Tag Archives: navicula

Aku Keluar di Dalam!

Navicula di Lake Stage (foto oleh Danudika)
Navicula di Lake Stage (foto oleh Danudika)

Sudah sejak lama saya berharap Robi mengurangi porsi orasinya (yang lebih terasa seperti ceramah satu arah) di panggung dan menggantinya dengan satu atau dua lagu tambahan. Namun, setelah melihat aksi panggung Navicula di Lake Stage dalam Synchronize Festival semalam (30/10), kemungkinan saya harus memendam dalam-dalam harapan itu. Robi, dengan segudang pemikiran di kepalanya, sepertinya akan terus nyerocos di setiap kesempatan yang ada.

Biarlah. Setidaknya di Kemayoran tadi malam musik mereka kick ass dan meledak sempurna.

Delapan lagu yang mereka bawakan sungguh ciamik. Everyone Goes to Heaven, Aku Bukan Mesin, Mafia Hukum, Orangutan, Busur Hujan, Saat Semua Semakin Cepat Bali Berani Berhenti, Refuse to Forget, dan Metropolutan mengalir buas. Didukung oleh tata suara mumpuni, Navicula sukses menghadirkan suguhan konser rock sesungguhnya. Konser yang energik sekaligus apik. Liar namun sepenuhnya bisa dinikmati.

Dan Dankie, diberkatilah jiwa dan gitar barunya, bermain sepenuh hati. Solo guitar-nya di Mafia Hukum, Orangutan, dan Busur Hujan terasa manis mencabik langit Kemayoran yang pengap namun enggan hujan.

Belakangan ini Robi boleh dibilang jadi media darling. Beberapa bulan lalu dia terpilih jadi Sosok of The Month di Harian Kompas dan jadi salah satu Asia Young Leaders yang digelar Asia Society. Dengan posisi sosialnya itu – kita bicara soal pengaruh dan sumbangsih pada komunitas, bukan jumlah kekayaan – Robi jelas punya banyak agenda. Juga kewajiban. Maka wajarlah kalau dia kemudian malah tambah banyak nyerocos di depan publik. There goes my not-so-secret-dream. Ha!

Namun demikian, bukan Robi namanya kalau tidak bermulut mesum. Di tengah distorsi dan gemuruh drum pada pengujung lagu Metropolutan yang legendaris, dia memelintir lirik lagu karangannya sendiri dan meneriakkan: “Aku keluar di dalam!” What the fuck!

Delapan lagu jelas tidak mencukupi. Saya ingin lebih. Seribu lebih penonton yang setia menikmati suguhan sarat energi Navicula di bibir panggung Lake Stage tentu setuju. Maka ketika Robi mengumumkan bahwa Navicula akan memainkan long set dalam gig di Noname Bar, Poins Square Lebak Bulus, Selasa 1 November 2016 mendatang, saya mendadak lega. Yihaaa!

Sampai jumpa di kegilaan tengah malam. Sampai jumpa di lubang neraka berikutnya.

Konser Terbaik Gue: Navicula!

Navicula di Camden Bar (foto oleh Adi Tamtomo)
Navicula di Camden Bar (foto oleh Adi Tamtomo)

Kualitas vokal Kelly Jones yang prima saat Stereophonics menguasai panggung utama Java Rockingland 2010 memang sungguh aduhai. Membius. Suaranya seperti whiskey. Tua dan enak.

Gelegar puluhan ribu penonton yang bersama meneriakkan bait demi bait Enter Sandman di Gelora Bung Karno saat Metallica menghantam tahun 2013 juga sangat mengesankan. Membuat saya bergidik. Untuk sesaat, saya merasa kembali berusia belasan tahun.

Namun demikian, bagi saya, rasanya mustahil melupakan ledakan energi Navicula dalam sebuah konser butut di lubang neraka bernama Prost Beer House di bilangan Kemang pada tahun 2009. Demikian hebat ledakan energi itu, saya membawanya terus dalam hati hingga kini terlahir kembali dalam wujud dua buku berjudul Buku Grunge Lokal dan Rock Memberontak.

Dengan semua kenaifan dan kekeraskepalaan yang ada, saya berani bilang bahwa konser butut itu adalah #KonserTerbaikGue.

