#MetallicaJKT: Daeeeyyy!!! Daeeeyyy!!! Daeeeyyy!!!

Tugaskan seorang ahli semiotika untuk menganalisis 2,5 jam konser Metallica di Jakarta semalam (25/8), maka dia akan mendapati ratusan kata “Die!” dan hanya satu kata “love”. Itu pun bukan dalam lagu, melainkan saat Hetfield mengucapkan selamat tinggal pada sekitar 50.000 penonton yang menyesaki Gelora Bung Karno (GBK) sembari berteriak: “Metallica loves Jekardaaa…hhh!!!”

 

Metallica GBK Jakarta 2013 (foto by Dracil, Wustuk, dan Metallica)
Metallica GBK Jakarta 2013 (foto by Dracil, Wustuk, dan Metallica)

 

Namun, bertolak belakang dengan jumlah katanya, sama sekali tidak ada kebencian, lebih-lebih kematian, dalam konser semalam. Semua yang hadir, para penggemar musik metal maupun yang ikut-ikutan belaka, hanya membawa satu hal saja malam itu. Cinta.

Semua kehebohan penjualan tiket, pembangunan panggung raksasa, penukaran voucher, hingga antrian yang melelahkan di pintu masuk terbayar lunas ketika akhirnya Metallica menghantam dengan “Hit The Lights” sekitar jam setengah sembilan malam.

No life till leather… We are gonna kick some ass tonight!!!” Dan ya, James Hetfield cs benar-benar sukses menendang pantat saya. Dengan sangat keras!

Cukup disayangkan, energi dan pengetahuan audiens di Jakarta ternyata terbilang menengah-rendah. Ini terbukti sejak penayangan video musik “The Ecstasy of Gold”. Tidak ada koor audiens yang membahana layaknya di pembukaan sesi Metallica di konser Big Four di Sofia, Bulgaria.

Di sekitar saya, tidak banyak yang bernyanyi sepanjang konser. Dan, anehnya, lebih sedikit lagi yang bernyanyi menirukan solo-solo guitar milik Kirk Hammet maupun James Hetfield. Padahal, setelah terinspirasi oleh para penonton di Chile, Argentina, dan Brasil, berteriak sambil memonyongkan mulut mengikuti solo-solo guitar itu sungguh sangat menyenangkan!

Paling mentok ya sebagian besar ikut angkat tangan, mengepal ataupun memberi salam tiga jari, sembari berteriak: “Daeeeyyy!!! Daeeeyyy!!! Daeeeyyy!!!” (Ini maksudnya: “Die! Die! Die!”)

Hilman, yang malam sebelumnya menceburkan diri di mosh pit Singapura, mengamini hal ini. Jika di Singapura dia nyaris pingsan terseret arus tarian perang penonton, di Gelora Bung Karno semalam dia malah bisa santai-santai dan bawa pulang balon hitam yang disebar penyelenggara di penghujung konser.

Tapi, masa bodohlah dengan penonton Jakarta. Saya datang untung menghentakkan kepala dan menjerit mengosongkan paru-paru. Sejenak menghanyutkan diri dalam sungai kenangan masa remaja. Masa-masa gila ketika musik hanya punya satu makna. Keras menggelegar!

“The Ecstasy of Gold”, “Hit The Lights”, “Master of Puppets”, “Fuel”, “Ride The Lightning”, “Fade to Black”,  “The Four Horsemen”, “Cyanide”, “Welcome Home (Sanitarium)”, “Sad but True”, “Orion”, “One”, “For Whom The Bell Tolls”, “Blackened”, “Nothing Else Matters”, “Enter Sandman”, “Creeping Death”, “Fight Fire with Fire”, dan “Seek and Destroy” menggilas GBK tanpa ampun. Keras, cepat, super cadas!

Metallica, dalam usia senja dan jadual konsernya yang tetap gila, sungguh pantas disanjung sebagai legenda. Tidak hanya bagi musik metal, namun bagi seni pertunjukan umumnya. Panggung megah yang menggetarkan jiwa, tata suara dan lampu yang nyaris sempurna, serta permainan multi-media di tiga layar high definition raksasa melahirkan suguhan konser metal yang, sejauh pengalaman saya menonton konser di Indonesia, adalah yang terhebat.

