Tag Archives: grunge

Tanpa Televisi, Grunge Tiada Arti

Tanpa siaran televisi, mustahil musik grunge bisa dikenal luas. Setidaknya, itulah yang ditunjukkan oleh data Google Insight Search mengenai audiens musik grunge di Indonesia.

Selama semester pertama 2012, tingkat pencarian kata “grunge” melalui mesin pencari Google di Indonesia terbilang stabil. Tidak ada lonjakan atau penurunan serius. Artinya, di Indonesia, grunge ya gitu-gitu aja. Penggemarnya selalu ada, namun tidak banyak bertambah ataupun berkurang.

Tapi ternyata tidak demikian halnya dengan tingkat pencarian kata “Navicula” dan “Cupumanik”. Kedua band beraliran grunge asli Indonesia ini mengalami peningkatan pencarian yang signifikan untuk dua periode waktu berbeda.

Lihat grafik berikut ini!

Data Google Insight Search Indonesia Januari-Juni 2012

 

Apa penjelasan dari lonjakan pencarian itu? Sederhana: siaran televisi!

Pencarian kata “Navicula” melejit pada periode 26 Februari – 3 Maret 2012, sementara lonjakan pencarian kata “Cupumanik” terjadi selama rentang waktu 8-14 April 2012.

Kesamaannya apa? Pada dua periode berbeda itulah Navicula (1/3) dan Cupumanik (13/4) tampil di siaran televisi nasional bertajuk RadioShow!

Jadi, Navicula harus berhati-hati ketika mereka menyanyikan “Televishit” dimasa mendatang. Kalimat perintah “Matikan TV! Matikan TV!” harus ditujukan untuk siaran penuh omong-kosong seperti berita artis, sinetron, dan reality show. Bukan untuk musik grunge dan sajian musik asyik lainnya, hahaha!

Ketika Kucel Bertemu Gincu

Kaum kucel. Begitulah Che Cupumanik menyebut kumpulan fans grunge tanah air. Barangkali itu berangkat dari fashion statement para pendahulunya di Seattle, yang memang tidak doyan berdandan.

Saya sih menolak disebut kucel. Meskipun saya (sedikit saja) kalah ganteng dibanding Che, rasanya kebiasaan mandi setiap hari dan cukup sering ganti baju mutlak mengeluarkan saya dari garis batas definisi kucel.

 

 

Soal kucel dan dandan ini kemudian, secara aneh dan lucu, bergesekan ketika Cupumanik diundang rekaman untuk sebuah segmen musik di KompasTV, Rabu (20/6) yang lalu.

Seperti acara musik di stasiun televisi lainnya di negeri ini, kali inipun KompasTV menggunakan jasa audiens profesional. Tahu kan maksud saya?

Audiens profesional harus tampil profesional. Maka keluarlah segala macam bedak, cermin, dan lipstik. Semua buru-buru berdandan, sebelum rekaman lagu pertama dimulai. Tepatnya, nyaris semua berdandan.

Cupumaniak (sebutan bagi fans Cupumanik), yang jumlahnya cukup banyak, tentu saja tidak berdandan. Mereka datang ke Orange Studio, tempat KompasTV merekam penampilan Cupumanik, bukan demi uang. Mereka datang demi cinta. Demi kegemaran akan musik grunge.

Maka bercampurlah kucel dan gincu. Fans sebenarnya dan audiens profesional, di bibir panggung. Yang profesional mengikuti aba-aba dari yang membayar, sementara Cupumaniak mengikuti kata hatinya. Bukan perpaduan yang serasi, jika boleh saya bilang demikian.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Che, Iyak, Eski, dan Dony saat itu. Mereka yang biasanya berhadapan dengan audiens yang menggelora penuh gairah, bahkan terkadang liar, kini harus beraksi di hadapan audiens yang ada disana bukan karena musik.

Ketika kucel bertemu gincu, semua tentu terasa aneh. Antara nyata dan tidak. Antara benar dan pembenaran.

Tapi itulah kiranya harga yang harus dibayar. Demi sampainya pesan ke penjuru negeri. Bahwa grunge masih bernafas dan kini siap berlari lagi!

Kurt Cobain Journals

Dear diary… Bla… Bla… Bla…

Bagi seorang anak gadis, mungkin itulah tempatnya mencurahkan hati dengan sejujurnya. Lebih jujur daripada dia bercerita pada ibunya sendiri. Catatan harian.

Juga bagi orang-orang seperti Kurt Cobain, yang punya demikian banyak pikiran liar, orisinil, dan indah, namun sangat pemalu untuk menceritakannya pada orang lain.

Dan apa yang akan terjadi jika catatan harian itu terungkap ke orang lain? Si anak gadis tentu akan marah besar!

Lalu bagaiman dengan Kurt?