Semua orang tahu, saya suka grunge. Dan grunge, di mata sebagian besar rock fans – juga kritikus – adalah musik butut. Bahkan punggawanya semacam Stone Gossard dan Chris Cornell pun enggan menyebut musik mereka grunge. Wajar. Grunge sesungguhnya hanyalah istilah marketing yang dipopulerkan oleh majalah Melody Maker. Yeah. Whatever.

But, let me tell you something. Sound dan energi Navicula sama sekali tidak butut. Sebaliknya, mereka terdengar (dan terasa) super fucking tight. Heavy as fuck!

Dankie, yang waktu itu masih lebih mirip dukun ketimbang hipster bergaya gypsy, menyemburkan distorsi beracun dari Fender Stratocaster-nya. Energi raungan gitarnya menyengat ratusan penonton yang menyesaki bibir panggung. Dan ketika akhirnya pukulan drum Gembul jatuh ke lantai, berkelindan dengan dentuman bas Made yang terseret berat, semua yang hadir seperti dihempaskan gelombang laut. Tubuh-tubuh penuh peluh sontak menggeletar dan crowd surfing pun pecah. Navicula. Memang. Gila.

Di kemudian hari, saya mengenal lagu itu sebagai salah satu lagu tersakti milik Navicula: Menghitung Mundur.

Tenryata ada ya, rock band Indonesia yang live-nya sangar kayak gini? Demikian kawan nonton saya malam itu berujar. Thank God. Ada!

Begitu terpesonanya saya pada suguhan distorsi Navicula, sejak malam itu saya bertekad untuk selalu hadir dalam konser-konsernya di Jakarta. Butut maupun megah, berangkat! Saat menulis blog post ini, saya sudah menonton konser mereka sebanyak 37 kali. Dan sungguh saya berharap untuk punya lebih banyak kesempatan lagi.

Bagi saya, konser Navicula adalah suguhan rock sesungguhnya: keras, liar, dan membebaskan. Di lain sisi, meski sangat keras, lagu-lagu mereka melodius dan enak di kuping.

Kebanyakan konser rock belakangan ini mengandalkan kemegahan panggung dan tata cahaya yang membutakan mata. Well, that’s cute. Tapi bicara soal rock n’ roll, itu semua tidak ada apa-apanya dibanding pekatnya energi generasi muda yang muncrat di konser-konser butut dalam lubang neraka bau keringat seperti yang kerap dilakoni Navicula.

Navicula adalah dewa.

Ketika Punk dan Grunge Bersatu Suarakan Perlawanan

Lejen Kaya Dia Aja Takut Sama Gua, Hahaha!
Lejen Kaya Dia Aja Takut Sama Gua, Hahaha!

Malam Jumat. Pemakaman umum Jeruk Purut. Marjinal dan Navicula. Kelar hidup lo!

Jam delapan malam dan hujan masih mengguyur. Malam itu (11/8), Joglo Beer yang terletak persis di samping pemakaman umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan, disesaki anak punk, grunge, dan orang-orang yang peduli kelestarian lingkungan.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang dibahas dalam diskusi dan pidato kebudayaan Rocky Gerung sore harinya di lokasi yang sama. Forum yang digagas oleh Rudolf Dethu itu, sejauh yang saya pahami, membangun gerakan kedewasaan berpikir, mulai dari upaya untuk menanggapi isu tekanan institusi agama pada keberagaman masyarakat Indonesia sampai kampanye untuk membebaskan diri menikmati alkohol dengan cara yang bertanggung jawab. Singkat kata, Dethu mengajak orang Indonesia untuk memakai pikiran dan otaknya sendiri, dan berhenti menjadi kerbau yang dicocok hidungnya.

Back to music.

Marjinal sudah melantunkan lagu pertamanya ketika saya menaiki tangga dari kedai di bawah menuju area pertunjukan. Harap disadari, saya sama sekali tidak pernah mengikuti karya dan sepak terjang punk band legendaris itu. Dalam kepala saya, Marjinal adalah suara orang-orang yang disingkirkan. Punk garis keras. Sangar.

Asyik Bergoyang Menikmati Marjinal
Asyik Bergoyang Menikmati Marjinal

Ternyata, setelah saya berdiri nyaris satu jam penuh menikmati semua lagu yang mereka bawakan malam itu, Marjinal adalah punk band yang luar biasa bagus! Lagu-lagu mereka, uniknya, terdengar merdu dan punya nuansa optimisme tinggi. Liriknya, cerdas dan lugas. Bernas.

