Tag Archives: grunge

Lagu Baru Konspirasi: Mantra Provokasi

Seperti halnya agama, di Indonesia musik memang lebih berguna sebagai candu ketimbang alat pencerah jiwa. Agama dan musik kerap digunakan, kalau bukan selalu, untuk menutupi kebusukan. Untuk memalingkan wajah kita dari kenyataan.

Coba saja perhatikan, berapa banyak ceramah agama yang mengajak kita berhenti korupsi? Alih-alih melakukan itu, rumah-rumah ibadah malah membuka tangan lebar-lebar menerima sumbangan dari koruptor kelas kakap. So sick!

Berapa banyak lagu di radio dan televisi yang menyuarakan kenyataan pahit? Perasaan teralienasi, depresi, sakitnya tumbuh jadi remaja yang banyak masalah, dan ketidakadilan yang menimpa kita? Bisa dihitung dengan jari! Hampir semua semata bicara soal cinta. Alangkah membosankan. Dan dangkal.

Kedangkalan. Itulah tema utama yang diangkat Konspirasi dalam lagu terbaru mereka yang berjudul Mantra Provokasi. Sebuah tema yang rasanya tidak mungkin ketemu dan diramu kalau penulis liriknya tidak gemar baca koran dan buku.

Ayat-ayat kau gunakan untuk mencekik lawan-lawan politik… Demikian lirik pembuka di lagu itu. Jelas arahnya kemudian ke mana. Radikalisme, kekuatan politik yang menunggangi isu agama dan SARA, serta kedangkalan otak orang Indonesia. Semua itu kembali ditegaskan dan disimpulkan dalam lirik di bagian chorus yang berbunyi: Ancaman bangsa adalah kedangkalan!

Sejujurnya, saya berharap album baru Konspirasi berisi lagu-lagu rock manis namun jantan. Semacam Live atau Stone Temple Pilots. Tapi, menilik lagu pertama di album kedua yang bakal segera mereka rilis nuansanya seperti itu, saya sebaiknya mengubur harapan dalam-dalam.

Di satu sisi, saya sebenarnya malah senang. Ketika kondisi politik dan bangsa kacau balau seperti belakangan ini, rasanya malu mengaku sebagai fans musik rock kalau tidak ada satu pun rock band yang angkat suara soal itu dalam lagu-lagu mereka. Konspirasi, barangkali, bisa jadi alasan bagi saya untuk tetap menegakkan kepala saat berjalan dan mengaku-ngaku sebagai fans musik rock di Indonesia.

So Long, Chris!

Tidak banyak suara manusia yang bisa masuk ke telinga, menggugah jiwa, dan kemudian selamanya bersemayam di dalam hati. Suara Chris Cornell adalah salah satunya. Kamu boleh tidak menyukai lagunya karena terlalu keras atau kelewat aneh, tapi saya berani bertaruh, saat kamu dengar dia bernyanyi, apalagi seperti yang terekam dalam album akustik berjudul Unplugged in Sweden, kamu pasti jatuh hati. Tak heran kalau kemudian, setelah mengetahui kematiannya yang sangat mendadak pada 18 Mei 2017, semua media massa dunia dan fans mencuplik lirik Black Hole Sun sebagai bentuk penghargaan sekaligus rasa kehilangan mendalam. “No one sings like you anymore…”

Saya terpaksa setuju. Tidak akan ada lagi yang bisa bernyanyi seperti dia.

Chris Cornell bukan rock star biasa. Ketika membubarkan Soundgarden pada bulan April 1997, dia menemui anggotanya satu per satu, mengucapkan selama tinggal dan memastikan mereka mendapatkan hak kekayaan intelektual dari semua kolaborasi yang pernah dijalani. Dan beberapa jam sebelum mati, dia baru saja menyelesaikan satu konser bersama Soundgarden di Detroit, AS, yang berkumpul lagi dalam sebuah tur. Dia, kalau boleh disebut demikian, adalah rock star yang memiliki hati nurani.

Demikian lembut hatinya, bertolak belakang dengan tampilannya yang sangar (jangkung, gondrong kriwil, dan kerap berkumis serta memelihara janggut), dia tak sungkan meneteskan air mata ketika bercerita tentang kematian Andy Wood. Semua itu terekam dengan sangat emosional di film dokumenter Pearl Jam Twenty. Dalam film itulah dia mengeluarkan pernyataan yang membuat gusar banyak penggemar grunge di dunia. “Kematian grunge terjadi jauh sebelum Kurt Cobain meledakkan kepalanya sendiri,” demikian Chris Cornell berkata. “Itu terjadi ketika Andy Wood meregang nyawa di rumah sakit, dengan semua mesin pendukung kehidupan melekat di tubuhnya.”

Grunge, secinta apa pun saya kepada genre musik tersebut, sepertinya sudah memasuki pintu kematiannya. Kurt Cobain, Layne Staley, dan Chris Cornell sudah pergi. Dari Empat Dewa Grunge, tersisa satu nama saja. Eddie Vedder. Nama yang seumur hidupnya justru menolak dilabeli grunge, karena merasa istilah itu adalah akal-akalan industri musik untuk mendongkrak penjualan. Untuk memperkosa insan kreatif di dalamnya. Musisi seperti dirinya dan tiga sohibnya yang semua, dengan rumor soal penyebab kematian Chris Cornell sejauh ini, mati bunuh diri.

