Tag Archives: ddh

Nyanyian Langit yang Mencari Diri

Mempertemukan Tim Buku #HappinessIs dengan Pohon Tua di Menteng
Mempertemukan Tim Buku #HappinessIs dengan Pohon Tua di Menteng

Dialog Dini Hari (DDH) menyudahi konser rumahnya – konser yang digelar di sebuah rumah di bilangan Menteng – dengan Nyanyian Langit. Inilah lagu yang membuat saya jatuh cinta pada mereka, khususnya Pohon Tua. Nyanyian Langit, bagi saya, adalah gerbang bagi jiwa untuk berkelana di alam pemikiran. Kemegahan yang anehnya terasa sangat intim dan personal dari lagu itu seperti kanal mistis yang memungkinkan saya menyelami kepala saya sendiri untuk bertanya, menggugat, dan kemudian menemukan diri sendiri.

“Aku dan dia realita… Aku dan dia realita…” demikian Pohon Tua berulang menyanyikan mantranya. Siapa ‘dia’ yang disebutnya berulang kali itu, hanya Pohon Tua yang tahu. Apakah kekasih, alter egonya sendiri, atau malah Tuhan. Entahlah.

Yang jelas, saya yakin sepenuhnya kalau Nyanyian Langit adalah lagu yang ditulis dari jiwa. Kepada jiwa-jiwa yang serupa lagu itu bicara. Hanya kepada mereka.

Di penghujung lagu, DDH terdengar – bahkan terasa – seperti Kantata Takwa. Energi mereka menyatu. Untuk sesaat, mereka seperti tidak berada di sana. Dalam detik-detik transenden itu, bersama mantra yang diteriakkan suara Pohon Tua yang separuh parau namun penuh tenaga, malam menutup sempurna.

Dua puluh tujuh kali menonton DDH dan Pohon Tua, saya berani bilang bahwa penghujung Nyanyian Langit malam tadi adalah salah satu pencapaian terbaik suguhan musik live mereka.

Tentu saja setelah itu ada encore. Pagi. Dan semua bernyanyi. Dan lampu-lampu dinyalakan. Dan tiba saatnya melihat kembali sosok DDH yang kini sudah semakin luas dicintai publik. Saya bahagia untuk mereka.

Kalau mau jujur, setlist DDH malam itu memang terbilang lain dari biasanya. Setidaknya, dari yang biasa mereka bawakan dua tahun belakangan.

Empat lagu pertama nuansanya gelap dan sarat kontemplasi. Bumiku Buruk Rupa, Sahabatku Jadi Hantu, Ucapkan Kata-katamu (musikalisasi puisi Widji Thukul), dan Pohon Tua Bersandar. Kalau saja Zio dan Denny tidak menyuguhkan banyak improvisasi bas dan drum yang membuat lagu-lagu tersebut lebih groovy dari aslinya, saya akan menduga bahwa mood Pohon Tua sedang buruk malam tadi.

Bicara soal improvisasi, malam itu saya seperti melihat DDH yang sedang mencari bentuk baru. Pencapaian musikal di album keempat, Tentang Rumahku, tentu bukan tantangan yang main-main. Bahkan mereka sendiri pun belum tentu mampu menyamai atau melampaui.

Sisa setlist malam itu, mulai dari Temui Diri, Oksigen, Gurat Asa, Kita dan Dunia, Pelangi, Tentang Rumahku, hingga Jalan dalam Diam disuguhkan dalam bentuk yang nyaris semuanya eksperimental. Siapa pun yang cukup lama mengenal DDH pasti bisa merasakan bahwa mereka semakin menguasai lagu-lagu mereka sendiri. Ke mana pun mereka bawa – menukik menjadi folk/rock atau bahkan menyerempet jazz sekali pun – lagu-lagu itu selalu terasa punya jiwa.

Kalau itu merupakan bagian dari pencarian musikal mereka, saya berani bertaruh bahwa kita masih perlu menunggu sedikit lebih lama lagi untuk melihat kelahiran album kelima DDH. Bukan saja karena pencarian mereka akan melebar ke segala arah, melainkan juga mereka akan sangat menikmatinya. Kita hanya bisa berdoa, semoga DDH tidak tersesat dalam kenikmatan pencarian itu.

Oh, ya. Semalam Pohon Tua banyak sekali bercerita tentang pengalaman hidup masa remajanya di Lombok. Tentang keluarganya. Tentang pertemuannya dengan gitar, musik, dan Navicula. Tentang kekasih, anak, dan keluarga.