Keras mereka menyanyikan Lagu Untuk Anjing Tirani. Bersama penonton yang tak henti bergoyang, Marjinal meneriakkan lirik “Kami marah melihat saudaraku yang tertindas di halaman rumah, ladang sendiri…” Di lain kesempatan, mereka menertawai kenyataan. “Maling-maling kecil dihakimi… Maling-maling besar dilindungi…” demikian mereka menyanyikan Hukum Rimba.

Audiens, yang dipastikan adalah fans garis keras mereka, menyambut semua lagu dengan koor penuh semangat dan tarian khas punk. Tabrak sana sini dan joget kiri kanan. Seru!

Kalau tidak salah ingat, Marjinal menutup penampilannya malam itu dengan lagu Rencong Merencong.

Jelang jam 9, Marjinal memberikan panggung kepada dewa distorsi dari Bali, Navicula.

Tampil dengan kekuatan penuh dan mood yang bagus, Navicula menghantam audiens yang menyesaki Joglo Beer. Seolah menyesuaikan diri dengan tema diskusi, malam itu Navicula tidak memulai konser dengan Menghitung Mundur seperti biasanya, melainkan membawakan Everyone Goes to Heaven. Robi, sejak detik pertama, sudah ceramah soal keberagaman agama, budaya, dan kekayaan local wisdom masyarakat Indonesia.

Navicula di Joglo Beer
Navicula di Joglo Beer

Malam itu, melalui gayanya masing-masing, Marjinal dan Navicula menyuarakan perlawanan. Punk dan grunge, di Joglo Beer malam itu, sama-sama meneriakkan semangat kebebasan manusia.

Berturut-turut kemudian meluncur Menghitung Mundur, Mafia Hukum, Aku Bukan Mesin, Orangutan, Harimau! Harimau!, Love Bomb, Busur Hujan, Kartini, Tomcat, Bali Berani Berhenti, Refuse to Forget, dan Metropolutan.

Moshing, crowd surfing, dan koor massal pecah sejak lagu pertama. Audiens Jakarta seolah menuntaskan dahaganya akan Navicula malam itu. Bibir panggung bergejolak. Tubuh-tubuh terlempar ke udara. Teriakan kebebasan memecah udara malam yang terus saja membawa butiran hujan di musim kemarau.

Saya sendiri akhirnya terseret ke bibir panggung saat Aku Bukan Mesin menghantam. Satu dua kali kepala saya terkena ujung sepatu audiens yang asyik crowd surfing. Tak apa. Inilah konser rock sesungguhnya. Panas. Penuh energi. Liar. Heavy as fuck.

Berbeda dari biasanya, malam itu audiens perempuan terbilang banyak. Kejanggalan yang patut kita syukuri tersebut juga ditangkap Robi yang kemudian berseloroh, “Sudah terlihat kesetaraan gender di kancah penonton rock. Tapi belum di kancah musisinya.”

Dankie, Leanna, dan Saya yang Separuh Teler
Dankie, Leanna, dan Saya yang Separuh Teler

Kejanggalan itu diperkuat dengan hadirnya sosok musisi folk/rock cantik bersuara merdu, Leanna Rachel. Sempat menonton penampilannya di Kompas TV beberapa hari lalu, malam itu saya melihat sosoknya sungguh berbeda. Kalau di televisi dia terlihat feminim dan “rapuh” dengan gitar kopongnya, bersama Navicula malam itu Leanna Rachel tampil tough khas lady rocker, membawakan Love Bomb.

Ledakan energi Navicula malam itu usai bersama raungan gitar Dankie di pengujung Metropolutan. Tepat jam sepuluh malam, konser selesai.

Omong-omong soal Dankie, malam itu permainan gitarnya sungguh aduhai. Solo guitar-nya di Aku Bukan Mesin, Orangutan, Busur Hujan, dan Love Bomb, asyik berat!

Distorsi memang sudah berhenti. Namun saya masih melanjutkan malam. Dua gelas tequila dan 2 botol bir dingin mengalir bersama cerita-cerita dari Leanna, Dankie, Robi, Made, Gembul, dan beberapa kawan lainnya.

Alhasil, pagi ini saya hangover. Sial.