. Ah, tiada duanya!

Seperti biasa, Pohon Tua selalu membuka solo set-nya dengan gugup. Sekian ratus panggug – besar dan kecil, mewah dan butut – sudah dia arungi, namun rupanya perasaan gugup seorang seniman tak pernah sungguh-sungguh sirna. Barangkali itu adalah bagian tak terpisahkan dari keinginan kuatnya untuk selalu memberikan yang terbaik bagi audiensnya.

Saya sendiri sudah lupa, malam tadi kali keberapa saya menghadiri aksi Pohon Tua. Kalau penampilannya bersama Navicula, Dialog Dini Hari, dan A Conscious Coup dimasukkan dalam hitungan, saya yakin angkanya sudah melebihi 60.

Enam puluh kali. Dem! Apa tidak bosan? Tentu tidak!

Tidak ada yang membosankan dalam diri Pohon Tua. Mulai dari rambut gimbalnya, lirik-liriknya yang seperti puisi dalam kitab suci, permainan gitarnya yang bernuansa magis, hingga celoteh gugupnya di atas panggung yang kerap terdengar garing, semua enak untuk dinikmati. Bagi saya, saat ini rasanya tidak ada musisi lokal yang sedemikian berani melabrak dan menerjang batas-batas musik seperti dirinya. Tidak percaya? Tunggu saja rilisan terbaru Dialog Dini Hari nanti, hihihi…

Oh, ya. Beberapa waktu lalu, saya sempat mendengarkan bocoran album baru mereka. Dengan rayuan maut penulis buku indie dan sebotol whiskey, saya dan Rudi (desainer buku-buku saya di Tim Edraflo) berhasil membuat Pohon Tua memperdengarkan keseluruhan album barunya melalui tata suara di dalam mobil. Tentu saja saya tidak boleh membocorkan satu pun lagu tersebut, baik bunyi, tema lirik, maupun nuansanya. Biarlah dunia nanti mendengarkan pada saat yang tepat saja, sesuai yang sudah direncakan Dialog Dini Hari dan tim manajemen mereka.

Syit! Jadi melantur.

Malam tadi tidak berjalan mulus. Listrik di panggung sempat mati sekitar sepuluh menit lamanya, tepat saat Pohon Tua memainkan lagu ketujuh, Renovasi Otak. Setelah narasi pengantar yang berbau politik, lagu itu tadinya akan menancap di kepala karena sangat kontekstual dengan keributan pilpres yang memuakkan belakangan ini. Apa lacur, genset berkehendak lain. Jadilah Pohon Tua dan semua audiens yang duduk manis di lantai tersenyum kecut.

Ketika listrik akhirnya kembali menyala, Pohon Tua terpaksa langsung menutup penampilannya dengan Tentang Rumahku. Biasa. Masalah durasi.

Bumiku Buruk Rupa, Bisik Laut, Kita dan Dunia, Hey Ya (Kubu Carik), Pelangi, Ku Kan Pulang, Renovasi Otak, dan Tentang Rumahku adalah 8 lagu yang sempat dia bawakan malam tadi. Dua lagu yang batal menggelinding adalah Matahari Terbit dan Kancil. Sungguh celaka! KZL!

Di sela-sela permainan gitarnya, Pohon Tua sempat bercerita tentang buku bertajuk Dua Senja Pohon Tua (yang saya tulis, tentu saja, hahaha!) dan bagaimana proses penulisan buku itu kemudian mendorongnya membuat album solo perdananya: Kubu Carik. Dia juga mengumumkan bahwa baru saja merilis sebuah single berjudul Mendulang Cinta. Lagu yang dia tulis khusus berdasarkan naskah buku I’m All Ears yang menceritakan sepak terjang duo musisi yang sekaligus adalah suami istri, Endah dan Rhesa. Buku itu, tentu saja, adalah juga saya penulisnya, hahaha!

Batal berangkat ke Jepang bersama Navicula karena kaki Robi masih belum pulih setelah telapak kakinya dipasangi pen, Pohon Tua dan Dialog Dini Hari dijadwalkan tampil di Bintaro Exchange pada Jumat, 22 Maret 2019. Ah, dekat sekali dengan rumah. Sungguh saya berharap mereka akan memainkan bocoran album terbarunya yang luar biasa itu. Berangkat!