 

Kurt Cobain Journals

 

Paperback: 304 pages

Publisher: Riverhead Trade (November 4, 2003)

Language: English

ISBN-10: 157322359X

ISBN-13: 978-1573223591

Product Dimensions: 10.6 x 8.5 x 1 inches

 

Kita takkan pernah tahu, karena ketika akhirnya empat buku berisi catatan hariannya diterbitkan dalam sebuah buku setebal 294 halaman berjudul Kurt Cobain Journals, dirinya sudah lama mati…

Jika melihat kalimat ini: “Jangan baca diariku saat aku pergi”, kita pasti menduga bahwa dia akan kecewa sekali jika catatan hariannya dibaca banyak orang. Namun kemudian, tepat dibawah kalimat itu, dia menulis: “OK. Aku akan pergi kerja sekarang. Ketika kamu bangun pagi ini, silahkan baca diariku. Telaah tulisanku, dan terkalah diriku.”

Kurt, bahkan dalam catatan hariannya yang demikian personal, tetaplah pribadi yang penuh kontradiksi.

Semua orang di dunia ini, yang buta soal Nirvana atau anak grunge puritan yang bahkan cara bernafasnya pun mirip Kurt Cobain, mengenal Kurt sebagai sosok perusak. Di panggung maupun dalam kesehariannya, kerusakan seperti menjadi bayangan sejatinya.

Namun betapa dalam jurnal ini terungkap bahwa sesungguhnya, dibalik citra penuh kekerasan itu, Kurt adalah seorang pria yang sangat halus perasaannya.

Tak kurang dua halaman yang penuh berisi pujian dan permintaan maaf dituliskannya kepada Dave Foster, drummer kedua Nirvana, dalam surat pemecatan yang dikirimnya sesaat sebelum Nirvana merekam Love Buzz.

Betapa dia sangat memikirkan keselamatan Frances Bean, anak semata wayangnya, hingga dia takut membawanya berkendara dalam mobil. Betapa dia berupaya memastikan kebahagiaan anaknya itu, hingga dia berjanji pada diri sendiri, jika nanti akhirnya dia bercerai dengan Courtney Love, mereka berdua harus tetap akur dan dilarang bertengkar saat Frances ada disekitar. Ah, cinta!

Dan humor adalah bagian tak terpisahkan dari pikirannya yang cemerlang. Dalam surat, catatan, dan gambar komiknya, terlihat betapa jenaka dan usil sel-sel kelabu di kepalanya yang penuh cerita duka itu.

Jika ada kebencian di hatinya, maka itu ditimpakannya pada pemerintahan Amerika Serikat yang (menurutnya) dikendalikan sekelompok sayap kanan yang luar biasa kolot, industri musik yang serakah dan penuh kepalsuan yang entah bagaimana logikanya dia simbolkan dengan Pearl Jam, dan deretan jurnalis rock yang disebutnya sebagai “musically retarded”.

Soal musik, Kurt lebih serius dari malaikat maut.

Ratusan lagu pop, rock, dan punk dikupas, dipelajari, dipahami, dan direkonstruksi ulang untuk menciptakan struktur lagu yang kemudian menjadi pakem Nirvana. Tapi dia menolak memainkan sebagian besar lagu-lagu itu di panggung. “Pelajari secukupnya, dan buatlah lagumu sendiri,” demikian tulisnya.

Tak kurang dari 7 gambar tangannya, menunjukkan rancangan gitar idamannya (perpaduan Fender Mustang dan Jaguar), ada dalam jurnal ini. Digambarkan dengan kedetilan orang sakit jiwa, mulai dari bentuk dan ketebalan badan gitar hingga bahan dan ukuran kepala gitarnya.

Konsep lirik, sampul album, maupun klip video berulang-ulang dituliskan. Juga digambarkan dengan goresan tangan. Jurnal ini dengan sangat menakjubkan mampu memperlihatkan bagaimana ide mengenai ketiga hal itu terus menghantui Kurt dan berubah menjadi semakin sempurna seiring halaman yang bergeser dari waktu yang paling lampau hingga ke hari kematiannya.

Dan Kurt jelas menaruh respek luar biasa tinggi pada musisi yang dianggapnya orisinil. Dale Crover dari The Melvins dan Eugene Kelly dari The Vaselines adalah dua dari sedikit musisi yang setaraf dewa dimatanya.

Dua ratus sembilan puluh empat halaman berisi tulisan cakar ayam dan sketsa milik Kurt ini akan membawa kamu ke perairan rahasia yang sebelumnya tidak diketahui dunia. Dari danau perenungannya tentang generasi X yang tenang, hingga sungai deras perjalanan ide musiknya yang menciptakan legenda bernama Nirvana. Dari riak ombak kisah cintanya kepada Courtney Love yang tidak dapat dibilang biasa-biasa saja, hingga gelombang besar mematikan pergulatannya dengan heroin.

Siapapun yang bersimpati pada Kurt, kemungkinan besar akan merasa kasihan dan memandang buku ini sebagai bukti tambahan betapa seluruh aspek dirinya dijual. Diperkosa.

Namun bagi siapapun yang memberi ijin jurnal ini terbit, mungkin ini adalah upaya untuk memberi gambaran terang pada sosok Kurt, yang selama dua dekade terakhir rasanya mendapat citra yang tidak semestinya di mata dunia.

Pada akhirnya, apapun tentang Kurt adalah kontradiksi. Kontroversi…