Category Archives: Music

PJ20

Tidak banyak fans Pearl Jam (PJ) yang tahu bahwa Eddie Vedder benar-benar berseteru dengan Brendan O’Brien dalam sesi rekaman album “Vs.”. Perseteruan itu, sedikit banyak, masih berlanjut hingga hari ini, nyaris 20 tahun kemudian!

Pertengkaran hebat itu dipicu oleh lagu “Betterman”. Lho! Bukankah “Betterman” adalah bagian dari album “Vitalogy”, yang keluar setelah “Vs.”?

 

 

Hardcover: 384 pages

Publisher: Atlantic Books (13 Sep 2011)

Language English

ISBN-10: 1848874936

ISBN-13: 978-1848874930

Product Dimensions: 27.8 x 23.8 x 3.4 cm

 

Tepat untuk itulah, untuk mendapatkan cerita-cerita personal yang tidak pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun sebelumnya, fans PJ perlu membeli buku hardcover setebal 384 halaman ini.

Baca juga tentang bagaimana PJ hampir menghasilkan sebuah album konsep, yang kemudian tidak terlalu sukses prosesnya dan berakhir sebagai album “Pearl Jam” atau lebih kita kenal dengan sebutan “Avocado”.

Sebagian besar buku ini berisi jurnal musik mereka. Sejujurnya, membaca itu semua terasa sangat membosankan.

Namun untungnya, disamping 9 bab khusus (1 bab untuk menjelaskan proses pembuatan 1 album), ditambah beberapa bab lagi untuk rilisan yang bukan merupakan album, buku ini juga memuat banyak sekali foto-foto PJ yang luar biasa memukau.

Satu foto menampilkan Eddie ber-stage diving dari ketinggian panggung yang mematikan. Uniknya, foto ini diambil dari jarak yang cukup jauh. Tubuhnya melayang di udara, barangkali 2 meter tingginya dari ratusan tangan yang mengacung ke udara, bersiap menyambutnya. Sekilas, berkat cahaya temaram dalam foto ini, Eddie terlihat seperti sedang terbang. Melayang di atas lautan fans yang menjerit histeris.

Jika kamu cukup rajin dan punya banyak waktu luang, membaca buku ini terasa seperti berenang di sungai waktu. Kita, dalam tingkat akurasi tertentu, bisa merasakan bagaimana PJ lahir, tumbuh, dan berkembang menjadi raksasa. Juga, menjadi tua…

Seperti profil band mereka, buku ini 100% serius. Sedikit sekali hal yang bisa membuat syaraf humor kita tergelitik. Satu dari yang sedikit itu adalah cerita konyol mengenai Kanye West.

Dalam festival musik Bonnaroo 2008, Kanye West memaksa untuk tampil setelah semua artis besar tampil, demi menghilangkan saingan.

Jadilah ia dijadualkan tampil setelah PJ. Sialnya, tata panggung yang dibawa Kanye West membutuhkan waktu tak kurang dari 2 jam untuk dipasang, dan itu membuat marah banyak sekali fans yang menunggunya, lama setelah PJ menyelesaikan pertunjukan mereka.

“He went ballistic on us,” ungkap manajemen PJ, sambil terkekeh, sebagaimana tertulis dalam buku itu.

Dalam urusan pengaruhnya pada perkembangan musik dunia, selain ledakan popularitasnya di dekade 90-an (tentu saja), PJ memang belum bisa disetarakan dengan The Who, The Ramones, atau bahkan Sex Pistols, sehingga penerbitan buku perjalanan karir yang demikian detil seperti ini rasanya agak sedikit berlebihan.

Bagi saya, fans beratnya, buku ini tentu saja wajib dibeli, meski itu artinya mengurangi jatah makan nasi uduk di pagi hari, karena harganya yang lumayan mencekik.

