Tag Archives: pearl jam

Review Album Musik: Andmore – Brainwashed (A Tribute to Pearl Jam)

Andmore - Brain Washed (Pearl Jam Tribute)

Cover band, kumpulan musisi yang memainkan lagu-lagu dari band/musisi idola mereka, banyak bertebaran di Jakarta, bahkan Indonesia. Tapi yang berdedikasi demikian tinggi hingga mengaransemen ulang lagu-lagu tersebut dan mengemasnya dalam sebuah album, sungguh jarang. Apalagi yang melakukannya secara taat hukum dengan membayar royalti ke band/musisi aslinya, teramat sangat langka!

Di komunitas Pearl Jam Indonesia (PJID) ada satu cover band yang seperti itu. Namanya Andmore. Band yang terbilang baru ini digawangi oleh Uwie Bittertone sebagai gitaris, Reza Beku dan Razak Lensa sebagai vokalis, dan Agus Muslim sebagai produser.

Jelang pertengahan tahun 2014 ini, Andmore merilis album perdana mereka. Berisi 1 lagu orisinil dan 11 lagu cover, album ini boleh dibilang proyek yang sangat ambisius.

Mengaransemen 11 lagu Pearl Jam dalam format akustik dengan hanya mengandalkan gitar dan vokal, bagi saya, terdengar sangat tidak masuk akal. Mau ditampung di mana energi lagu-lagu Pearl Jam yang rata-rata luar biasa itu?

Dan benarlah. Beberapa nomor yang aslinya liar dan penuh daya mendadak melempem dan hilang bentuk. Format akustik, meski dalam banyak kesempatan mampu memunculkan energi dasar dari sebuah lagu (seperti yang terjadi di konser Pearl Jam di MTV Unplugged), tidak dapat dipungkiri juga punya banyak sekali kelemahan.

Namun demikian, dari 12 nomor yang disuguhkan di album berjudul “Brainwashed: A Tribute to Pearl Jam” ini, setidaknya ada 4 nomor yang ciamik, ketika aransemen akustik yang segar dan unik seperti memberi wujud dan nyawa baru pada lagu-lagu yang sudah demikian saya kenal.

“W.M.A”. Intro yang hening dan bening, yang kemudian ditingkahi bunyi gitar yang kental bernuansa perkusi, memberi warna yang benar-benar baru. Dan kemudian vokal Razak Lensa, berat dan pekat, menghantam lembut. Akrab. Dekat. Dari semuanya, inilah aransemen terbaik mereka!

“Alone”. Denting gitar yang dibuat sedikit bernuansa blues menyatu dengan berat dan rendah vokal Reza Beku, memberi dimensi kedalaman yang baru pada lagu yang aslinya penuh kegusaran ini. Masuk ke verse kedua, nada vokal kembali ke bentuk semula, tinggi dan penuh penyesalan. Enak. Aransemen ini benar-benar enak.

“You Are”. Siapa pun yang cukup gila untuk berani memainkan lagu ini sudah selayaknya diacungi dua jempol, terlebih berani dan mampu menguras semuanya menjadi sebuah lagu akustik yang minimalis. Kocokan gitar yang bikin pusing kepala dan olah vokal yang seperti menari mengelilingi api menjadikan lagu ini terlahir kembali dalam wujud yang jauh lebih liar dan mendasar. Seperti suara mistis lagu kuno yang dinyanyikan orang-orang dari jaman batu.

Terakhir, “Let Me Sleep”. Mempertahankan tribal sound dari versi aslinya, Andmore cukup mumpuni mengubah sedikit nuansa lagu ini menjadi lebih ceria dan bernuansa camping. Pagi yang dingin, dengan tetes embun dan kerak es menempel di tenda, menyanyikan lagu ini di keheningan Ranu Kumbolo sepertinya adalah pilihan liburan musim panas yang luar biasa menarik. Berangkat!

“Brainwashed: A Tribute to Pearl Jam” dengan segala kekurangan dan kenekatan serta secercah kesuksesan aransemen yang barangkali tidak pernah diduga sebelumnya, adalah sebuah album yang layak dibeli. Bukan saja untuk menghormati mereka yang sudah mau berkarya, namun terlebih atas nama petualangan suara. Perjalanan tiada akhir mencari kelahiran kembali lagu-lagu lama dalam wujud yang baru dan mencerahkan bagi kita, para pecinta musik.

Rearview Magazine Edisi Keempat

Cover #RVM4 (Ilustrasi by Drawvro)
Cover #RVM4 (Ilustrasi by Drawvro)

Rearview Magazine edisi keempat, kita singkat saja jadi #RVM4, sudah terbit. Meneruskan edisi sebelumnya, majalah komunitas fans Pearl Jam Indonesia (PJID) ini tetap terbit dalam format digital di SCOOP dan Wayang Force.

Mengadopsi semangat inovasi dari digital publishing yang sangat dinamis, #RVM4 punya 2 keunggulan tambahan dibanding edisi sebelumnya. Keunggulan pertama adalah jumlah halaman. Jika #RVM3 terbit dengan total halaman sebanyak 44 lembar, #RVM4 terbit sebanyak 56 halaman!

