Category Archives: Coffee

Kedai Kopi: Ladang Coffee

Ruang merokok dan tidak merokok dipisah dengan jelas, menggunakan pintu geser yang dapat ditutup sepenuhnya. Fitur itu saja, sebenarnya, sudah cukup untuk membuat saya jatuh cinta pada kedai kopi nyaman yang tenang di sudut Cilandak, Jakarta itu. Namanya Ladang Coffee. Alamat lengkapnya adalah di Jl. Paso 168, kelurahan Jagakarsa.

 

Ladang Coffee (foto oleh Sony Alonso dan Bayu Embul)

 

Ladang Coffee adalah usaha kedai kopi yang dimulai di Surabaya. Sang pemilik memang memiliki visi menyediakan kedai kopi yang nyaman sehingga ruangan kedai dibuat terasa lapang. Jarak kursi (dan meja) cukup lega satu dengan lainnya.

Baik di Surabaya maupun di Jakarta, Ladang Coffee tidak mendirikan satu pun kedai di kawasan mal. Alasannya sederhana: di mal, yang dominan adalah nuansa terburu-buru dan bising, sehingga visi kedai kopi yang nyaman tidak mungkin diwujudkan.

Nuansa kopi dan kesan jadul lekat di kedai ini. Meja kaca dihias dengan biji-biji kopi mentah. Begitu juga pajangan di dinding. Beberapa mesin giling manual jadul ukuran kecil dipajang di meja panjang, bersama toples-toples besar berisi berbagai jenis biji kopi, termasuk kopi luwak.

Koleksi single origin Ladang Coffee juga cukup bisa diandalkan. Sidikalang, Gayo, Bali Kintamani, Toraja Kalosi, hingga Java Djampit tersedia disana.

Saya sendiri belum sempat mencicipi racikan single origin mereka yang disajikan dengan metode seduh French press. Hanya sempat mencicipi cappuccino-nya saja. Lumayan enak.

Yang asyik, selain koleksi single origin yang cukup beragam itu, adalah luasnya pengetahuan pelayan kedai. Mereka cukup mengerti soal asal biji kopi yang dijual disana. Juga cara penyajian, penggilingan, hingga mitos-mitos seputar pengolahan biji dan bubuk kopi untuk mencapai hasil seduhan yang maksimal.

Ah, seandainya Cilandak dan Bintaro tidak terlalu jauh dan macet, barangkali setiap hari saya akan nongkrong di Ladang Coffee!

Kopi Susu

Aroma kopi yang wangi dan membangkitkan gairah bersatu dengan nuansa pahit nan segar, gurih yang penuh, dan cita rasa manis di belakang semua itu, adalah alasan kenapa kita demikian menyukai kopi susu. Terutama di pagi hari.

Membentang dari Eropa hingga ke Asia, racikan kopi susu berbagai versi muncul sebagai menu andalan sehari-hari. Menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan kuliner turun-temurun.

“Mau pesan apa? Latte, macchiato, atau cappuccino?” demikian pelayan kedai bertanya, sambil tersenyum. Dan mendadak kita terdiam. Lirik kiri dan kanan dengan gugup.

Pernah terjebak dalam situasi canggung seperti itu? Kebingungan sekejap, yang rasanya cukup memalukan, ketika diminta memesan kopi susu di kedai-kedai kopi modern yang belakangan kian menjamur di kota-kota besar di Indonesia?

Berikut ini adalah 6 jenis racikan kopi susu yang umum dijual di kedai-kedai kopi. Mengetahui apa beda satu dengan lainnya akan menyelamatkan diri kita dari kesalahan pemesanan.

 

Cafe au lait

 

 

Cafe au lait adalah “kopi dengan susu” dalam bahasa Perancis. Sesuai namanya, minuman ini terdiri dari kopi dan susu dalam porsi yang seimbang. Satu porsi kopi berbanding satu porsi susu.

Kopi dalam cafe au lait diperoleh dengan metode seduh menggunakan French press. Hasil penyeduhannya adalah semacam kopi tubruk, namun tanpa ampas. Cukup keras.

Satu porsi kopi itu kemudian dituang bersamaan dengan satu porsi susu yang sudah dipanaskan kedalam mangkuk. “Dituang bersamaan” adalah kunci kenikmatan rasa kopi susu jenis ini. Tidak boleh kopi duluan, atau juga sebaliknya, susu duluan.

Hasilnya?

Semangkuk besar kopi susu yang lezat untuk membuka hari yang penuh semangat!

 

Latte

 

 

Nama panjangnya adalah caffe latte. Ini adalah bahasa Italia untuk “kopi susu”. Namun, berbeda sekali dengan cafe au lait, kopi yang digunakan untuk membuat latte adalah espresso.

Espresso adalah kopi yang diperoleh dari cara seduh dengan air panas bertekanan tinggi. Bisa menggunakan mesin espresso ataupun moka pot. Kopi yang cita rasanya jauh lebih keras (dan volumenya lebih sedikit) dibanding hasil seduhan menggunakan French press.

Setelah satu porsi espresso siap dalam cangkir, dua porsi steamed milk (susu yang dipanaskan) kemudian ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalamnya.

Sebagai pemanis, umumnya permukaan latte dihias dengan seni menggambar buih yang disebut latte art atau, sederhananya, drawing. Gambarnya dapat berbentuk daun, hati, atau bentuk-bentuk unik lainnya.

