Tag Archives: rock

Under The Cursed Sun

Dini hari. Kopi di cangkir sudah lama kering. Lampu-lampu dimatikan. Hening di luar bersatu dengan gemuruh di dalam kepala. Kita, manusia, terjebak dalam dialog dengan diri sendiri. Aku berbincang dengan aku. Tidak ada kita. Hanya aku.

 

 

Inilah saat genting, ketika semua cerita hidup berkelebat menghampiri. Ketika semua kesalahan dan kegagalan, sekali lagi, harus dihadapi.

Begitu jauh sudah kita melangkah. Begitu banyak yang telah kita kerjakan. Namun kadang kala, semua itu belum cukup. Lebih buruk, sia-sia.

Maka mengalunlah “Under The Cursed Sun”. Balada dini hari tentang jiwa yang gosong terpanggang sepi. Cerita murung tentang manusia yang tidak punya apa-apa, kecuali dirinya sendiri. Bahkan dalam hingar bingarnya kota terkutuk ini, kita setiap saat bisa terbunuh sepi…

 

A thousand miles under your shoes

Still got you nowhere my friend

You’re coming back to where you started

The sky is cracked

And the sun, it don’t shine your way no more

The cloud’s so thick you can’t see a thing

Oh… We all are walking

Under the cursed sun

Oh… We all are creeping

To our death bed alone

And all these loneliness

They drive you crazy

It feels like there’s a black hole in your heart…

A thousand words slip from your lips

Still got you silenced my friend

You lost your voice the day you were born

Empty is the only feeling

You’re familiar with my friend

No friends, no lovers, and no hopes

Oh… We all are walking

Under the cursed sun

Oh… We all are creeping

To our death bed alone

And all these loneliness

They drive you crazy

It feels like there’s a black hole in your heart… Yeaaahhh!!!

And all these craziness

They won’t leave you alone

This black hole sucks your life to the end…

Dengarkan lagu ini di Soundcloud: Under The Cursed Sun

All Behind: Untuk Masa Lalu yang Ingin Dilupakan

Orang bijak berkata bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Namun, sebagai manusia, kita harus selalu percaya bahwa semua orang punya hak untuk mendapatkan kesempatan kedua. Karena manusia, setangguh apapun dia, sesunggguhnya sangatlah mudah terjerumus dalam kesalahan.

 

 

Sayangnya, kita tidak hidup dalam dunia yang welas asih. Dunia kita saat ini sangatlah sulit untuk memaafkan. Hidup layaknya sebuah perlombaan keras yang tak kenal ampun. Sekali berbuat salah, selesailah sudah!

Maka lahirlah “All Behind”. Ode bagi mereka yang terpaksa menempuh perjalanan jauh demi meraih kesempatan kedua. Nyanyian sepi pengiring jalan bagi mereka yang dengan berat hati mengucapkan selamat tinggal pada kehidupannya saat ini. Pada semua yang dicintai.

Semua itu memang memilukan, tapi perlu. Karena hidup, seberat apapun, harus terus berlanjut. Bahkan jika itu berarti terpaksa memulai semuanya dari nol lagi…

 

“Pack your things and drive away

Heading for the better days

You’ve gotta leave it all behind

All behind…

Jesus Christ, don’t you cry

I don’t love you anymore

Got my mind set for one thing

Leaving you… Far behind…

All the good things in your life

Seem out of reach and so far away

You’ve gotta leave it all behind

All behind…”

Dengarkan lagu ini di Soundcloud: All Behind

Bleeding Memories

Tiga belas hari dan lima operasi setelah perkosaan massal (gang rape) yang dialaminya di dalam bus di Munirka, India, 16 Desember 2012 malam lalu, perempuan malang bernama Nirbhaya itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Singapura.

 

 

Tentu saja Nirbhaya bukanlah nama aslinya. Sesuai hukum yang berlaku di India, nama korban perkosaan dirahasiakan demi melindungi kehormatan sang korban dan seluruh keluarganya.

Nirbhaya, yang bermakna Tidak Kenal Takut, adalah julukan yang diberikan dunia untuk menghormati keberaniannya.

Ya, perempuan malang itu memang pemberani. Dia sempat menggigit beberapa orang pemerkosanya sebelum akhirnya dia, bersama pacarnya yang juga dianiaya, dilempar dari bus yang masih melaju.

Tidak ada roman, puisi, lukisan atau bentuk simpati apapun di dunia ini yang bisa menggambarkan kengerian dan penderitaan yang menghantam Nirbhaya. Tidak juga sepotong nyanyian menyedihkan berjudul “Bleeding Memories” ini.

Jeritan tak tentu nada dan raungan gitar dalam lagu ini bukan upaya untuk merangkum kengerian itu.

Paling hebat, “Bleeding Memories” hanya akan berhenti sebagai sebuah pengingat. Sebuah monumen kelam yang menjadi peringatan bagi kita semua betapa dunia tempat kita bernaung sesungguhnya dipenuhi oleh orang-orang keji yang tak kenal belas kasihan…

 

“Yeaaahhh!!!

Yeaaahhh!!!

Fading sound

Blurry face

Push you down

To the ground

Let me go!

I don’t want to feel it

Let me go!

I don’t want to hear it

Let me go!

I don’t want you inside

Let me kill!

These bleeding memories

Yeaaahhh!!!

Yeaaahhh!!!

Push you down

To the ground… Ough!

Twisted hand

Twisted mind

Broken ribs

Broken dream

Let me go!

I don’t want to feel it

Let me go!

I don’t want to hear it

Let me go!

I don’t want you inside

Let me kill!

These bleeding memories

Yeaaahhh!!!

Yeaaahhh!!!

Yeaaahhh!!!

Yeaaahhh!!!”

Dengarkan lagu ini di Soundcloud: Bleeding Memories