Di banyak kesempatan memang Lars Ulrich seperti kehilangan momentum. Intro “One” pun nyaris berantakan karena James, Lars, dan Kirk seperti sedang adu layangan. Tarik ulur tak tentu tujuan.

Tapi, ini yang selalu saya percaya, konser rock bukan soal kesempurnaan musik semata, namun semangat pembebasan. Bukan soal bersedekap dan menilai siapa yang main bagus dan siapa yang payah, namun melarutkan diri dalam hingar-bingarnya musik, untuk kemudian terhempas dan terlahir kembali, sebagai jiwa yang bebas merdeka.

Sungguh, saya sama sekali tidak keberatan jika tahun depan Metallica kembali ke sini. Meskipun, seperti yang tersirat dalam kibaran bendera merah putih yang dibentangkan di panggung sesaat setelah mereka menuntaskan 20 tahun penantian fans-nya di Indonesia dengan “Seek and Destroy”, mereka akan menggelar konsernya di… Solooo!!!

Acoustology III: Rendisi Akustik yang Gila!

Ditutup dengan penampilan dadakan dari Navicula (full team: Robi, Dankie, Made, dan Gembul), “Acoustology III: Back to Fitrah” semalam (24/8) sukses digelar di coffeewar. Perhelatan musik akustik tahunan milik Pearl Jam Indonesia (PJID) ini terasa kian sempurna dengan tampilnya para punggawa grunge asal pulau Dewata itu.

 

Acoustology III (poster by Davro)
Acoustology III (poster by Davro)

 

Tidak setiap malam kita punya kesempatan menyaksikan “Sail On”, “Orangutan”, “Love Bomb”, “Di Rimba”, “Busur Hujan”, atau “Mother in Child” dibawakan secara akustik. Benar-benar ciamik!

Jam 8 tepat, Razak (dari band Lensa) dan Nito membuka dengan “Amongst The Waves”, “Black”, dan “Thumbing My Way”. Teman meja saya langsung nyeletuk: “Wah, vokalnya keren!”

Tanpa jeda berarti, Uwie dan Reza melanjutkan dengan “You Are”, “Satan’s Bed”, dan “Animal”. Jujur saja, perpaduan kocokan gitar Uwie dan vokal berat Reza di “You Are” sungguh aduhai! Ini versi yang boleh diadu dengan versi toko sebelah.

Salah satu menu yang saya tunggu mengudara setelah sebelumnya Kuda yang didaulat jadi MC dadakan membagikan kuis berhadiah ke audiens: No Excuses (NXCS). Omong-omong, hadiah kuis ini disediakan oleh Urip, Amus, dan Farry.

Tempo hari saya menikmati sekali penampilan NXCS membawakan puluhan lagu Alice in Chains di Borneo Beer House. Namun, malam ini mereka khusus membawakan nomor-nomor milik Mad Season. “Wake Up”, “River of Deceit”, dan “I Don’t Know Anything” adalah beberapa di antaranya.

Sesi ini juga ditandai dengan hadirnya Dankie yang jamming di lagu “Long Gone Day” dan “I Don’t Wanna be A Soldier”.

Berikutnya adalah yang ditunggu sebagian besar orang malam itu… Dankie.

Seperti biasa, dia memainkan gitarnya laksana tukang sihir. Dengan Arief beroperasi di belakang soundboard, suara gitar akustik Dankie mengalun megah, menyusup dalam hingga ke sudut-sudut jiwa.

Seharusnya Dankie memainkan “Eldery Woman”, namun karena dalam latihan dia merasa tidak nyaman, maka dia menggantinya dengan… “Untitled”! Jadilah semua larut dalam kesyahduan lagu yang dalam konser-konser Pearl Jam biasanya menjadi awal dari “MFC” itu.

Menyusul kemudian “Picture in A Frame” yang merupakan theme song pernikahan Nurdin, “Man of The Hour” yang menyeret saya pada kenangan “Pearl Jam Nite V: Do The Greenvolution”, dan “Just Breathe”.