Mungkin dia rindu kekasih dan anaknya yang kini tinggal di Slovakia. Entahlah. Sedekat apa pun saya mengenal Pohon Tua, di mata batin saya selamanya dia seperti samudera. Luas. Dalam. Dan punya banyak sekali ruang rahasia.

Dialog Jatuh dalam Gerimis

DDH di Rolling Stone Indonesia
DDH di Rolling Stone Indonesia

Di antara gerimis, Silampukau membius ratusan penonton yang memadati Rolling Stone Indonesia, Rabu malam (25/11). “Malam Jatuh di Surabaya”, lagu favorit saya di album mereka, benar-benar terasa pas. Malam memang baru saja jatuh di Ampera, bersama rintik hujan yang membawa rindu.

Saya tidak datang ke sana untuk mereka. Saya hadir untuk Dialog Dini Hari (DDH). Malam itu ternyata DDH tampil tanpa Brozio. Posisinya digantikan oleh Rhesa, basis Endah N’ Rhesa.

Dadang membuka dengan ukulele. Sendirian dia membawakan “Hey Ya (Kubu Carik)” dari solo album perdananya yang bertajuk “Kubu Carik”. Saya berani bertaruh bahwa separuh lebih fans DDH yang menyemut di bibir panggung malam itu tidak bisa ikut bernyanyi. “Kubu Carik” memang belum secara resmi diluncurkan ke publik. Sampai hari ini, hanya 200 orang saja yang sudah memilikinya. Mereka adalah orang yang datang ke konser peluncuran buku “Dua Senja Pohon Tua” atau yang membelinya melalui jalur terbatas.

Berikutnya meluncur “Pohon Tua Bersandar”, “Temui Diri”, “Pelangi”, “Tentang Rumahku”, “Pagi”, dan “Oksigen”.

Deny, yang malam itu tampil necis dengan potongan rambut barunya, terlihat santai. Mengingat Rhesa bukanlah Brozio, tampaknya Deny memilih untuk bermain aman. Sesekali saja dia memainkan improvisasi drum. Sisanya, dia memastikan DDH menunggangi malam yang semakin dingin itu dengan mulus.

Sebaliknya dengan Rhesa. Dia justru terlihat sangat menikmati kolaborasi panggungnya dengan DDH. Tak henti dia meluncurkan jurus-jurus improvisasi, termasuk aksi solo di “Oksigen” yang kemudian disambut riuh penonton.

Bahwa DDH digemari banyak orang karena bicara cinta dengan cara yang elegan, itu memang benar adanya. Namun Dadang yang saya cintai adalah musisi yang konsisten (bahkan boleh dibilang berkeras) menyematkan pesan-pesan penting dalam lagu-lagunya. Malam itu, pesan penting itu berasal dari Wiji Thukul yang hingga kini tak tentu rimbanya.

Sebagai menu pamungkas, DDH membawakan lagu “Ucapkan Kata-katamu”. Lirik lagu itu berasal dari puisi perlawanan bawah tanah milik Wiji Thukul. Dengan gemilang DDH mampu menyuguhkannya menjadi sebuah lagu yang kiranya layak bersanding dengan “Kesaksian” milik Kantata Takwa.

Jadilah kemudian saya melangkah pulang dengan bait-bait ini bernyanyi dalam kepala, di bawah siraman gerimis yang seolah menolak berhenti menerpa, “Jika kau tahan kata-katamu… Mulutmu tak bisa mengucapkan… Apa maumu terampas… Kau akan diperlakukan seperti batu… Dibuang dipungut… Atau dicabut seperti rumput… Atau menganga… Diisi apa saja menerima… Tak bisa ambil bagian.”

Review Album Musik: “Tentang Rumahku (2014)”

Tentang Rumahku (2014)

Nyaris tidak ada yang saya harapkan lagi dari Dialog Dini Hari (DDH) setelah keluarnya album “Lengkung Langit (2012)”. Mini album yang hanya terbit dalam format piringan hitam dan hanya memuat 4 lagu itu sudah terlampau sempurna. Rasanya mustahil dan kurang ajar jika kita mengharapkan DDH bisa melahirkan karya baru yang melampaui itu semua.

Tapi, seperti yang sering terjadi dalam kehidupan ini, saya salah!

Album terbaru mereka bertajuk “Tentang Rumahku” yang diluncurkan 31 Mei 2014 lalu di Triss Living, Rempoa, Jakarta, ternyata mampu menghempaskan tiga album sebelumnya. Maksud saya, benar-benar menghempaskan semuanya tanpa sisa!

