Tag Archives: navicula

Konser Terbaik Gue: Navicula!

Navicula di Camden Bar (foto oleh Adi Tamtomo)
Navicula di Camden Bar (foto oleh Adi Tamtomo)

Kualitas vokal Kelly Jones yang prima saat Stereophonics menguasai panggung utama Java Rockingland 2010 memang sungguh aduhai. Membius. Suaranya seperti whiskey. Tua dan enak.

Gelegar puluhan ribu penonton yang bersama meneriakkan bait demi bait Enter Sandman di Gelora Bung Karno saat Metallica menghantam tahun 2013 juga sangat mengesankan. Membuat saya bergidik. Untuk sesaat, saya merasa kembali berusia belasan tahun.

Namun demikian, bagi saya, rasanya mustahil melupakan ledakan energi Navicula dalam sebuah konser butut di lubang neraka bernama Prost Beer House di bilangan Kemang pada tahun 2009. Demikian hebat ledakan energi itu, saya membawanya terus dalam hati hingga kini terlahir kembali dalam wujud dua buku berjudul Buku Grunge Lokal dan Rock Memberontak.

Dengan semua kenaifan dan kekeraskepalaan yang ada, saya berani bilang bahwa konser butut itu adalah #KonserTerbaikGue.

Semua orang tahu, saya suka grunge. Dan grunge, di mata sebagian besar rock fans – juga kritikus – adalah musik butut. Bahkan punggawanya semacam Stone Gossard dan Chris Cornell pun enggan menyebut musik mereka grunge. Wajar. Grunge sesungguhnya hanyalah istilah marketing yang dipopulerkan oleh majalah Melody Maker. Yeah. Whatever.

But, let me tell you something. Sound dan energi Navicula sama sekali tidak butut. Sebaliknya, mereka terdengar (dan terasa) super fucking tight. Heavy as fuck!

Dankie, yang waktu itu masih lebih mirip dukun ketimbang hipster bergaya gypsy, menyemburkan distorsi beracun dari Fender Stratocaster-nya. Energi raungan gitarnya menyengat ratusan penonton yang menyesaki bibir panggung. Dan ketika akhirnya pukulan drum Gembul jatuh ke lantai, berkelindan dengan dentuman bas Made yang terseret berat, semua yang hadir seperti dihempaskan gelombang laut. Tubuh-tubuh penuh peluh sontak menggeletar dan crowd surfing pun pecah. Navicula. Memang. Gila.

Di kemudian hari, saya mengenal lagu itu sebagai salah satu lagu tersakti milik Navicula: Menghitung Mundur.

Tenryata ada ya, rock band Indonesia yang live-nya sangar kayak gini? Demikian kawan nonton saya malam itu berujar. Thank God. Ada!

Begitu terpesonanya saya pada suguhan distorsi Navicula, sejak malam itu saya bertekad untuk selalu hadir dalam konser-konsernya di Jakarta. Butut maupun megah, berangkat! Saat menulis blog post ini, saya sudah menonton konser mereka sebanyak 37 kali. Dan sungguh saya berharap untuk punya lebih banyak kesempatan lagi.

Bagi saya, konser Navicula adalah suguhan rock sesungguhnya: keras, liar, dan membebaskan. Di lain sisi, meski sangat keras, lagu-lagu mereka melodius dan enak di kuping.

Kebanyakan konser rock belakangan ini mengandalkan kemegahan panggung dan tata cahaya yang membutakan mata. Well, that’s cute. Tapi bicara soal rock n’ roll, itu semua tidak ada apa-apanya dibanding pekatnya energi generasi muda yang muncrat di konser-konser butut dalam lubang neraka bau keringat seperti yang kerap dilakoni Navicula.

Navicula adalah dewa.

Ketika Punk dan Grunge Bersatu Suarakan Perlawanan

Lejen Kaya Dia Aja Takut Sama Gua, Hahaha!
Lejen Kaya Dia Aja Takut Sama Gua, Hahaha!

Malam Jumat. Pemakaman umum Jeruk Purut. Marjinal dan Navicula. Kelar hidup lo!