Perfect Ten tampil membatu Dankie membawakan Indifference. Dan sebagai pamungkas, versi gila dari “Immortality” disuguhkan berdua bersama Hasley. Benar-benar luar biasa!

Nyaris sepuluh tahun luntang-lantung di PJID, saya belum pernah dihantam “Immortality” yang seperti ini. Mistis, brutal, dan sepenuhnya bebas bentuk. Seperti sebuah lagu yang terlahir kembali.

Razak, Reza, dan Hasley bahu-membahu dalam sesi Perfect Ten malam itu. Suguhan penghabisan.

Dengan penuh semangat dan penghayatan, bersama mereka membawakan “Corduroy”, “Unthought Known” (ini versi akustik terbaik sejauh ini yang pernah saya  lihat), “Betterman”, “In Hiding” dan beberapa lainnya.

Jika saya tidak salah ingat, “Smile” jadi nomor kedua  terakhir, sebelum “Lukin” jadi penutup penampilan mereka malam itu. Nomor yang, lagi-lagi, menyeret saya pada kenangan penampilan perdana mereka di BB’s Cafe, Menteng beberapa tahun lalu, dalam perhelatan “Acoustology”. Sebuah pertunjukan musik akustik yang akhirnya melahirkan legenda lokal bernama Perfect Ten…

Nyaris 40 lagu dan malam itu jelas berlalu dengan sangat menyenangkan.

Terimakasih PJID dan coffeewar. Terima kasih para musisi yang dengan sukarela menyumbangkan bakat dan waktunya. Dan, tentu saja, terima kasih 70-an orang audiens yang tak henti ikut bernyanyi sejak jam delapan hingga dini hari. Sampai berjumpa lagi!

Raya (2013): Iwan Belum Berhenti Memberontak

Iwan tak henti memberontak. Barangkali, sampai mati pun dia akan tetap memberontak. Siapa pun yang bilang Iwan sekarang lembek pastilah belum beli album terbarunya yang berjudul “Raya”.

 

Peluncuran Album Raya (foto by Tribunnews.com)

 

OK. Dia memang jualan kopi. Namun, setidaknya dia jual kopi Indonesia. Dia juga tidak pernah munafik dan menampik keterlibatannya dalam soal ini. Dan, jika itu bisa menghidupi semangat bermusiknya, apa masalahnya?

Dalam “Katanya”, Iwan meratapi mimpi-mimpi kosong Indonesia. Seolah melanjutkan tangisannya di pusara Bung Karno di lagu “Negeri Kaya”, dalam lagu ini dia akhirnya memilih untuk tegar dan mengajak kita semua menghentikan kecengengan dan berdiri menghadapi segala tantangan.

“Katanya zamrud khatulistiwa. Nyatanya kilau air mata. Katanya serpihan surga. Nyatanya?”, demikian Iwan melantunkan sindiran dan sekaligus menampar kita semua.

Delapan belas lagu dalam album ini bercerita tentang banyak hal. Tentang anaknya, Raya. Tentang kecanduan kita semua pada internet. Tentang sampah. Tentang karate dan filosofi luhur yang terkandung di dalamnya. Tentang laut, petani, demonstrasi, kisah cinta orang kecil, dan tentu saja tentang penguasa yang brengsek.

“Rekening Gendut” dan “Bangsat”, terlepas dari aransemen musiknya yang tidak terlalu menggelegar, sesungguhnya sangat keras dan tajam mengkritik para penguasa bangsa. Iwan, sekali lagi, sama sekali jauh dari kesan lembek.

Album ini, sejauh yang saya tahu, tidak bisa didapatkan di toko musik biasa. Kita hanya bisa memperolehnya dengan melakukan pemesanan melalui e-mail ke tokokita@tigarambu.co.id atau melaui SMS ke 081398055110, 081210881953, dan 081210881941.

Bagi saya, dan rasanya juga kamu semua yang menggemari karya-karya Iwan, album “Raya” sangat layak dibeli, dinikmati, dan dikoleksi.