Tag Archives: grunge

One Cool Nite

Akhirnya saya bisa menyaksikan seorang Nito memainkan nada-nada dan sound gitar yang gelap. Nuansa yang tak mungkin muncul ketika dia bermain bersama Perfect Ten yang spesialis memainkan lagu-lagu Pearl Jam.

 

No Excuses’ First Gig (foto oleh Uncal)

 

Bersama No Excuses, proyek barunya, dia menggeber tak kurang dari 21 lagu Alice in Chains (AIC) di Borneo House, Kemang, semalam (30/6). Pencapaian yang boleh dibilang sangat memuaskan dari sebuah band yang baru beberapa kali saja latihan bersama.

Beranggotakan Nito, Andi, Kopet, dan Uncal, No Excuses rasanya punya masa depan yang menarik. Keempat musisi ini, terutama yang disebut paling belakangan, memiliki penjiwaan yang baik sekali terhadap karya-karya AIC.

Dalam beberapa kesempatan, meski tidak sepanjang penampilannya malam itu, mereka punya apa yang menjadikan AIC demikian besar dan menarik banyak fans:  the coolness while playing heavy sound.

Semalam, mereka sama sekali tidak terlihat mencoba. Memainkan AIC sepertinya alami sekali bagi keempat orang ini.

Dimulai satu jam terlambat dari jadual, Them Bones menjadi band pembuka malam itu. Mereka membawakan “All Secrets Known”, “Your Decision”, dan “Dam That River”.

Selanjutnya No Excuses menghajar tak terbendung.

“Bleed The Freak”, “Angry Chair”, “Sea of Sorrow”, “Junkhead”, “We Die Young”, “Them Bones”, “Rain When I Die”, “Dirt”, “Queen of The Rodeo”, “It Ain’t Like That”, “Again”, “Down in The Hole”, “Heaven Beside You”, “Nutshell”, “Don’t Follow”, “No Excuses”, “Check My Brain”, , “Would?”, “Rooster”, “Man in The Box”, dan “Brother” mengisi dua jam yang hingar-bingar itu.

Terselip diantaranya adalah “I Don’t Know Anything” dan “River of Deceit” milik Mad Season serta satu nomor masing-masing dari Stone Temple Pilots dan Red Hot Chili Peppers.

Turut jamming di pangung adalah Olitz Alien Sick, Amar Besok Bubar, dan Tony Bunga.

Seperti biasa, konser intim malam itu memang diakhiri dengan sesi jamming dan gila-gilaan. Menyenangkan sekali!

Setelah sering sekali menikmati Pearl Jam Nite, beberapa kali menghadiri Nirvana Nite, kali ini akhirnya hasrat mencicipi AIC Nite kesampaian juga. Berikutnya, Soundgarden Nite, anyone?

Tanpa Televisi, Grunge Tiada Arti

Tanpa siaran televisi, mustahil musik grunge bisa dikenal luas. Setidaknya, itulah yang ditunjukkan oleh data Google Insight Search mengenai audiens musik grunge di Indonesia.

Selama semester pertama 2012, tingkat pencarian kata “grunge” melalui mesin pencari Google di Indonesia terbilang stabil. Tidak ada lonjakan atau penurunan serius. Artinya, di Indonesia, grunge ya gitu-gitu aja. Penggemarnya selalu ada, namun tidak banyak bertambah ataupun berkurang.

Tapi ternyata tidak demikian halnya dengan tingkat pencarian kata “Navicula” dan “Cupumanik”. Kedua band beraliran grunge asli Indonesia ini mengalami peningkatan pencarian yang signifikan untuk dua periode waktu berbeda.

Lihat grafik berikut ini!

Data Google Insight Search Indonesia Januari-Juni 2012

 

Apa penjelasan dari lonjakan pencarian itu? Sederhana: siaran televisi!

Pencarian kata “Navicula” melejit pada periode 26 Februari – 3 Maret 2012, sementara lonjakan pencarian kata “Cupumanik” terjadi selama rentang waktu 8-14 April 2012.

Kesamaannya apa? Pada dua periode berbeda itulah Navicula (1/3) dan Cupumanik (13/4) tampil di siaran televisi nasional bertajuk RadioShow!

Jadi, Navicula harus berhati-hati ketika mereka menyanyikan “Televishit” dimasa mendatang. Kalimat perintah “Matikan TV! Matikan TV!” harus ditujukan untuk siaran penuh omong-kosong seperti berita artis, sinetron, dan reality show. Bukan untuk musik grunge dan sajian musik asyik lainnya, hahaha!

Ketika Kucel Bertemu Gincu

Kaum kucel. Begitulah Che Cupumanik menyebut kumpulan fans grunge tanah air. Barangkali itu berangkat dari fashion statement para pendahulunya di Seattle, yang memang tidak doyan berdandan.

Saya sih menolak disebut kucel. Meskipun saya (sedikit saja) kalah ganteng dibanding Che, rasanya kebiasaan mandi setiap hari dan cukup sering ganti baju mutlak mengeluarkan saya dari garis batas definisi kucel.

 

 

Soal kucel dan dandan ini kemudian, secara aneh dan lucu, bergesekan ketika Cupumanik diundang rekaman untuk sebuah segmen musik di KompasTV, Rabu (20/6) yang lalu.

Seperti acara musik di stasiun televisi lainnya di negeri ini, kali inipun KompasTV menggunakan jasa audiens profesional. Tahu kan maksud saya?

Audiens profesional harus tampil profesional. Maka keluarlah segala macam bedak, cermin, dan lipstik. Semua buru-buru berdandan, sebelum rekaman lagu pertama dimulai. Tepatnya, nyaris semua berdandan.

Cupumaniak (sebutan bagi fans Cupumanik), yang jumlahnya cukup banyak, tentu saja tidak berdandan. Mereka datang ke Orange Studio, tempat KompasTV merekam penampilan Cupumanik, bukan demi uang. Mereka datang demi cinta. Demi kegemaran akan musik grunge.

Maka bercampurlah kucel dan gincu. Fans sebenarnya dan audiens profesional, di bibir panggung. Yang profesional mengikuti aba-aba dari yang membayar, sementara Cupumaniak mengikuti kata hatinya. Bukan perpaduan yang serasi, jika boleh saya bilang demikian.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Che, Iyak, Eski, dan Dony saat itu. Mereka yang biasanya berhadapan dengan audiens yang menggelora penuh gairah, bahkan terkadang liar, kini harus beraksi di hadapan audiens yang ada disana bukan karena musik.

Ketika kucel bertemu gincu, semua tentu terasa aneh. Antara nyata dan tidak. Antara benar dan pembenaran.

Tapi itulah kiranya harga yang harus dibayar. Demi sampainya pesan ke penjuru negeri. Bahwa grunge masih bernafas dan kini siap berlari lagi!