 

Cappuccino

 

 

Aslinya disebut capuchin, yang dalam bahasa Italia berarti “cangkir kecil”.

Namun, sebagian ahli kopi juga menyebutkan bahwa nama cappuccino berasal dari Capuchin, sebuah ordo Katolik Roma. Biarawan dari ordo tersebut mengenakan seragam keagamaan berwarna cokelat, persis seperti warna cappuccino yang kini sering kita minum.

Cappuccino nyaris sama persis dengan latte. Bedanya adalah hadirnya satu porsi frothed milk, susu yang dipanaskan dan dibuat menjadi buih.

Komposisi dasar dalam secangkir cappuccino adalah satu porsi espresso, satu porsi steamed milk, dan satu porsi frothed milk. Hasilnya, tentu saja, adalah minuman gurih yang berbusa.

Untuk menambah cita rasa, terkadang pembuat kopi menambahkan serbuk coklat atau kayu manis ke dalam cappuccino buatannya. Nikmat!

 

Macchiato

 

 

“Ditandai” atau “diberi bercak”. Itulah arti macchiato. Maka jelaslah bahwa porsi kopi dalam jenis minuman yang satu ini minim. Sedikit sekali. Hanya berfungsi sebagai aksen.

Steamed milk dan frothed milk menjadi yang utama. Kedua olahan susu panas ini disajikan dalam porsi penuh. Sama besar.

Sebagai pamungkas, seporsi espresso yang sudah siap kemudian pelan-pelan dituangkan ke dalam gelas besar yang sudah berisi campuran steamed milk dan frothed milk. Namun, bukan seporsi penuh espresso yang dituangkan, melainkan hanya 1/3-nya saja!

Maka, dari semua racikan kopi susu asal Italia, macchiato menjadi yang paling kuat cita rasa susunya. Lebih tepat disebut susu kopi, ya?

 

Vietnamese Coffee

 

 

Jenis kopi susu asal Vietnam ini adalah salah satu minuman favorit saya. Apalagi jika disajikan menggunakan es batu. Di tengah teriknya siang Jakarta yang membakar jiwa, segelas Vietnamese coffee dengan es rasanya seperti minuman dari surga!

Racikannya sendiri sangat sederhana. Kopi yang diseduh menggunakan Vietnamese drip dituangkan ke gelas yang seperempat bagiannya sudah terisi susu kental manis. Kopi yang digunakan umumnya adalah yang memiliki aroma coklat yang kuat.

Versi aslinya menggunakan kopi Trung Nguyen. Namun kedai kopi semacam Kopitiam Oey menggunakan kopi Aroma Bandung. Hasilnya, ya mirip-mirip lah!

 

Kopi Susu

 

 

Dari namanya saja sudah jelas bahwa jenis yang satu ini berasal dari Indonesia dan Malaysia. Di semua desa di Indonesia, kopi susu dengan mudah kita temui. Di kedai maupun di rumah-rumah.

Sama seperti Vietnamese coffee, kopi susu khas Indonesia menggunakan susu kental manis. Bedanya terletak pada seduhan kopinya. Kopi susu Indonesia menggunakan kopi tubruk. Kopi yang diseduh tanpa saringan.

Masukkan susu kental manis ke cangkir, tambahkan bubuk kopi, kemudian tuang air panas. Jadilah kopi susu yang siap menemani goreng pisang atau kudapan lainnya.

Meskipun kopi susu Indonesia meninggalkan ampas, tidak berarti kemudian cita rasanya jadi seperti sampah. Beberapa racikan kopi susu khas dari kedai-kedai legendaris di penjuru Indonesia bahkan punya reputasi cita rasa yang luar biasa. Istimewa!

Kedai Kopi: coffeewar

Terletak di Jl. Kemang Timur Raya no. 15A, Jakarta Selatan, coffeewar bukanlah satu-satunya kedai kopi di ruas jalan itu. Namun lebih dari sekedar kedai kopi biasa, coffeewar menawarkan sesuatu yang sama sekali berbeda: konser akustik!

 

Dialog Dini Hari di coffeewar (dok. DDH)

 

Tak kurang dari Navicula, Dialog Dini Hari, Tika n’ The Dissidents, sampai Bonita dan Anda Perdana pernah menggelar konser akustik disana. Dalam format yang akrab dan hangat, dimana interaksi antara penampil dan audiensnya mengalir luwes, santai, dan terasa nyaman.

Diskusi mengenai buku, film, dan produk-produk budaya lainnya juga kerap diselenggarakan di coffeewar. Tidak semua orang suka, tentu saja. Namun terbukti bahwa acara semacam itu punya audiensnya sendiri.

Secangkir kopi khas Indonesia dan musik akustik serta diskusi intelek nan berkelas. Kiranya itulah definisi terbaik kedai kopi versi coffeewar. Definisi yang sama sekali tidak jelek.

Namun demikian, jika ingin jadi kedai kopi tujuan utama para penikmat kopi Jakarta, coffeewar butuh segera memperbaiki racikan kopinya. Kedai bernuansa nyaman dan intelek ini perlu menciptakan satu atau dua minuman kopi andalannya. Sesuatu yang bisa mereka sebut sebagai kopinya coffeewar.

Tambahkan satu racikan kopi istimewa itu kedalam nuansa kedai yang sudah demikian khas, maka coffeewar pasti masuk daftar tempat nongkrong wajib di selatan Jakarta yang, sialnya, semakin hari terasa jadi semakin ruwet!