Tag Archives: cupumanik

Menemukan Tuhan Semesta Alam


Lahirnya klip video Cupumanik berjudul Syair Manunggal yang menampilkan keindahan alam membuat saya berpikir. Lebih tepatnya, mengenang masa lalu, ketika saya masih kuliah dan mendaki gunung jadi menu mingguan.

Saya kuliah di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Sudah merupakan rahasia umum kalau pada era ‘90-an akhir kampus itu jadi markasnya gerakan remaja berbasis keagamaan. Mahasiswa, terutama yang baru, digiring ke dalam sesi-sesi kajian keagamaan yang, menurut saya, tidak banyak gunanya bagi kehidupan sehari-hari. Juga bagi kemakmuran masyarakat pada umumnya.

Dalam sebuah sesi kajian di sore hari – ya, saya kadang suka iseng ikut sesi seperti itu bersama teman-teman pendaki gunung, demi cari makan gratis – sang mentor membahas kegemaran kami mendaki gunung. Dia bicara sesuatu seperti ini: kenapa pendaki gunung yang mencintai alam tidak meneruskan penelurusan batinnya hingga menemukan Tuhan Yang Menciptakan Alam?

Mentor itu, yang entah kini sudah jadi politisi PKS atau barangkali malah anggota DPR (saya tidak begitu peduli dia jadi apa saat ini, karena pada dasarnya saya tidak tertarik pada orang yang bahkan di usia mudanya sudah doyan menghakimi orang lain), benar sekali. Mendaki gunung setiap akhir pekan, menikmati kesunyian alam, dan mengagumi kemegahannya, rasanya mustahil tidak bermuara pada cinta pada Sang Pencipta.

Pada saat bersamaan, dia juga salah. Kenapa dia menyimpulkan bahwa kami – setidaknya saya – pada saat itu tidak menemukan Tuhan? Apakah pendaki gunung berambut gondrong dengan mulut yang senantiasa mengepulkan asap rokok dan kadang berbau alkohol tidak bisa menemukan Tuhan? Apakah Tuhan milik dia sendiri? So typical.

Saya, melalui pendakian-pendakian gunung itu, menemukan Tuhan. Saya mencintai Dia. Hanya saja, Tuhan yang saya temui, yang saya cintai sepenuh hati, sepertinya berbeda dengan Tuhan dalam kerangka pikir dan doktrin agama milik sang mentor ini. Selamanya akan berbeda.

Kembali ke klip video Syair Manunggal milik Cupumanik.

Pemilihan pemandangan alam – dengan banyak sekali extreme close-up shot di dalamnya – dalam sebuah klip video musik jelas aneh. Setidaknya, bagi sebuah rock band yang menyatakan diri grunge. Daun, semut, burung, rusa, danau, sungai, kabut, dan beragam komponen keindahan alam pegunungan lainnya disajikan dari awal hingga akhir. Suguhan itu rasanya lebih masuk akal kalau dirilis oleh National Geographic atau Discovery Channel ketimbang Cupumanik.

Tentu saja saya mengerti. Lebih tepatnya, belagak mengerti.

Che, melalui bacaan buku dan doktrin-doktrin yang diikutinya, jelas bicara tentang Tuhan dari sudut pandang agama Islam. Dalam Syair Manunggal, dia menuliskan kerinduannya pada Tuhan yang, anehnya, tidak mampu diperoleh melalui pemahaman doktrin semata. Buku, secara tersirat dalam lirik-lirik itu, telah gagal membawanya kepada kesadaran tertinggi sebagai manusia.

Kali ini, Che dipaksa meninggalkan buku-bukunya. Akhirnya semua dikembalikan ke alam. Kepada kepekaan hati untuk merasakan kehidupan di sekitar. Untuk meresapi dan menghargai karunia Sang Pencipta.

Bermodalkan pendekatan seperti itulah, saya rasa, Cupumanik kemudian menemukan Tuhan mereka.

Klip video Syair Manunggal, di mata saya, adalah ajakan untuk menemukan Tuhan yang universal. Bebas dari doktrin agama mana pun. Karena di sana tersirat pernyataan bahwa untuk menemukan Tuhan, yang kita butuhkan bukanlah kitab dan doktrin-doktrin melangit, melainkan kepekaan nurani. Itu saja.

Melalui klip video ini, barangkali, Cupumanik telah mengambil tikungan artistik dan filosofis terbesar dalam karir musik mereka yang semakin dewasa.

Jiwa yang Berani dalam Kata-kata

Che dan Robi di Filosofi Kopi
Che dan Robi di Filosofi Kopi

Ya, saya tahu. Lagu “Jiwa yang Berani” belum resmi dirilis. Di dunia ini, barangkali tidak sampai 100 orang saja yang pernah mendengarnya. Meski, tentu saja, saya sudah mendengarkan versi akhirnya puluhan kali banyaknya. Bukan lantaran lagu itu khusus ditulis Che Cupumanik dan Robi Navicula untuk buku saya yang berjudul “Rock Memberontak”, melainkan karena saya memang menyukainya. Mencintainya, bahkan.

Karena kita semua, termasuk saya sendiri, tidak tahu kapan lagu tersebut akan dirilis ke publik, kali ini saya deskripsikan saja dalam kata-kata.