Well, semua akan mati. No one here gets out alive. Saya, juga kamu. That’s the truth.

Dengan musiknya, Chris Cornell sudah menginspirasi jutaan jiwa. Pertanyaannya, dengan sisa umur kita, apa yang sudah kita perbuat? Apakah sudah memberi manfaat?

Bedah Klip Video: Detail Keindahan Semesta

Menonton Klip Syair Manunggal (foto oleh Adi Tamtomo)
Menonton Klip Syair Manunggal (foto oleh Adi Tamtomo)

Tema Syair Manunggal yang sangat kental bernafaskan spiritual Islam bukanlah arah musik Cupumanik di masa depan. Itu hanyalah bagian kecil dari keseluruhan dimensi musik dan karya artistik mereka. Sebaliknya, aransemen Syair Manunggal justru merupakan gaya lama mereka, saat Rama (gitaris) masih jadi bagian dari Cupumanik. Demikian penjelasan resmi Eski dan Che menjawab pertanyaan saya selaku moderator dalam acara bedah klip video yang digelar di Paviliun 28, Jakarta, pada hari Minggu (27/11) lalu.

Dalam kesempatan itu, semua anggota Cupumanik juga bergantian memaparkan dinamika kreatif mereka saat ini. Tinggal di 3 kota berbeda (Jakarta, Bogor, dan Bandung), Cupumanik kini mengandalkan teknologi komunikasi semacam e-mail dan WhatsApp untuk berkirim sket lagu. Dalam proses kreatif mereka, Che, Doni, dan Iyak terbilang cukup sering jamming bersama. Sementara Eski yang tinggal di Bandung biasanya baru gabung saat sosok lagu sudah benar-benar rampung.

Bedah klip dan diskusi sore itu dihadiri sekitar 50-an Cupumaniak yang berasal dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bandung, Cirebon, dan Surabaya. Mereka terlihat sangat menikmati suguhan klip di layar bioskop kecil yang memang membuat Syair Manunggal semakin terasa nuansa kemegahan alamnya.

Soal arah musik, selintas Eski menyebutkan “semesta rakyat” sebagai tema besar yang akan diangkat dalam album ketiga Cupumanik. Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa tema itu berkisar seputar people power dan jati diri orang Indonesia dalam pergumulan mereka untuk meraih hidup yang lebih baik.

Ketika dikonfirmasi soal tema tersebut, anggota Cupumanik lainnya malah bilang bahwa ini kali pertama mereka dengar konsep itu disampaikan Eski. Nah, lho?

Adi dan Chicco, duo-sutradara yang menggarap klip video Syair Manunggal, didaulat untuk menjelaskan proses di balik layar. Bermodalkan stok foto yang diproyeksikan ke layar bioskop kecil, mereka memaparkan bagaimana klip tersebut disusun, mulai dari brainstorming, survey, pengambilan gambar, hingga proses editing. Sesi yang sangat menyenangkan.

Ketika ditanya apa filosofi utama di balik klip video tersebut (yang sangat banyak menampilkan keindahan alam secara detail menggunakan macro shot), Adi menjelaskan bahwa dirinya sengaja melakukan itu. Tuhan menciptakan keindahan yang detail, demikian dia menjelaskan. Klip video itu ingin mengajak penontonnya kembali memahami itu. Menjadi peka terhadap anugerah. Betapa detail keindahan alam yang sudah diciptakan Tuhan untuk kita, manusia.

Cupumanik di Paviliun 28
Cupumanik di Paviliun 28

Bedah klip video kemudian dilanjutkan dengan sesi akustik. Lokasi acara berpindah dari bioskop kecil ke ruang utama kedai. Mobikin asal Jakarta, Tajam asal Bandung, Artificial Sun (yang digawangi Adi) yang sedang menyiapkan album perdana, dan Cupumanik jadi penampil. Bergantian mereka membawakan lagu demi lagu, mulai dari The Beatles, Deep Purple, Pearl Jam, hingga lagu-lagu karangan mereka sendiri.

Sambil duduk di balkon, saya menikmati itu semua bersama Rudi dan Topang. Selain sudut pandangnya unik, posisi itu membuat saya leluasa menghindar dari sergapan asap rokok.

Cupumanik membawakan 9 lagu, termasuk lagu yang membuat saya pertama kali jatuh cinta pada mereka, Perkenankan Aku Mencintainya. Semua dibawakan dalam versi akustik. Semua terdengar apik. Cupumanik, dalam nuansa bunyi yang lebih sunyi dibanding biasanya, terasa sangat kontemplatif dan dalam.

Diskusi musik yang asyik, dilanjutkan sesi akustik. Ah, betapa saya merindukan acara berkelas semacam itu. Mengupas dimensi lain dari musik. Dimensi yang, menurut saya, terasa sangat akademis. Mencerahkan!