Tag Archives: rock

Space Rock Bau Sate Padang

The Sigit di Forest Stage (foto oleh Danudika)
The Sigit di Forest Stage (foto oleh Danudika)

Forest Stage, salah satu panggung besar dalam perhelatan Synchronize Festival, malam itu (30/10) dipadati penonton. Saya dan Gede sudah berdiri manis di barisan belakang, sejak line checking masih berlangsung. Di belakang, sedikit ke kanan, tukang sate Padang sibuk bekerja. Asapnya yang membawa aroma khas memenuhi udara malam Kemayoran yang pengap dan mengandung uap hujan.

Telat sekitar 10 menit dari jadual, akhirnya The Sigit membuka konsernya malam itu. Sialnya, saya tidak kenal lagunya. Dan lebih sial lagi, sepanjang konser tidak satu pun lagu yang saya kenal, kecuali lagu pamungkas yang membuat hampir seluruh penonton berlompatan, Black Amplifier, hahaha!

Saya menduga sebagian besar lagu yang mereka bawakan malam itu berasal dari album Detourn keluaran tahun 2013 yang kebetulan belum sempat saya dapatkan cakram fisiknya. Alhasil, sambil menulis curhatan penikmat rock paruh baya ini, saya mendengarkan album itu melalui layanan streaming Apple Music.

Satu lagu yang saya ingat betul malam itu, dan akhirnya saya temukan di album Detourn sebagai dua lagu berjudul Black Summer dan Red Summer, sungguh ciamik. Cool. Energetic. Classic!

Tapi The Sigit, untungnya, adalah rock band yang suguhan live performance-nya dapat dinikmati tanpa terlebih dulu kenal lagu-lagunya. Saya belajar itu dari pengalaman. Dulu, kali pertama saya menonton mereka adalah di perhelatan Java Rockingland. Saya sama sekali belum pernah mendengar lagu mereka sebelumnya. Setelah itu, barulah saya membeli 3 albumnya. Semuanya, menurut saya, kick ass!

Tiga gitar – termasuk yang dimainkan oleh Rekti – tak henti berkelindan, memuncratkan distorsi yang menghentak dan mencabik langit. Vokal Rekti, untuk ukuran kuping saya, sungguh penuh energi. Liar. Bebas. Bisa berlari dan berkelok ke mana dia suka. Dan drummer mereka, alamak! Gila! Tenaga dan teknik yang diperagakannya semakin mengukuhkan opini saya tentang bagaimana mustahilnya memiliki rock band yang kick ass tanpa kehadiran drummer yang luar biasa sakti.

The Sigit, jelas, sakti.

Satu jam penuh mereka menghantam dengan sesuatu yang pantas disebut sebagai space rock. Rekti yang sepertinya sedang berbulan madu dengan sampling, kerap mengganti gitarnya dan berasyik-masyuk dengan sampling yang mengeluarkan suara terompet, keyboard, suling, hingga raungan vokalnya sendiri yang terdengar seperti lolongan serigala yang tengah mengumpulkan pasukan mimpi.

Tata suara yang tidak terlalu sempurna – setidaknya kalau dibandingkan dengan yang dinikmati Navicula dan Barasuara di Lake Stage – sungguh tidak jadi masalah. The Sigit menghantam, membahana, dan menggila. Mereka nyaris seperti sedang kesurupan.

Sebagian besar penontonnya yang berusia remaja – Fuck, I’m old! – agak terlalu kalem untuk disebut sebagai penikmat rock tegangan tinggi seperti yang mereka suguhkan malam itu. Dan sebagian kecil, seperti orang Indonesia pada umumnya, sibuk berlalu-lalang, ngobrol, dan mengembuskan asap rokok ke mana-mana. Well, fucking Indonesian.

Apa pun, di tengah aroma sate Padang yang membuat perut bergejolak, suguhan space rock The Sigit yang meledak-ledak, dan kehadiran lebih dari seribu remaja di area Forest Stage menjadi bukti bahwa di Indonesia, ternyata, rock belum mati.

Nyanyian Langit yang Mencari Diri

Mempertemukan Tim Buku #HappinessIs dengan Pohon Tua di Menteng
Mempertemukan Tim Buku #HappinessIs dengan Pohon Tua di Menteng

Dialog Dini Hari (DDH) menyudahi konser rumahnya – konser yang digelar di sebuah rumah di bilangan Menteng – dengan Nyanyian Langit. Inilah lagu yang membuat saya jatuh cinta pada mereka, khususnya Pohon Tua. Nyanyian Langit, bagi saya, adalah gerbang bagi jiwa untuk berkelana di alam pemikiran. Kemegahan yang anehnya terasa sangat intim dan personal dari lagu itu seperti kanal mistis yang memungkinkan saya menyelami kepala saya sendiri untuk bertanya, menggugat, dan kemudian menemukan diri sendiri.

