Tag Archives: grunge

Kurt Cobain Journals

Dear diary… Bla… Bla… Bla…

Bagi seorang anak gadis, mungkin itulah tempatnya mencurahkan hati dengan sejujurnya. Lebih jujur daripada dia bercerita pada ibunya sendiri. Catatan harian.

Juga bagi orang-orang seperti Kurt Cobain, yang punya demikian banyak pikiran liar, orisinil, dan indah, namun sangat pemalu untuk menceritakannya pada orang lain.

Dan apa yang akan terjadi jika catatan harian itu terungkap ke orang lain? Si anak gadis tentu akan marah besar!

Lalu bagaiman dengan Kurt?

 

Kurt Cobain Journals

 

Paperback: 304 pages

Publisher: Riverhead Trade (November 4, 2003)

Language: English

ISBN-10: 157322359X

ISBN-13: 978-1573223591

Product Dimensions: 10.6 x 8.5 x 1 inches

 

Kita takkan pernah tahu, karena ketika akhirnya empat buku berisi catatan hariannya diterbitkan dalam sebuah buku setebal 294 halaman berjudul Kurt Cobain Journals, dirinya sudah lama mati…

Jika melihat kalimat ini: “Jangan baca diariku saat aku pergi”, kita pasti menduga bahwa dia akan kecewa sekali jika catatan hariannya dibaca banyak orang. Namun kemudian, tepat dibawah kalimat itu, dia menulis: “OK. Aku akan pergi kerja sekarang. Ketika kamu bangun pagi ini, silahkan baca diariku. Telaah tulisanku, dan terkalah diriku.”

Kurt, bahkan dalam catatan hariannya yang demikian personal, tetaplah pribadi yang penuh kontradiksi.

Semua orang di dunia ini, yang buta soal Nirvana atau anak grunge puritan yang bahkan cara bernafasnya pun mirip Kurt Cobain, mengenal Kurt sebagai sosok perusak. Di panggung maupun dalam kesehariannya, kerusakan seperti menjadi bayangan sejatinya.

Namun betapa dalam jurnal ini terungkap bahwa sesungguhnya, dibalik citra penuh kekerasan itu, Kurt adalah seorang pria yang sangat halus perasaannya.

Tak kurang dua halaman yang penuh berisi pujian dan permintaan maaf dituliskannya kepada Dave Foster, drummer kedua Nirvana, dalam surat pemecatan yang dikirimnya sesaat sebelum Nirvana merekam Love Buzz.

Betapa dia sangat memikirkan keselamatan Frances Bean, anak semata wayangnya, hingga dia takut membawanya berkendara dalam mobil. Betapa dia berupaya memastikan kebahagiaan anaknya itu, hingga dia berjanji pada diri sendiri, jika nanti akhirnya dia bercerai dengan Courtney Love, mereka berdua harus tetap akur dan dilarang bertengkar saat Frances ada disekitar. Ah, cinta!

Dan humor adalah bagian tak terpisahkan dari pikirannya yang cemerlang. Dalam surat, catatan, dan gambar komiknya, terlihat betapa jenaka dan usil sel-sel kelabu di kepalanya yang penuh cerita duka itu.

Jika ada kebencian di hatinya, maka itu ditimpakannya pada pemerintahan Amerika Serikat yang (menurutnya) dikendalikan sekelompok sayap kanan yang luar biasa kolot, industri musik yang serakah dan penuh kepalsuan yang entah bagaimana logikanya dia simbolkan dengan Pearl Jam, dan deretan jurnalis rock yang disebutnya sebagai “musically retarded”.

Soal musik, Kurt lebih serius dari malaikat maut.

Ratusan lagu pop, rock, dan punk dikupas, dipelajari, dipahami, dan direkonstruksi ulang untuk menciptakan struktur lagu yang kemudian menjadi pakem Nirvana. Tapi dia menolak memainkan sebagian besar lagu-lagu itu di panggung. “Pelajari secukupnya, dan buatlah lagumu sendiri,” demikian tulisnya.

Tak kurang dari 7 gambar tangannya, menunjukkan rancangan gitar idamannya (perpaduan Fender Mustang dan Jaguar), ada dalam jurnal ini. Digambarkan dengan kedetilan orang sakit jiwa, mulai dari bentuk dan ketebalan badan gitar hingga bahan dan ukuran kepala gitarnya.

Konsep lirik, sampul album, maupun klip video berulang-ulang dituliskan. Juga digambarkan dengan goresan tangan. Jurnal ini dengan sangat menakjubkan mampu memperlihatkan bagaimana ide mengenai ketiga hal itu terus menghantui Kurt dan berubah menjadi semakin sempurna seiring halaman yang bergeser dari waktu yang paling lampau hingga ke hari kematiannya.

Dan Kurt jelas menaruh respek luar biasa tinggi pada musisi yang dianggapnya orisinil. Dale Crover dari The Melvins dan Eugene Kelly dari The Vaselines adalah dua dari sedikit musisi yang setaraf dewa dimatanya.

