Tag Archives: pohon tua

Pohon Tua Lebat Berbuah

IMG_20150705_215354

Tahun 2015 ini, Pohon Tua sedang lebat berbuah. Setelah merilis “Tatap Muka” bersama Navicula pada bulan Mei, “Kubu Carik/Dua Senja Pohon Tua” bersama saya pada bulan Juni, awal Juli ini dia merilis “Perpetual” bersama A Conscious Coup. Setiap bulan satu album. Entah dia luar biasa produktif atau mulai gila.

Saya sungguh beruntung. Saya hadir di semua konser launching karya-karyanya tersebut. Dua di Paviliun 28, Petogogan, Jakarta dan satu di Deus Exmachina, Cangu, Bali. Ketiga konser itu, dalam kekhasannya masing-masing, sungguh mempesona.

Konser di Deus Exmachina, Minggu (5/7) malam itu adalah kali kedua saya menonton A Conscious Coup tampil secara live. Berbeda dari konser dua minggu sebelumnya di Cashew Tree, Uluwatu, kali ini mereka hanya memainkan satu set dan langsung hantam dengan suguhan party-psychedelic blues beroktan tinggi.

Tepat jam 10 malam dan Pohon Tua menyemburkan distorsi melalui permainan slide guitar-nya yang aduhai. Adam, yang memang selalu penuh energi, mengiringi dengan pukulan drum-nya yang tak kalah ciamik. Mereka berdua, malam itu, benar-benar menggila.

Sejak detik pertama duo berbeda kewarganegaraan ini (Adam berasal dari Australia) memuntahkan nomor-nomor boros energi. Enam lagu dari album perdana mereka yang dirilis malam itu menghantam 400-an lebih audiens yang hampir seluruhnya bukan orang Indonesia.

Favorit saya, tentu saja, adalah “Reversionary” dan “Free To Burn” yang benar-benar membangkitkan gairah dan “Warm” yang tenang dan penuh kedamaian.

Botol demi botol alkohol ditenggak. Keringat menguap di gerahnya udara Bali malam itu. Audiens di bibir panggung berjingkrak, bersorak, dan habis-habisan menikmati suguhan A Conscious Coup. Setiap kali Pohon Tua bergaya, menyombongkan permainan gitarnya yang memang memukau, mereka bertepuk tangan dan berteriak. Malam itu, jika boleh dirangkum dalam satu kata, adalah pesta!

“Come As You Are” dan “Another Brick In The Wall”, seperti saat konser mereka di Uluwatu, kembali muncul. Kedua lagu itu tetap garang terdengar, namun dalam nuansa yang sungguh berbeda dari aslinya.

Satu jam penuh mereka menghantam dan kemudian semuanya selesai. A Conscious Coup, dengan album baru dan permainan live yang penuh energi itu, kabarnya, akan segera terbang ke Sumatera dan Australia, menggelar tur perdana mereka di luar Bali.

Good luck, mate!

My Next Book: #DuaSenjaPohonTua

Wustuk & Pohon Tua, dalam sesi syuting #DuaSenjaPohonTua di bilangan Wijaya, Maret 2015
Wustuk & Pohon Tua, dalam sesi syuting #DuaSenjaPohonTua di bilangan Wijaya, Maret 2015

Setelah selesai menulis, menerbitkan, dan memasarkan #BukuGrungeLokal, semangat saya untuk menulis buku rasanya tidak bisa padam lagi. Hasrat itu terus menyala seperti matahari.

Bersama tim yang sama (@iduridur-desain, @drawvro-ilustrasi, @gedemanggala-penerbit, dan @wowadit-video), saat ini saya sedang menyusun sebuah buku berjudul #DuaSenjaPohonTua. Sebenarnya buku ini adalah sebuah prosa liris. Susunan kalimat dan kata di dalamnya berima, nyaris seperti puisi.

Inti buku ini sederhana, pesan bahwa manusia, dalam kondisi terjepit sekalipun, selalu punya pilihan. Kita selalu bisa memaksa diri untuk melahirkan kebaikan.

Yang menarik, setidaknya bagi saya sehingga mati-matian menuliskannya, buku ini mengambil inspirasi dari kisah nyata Pohon Tua. Saya memungut ide dari kehidupannya yang memang pernah tersungkur hingga ke titik paling mengenaskan.

Begitu dalam dia pernah terpuruk, ungkapan “Sakitnya tuh, di sini!” yang belakangan marak kita dengar jadi kehilangan makna.

Ketika pertama kali menulis naskah buku ini, saya mengirimkannya ke Pohon Tua. Saya minta ijin sekaligus pendapatnya. Tak berapa lama, tanggapannya muncul dalam wujud sket lagu. Ya, sket lagu! Pohon Tua, di luar pengetahuan saya saat itu, ternyata sedang menulis sebuah album baru. Albumnya sendiri. Bukan Navicula ataupun Dialog Dini Hari.

Jadilah kemudian kami bertukar ide, inspirasi, dan karya. Saya kirimi dia naskah buku, bagian per bagian. Dia kirimi saya sket lagu, satu per satu. Kolaborasi seperti ini, antara dua orang yang kemampuannya berbeda, antara dua pekerja kreatif yang wujud karyanya tidak sama, sungguh menyenangkan.

Dalam perjalannya, buku #DuaSenjaPohonTua dan solo album Pohon Tua saling mempengaruhi. Tanpa direncanakan sebelumnya, bagian penutup dari buku ini disempurnakan oleh sebuah lagu yang ditulis Pohon Tua setelah membaca sebagian naskahnya.

Kebetulan? Barangkali. Takdir? Entahlah.

Bagi saya, kebetulan-kebetulan yang bernuansa positif seperti itu bukan barang baru. Ketika menulis #BukuGrungeLokal, saya banyak sekali dibantu oleh kebetulan satu dan lainnya yang seolah merangkai diri sendiri. Mulai dari munculnya Topang yang menawarkan bantuan pembuatan video, terbukanya kesempatan crowdfunding di Wujudkan.com yang seperti turun dari langit, hingga tersedianya sebuah kedai ciamik di bilangan Kuningan sebagai tempat menyelenggarakan konser launching. Semua terjadi dan tersedia begitu saja.

Saya percaya bahwa satu kebaikan akan memanggil kebaikan lainnya. Dan, lagi-lagi tidak disengaja, begitu juga dengan Pohon Tua. Dalam sesi wawancara di Wijaya, dia berkata, “Lirik laguku adalah do’a. Adalah mantra. Maka aku paksa diri untuk selalu menulis kebaikan”.