Jam delapan malam dan hujan masih mengguyur. Malam itu (11/8), Joglo Beer yang terletak persis di samping pemakaman umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan, disesaki anak punk, grunge, dan orang-orang yang peduli kelestarian lingkungan.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang dibahas dalam diskusi dan pidato kebudayaan Rocky Gerung sore harinya di lokasi yang sama. Forum yang digagas oleh Rudolf Dethu itu, sejauh yang saya pahami, membangun gerakan kedewasaan berpikir, mulai dari upaya untuk menanggapi isu tekanan institusi agama pada keberagaman masyarakat Indonesia sampai kampanye untuk membebaskan diri menikmati alkohol dengan cara yang bertanggung jawab. Singkat kata, Dethu mengajak orang Indonesia untuk memakai pikiran dan otaknya sendiri, dan berhenti menjadi kerbau yang dicocok hidungnya.

Back to music.

Marjinal sudah melantunkan lagu pertamanya ketika saya menaiki tangga dari kedai di bawah menuju area pertunjukan. Harap disadari, saya sama sekali tidak pernah mengikuti karya dan sepak terjang punk band legendaris itu. Dalam kepala saya, Marjinal adalah suara orang-orang yang disingkirkan. Punk garis keras. Sangar.

Asyik Bergoyang Menikmati Marjinal
Asyik Bergoyang Menikmati Marjinal

Ternyata, setelah saya berdiri nyaris satu jam penuh menikmati semua lagu yang mereka bawakan malam itu, Marjinal adalah punk band yang luar biasa bagus! Lagu-lagu mereka, uniknya, terdengar merdu dan punya nuansa optimisme tinggi. Liriknya, cerdas dan lugas. Bernas.

Keras mereka menyanyikan Lagu Untuk Anjing Tirani. Bersama penonton yang tak henti bergoyang, Marjinal meneriakkan lirik “Kami marah melihat saudaraku yang tertindas di halaman rumah, ladang sendiri…” Di lain kesempatan, mereka menertawai kenyataan. “Maling-maling kecil dihakimi… Maling-maling besar dilindungi…” demikian mereka menyanyikan Hukum Rimba.

Audiens, yang dipastikan adalah fans garis keras mereka, menyambut semua lagu dengan koor penuh semangat dan tarian khas punk. Tabrak sana sini dan joget kiri kanan. Seru!

Kalau tidak salah ingat, Marjinal menutup penampilannya malam itu dengan lagu Rencong Merencong.

Jelang jam 9, Marjinal memberikan panggung kepada dewa distorsi dari Bali, Navicula.

Tampil dengan kekuatan penuh dan mood yang bagus, Navicula menghantam audiens yang menyesaki Joglo Beer. Seolah menyesuaikan diri dengan tema diskusi, malam itu Navicula tidak memulai konser dengan Menghitung Mundur seperti biasanya, melainkan membawakan Everyone Goes to Heaven. Robi, sejak detik pertama, sudah ceramah soal keberagaman agama, budaya, dan kekayaan local wisdom masyarakat Indonesia.

Navicula di Joglo Beer
Navicula di Joglo Beer

Malam itu, melalui gayanya masing-masing, Marjinal dan Navicula menyuarakan perlawanan. Punk dan grunge, di Joglo Beer malam itu, sama-sama meneriakkan semangat kebebasan manusia.

Berturut-turut kemudian meluncur Menghitung Mundur, Mafia Hukum, Aku Bukan Mesin, Orangutan, Harimau! Harimau!, Love Bomb, Busur Hujan, Kartini, Tomcat, Bali Berani Berhenti, Refuse to Forget, dan Metropolutan.

Moshing, crowd surfing, dan koor massal pecah sejak lagu pertama. Audiens Jakarta seolah menuntaskan dahaganya akan Navicula malam itu. Bibir panggung bergejolak. Tubuh-tubuh terlempar ke udara. Teriakan kebebasan memecah udara malam yang terus saja membawa butiran hujan di musim kemarau.

Saya sendiri akhirnya terseret ke bibir panggung saat Aku Bukan Mesin menghantam. Satu dua kali kepala saya terkena ujung sepatu audiens yang asyik crowd surfing. Tak apa. Inilah konser rock sesungguhnya. Panas. Penuh energi. Liar. Heavy as fuck.

Berbeda dari biasanya, malam itu audiens perempuan terbilang banyak. Kejanggalan yang patut kita syukuri tersebut juga ditangkap Robi yang kemudian berseloroh, “Sudah terlihat kesetaraan gender di kancah penonton rock. Tapi belum di kancah musisinya.”