Satu keunggulan lagi, yang menurut saya sangat membanggakan, adalah hadirnya infografis. Kenapa membanggakan? Karena infografis adalah sebuah trend dalam jurnalisme di dunia, yang menyuguhkan informasi rumit dan banyak kepada pembaca dalam tampilan visual nan apik dan inspiratif.

Ada suguhan apa saja di #RVM4 kali ini? Dua liputan utama yang disajikan adalah superfans dan toko musik analog.

Superfans mengupas tuntas tentang fans Pearl Jam di Indonesia dan luar negeri yang punya kisah dan kebiasaan unik. Ada Ramon Y. Tungka yang selama perjalanannya keliling Indonesia selalu mendengarkan Pearl Jam. Ada Urip Sentosa yang mengkoleksi CD “Lightning Bolt” dari 13 negara berbeda. Ada Reza Lubis yang punya poster terkutuk dari konser di Roskilde yang menewaskan 9 fans Pearl Jam. Dari Amerika Serikat, ada Kathy Davis yang sudah nonton konser Pearl Jam lebih dari 100 kali dan punya ruangan khusus untuk menyimpan memorabilia Pearl Jam. Dan ada Dimitri, pria asli Yunani yang sudah berkelana ke 16 negara untuk menyaksikan konser Pearl Jam.

Toko musik analog menurunkan ulasan apik mengenai kematian Aquarius Mahakam dan mengontraskannya dengan fakta bahwa Amoeba Music justru bisa bertahan dan tetap berkibar. Dua toko musik dari dua negara berbeda, ternyata punya nasib yang bertolak belakang. Bagaimana mungkin?

Ulasan mengenai konser komunitas di Pasar Cisangkuy, Bandung serta perhelatan Pearl Jam Nite VIII di Rolling Stone Café jadi suguhan berikutnya. Sementara dari musik lokal, ada berita tentang petualangan Respito di festival musik di India dan review album teranyar Navicula yang berjudul “Love Bomb”.

#RVM4 barangkali bukan majalah digital terbaik. Namun dapat dipastikan bahwa suguhannya berkualitas dan isinya tidak bakal ditemui di Google, karena memang disajikan asli dari dapur redaksi #RVM4. Kamu yang doyan musik lokal, gerakan indie, Pearl Jam, dan digital publishing, selayaknya membeli majalah ini. Cuma ceban doang!

Beli #RVM4 di SCOOP atau beli di Wayang Force.

Jualan Musik Tidak Perlu Sampai Telanjang

Bagi segenap musisi rock dan fans-nya di seluruh dunia, barangkali tidak ada kemenangan yang lebih manis dibanding hari ini. “Lightning Bolt”, album teranyar milik Pearl Jam, resmi menendang Miley Cyrus dari singgasana “billboard 200”.

 

Please God, help me!

 

Dengan total penjualan selama seminggu pertama di kisaran angka 180.000 kopi, “Lightning Bolt” mencatatkan Pearl Jam sebagai band yang punya 5 album studio yang berhasil nangkring di peringkat ke-1 “billboard 200”.

Kenapa prestasi penjualan album ini saya sebut manis? Karena, dan saya yakin bukan hanya saya sendiri yang memilik perasaan seperti ini, sudah sekian lama industri musik dikerdilkan oleh penggiatnya sendiri, dengan cara mengemas musik dalam bungkus suguhan visual payudara, perut yang terbuka, dan bahkan vagina. Sungguh memuakkan!

Pearl Jam yang tua dan tidak pernah blak-blakan (jika tidak mau disebut “menulis secara bodoh dan norak”) menciptakan lagu tentang nikmatnya berhubungan seks, menendang Miley Cyrus yang muda dan sensual, yang belakangan menggemparkan dunia dengan pose-pose nggilani-nya di Rolling Stone.

Meski tahu betul bahwa rasanya ini sedikit tidak sopan, dengan gembira saya menulis: “Miley Cyrus disamber geledek (Lightning Bolt)!”, nyahahaha!

Sinead O’Connor, dalam surat terbukanya yang sangat keras, menasihati Miley Cyrus dengan amat bijak. “Jangan menyia-nyiakan bakatmu dan membiarkan dirimu di-germo-i oleh industri musik, atau (malah) dirimu sendiri,”  demikian penggalan isi suratnya.

Sederhananya, dalam konteks ingin menyadarkan seorang teman seprofesi, Sinead O’Connor  mau bilang bahwa sewajarnya seorang musisi menjual karya musiknnya saja, bukan tubuhnya. Dan di industri koran, tempat saya sehari-hari cari makan, saran itu dirangkum dengan sangat brilian dalam ujar-ujar ini: “Content is The King”.

Sebagian besar orang, dan saya berani bertaruh bahwa mereka tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, berkata sebaliknya. Bahwa format dan kemasanlah yang paling penting.

Kemenangan manis album “Lightning Bolt” di ranah penjualan musik minggu ini, tidak dapat dipungkiri, adalah bukti nyata bahwa masih sangat banyak orang di dunia ini yang meyakini, dan mau membeli, konten yang bagus. Bukan membeli format atau bungkus yang mempesona saja.

Kamu boleh saja tidak suka musik Pearl Jam, tapi saya berani bertaruh, kamu suka cara mereka berbisnis musik. Bagi mereka, music is the king! Everything else in music business is pure horseshit. Period.