“Aku dan dia realita… Aku dan dia realita…” demikian Pohon Tua berulang menyanyikan mantranya. Siapa ‘dia’ yang disebutnya berulang kali itu, hanya Pohon Tua yang tahu. Apakah kekasih, alter egonya sendiri, atau malah Tuhan. Entahlah.

Yang jelas, saya yakin sepenuhnya kalau Nyanyian Langit adalah lagu yang ditulis dari jiwa. Kepada jiwa-jiwa yang serupa lagu itu bicara. Hanya kepada mereka.

Di penghujung lagu, DDH terdengar – bahkan terasa – seperti Kantata Takwa. Energi mereka menyatu. Untuk sesaat, mereka seperti tidak berada di sana. Dalam detik-detik transenden itu, bersama mantra yang diteriakkan suara Pohon Tua yang separuh parau namun penuh tenaga, malam menutup sempurna.

Dua puluh tujuh kali menonton DDH dan Pohon Tua, saya berani bilang bahwa penghujung Nyanyian Langit malam tadi adalah salah satu pencapaian terbaik suguhan musik live mereka.

Tentu saja setelah itu ada encore. Pagi. Dan semua bernyanyi. Dan lampu-lampu dinyalakan. Dan tiba saatnya melihat kembali sosok DDH yang kini sudah semakin luas dicintai publik. Saya bahagia untuk mereka.

Kalau mau jujur, setlist DDH malam itu memang terbilang lain dari biasanya. Setidaknya, dari yang biasa mereka bawakan dua tahun belakangan.

Empat lagu pertama nuansanya gelap dan sarat kontemplasi. Bumiku Buruk Rupa, Sahabatku Jadi Hantu, Ucapkan Kata-katamu (musikalisasi puisi Widji Thukul), dan Pohon Tua Bersandar. Kalau saja Zio dan Denny tidak menyuguhkan banyak improvisasi bas dan drum yang membuat lagu-lagu tersebut lebih groovy dari aslinya, saya akan menduga bahwa mood Pohon Tua sedang buruk malam tadi.

Bicara soal improvisasi, malam itu saya seperti melihat DDH yang sedang mencari bentuk baru. Pencapaian musikal di album keempat, Tentang Rumahku, tentu bukan tantangan yang main-main. Bahkan mereka sendiri pun belum tentu mampu menyamai atau melampaui.

Sisa setlist malam itu, mulai dari Temui Diri, Oksigen, Gurat Asa, Kita dan Dunia, Pelangi, Tentang Rumahku, hingga Jalan dalam Diam disuguhkan dalam bentuk yang nyaris semuanya eksperimental. Siapa pun yang cukup lama mengenal DDH pasti bisa merasakan bahwa mereka semakin menguasai lagu-lagu mereka sendiri. Ke mana pun mereka bawa – menukik menjadi folk/rock atau bahkan menyerempet jazz sekali pun – lagu-lagu itu selalu terasa punya jiwa.

Kalau itu merupakan bagian dari pencarian musikal mereka, saya berani bertaruh bahwa kita masih perlu menunggu sedikit lebih lama lagi untuk melihat kelahiran album kelima DDH. Bukan saja karena pencarian mereka akan melebar ke segala arah, melainkan juga mereka akan sangat menikmatinya. Kita hanya bisa berdoa, semoga DDH tidak tersesat dalam kenikmatan pencarian itu.

Oh, ya. Semalam Pohon Tua banyak sekali bercerita tentang pengalaman hidup masa remajanya di Lombok. Tentang keluarganya. Tentang pertemuannya dengan gitar, musik, dan Navicula. Tentang kekasih, anak, dan keluarga.

Mungkin dia rindu kekasih dan anaknya yang kini tinggal di Slovakia. Entahlah. Sedekat apa pun saya mengenal Pohon Tua, di mata batin saya selamanya dia seperti samudera. Luas. Dalam. Dan punya banyak sekali ruang rahasia.

Ketika Punk dan Grunge Bersatu Suarakan Perlawanan

Lejen Kaya Dia Aja Takut Sama Gua, Hahaha!
Lejen Kaya Dia Aja Takut Sama Gua, Hahaha!

Malam Jumat. Pemakaman umum Jeruk Purut. Marjinal dan Navicula. Kelar hidup lo!

Jam delapan malam dan hujan masih mengguyur. Malam itu (11/8), Joglo Beer yang terletak persis di samping pemakaman umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan, disesaki anak punk, grunge, dan orang-orang yang peduli kelestarian lingkungan.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang dibahas dalam diskusi dan pidato kebudayaan Rocky Gerung sore harinya di lokasi yang sama. Forum yang digagas oleh Rudolf Dethu itu, sejauh yang saya pahami, membangun gerakan kedewasaan berpikir, mulai dari upaya untuk menanggapi isu tekanan institusi agama pada keberagaman masyarakat Indonesia sampai kampanye untuk membebaskan diri menikmati alkohol dengan cara yang bertanggung jawab. Singkat kata, Dethu mengajak orang Indonesia untuk memakai pikiran dan otaknya sendiri, dan berhenti menjadi kerbau yang dicocok hidungnya.