Dankie, Leanna, dan Saya yang Separuh Teler
Dankie, Leanna, dan Saya yang Separuh Teler

Kejanggalan itu diperkuat dengan hadirnya sosok musisi folk/rock cantik bersuara merdu, Leanna Rachel. Sempat menonton penampilannya di Kompas TV beberapa hari lalu, malam itu saya melihat sosoknya sungguh berbeda. Kalau di televisi dia terlihat feminim dan “rapuh” dengan gitar kopongnya, bersama Navicula malam itu Leanna Rachel tampil tough khas lady rocker, membawakan Love Bomb.

Ledakan energi Navicula malam itu usai bersama raungan gitar Dankie di pengujung Metropolutan. Tepat jam sepuluh malam, konser selesai.

Omong-omong soal Dankie, malam itu permainan gitarnya sungguh aduhai. Solo guitar-nya di Aku Bukan Mesin, Orangutan, Busur Hujan, dan Love Bomb, asyik berat!

Distorsi memang sudah berhenti. Namun saya masih melanjutkan malam. Dua gelas tequila dan 2 botol bir dingin mengalir bersama cerita-cerita dari Leanna, Dankie, Robi, Made, Gembul, dan beberapa kawan lainnya.

Alhasil, pagi ini saya hangover. Sial.

Jiwa yang Berani dalam Kata-kata

Che dan Robi di Filosofi Kopi
Che dan Robi di Filosofi Kopi

Ya, saya tahu. Lagu “Jiwa yang Berani” belum resmi dirilis. Di dunia ini, barangkali tidak sampai 100 orang saja yang pernah mendengarnya. Meski, tentu saja, saya sudah mendengarkan versi akhirnya puluhan kali banyaknya. Bukan lantaran lagu itu khusus ditulis Che Cupumanik dan Robi Navicula untuk buku saya yang berjudul “Rock Memberontak”, melainkan karena saya memang menyukainya. Mencintainya, bahkan.

Karena kita semua, termasuk saya sendiri, tidak tahu kapan lagu tersebut akan dirilis ke publik, kali ini saya deskripsikan saja dalam kata-kata.

Lagu dibuka dengan petikan gitar. Kering, nyaris terdengar seperti bunyi kayu. Tak berapa lama, vokal Robi masuk, membawakan bait “Bawakan aku bintang dalam pekatnya malam yang kelam… Bawakan aku sinar, ciptakan suar terangi jalan…”. Bersamaan dengan pukulan drum yang jatuh berdentam di kejauhan, Che menyusul. “Mimpi menjadi api hanyalah untuk jiwa yang berani… Cinta yang tak pernah beku bersemayan dekat dengan jantungku…”

Setelah itu, lagu berganti arah. Kelar bagian intro dan verse yang  bernuansa industrial layaknya Nine Inch Nails dengan sentuhan modern berbau Incubus, bagian selanjutnya menghantam keras. Raungan gitar dipadu berondongan drum yang terdengar liar, nyaris seperti permainan Keith Moon. Bersama, Che dan Robi menyanyikan “Lipat gandakan senjata walau diancam bahaya… Kita manusia merdeka dan ini bukan dosa…”

Memasuki reff, nuansa grunge menyeruak. Bukan grunge yang gelap seperti Alice in Chains, melainkan yang manis dan nyaris terdengar pop layaknya Nirvana dan Foo Fighters.

“Kita rangkai harapan… Kan kuberi pengorbanan… Atas nama karya…” demikian bait dalam reff berbunyi, berulang sebanyak dua kali, sebelum kemudian ditutup dengan sedikit hentakan dan lagu kembali masuk ke mode petikan gitar.

Dari situ, verse hingga reff diulang penuh. Tidak ada sesuatu yang baru, sampai kemudian solo guitar Ian Zat Kimia memecah pola. Gitarnya meraung seperti lepas dari kerangka lagu. Menembus dinding telinga dan kemudian menancap di kepala. Terjun bebas ke dalam hati dan bersemayam di sana. Raungan gitar itu, bagi saya, adalah pernyataan keras untuk melupakan grunge sebagaimana yang selama ini kita imani dan bergerak maju.

Raungan gitar itu sungguh brutal, megah, dan anggun. Tiga puluh lima detik yang terdengar indah di telinga.

“Jiwa yang Berani”, bagi saya, dan barangkali bagi kalian semua nantinya (kalau akhirnya lagu ini dirilis ke publik), adalah ajakan yang sangat berani untuk terus berkarya, menembus batas-batas yang ada, dan meninggalkan definisi grunge yang sudah usang.

Beli buku Rock Memberontak.