Lagu dibuka dengan petikan gitar. Kering, nyaris terdengar seperti bunyi kayu. Tak berapa lama, vokal Robi masuk, membawakan bait “Bawakan aku bintang dalam pekatnya malam yang kelam… Bawakan aku sinar, ciptakan suar terangi jalan…”. Bersamaan dengan pukulan drum yang jatuh berdentam di kejauhan, Che menyusul. “Mimpi menjadi api hanyalah untuk jiwa yang berani… Cinta yang tak pernah beku bersemayan dekat dengan jantungku…”

Setelah itu, lagu berganti arah. Kelar bagian intro dan verse yang  bernuansa industrial layaknya Nine Inch Nails dengan sentuhan modern berbau Incubus, bagian selanjutnya menghantam keras. Raungan gitar dipadu berondongan drum yang terdengar liar, nyaris seperti permainan Keith Moon. Bersama, Che dan Robi menyanyikan “Lipat gandakan senjata walau diancam bahaya… Kita manusia merdeka dan ini bukan dosa…”

Memasuki reff, nuansa grunge menyeruak. Bukan grunge yang gelap seperti Alice in Chains, melainkan yang manis dan nyaris terdengar pop layaknya Nirvana dan Foo Fighters.

“Kita rangkai harapan… Kan kuberi pengorbanan… Atas nama karya…” demikian bait dalam reff berbunyi, berulang sebanyak dua kali, sebelum kemudian ditutup dengan sedikit hentakan dan lagu kembali masuk ke mode petikan gitar.

Dari situ, verse hingga reff diulang penuh. Tidak ada sesuatu yang baru, sampai kemudian solo guitar Ian Zat Kimia memecah pola. Gitarnya meraung seperti lepas dari kerangka lagu. Menembus dinding telinga dan kemudian menancap di kepala. Terjun bebas ke dalam hati dan bersemayam di sana. Raungan gitar itu, bagi saya, adalah pernyataan keras untuk melupakan grunge sebagaimana yang selama ini kita imani dan bergerak maju.

Raungan gitar itu sungguh brutal, megah, dan anggun. Tiga puluh lima detik yang terdengar indah di telinga.

“Jiwa yang Berani”, bagi saya, dan barangkali bagi kalian semua nantinya (kalau akhirnya lagu ini dirilis ke publik), adalah ajakan yang sangat berani untuk terus berkarya, menembus batas-batas yang ada, dan meninggalkan definisi grunge yang sudah usang.

Beli buku Rock Memberontak.

Jiwa yang Berani

Tim Buku "Rock Memberontak"
Tim Buku “Rock Memberontak”

Nyaris tengah malam, awal November 2015, di trotoar jalanan di Jakarta Selatan. Empat lelaki separuh lelah berdiri, bicara penuh nyali. Mereka bicara soal sebuah rencana nekat yang akan menyeret lelaki kelima, yang malam itu barangkali sedang nyaman terlelap di rumahnya di Bali. Rencana gila itu, yang akhirnya benar-benar dijalankan dengan segala kemestakungannya, melahirkan sebuah lagu sakti berjudul “Jiwa yang Berani”.

Ketika pertama kali saya menemui Che dan membahas secara serius rencana penulisan buku “Rock Memberontak”, sekitar bulan Maret 2015, nama Robi belum masuk ke dalam agenda. Beberapa waktu kemudian, saat saya bicara dengan Dankie dalam salah satu sesi bincang-bincang terkait bukunya yang berjudul “Dua Senja Pohon Tua” (buku itu diterbitkan Juni 2015), barulah ide itu mengemuka. “Kalau bisa menggabungkan Che dan Robi,” kata Dankie waktu itu, “Itu bakal gila.”

Jadilah. Bukannya keberatan, Che malah bersuka cita. Dalam pertemuan selanjutnya yang kali ini membawa serta Rudi (desainer), Gede (penerbit), Adi (fotografer), dan Topang (videografer), rencana kian gila karena Che mengusulkan untuk menambah peluru bagi proyek buku “Rock Memberontak”. Peluru itu, yang hingga hari ini pun rasanya sulit saya cerna kehadirannya (saya hanya bisa bersyukur untuk itu semua) adalah sebuah lagu yang ditulisnya bersama Robi.

Dari trotoar jalanan itu, Che dan Topang terbang ke Bali. Bukan hanya Robi yang kemudian terseret, melainkan juga Ian Zat Kimia. Bersama, keempat lelaki ini bekerja keras di bidangnya masing-masing, di kediaman sekaligus studio musik milik Ian.

Che dan Robi berkolaborasi menuliskan nada dan lirik. Ian tak mau setengah hati, dia memanggil anggota Zat Kimia lainnya untuk membantu aransemen di departemen bas dan drum. Sementara Topang, sesuai gugus tugasnya dalam proyek buku “Rock Memberontak”, merekam semua proses kreasi itu ke dalam format video.

Video proses kreasi “Jiwa yang Berani” dapat ditonton di sini:

Satu ide menggelinding, melahirkan ide lainnya. Kalau dipikir-pikir, ide awal untuk menulis buku “Rock Memberontak” sangatlah rapuh. Tanpa orang-orang yang mendukung saya (dan memaklumi semua kegilaan serta kecerewetan saya, tentunya), ide itu paling banter masuk comberan. Sungguh beruntung saya dikelilingi oleh orang-orang yang punya naluri tinggi dalam berkreasi, yang paham pentingnya merawat sebuah ide. Bagi saya, merekalah sesungguhnya sosok jiwa-jiwa yang berani.

Nantikan peluncuran resmi single “Jiwa yang Berani” pada pertengahan Januari 2016, berbarengan dengan kehadiran buku “Rock Memberontak” di toko buku.