Dua ratus sembilan puluh empat halaman berisi tulisan cakar ayam dan sketsa milik Kurt ini akan membawa kamu ke perairan rahasia yang sebelumnya tidak diketahui dunia. Dari danau perenungannya tentang generasi X yang tenang, hingga sungai deras perjalanan ide musiknya yang menciptakan legenda bernama Nirvana. Dari riak ombak kisah cintanya kepada Courtney Love yang tidak dapat dibilang biasa-biasa saja, hingga gelombang besar mematikan pergulatannya dengan heroin.

Siapapun yang bersimpati pada Kurt, kemungkinan besar akan merasa kasihan dan memandang buku ini sebagai bukti tambahan betapa seluruh aspek dirinya dijual. Diperkosa.

Namun bagi siapapun yang memberi ijin jurnal ini terbit, mungkin ini adalah upaya untuk memberi gambaran terang pada sosok Kurt, yang selama dua dekade terakhir rasanya mendapat citra yang tidak semestinya di mata dunia.

Pada akhirnya, apapun tentang Kurt adalah kontradiksi. Kontroversi…

Navicula Bakar Jakarta!

Ketika Navicula muncul di panggung Pekan Raya Jakarta, Kemayoran (15/6) sekitar jam 9 malam, saya sungguh khawatir. Dua band sebelum mereka (setidaknya itu yang sempat saya tonton), tampil dengan kualitas tata suara yang super payah.

Dengan ukuran panggung raksasa dan ribuan audiens yang menyemut seperti malam itu, tata suara yang payah dipastikan akan langsung meluluh-lantakkan Navicula. Mengirim mereka ke jurang kenistaan. Ke kasta terendah yang dihuni gerombolan musisi yang hanya terlihat bagus dalam bingkai foto, tapi menjijikkan bagi telinga.

 

Navicula di PRJ 2012 (foto oleh Bobo)

 

Namun kemudian Dankie menjentikkan jemarinya dan semua kekhawatiran itu sirna. Gitar mautnya meraung. Menggelegar!

Inilah suara yang membuat saya, dan mungkin juga kalian, jatuh cinta pada Navicula.

Berturut-turut, seperti motor balap yang terbakar menyala dan enggan berhenti melaju, Navicula menyuguhkan “Menghitung Mundur”, “Kali Mati”, “Aku Bukan Mesin”, “Orangutan”, “Everyone Goes to Heaven”, “Like a Motorbike”, “I Refuse to Forget”, “Metropolutan”, dan “Televishit”.

Dari lagu ke lagu mereka semakin menggila. Dan dipenghujung lagu ketiga, “Aku Bukan Mesin”, kegilaan memuncak!

Dankie, yang seolah sedang kesurupan, menghantam dengan distorsi dan feeback. Dia bahkan menggesek-gesekkan senar gitarnya ke mic stand selama beberapa saat.

Sementara Robi dan Made, yang sejak awal konser memang sepertinya tak bisa diam di tempat, jumpalitan di sepanjang panggung. Gembul, seperti biasa, mengamuk sambil duduk, menghajar drum set-nya tanpa kenal kasihan.

Akibatnya?

Om-om dan tante-tante yang semula duduk manis di jejeran bangku lantai dua resto yang tepat menghadap ke panggung sontak berdiri, melotot ke panggung, dan tersenyum. Sebagian bahkan tertawa dan bertepuk tangan. Om, tante, this is GRUNGE!

Di bawah sana, ribuan audiens yang sebagian besar adalah outsiders bersorak. Dan di luar dugaan saya, sayap kiri panggung ternyata dipenuhi anak grunge yang asyik moshing dan ber-crowd surfing! Edyaaannn!!!

Robi, sebelum membawakan “Orangutan”, menjelaskan proyek terbaru Navicula bertajuk “From Bali to Borneo”. Itu adalah rangkaian konser yang akan diselenggarakan di Kalimantan, sebagai upaya meningkatkan kepedulian masyarakat pada nasib orangutan yang kian terpojok dengan hadirnya ratusan ribu hektar perkebunan sawit, menggantikan hutan alami habitat asli mereka.

Disela-sela penampilannya ia juga sempat mempromosikan Rockotorfest, sebuah festival grunge nasional yang rencananya akan digelar di Jakarta pada bulan Desember 2012 nanti.

Jerinx dari Superman is Dead (SID) naik ke panggung menggantikan Gembul pada nomor “Metropolutan”. Kehadirannya tentu saja membuat ribuan outsiders, yang memang menantikan penampilan SID, menggila. Mereka merangsek ke bibir panggung sembari meneriakkan namanya. Luar biasa!

Dan akhirnya Navicula menutup penampilan penuh tenaganya malam itu dengan sebuah pesan brilian dari Robi: “Ini tips supaya generasi muda tambah pintar: Matikan tivi! Matikan tiviii…!!!”