Album pertama DDH terdengar seperti “Into The Wild”, proyek solo Eddie Vedder. Sarat nuansa folk-blues dengan vokal yang nyaris seperti Iwan Fals. Siapa pun yang doyan naik gunung atau bertualang ke alam bebas pasti jatuh hati pada album ini.

Album kedua sepenuhnya adalah tentang perjalanan hidup Pohon Tua. Spiritual dan luar biasa mistis. Seperti kumpulan do’a dari semua agama dan aliran kepercayaan yang hidup di negeri ini. Bagi para pemikir, pencari kesejatian diri yang kerap susah tidur hingga pagi menjelang, ini adalah menu wajib. Album ini bisa dikategorikan sebagai kumpulan suara yang berbahaya. Pesona yang sangat mampu menyesatkan jiwa.

Album ketiga adalah karya para master. Adalah kesempurnaan. Lagu “Lengkung Langit” merangkum dengan apik segalanya tentang DDH. Berteknik tinggi namun terdengar membumi dan sederhana. Lirik sarat makna tanpa maksud menggurui. Dinamika ketiga musisi berbeda aliran dan instrumen dengan keahliannya masing-masing yang terdengar seperti percakapan akrab nan hangat penikmat kopi di teras pagi hari.

Seandainya DDH selesai di album ini juga sebenarnya tidak apa-apa. Saya rasa dunia sudah cukup puas dengan itu semua.

Tapi ternyata mereka sedikit lebih gila. Sedikit lebih berani dan tentu saja sedikit lebih berbakat dari itu. Maka lahirlah album keempat, “Tentang Rumahku (2014)”. Album yang, setidaknya menurut saya, terdengar seperti rangkuman DDH dari berbagai era, yang dipamungkasi dengan suguhan suara dari era terbaru mereka yang elegan dan mewah.

“Gurat Asa” dan “Jalan dalam Diam” di album keempat ini sama sempurnanya dengan “Lengkung Langit”. Ini adalah DDH dari era album ketiga. Lagu-lagu ini jadi bukti nyata bahwa DDH adalah angsa bertelur emas.

Namun “360 Batu”, “Temui Diri”, dan “Di Balik Pintu” adalah yang paling mencengangkan. Dalam konteks yang baik, tentu saja. Ketiganya terdengar sangat baru. Sangat segar dan sarat semangat petualangan. Tidak lagi terdengar folk-blues melainkan sedikit bercorak jazz ringan. Sangat tidak DDH!

Dari ketiga lagu itu, “Temui Diri” jelas yang paling keren. Inilah jenis musik yang saya sebut sebagai perpaduan nada-nada mahal. Aransemen yang mewah. Rasanya tidak mungkin mendengarkan lagu ini tanpa mengangkat dagu, menghentakkan kaki, meninggikan semangat, dan siap terbang menghantam semua tantangan dalam hidup.

Yang paling indah, tentu saja, adalah “Tentang Rumahku”. Dibuat sedikit lebih ceria dibanding versi gitar kopong yang sering dibawakan Pohon Tua di konser-konser tersembunyinya, lagu ini merangkum semua keindahan bunyi. Terdengar jujur dan meneduhkan, sekaligus bikin rindu.

Siapa pun yang tengah jauh dari rumah atau masih tersaruk dalam perjalanan tak tentu arah mencari jalan pulang, pasti bisa mengerti makna lagu ini dengan sempurna. “Tentang Rumahku” adalah perpaduan do’a dan kenangan. Bersatunya harapan yang manis dan pahitnya perjuangan untuk mempertahankan hal terakhir yang masih masuk akal dalam dunia yang kacau balau ini. Rumah.

Sebelas lagu yang disuguhkan di album ini sungguh apik. Seperti sebuah kisah yang lengkap. Mendengarkan album ini secara penuh mengingatkan saya betapa kita, manusia, sesungguhnya hidup dalam jalinan kisah yang sangat rapuh. Kebahagiaan dan air mata, keyakinan dan kegelisahan, kenangan dan harapan, semua berputar silih berganti, terjalin menjadi cerita hidup yang penuh cacat namun sekaligus indah. Memilih “Tentang Rumahku” sebagai tajuk dari album ini, menurut saya, adalah keputusan brilian. Sangat tepat!

Di era ketika hanya segelintir orang peduli pada penting dan nikmatnya sebuah album musik, ketika bahkan penikmat musik hanya bicara soal single dan melupakan pesona kisah dalam sebuah album penuh, “Tentang Rumahku (2014)” jelas boleh dibilang sangat-sangat-sangat memuaskan!