Tag Archives: besok bubar

#BukuGrungeLokal

SAYA ADA DI SANA - Banner

Literatur soal musik di negeri ini sedikit sekali, jika tidak bisa dibilang nyaris tidak ada. Sebagian literatur yang ada, nyaris seragam. Bicara soal sejarah musik. Akibatnya, hampir semua orang yang mendengar rencana saya menuliskan #BukuGrungeLokal langsung menyimpulkan bahwa saya akan menulis tentang sejarah musik grunge di Indonesia. Bah!

Saya suka sejarah. Waktu sekolah, saya malah dapat nilai 9. Tapi supaya jelas, #BukuGrungeLokal yang sedang saya susun bukanlah buku sejarah musik. Setidaknya, bukan sejarah sebagaimana yang sering kita baca.

Dalam #BukuGrungeLokal yang edisi e-book-nya akan setebal 232 halaman, saya menyuguhkan tema-tema besar ini: 35 gigs review, 17 albums review, 9 opini, dan 15 events Pearl Jam Indonesia. Sebagai pelengkap, hadir juga lebih dari 50 foto yang sebagian (setidaknya menurut selera saya pribadi) sangat grunge sekali.

Semua itu, menurut hemat saya, rasanya sudah lebih dari cukup untuk memotret geliat grunge lokal yang, meski tidak kunjung mengorbit, namun demikian keras kepala menolak mati. Namun jelas, itu semua sangat tidak memadai untuk dijadikan sumber referensi akademis, lebih-lebih untuk disebut sebagai buku sejarah grunge lokal di Indonesia.

Apapun, #BukuGrungeLokal adalah sumbangsih saya kepada diri saya sendiri. Kepada diri saya di masa depan. Agar saya bisa senantiasa percaya, bahwa musik bagus tidak selamanya harus muncul di televisi.

Seperti yang disebut Dankie Navicula dalam pengantar buku ini: menulislah terus, agar grunge tidak sekedar jadi mitos!

Cuplikan #BukuGrungeLokal (Slideshare)

Facebook fanpage #BukuGrungeLokal

Jika buku ini sudah terbit, silahkan beli, baca, dan berikan opini kamu. Sebagai pembaca, kamu bebas memberikan reaksi, seperti halnya sebagai penulis, saya punya kebebasan mutlak menentukan apa yang ingin saya tuangkan dalam keabadian.

Salam grunge!

Navicula: Pesta Suara di Lubang Neraka

Navicula di Mondo Cafe, Kemang
Navicula di Mondo Cafe, Kemang

Besok Bubar dan Navicula menjadikan konser di Mondo Café, Kemang, semalam (2/3) sebagai salah satu konser terbaik bagi saya di awal tahun 2014 ini. Bagaimana tidak? Ruang bawah tanah yang kecil dan pengap itu meledak oleh badai suara distorsi, teriakan massa, dan aksi moshing serta crowd surfing tiada henti.

Ini adalah konser Navicula ke-29 yang saya hadiri. Dan anehnya, ini mengingatkan saya pada konser pertama mereka yang saya hadiri pada 13 Mei 2009 lampau di Prost Beer House, Kemang. Sebuah pesta suara di lubang neraka!

Turun ke lubang neraka itu sekitar jam 9 malam kurang, saya hanya kebagian sepotong setlist Besok Bubar. Lumayan. Saya masih dapat beberapa lagu seperti “Besok Mati”, “Setan”, “Senjata Pemusnah Massal”, “Awas”, dan “Pahlawan Bertopeng”. Dan setelah sekian lama tidak melihat mereka manggung, rasanya sungguh nikmat melumat nomor-nomor keras yang dibawakan sepenuh hati oleh trio ugal-ugalan ini.

Besok Bubar, sepanjang yang saya pernah tonton, selalu tampil nyaman dengan musik dan jati dirinya sendiri. Rasanya tidak sabar menanti peluncuran album teranyar mereka, yang kabarnya saat ini sudah kelar di-mastering.

Navicula hadir dengan kekuatan penuh. Setelah malam sebelumnya menghantam AtAmerica yang penuh (sampai-sampai saya diusir sekuriti karena kapasitas ruang sudah terlampaui – kabarnya di dalam area konser bercokol 369 fans dan beberapa puluh lagi terpaksa menunggu di luar), mereka sama sekali tidak terlihat lelah.

Tiga belas lagu menghantam seperti kereta cepat. Mulai dari “Everyone Goes to Heaven”, “Mafia Medis”, “Aku Bukan Mesin”, “Harimau! Harimau!”, “Tomcat”, “Days of War, Nights of Love”, “Love Bomb”, “Di Rimba”, “Televishit”, “Mafia Hukum”, “Menghitung Mundur”, “Suram Wajah Negeri”, hingga “Metropolutan”.

Distorsi memantul di dinding, menjadi gema di telinga, dan akhirnya mengendap di dalam jiwa. Jiwa-jiwa merdeka yang tidak henti berlompatan, mengepalkan tangan, dan bersama meneriakkan semangat hidup dan perlawanan pada ketidakadilan.

Di lubang neraka inilah grunge kembali pada khitahnya, konser musik yang tidak memiliki batas jelas yang memisahkan performer dengan audiensnya. Sebuah pertunjukan musik yang tidak terlalu memedulikan showmanship, karena semua bermuara pada ledakan energi murni nan jujur.

Inilah grunge, yang dengan menontonnya berarti kita terlahir kembali. Karena dalam konser seperti ini, dalam kebisingan yang memekakkan telinga ini, kita sesungguhnya bukan menemukan musik yang indah, melainkan menemukan diri kita sendiri…