Tag Archives: cupumanik

Jiwa yang Berani dalam Kata-kata

Che dan Robi di Filosofi Kopi
Che dan Robi di Filosofi Kopi

Ya, saya tahu. Lagu “Jiwa yang Berani” belum resmi dirilis. Di dunia ini, barangkali tidak sampai 100 orang saja yang pernah mendengarnya. Meski, tentu saja, saya sudah mendengarkan versi akhirnya puluhan kali banyaknya. Bukan lantaran lagu itu khusus ditulis Che Cupumanik dan Robi Navicula untuk buku saya yang berjudul “Rock Memberontak”, melainkan karena saya memang menyukainya. Mencintainya, bahkan.

Karena kita semua, termasuk saya sendiri, tidak tahu kapan lagu tersebut akan dirilis ke publik, kali ini saya deskripsikan saja dalam kata-kata.

Lagu dibuka dengan petikan gitar. Kering, nyaris terdengar seperti bunyi kayu. Tak berapa lama, vokal Robi masuk, membawakan bait “Bawakan aku bintang dalam pekatnya malam yang kelam… Bawakan aku sinar, ciptakan suar terangi jalan…”. Bersamaan dengan pukulan drum yang jatuh berdentam di kejauhan, Che menyusul. “Mimpi menjadi api hanyalah untuk jiwa yang berani… Cinta yang tak pernah beku bersemayan dekat dengan jantungku…”

Setelah itu, lagu berganti arah. Kelar bagian intro dan verse yang  bernuansa industrial layaknya Nine Inch Nails dengan sentuhan modern berbau Incubus, bagian selanjutnya menghantam keras. Raungan gitar dipadu berondongan drum yang terdengar liar, nyaris seperti permainan Keith Moon. Bersama, Che dan Robi menyanyikan “Lipat gandakan senjata walau diancam bahaya… Kita manusia merdeka dan ini bukan dosa…”

Memasuki reff, nuansa grunge menyeruak. Bukan grunge yang gelap seperti Alice in Chains, melainkan yang manis dan nyaris terdengar pop layaknya Nirvana dan Foo Fighters.

“Kita rangkai harapan… Kan kuberi pengorbanan… Atas nama karya…” demikian bait dalam reff berbunyi, berulang sebanyak dua kali, sebelum kemudian ditutup dengan sedikit hentakan dan lagu kembali masuk ke mode petikan gitar.

Dari situ, verse hingga reff diulang penuh. Tidak ada sesuatu yang baru, sampai kemudian solo guitar Ian Zat Kimia memecah pola. Gitarnya meraung seperti lepas dari kerangka lagu. Menembus dinding telinga dan kemudian menancap di kepala. Terjun bebas ke dalam hati dan bersemayam di sana. Raungan gitar itu, bagi saya, adalah pernyataan keras untuk melupakan grunge sebagaimana yang selama ini kita imani dan bergerak maju.

Raungan gitar itu sungguh brutal, megah, dan anggun. Tiga puluh lima detik yang terdengar indah di telinga.

“Jiwa yang Berani”, bagi saya, dan barangkali bagi kalian semua nantinya (kalau akhirnya lagu ini dirilis ke publik), adalah ajakan yang sangat berani untuk terus berkarya, menembus batas-batas yang ada, dan meninggalkan definisi grunge yang sudah usang.

Beli buku Rock Memberontak.

Jiwa yang Berani

Tim Buku "Rock Memberontak"
Tim Buku “Rock Memberontak”

Nyaris tengah malam, awal November 2015, di trotoar jalanan di Jakarta Selatan. Empat lelaki separuh lelah berdiri, bicara penuh nyali. Mereka bicara soal sebuah rencana nekat yang akan menyeret lelaki kelima, yang malam itu barangkali sedang nyaman terlelap di rumahnya di Bali. Rencana gila itu, yang akhirnya benar-benar dijalankan dengan segala kemestakungannya, melahirkan sebuah lagu sakti berjudul “Jiwa yang Berani”.

Ketika pertama kali saya menemui Che dan membahas secara serius rencana penulisan buku “Rock Memberontak”, sekitar bulan Maret 2015, nama Robi belum masuk ke dalam agenda. Beberapa waktu kemudian, saat saya bicara dengan Dankie dalam salah satu sesi bincang-bincang terkait bukunya yang berjudul “Dua Senja Pohon Tua” (buku itu diterbitkan Juni 2015), barulah ide itu mengemuka. “Kalau bisa menggabungkan Che dan Robi,” kata Dankie waktu itu, “Itu bakal gila.”

Jadilah. Bukannya keberatan, Che malah bersuka cita. Dalam pertemuan selanjutnya yang kali ini membawa serta Rudi (desainer), Gede (penerbit), Adi (fotografer), dan Topang (videografer), rencana kian gila karena Che mengusulkan untuk menambah peluru bagi proyek buku “Rock Memberontak”. Peluru itu, yang hingga hari ini pun rasanya sulit saya cerna kehadirannya (saya hanya bisa bersyukur untuk itu semua) adalah sebuah lagu yang ditulisnya bersama Robi.

Dari trotoar jalanan itu, Che dan Topang terbang ke Bali. Bukan hanya Robi yang kemudian terseret, melainkan juga Ian Zat Kimia. Bersama, keempat lelaki ini bekerja keras di bidangnya masing-masing, di kediaman sekaligus studio musik milik Ian.

Che dan Robi berkolaborasi menuliskan nada dan lirik. Ian tak mau setengah hati, dia memanggil anggota Zat Kimia lainnya untuk membantu aransemen di departemen bas dan drum. Sementara Topang, sesuai gugus tugasnya dalam proyek buku “Rock Memberontak”, merekam semua proses kreasi itu ke dalam format video.