Back to music.

Marjinal sudah melantunkan lagu pertamanya ketika saya menaiki tangga dari kedai di bawah menuju area pertunjukan. Harap disadari, saya sama sekali tidak pernah mengikuti karya dan sepak terjang punk band legendaris itu. Dalam kepala saya, Marjinal adalah suara orang-orang yang disingkirkan. Punk garis keras. Sangar.

Asyik Bergoyang Menikmati Marjinal
Asyik Bergoyang Menikmati Marjinal

Ternyata, setelah saya berdiri nyaris satu jam penuh menikmati semua lagu yang mereka bawakan malam itu, Marjinal adalah punk band yang luar biasa bagus! Lagu-lagu mereka, uniknya, terdengar merdu dan punya nuansa optimisme tinggi. Liriknya, cerdas dan lugas. Bernas.

Keras mereka menyanyikan Lagu Untuk Anjing Tirani. Bersama penonton yang tak henti bergoyang, Marjinal meneriakkan lirik “Kami marah melihat saudaraku yang tertindas di halaman rumah, ladang sendiri…” Di lain kesempatan, mereka menertawai kenyataan. “Maling-maling kecil dihakimi… Maling-maling besar dilindungi…” demikian mereka menyanyikan Hukum Rimba.

Audiens, yang dipastikan adalah fans garis keras mereka, menyambut semua lagu dengan koor penuh semangat dan tarian khas punk. Tabrak sana sini dan joget kiri kanan. Seru!

Kalau tidak salah ingat, Marjinal menutup penampilannya malam itu dengan lagu Rencong Merencong.

Jelang jam 9, Marjinal memberikan panggung kepada dewa distorsi dari Bali, Navicula.

Tampil dengan kekuatan penuh dan mood yang bagus, Navicula menghantam audiens yang menyesaki Joglo Beer. Seolah menyesuaikan diri dengan tema diskusi, malam itu Navicula tidak memulai konser dengan Menghitung Mundur seperti biasanya, melainkan membawakan Everyone Goes to Heaven. Robi, sejak detik pertama, sudah ceramah soal keberagaman agama, budaya, dan kekayaan local wisdom masyarakat Indonesia.

Navicula di Joglo Beer
Navicula di Joglo Beer

Malam itu, melalui gayanya masing-masing, Marjinal dan Navicula menyuarakan perlawanan. Punk dan grunge, di Joglo Beer malam itu, sama-sama meneriakkan semangat kebebasan manusia.

Berturut-turut kemudian meluncur Menghitung Mundur, Mafia Hukum, Aku Bukan Mesin, Orangutan, Harimau! Harimau!, Love Bomb, Busur Hujan, Kartini, Tomcat, Bali Berani Berhenti, Refuse to Forget, dan Metropolutan.

Moshing, crowd surfing, dan koor massal pecah sejak lagu pertama. Audiens Jakarta seolah menuntaskan dahaganya akan Navicula malam itu. Bibir panggung bergejolak. Tubuh-tubuh terlempar ke udara. Teriakan kebebasan memecah udara malam yang terus saja membawa butiran hujan di musim kemarau.

Saya sendiri akhirnya terseret ke bibir panggung saat Aku Bukan Mesin menghantam. Satu dua kali kepala saya terkena ujung sepatu audiens yang asyik crowd surfing. Tak apa. Inilah konser rock sesungguhnya. Panas. Penuh energi. Liar. Heavy as fuck.

Berbeda dari biasanya, malam itu audiens perempuan terbilang banyak. Kejanggalan yang patut kita syukuri tersebut juga ditangkap Robi yang kemudian berseloroh, “Sudah terlihat kesetaraan gender di kancah penonton rock. Tapi belum di kancah musisinya.”

Dankie, Leanna, dan Saya yang Separuh Teler
Dankie, Leanna, dan Saya yang Separuh Teler

Kejanggalan itu diperkuat dengan hadirnya sosok musisi folk/rock cantik bersuara merdu, Leanna Rachel. Sempat menonton penampilannya di Kompas TV beberapa hari lalu, malam itu saya melihat sosoknya sungguh berbeda. Kalau di televisi dia terlihat feminim dan “rapuh” dengan gitar kopongnya, bersama Navicula malam itu Leanna Rachel tampil tough khas lady rocker, membawakan Love Bomb.

Ledakan energi Navicula malam itu usai bersama raungan gitar Dankie di pengujung Metropolutan. Tepat jam sepuluh malam, konser selesai.

Omong-omong soal Dankie, malam itu permainan gitarnya sungguh aduhai. Solo guitar-nya di Aku Bukan Mesin, Orangutan, Busur Hujan, dan Love Bomb, asyik berat!

Distorsi memang sudah berhenti. Namun saya masih melanjutkan malam. Dua gelas tequila dan 2 botol bir dingin mengalir bersama cerita-cerita dari Leanna, Dankie, Robi, Made, Gembul, dan beberapa kawan lainnya.

Alhasil, pagi ini saya hangover. Sial.