Tag Archives: rock

All Behind: Untuk Masa Lalu yang Ingin Dilupakan

Orang bijak berkata bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Namun, sebagai manusia, kita harus selalu percaya bahwa semua orang punya hak untuk mendapatkan kesempatan kedua. Karena manusia, setangguh apapun dia, sesunggguhnya sangatlah mudah terjerumus dalam kesalahan.

 

 

Sayangnya, kita tidak hidup dalam dunia yang welas asih. Dunia kita saat ini sangatlah sulit untuk memaafkan. Hidup layaknya sebuah perlombaan keras yang tak kenal ampun. Sekali berbuat salah, selesailah sudah!

Maka lahirlah “All Behind”. Ode bagi mereka yang terpaksa menempuh perjalanan jauh demi meraih kesempatan kedua. Nyanyian sepi pengiring jalan bagi mereka yang dengan berat hati mengucapkan selamat tinggal pada kehidupannya saat ini. Pada semua yang dicintai.

Semua itu memang memilukan, tapi perlu. Karena hidup, seberat apapun, harus terus berlanjut. Bahkan jika itu berarti terpaksa memulai semuanya dari nol lagi…

 

“Pack your things and drive away

Heading for the better days

You’ve gotta leave it all behind

All behind…

Jesus Christ, don’t you cry

I don’t love you anymore

Got my mind set for one thing

Leaving you… Far behind…

All the good things in your life

Seem out of reach and so far away

You’ve gotta leave it all behind

All behind…”

Dengarkan lagu ini di Soundcloud: All Behind

Bleeding Memories

Tiga belas hari dan lima operasi setelah perkosaan massal (gang rape) yang dialaminya di dalam bus di Munirka, India, 16 Desember 2012 malam lalu, perempuan malang bernama Nirbhaya itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Singapura.

 

 

Tentu saja Nirbhaya bukanlah nama aslinya. Sesuai hukum yang berlaku di India, nama korban perkosaan dirahasiakan demi melindungi kehormatan sang korban dan seluruh keluarganya.

Nirbhaya, yang bermakna Tidak Kenal Takut, adalah julukan yang diberikan dunia untuk menghormati keberaniannya.

Ya, perempuan malang itu memang pemberani. Dia sempat menggigit beberapa orang pemerkosanya sebelum akhirnya dia, bersama pacarnya yang juga dianiaya, dilempar dari bus yang masih melaju.

Tidak ada roman, puisi, lukisan atau bentuk simpati apapun di dunia ini yang bisa menggambarkan kengerian dan penderitaan yang menghantam Nirbhaya. Tidak juga sepotong nyanyian menyedihkan berjudul “Bleeding Memories” ini.

Jeritan tak tentu nada dan raungan gitar dalam lagu ini bukan upaya untuk merangkum kengerian itu.

Paling hebat, “Bleeding Memories” hanya akan berhenti sebagai sebuah pengingat. Sebuah monumen kelam yang menjadi peringatan bagi kita semua betapa dunia tempat kita bernaung sesungguhnya dipenuhi oleh orang-orang keji yang tak kenal belas kasihan…

 

“Yeaaahhh!!!

Yeaaahhh!!!

Fading sound

Blurry face

Push you down

To the ground

Let me go!

I don’t want to feel it

Let me go!

I don’t want to hear it

Let me go!

I don’t want you inside

Let me kill!

These bleeding memories

Yeaaahhh!!!

Yeaaahhh!!!

Push you down

To the ground… Ough!

Twisted hand

Twisted mind

Broken ribs

Broken dream

Let me go!

I don’t want to feel it

Let me go!

I don’t want to hear it

Let me go!

I don’t want you inside

Let me kill!

These bleeding memories

Yeaaahhh!!!

Yeaaahhh!!!

Yeaaahhh!!!

Yeaaahhh!!!”

Dengarkan lagu ini di Soundcloud: Bleeding Memories

Monkey Dude: Tentang Serakahnya Kita

Tidak ada iklan yang lebih mengesalkan dibanding iklan properti di televisi. Bagian paling mengesalkannya, tentu saja, adalah kalimat pamungkas: “Senin harga naik!” atau “Harga naik besok!”. Intinya, pengelola properti memaksa kita semua untuk segera membeli. Bah!

 

 

Sebenarnya, jika kita mau jujur, bukan hanya industri properti yang seperti itu. Investasi, asuransi, pasar modal dan bahkan otomotif pun tidak banyak berbeda. Semuanya sama-sama memaksa.

Betapa kehidupan modern kita, dengan dalih peningkatan kualitas hidup dan jaminan hari tua, didasarkan pada satu kata saja: serakah.

Di saat banyak orang yang untuk makan sehari-hari saja sulit, kita dibujuk untuk membeli rumah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Di saat banyak orang di-PHK karena dianggap tidak memiliki kemampuan memadai untuk bekerja, kita dirayu untuk menambah koleksi mobil di garasi.

Maka lahirlah “Monkey Dude”, sebuah gugatan atas sifat serakah kita semua, yang semakin hari rasanya semakin menjadi. Peringatan untuk kita, manusia, yang karena keserakahannya kini menjadi lebih mirip monyet ketimbang makhluk berakal dan berbudi pekerti yang mulia.

“Take all the money that you need

Forget everyone who’s in need

Your life is all about the greed

In greed we all trust, indeed

1, 2, 3!

We’ve got to clap our hands

Monkey dude, you’re the man!

You’re the man!

Yeah!!! Ya-hooo!!!

Take all the food that you can chew

Don’t give any, don’t lose a few

Just let them rot and let them die

In greed we live and we shall die          

1, 2, 3!

We’ve got to clap our hands

Monkey dude, you’re the man!

You’re the man!

Yeah!!! Ya-hooo!!!”

Dengarkan lagu ini di Soundcloud: Monkey Dude