Video proses kreasi “Jiwa yang Berani” dapat ditonton di sini:

Satu ide menggelinding, melahirkan ide lainnya. Kalau dipikir-pikir, ide awal untuk menulis buku “Rock Memberontak” sangatlah rapuh. Tanpa orang-orang yang mendukung saya (dan memaklumi semua kegilaan serta kecerewetan saya, tentunya), ide itu paling banter masuk comberan. Sungguh beruntung saya dikelilingi oleh orang-orang yang punya naluri tinggi dalam berkreasi, yang paham pentingnya merawat sebuah ide. Bagi saya, merekalah sesungguhnya sosok jiwa-jiwa yang berani.

Nantikan peluncuran resmi single “Jiwa yang Berani” pada pertengahan Januari 2016, berbarengan dengan kehadiran buku “Rock Memberontak” di toko buku.

Konser Wujudkankustik

Poster "Konser Wujudkankustik" (desain oleh Rudi)
Poster “Konser Wujudkankustik” (desain oleh Rudi)

Karena gig ini gratis, tidak seperti biasanya, saya membiarkan kick off molor satu jam penuh dari jadual semula. Pukul 20.00 WIB, barulah Boy Krucil membuka “Konser Wujudkankustik” dengan info penutupan lelang yang dipandunya bersama Kang Denny.

Konser akustik yang digelar di Paviliun 28 pada Selasa, 20 Oktober 2015 tersebut tadinya ditujukan untuk menggalang dana produksi buku ketiga saya yang berjudul “Rock Memberontak”. Namun kemudian, karena keasyikan ngobrol, nyanyi, dan menyesap bir dingin, saya malah lupa minta donasi, hahaha!

Biarlah. Bagi yang berkenan memberi dukungan, kalian bisa memberikan melalui jalur online di link ini: https://wujudkan.com/project/buku-rock-memberontak2/view

Jericho Boys, yang dimotori Jessy, menjadi menu pembuka. Bermodalkan satu gitar elektrik, satu gitar akustik, dan vokal, mereka menyuguhkan berbagai ‘90s rock mega hits dengan ciamik. Pearl Jam, Alice in Chains, Radiohead, Soundgarden, hingga Jane’s Addiction disikat tuntas.

Dalam sesi penutup nantinya, setelah jamming selesai, mereka kembali dengan suguhan asyik berisikan Nine Inch Nails, Blind Melon, dan David Bowie. Jericho Boys, you boleh, you!

Sesi jamming dibuka dengan kehadiran Uncal. Menahan demam akibat disengat lebah sore harinya, dia sukses membawakan “Vasoline” dan “Wicked Garden” milik Stone Temple Pilots. Berikutnya adalah Adi yang merupakan fotografer resmi buku “Rock Memberontak”. Dia juga fasih melantunkan dua tembang milik Radiohead, “High and Dry” dan “Fake Plastic Trees”.

Menu selanjutnya adalah Dhia. Penggila Britpop ini membawakan 3 lagu. Dua lagu pertama, saya duga (mengacu ke setlist yang tertera di rundown acara) adalah “Trash” dan “Disco”. Lagu ketiga, tentu saja saya kenal, “Champagne Supernova” milik Oasis. Audiens, yang sebagain besar lelaki dan berumur seperti saya, kontan ikut bernyanyi. Sebagian bagus, sebagian fals. Semuanya, saya pastikan, bahagia.

Che Cupumanik, salah satu nara sumber utama buku “Rock Memberontak” selain Robi Navicula, ikut sumbang suara. Suaranya, tentu saja, tidak sumbang. Dengan apik dia menyuguhkan “Nutshell” dan “River of Deceit”. Seharusnya dia membawakan kedua lagu tersebut bersama Nito. Akan sangat menarik menikmati kolaborasi dari dua orang yang sama menyanjung Layne Staley tersebut. Sayang, mendadak Nito harus dinas ke luar kota.

Sesi jamming, seperti sudah saya perkirakan, berlarut-larut melebihi rencana semula. Irfan, pembuat video promo buku “Rock Memberontak” yang selama seminggu penuh ditayangkan di layar media CommuterLine, mengambil alih dan membawakan “Breath” serta “Release” milik Pearl Jam. Selanjutnya hadir Arie PT, Pheps Respito, dan Ina. Masing-masing membawakan nomor-nomor milik Stone Temple Pilots, Incubus, Nirvana, dan Def Leppard.

Malam itu sebenarnya ada Amar dan Rega dari Besok Bubar yang mampir setelah sorenya menyelesaikan sesi wawancara di SCTV. Sayang mereka tidak sempat ikut jamming. Barangkali mereka lelah atau terlanjur lapar.

Bagi saya, adalah penampilan tunggal Che Cupumanik yang sangat membekas malam itu. Dengan gitar kopong, dia membawakan versi akustik “Bukan Saat Ini”. Sangat menyentuh. Tepat sosok dan nuansa seperti itulah yang saya tangkap dan tuangkan dalam buku “Rock Memberontak”. Personal. Intim. Intens. Kalau dia memang berencana untuk meniti solo career, dengan bekal penampilan seperti malam itu, saya rasa semuanya akan baik-baik saja.

All in all, terima kasih untuk semua kawan yang sudah menyempatkan hadir malam tadi. Saya sungguh menikmati setiap tetes bir dingin dan lantunan nada yang memenuhi ruangan. Nuansa Paviliun 28 yang santai dan akrab jelas makin menambah nikmat semuanya. Kalau ada definisi good time, “Konser Wujudkankustik” semalam, bagi saya, adalah yang paling tepat menggambarkannya.

Beli buku Rock Memberontak.