Riddick-ule

Seperti yang dikhawatirkan banyak orang, “Riddick (2013)” tidak lebih baik dibanding dua film pendahulunya, “Pitch Black (2000)” dan “The Chronicle of Riddick (2004)”. Sekuel tentang tokoh bad ass kelahiran planet Furya bernama Riddick berdurasi 118 menit ini terasa bertele-tele. Kelewat banyak menampilkan sosok Riddick dan seperti berputar-putar menonjolkan kehebatan karakternya saja.

 

Riddick (2013)

 

Dijebak oleh anak buahnya sendiri di planet antah berantah, bertahan hidup menghadapi alam serta binatang buas yang ganas, dan memanggil (dua, bukan satu!) kapal pembunuh bayaran sebagai upaya melarikan diri dari planet yang terancam badai mematikan. Pada dasarnya, alur cerita film ini sungguh sangat membosankan!

“Riddick (2013)”, sesuai dengan ongkos produksinya yang hanya US $ 38 juta, memang sama sekali bukan film fiksi ilmiah yang memuaskan.

Lima belas menit pertama film ini sebenarnya cukup menjanjikan. Namun sisanya, rasanya seperti penyiksaan. Film ini dipenuhi adegang-adegan klise dan, seolah ingin memperburuk segalanya, disesaki dialog-dialog standar dari tokoh-tokoh yang tidak berkembang dengan baik.

Singkat cerita, saran saya adalah: “Simpan uangmu, Bung!”

Elysium (2013): Kesenjangan yang Berujung Perang

Kesenjangan sosial yang sudah tak terganggungkan menghasilkan pemberontakan. Kapan dan di mana pun, selalu begitu. Dan “Elysium (2013)”, film fiksi ilmiah garapan Neill Blomkamp, menggambarkan itu dengan cara yang sangat dramatis dan hiperbolis.

 

Elysium (2013)
Elysium (2013)

 

Orang kaya tinggal di langit. Sementara orang miskin, tinggal di comberan. Neill Blomkamp, yang dalam karya-karyanya memang cukup sering mengangkat tema diskriminasi, menuangkan kondisi itu ke dalam filmnya secara harfiah.

Elysium, sebuah Stanford torus (tempat tinggal di angkasa yang super mewah dan sanggup menampung hingga 140.000 orang), hanya boleh dihuni oleh orang-orang yang luar biasa kaya. Di sana tidak ada penyakit. Semua bisa disembuhkan. Virus, kanker darah, usia tua, hingga kematian.

Elysium laksana surga. Orang-orang yang tinggal di sana bisa hidup abadi. Bergelimang segala macam kenikmatan.

Sementara bumi yang sudah sekarat diisi oleh orang-orang melarat. Sebagian besar tidak punya pekerjaan dan dijangkiti beragam penyakit. Salah satunya adalah Max Da Costa, tokoh utama film ini yang diperankan dengan sangat apik oleh Matt Damon.

Mengambil setting tahun 2154, film ini menyuguhkan pemandangan kota Los Angeles yang sama sekali jauh dari keindahan. Di mana-mana bangunan kumuh. Di mana-mana sampah. Harapan hidup menguap seperti alkohol pencuci koreng.

Alur cerita, penokohan, dan efek visual dalam film ini cukup mumpuni. Meski tidak bombastis, “Elysium (2013)” sangat enak untuk dinikmati. Dana produksi sebesar US $ 115 juta boleh dibilang menghasilkan sesuatu yang pantas.

Ada ketegangan di sana. Ada juga rasa haru. Meski sayangnya, sedikit sekali unsur humor.

Menonton film ini, mau tidak mau saya jadi teringat kondisi Jakarta.

Orang kaya membangun komplek rumah megahnya sendiri, seolah terpisah dari struktur kota. Tidak lagi peduli apakah pembangunan itu menyebabkan orang-orang miskin di sekitarnya tenggelam ditelan banjir.

Mereka punya pusat perbelanjaannya sendiri. Mereka juga menikmati layanan kesehatan yang tentu saja berbeda dari kebanyakan orang.

Jika mau jujur, semakin banyak layanan yang tidak dapat diakses oleh orang biasa, namun tersedia secara melimpah bagi kelas yang super kaya di kota ini.

Jakarta, cepat atau lambat, sesungguhnya menuju ke kondisi yang digambarkan dalam “Elysium (2013)”.

Dammit! Nonton film kok jadi serius gini?

“The Devil Put Dinosaurs Here” yang Bertele-tele

Terlepas dari hadirnya “Hollow” dan “Stone” yang memang kick ass, secara keseluruhan album terbaru Alice in Chains berjudul “The Devil Put Dinosaurs Here” terasa bertele-tele. Barangkali maksudnya adalah menghadirkan grunge-metal-orkestra yang megah. Namun bagi kuping saya, 12 lagu dalam album ini jelas bukan karya terhebat Cantrell cs.

 

The Devil Put Dinosaurs Here (2013)
The Devil Put Dinosaurs Here (2013)

 

Kapan kelarnya? Kapan kelarnya? Kira-kira begitulah isi kepala saya saat menikmati album ini. Bukan pertanda yang bagus.

Jelas Alice in Chains menempuh arah baru dalam albumnya ini. “Low Ceiling”, terutama di bagian solo guitar-nya, terdengar seperti Slash di awal terbentuknya Velvelt Revolver. Sama sekali tidak orisinal.

Kita rasanya tidak mungkin mengharapkan sosok Jerry Cantrell mengeluarkan yang seperti ini. Demi Tuhan, seharusnyalah kita menolak!

Namun, bertahan dari tragedi kematian vokalis legendaris dan basis pendiri bukanlah perkara mudah. Dan Alice in Chains, dengan segala keperkasaannya, bangkit dari abu kematian, terus melangkah, dan akhirnya bahkan mampu melahirkan dua album yang sama sekali baru. Untuk itu, saya berikan rasa hormat tertinggi pada mereka. Salut!

“Scalpel”, dalam bentuknya yang sederhana, justru terasa sangat personal. Seperti lambaian tangan selamat tinggal. Sebuah lagu sedih yang rasanya bakal terus berputar di kepala. Terutama saat dini hari. Ketika kesunyian di luar bersatu dengan gemuruh di dalam kepala. Ketika kopi sudah lama mengering dan luka-luka di jiwa semakin menganga…

“The Devil Put Dinosaurs Here” adalah batu penopang genre grunge yang semakin terbebani kebesaran nama dan legendanya sendiri. Tapi jelas, album ini bukanlah pilar utama yang bisa sepenuhnya dibanggakan.