Ketika Kucel Bertemu Gincu

Kaum kucel. Begitulah Che Cupumanik menyebut kumpulan fans grunge tanah air. Barangkali itu berangkat dari fashion statement para pendahulunya di Seattle, yang memang tidak doyan berdandan.

Saya sih menolak disebut kucel. Meskipun saya (sedikit saja) kalah ganteng dibanding Che, rasanya kebiasaan mandi setiap hari dan cukup sering ganti baju mutlak mengeluarkan saya dari garis batas definisi kucel.

 

 

Soal kucel dan dandan ini kemudian, secara aneh dan lucu, bergesekan ketika Cupumanik diundang rekaman untuk sebuah segmen musik di KompasTV, Rabu (20/6) yang lalu.

Seperti acara musik di stasiun televisi lainnya di negeri ini, kali inipun KompasTV menggunakan jasa audiens profesional. Tahu kan maksud saya?

Audiens profesional harus tampil profesional. Maka keluarlah segala macam bedak, cermin, dan lipstik. Semua buru-buru berdandan, sebelum rekaman lagu pertama dimulai. Tepatnya, nyaris semua berdandan.

Cupumaniak (sebutan bagi fans Cupumanik), yang jumlahnya cukup banyak, tentu saja tidak berdandan. Mereka datang ke Orange Studio, tempat KompasTV merekam penampilan Cupumanik, bukan demi uang. Mereka datang demi cinta. Demi kegemaran akan musik grunge.

Maka bercampurlah kucel dan gincu. Fans sebenarnya dan audiens profesional, di bibir panggung. Yang profesional mengikuti aba-aba dari yang membayar, sementara Cupumaniak mengikuti kata hatinya. Bukan perpaduan yang serasi, jika boleh saya bilang demikian.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Che, Iyak, Eski, dan Dony saat itu. Mereka yang biasanya berhadapan dengan audiens yang menggelora penuh gairah, bahkan terkadang liar, kini harus beraksi di hadapan audiens yang ada disana bukan karena musik.

Ketika kucel bertemu gincu, semua tentu terasa aneh. Antara nyata dan tidak. Antara benar dan pembenaran.

Tapi itulah kiranya harga yang harus dibayar. Demi sampainya pesan ke penjuru negeri. Bahwa grunge masih bernafas dan kini siap berlari lagi!

Rock is Dead!

Sore ini, Rabu (20/6),  15 hari sebelum jadual penyelenggaraannya, Java Rockingland (JRL) 2012 resmi dibatalkan! Adalah Dewi Gontha sendiri yang memberikan pernyataan itu kepada media.

Rock is dead!

 

 

 

Ya, setelah sebelumnya sukses bergulir selama 3 tahun berturut-turut, akhirnya JRL terpaksa dikubur. Ini, tentu saja, sangat erat kaitannya dengan putusnya kerja sama bisnis Java Production selaku penyelenggara dengan sponsor utama mereka, Gudang Garam.

Festival rock terbesar se-Asia Tenggara itu menemui ajalnya di tengah derasnya hujan sindiran dan hujatan calon penonton.

Sejak penjualan tiket pre-sale dibuka dua minggu yang lalu, tak satu pun nama beken yang tercantum di daftar performer JRL 2012. Ini membuat geram sebagian calon penonton, termasuk saya yang memang setiap tahun membeli tiket terusan tanpa terlalu peduli siapa bintang yang bakal dipanggungkan nantinya.

Hawa lesu semakin santer terasa, karena bahkan dua minggu sebelum perhelatan, masih tak ada nama mentereng dari luar negeri yang tercantum di jadual resmi. Sungguh mengkhawatirkan!

Maka ketika gong kematian itu akhirnya benar-benar berbunyi, sebenarnya dampaknya tidaklah terlalu mengagetkan. Jauh-jauh hari, di dalam hati, kita semua juga sudah menduganya.

Ah!Setelah hati nurani pejabat publik mati, sekarang giliran musik rock.

Ya, ya, ya… Di Indonesia, rock is dead!