Tag Archives: cupumanik

Cupumanik dan Gelombang Grunge Rasa Baru

Dengan 14 lagu (4 diantaranya adalah cover song), Cupumanik membakar AtAmerica yang Sabtu (9/3) malam disesaki ratusan fans grunge Indonesia. Mereka berasal dari Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang dan tentu saja Bandung.

 

 

Selama 2 jam penuh Cupumanik menghantam. Tidak melulu distorsi karena katalog mereka memang mencakup beberapa nomor manis yang bahkan nyaris terdengar mengharukan, semacam Perkenankan Aku Mencintainya, Siklus Waktu dan Bukan Saat Ini.

Bagi saya, sejak pertama membeli albumnya, Perkenankan Aku Mencintainya punya makna yang sangat personal. Mendengar lagu ini rasanya seperti memutar cerita hidup saya sendiri. Tidak terdengar grunge memang, tapi coba jujur, di dunia ini, siapa yang tidak tersentuh cinta?

Satu lagu terbaru berjudul Omong Kosong Darah Biru disuguhkan untuk kali pertama ke publik Jakarta. Khas Cupumanik era baru, setelah ditinggal pergi Rama gitarisnya: keras, menghentak, penuh pemikiran dan pesan provokatif. Nyaris menyerupai cetak biru Rage Against The Machine.

Dengan semakin kentalnya muatan politik dalam lirik-lirik mereka, bisa saja Cupumanik bergeser dari band grunge yang semula banyak menulis lagu sendu menjadi band grunge yang penuh amarah dan melek isu kenegaraan. Sama sekali bukan perubahan yang buruk.

Malam itu Olitz dari Alien Sick sempat jamming di lagu Jeremy. Saya penasaran, seperti apa album baru (yang kabarnya tengah direkam) mereka sepeninggal Jessy dan Pronky?

Seperti sudah diramalkan banyak pihak, gelombang kebangkitan grunge di Indonesia tahun ini kian membesar. Padatnya audiens di konser Cupumanik di AtAmerica ini jadi bukti nyata yang tak terbantahkan.

Pertanyaannya sekarang adalah: kapan festival grunge skala nasional bertajuk Indonesian Grunge Festival a.k.a Rockotorfest yang kita idam-idamkan itu akhirnya bisa benar-benar terwujud?

Tanpa Televisi, Grunge Tiada Arti

Tanpa siaran televisi, mustahil musik grunge bisa dikenal luas. Setidaknya, itulah yang ditunjukkan oleh data Google Insight Search mengenai audiens musik grunge di Indonesia.

Selama semester pertama 2012, tingkat pencarian kata “grunge” melalui mesin pencari Google di Indonesia terbilang stabil. Tidak ada lonjakan atau penurunan serius. Artinya, di Indonesia, grunge ya gitu-gitu aja. Penggemarnya selalu ada, namun tidak banyak bertambah ataupun berkurang.

Tapi ternyata tidak demikian halnya dengan tingkat pencarian kata “Navicula” dan “Cupumanik”. Kedua band beraliran grunge asli Indonesia ini mengalami peningkatan pencarian yang signifikan untuk dua periode waktu berbeda.

Lihat grafik berikut ini!

Data Google Insight Search Indonesia Januari-Juni 2012

 

Apa penjelasan dari lonjakan pencarian itu? Sederhana: siaran televisi!

Pencarian kata “Navicula” melejit pada periode 26 Februari – 3 Maret 2012, sementara lonjakan pencarian kata “Cupumanik” terjadi selama rentang waktu 8-14 April 2012.

Kesamaannya apa? Pada dua periode berbeda itulah Navicula (1/3) dan Cupumanik (13/4) tampil di siaran televisi nasional bertajuk RadioShow!

Jadi, Navicula harus berhati-hati ketika mereka menyanyikan “Televishit” dimasa mendatang. Kalimat perintah “Matikan TV! Matikan TV!” harus ditujukan untuk siaran penuh omong-kosong seperti berita artis, sinetron, dan reality show. Bukan untuk musik grunge dan sajian musik asyik lainnya, hahaha!

Ketika Kucel Bertemu Gincu

Kaum kucel. Begitulah Che Cupumanik menyebut kumpulan fans grunge tanah air. Barangkali itu berangkat dari fashion statement para pendahulunya di Seattle, yang memang tidak doyan berdandan.

Saya sih menolak disebut kucel. Meskipun saya (sedikit saja) kalah ganteng dibanding Che, rasanya kebiasaan mandi setiap hari dan cukup sering ganti baju mutlak mengeluarkan saya dari garis batas definisi kucel.

 

 

Soal kucel dan dandan ini kemudian, secara aneh dan lucu, bergesekan ketika Cupumanik diundang rekaman untuk sebuah segmen musik di KompasTV, Rabu (20/6) yang lalu.

Seperti acara musik di stasiun televisi lainnya di negeri ini, kali inipun KompasTV menggunakan jasa audiens profesional. Tahu kan maksud saya?

Audiens profesional harus tampil profesional. Maka keluarlah segala macam bedak, cermin, dan lipstik. Semua buru-buru berdandan, sebelum rekaman lagu pertama dimulai. Tepatnya, nyaris semua berdandan.

Cupumaniak (sebutan bagi fans Cupumanik), yang jumlahnya cukup banyak, tentu saja tidak berdandan. Mereka datang ke Orange Studio, tempat KompasTV merekam penampilan Cupumanik, bukan demi uang. Mereka datang demi cinta. Demi kegemaran akan musik grunge.

Maka bercampurlah kucel dan gincu. Fans sebenarnya dan audiens profesional, di bibir panggung. Yang profesional mengikuti aba-aba dari yang membayar, sementara Cupumaniak mengikuti kata hatinya. Bukan perpaduan yang serasi, jika boleh saya bilang demikian.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Che, Iyak, Eski, dan Dony saat itu. Mereka yang biasanya berhadapan dengan audiens yang menggelora penuh gairah, bahkan terkadang liar, kini harus beraksi di hadapan audiens yang ada disana bukan karena musik.

Ketika kucel bertemu gincu, semua tentu terasa aneh. Antara nyata dan tidak. Antara benar dan pembenaran.

Tapi itulah kiranya harga yang harus dibayar. Demi sampainya pesan ke penjuru negeri. Bahwa grunge masih bernafas dan kini siap berlari lagi!