Category Archives: Music

Ketika Kucel Bertemu Gincu

Kaum kucel. Begitulah Che Cupumanik menyebut kumpulan fans grunge tanah air. Barangkali itu berangkat dari fashion statement para pendahulunya di Seattle, yang memang tidak doyan berdandan.

Saya sih menolak disebut kucel. Meskipun saya (sedikit saja) kalah ganteng dibanding Che, rasanya kebiasaan mandi setiap hari dan cukup sering ganti baju mutlak mengeluarkan saya dari garis batas definisi kucel.

 

 

Soal kucel dan dandan ini kemudian, secara aneh dan lucu, bergesekan ketika Cupumanik diundang rekaman untuk sebuah segmen musik di KompasTV, Rabu (20/6) yang lalu.

Seperti acara musik di stasiun televisi lainnya di negeri ini, kali inipun KompasTV menggunakan jasa audiens profesional. Tahu kan maksud saya?

Audiens profesional harus tampil profesional. Maka keluarlah segala macam bedak, cermin, dan lipstik. Semua buru-buru berdandan, sebelum rekaman lagu pertama dimulai. Tepatnya, nyaris semua berdandan.

Cupumaniak (sebutan bagi fans Cupumanik), yang jumlahnya cukup banyak, tentu saja tidak berdandan. Mereka datang ke Orange Studio, tempat KompasTV merekam penampilan Cupumanik, bukan demi uang. Mereka datang demi cinta. Demi kegemaran akan musik grunge.

Maka bercampurlah kucel dan gincu. Fans sebenarnya dan audiens profesional, di bibir panggung. Yang profesional mengikuti aba-aba dari yang membayar, sementara Cupumaniak mengikuti kata hatinya. Bukan perpaduan yang serasi, jika boleh saya bilang demikian.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Che, Iyak, Eski, dan Dony saat itu. Mereka yang biasanya berhadapan dengan audiens yang menggelora penuh gairah, bahkan terkadang liar, kini harus beraksi di hadapan audiens yang ada disana bukan karena musik.

Ketika kucel bertemu gincu, semua tentu terasa aneh. Antara nyata dan tidak. Antara benar dan pembenaran.

Tapi itulah kiranya harga yang harus dibayar. Demi sampainya pesan ke penjuru negeri. Bahwa grunge masih bernafas dan kini siap berlari lagi!

Rock is Dead!

Sore ini, Rabu (20/6),  15 hari sebelum jadual penyelenggaraannya, Java Rockingland (JRL) 2012 resmi dibatalkan! Adalah Dewi Gontha sendiri yang memberikan pernyataan itu kepada media.

Rock is dead!

 

 

 

Ya, setelah sebelumnya sukses bergulir selama 3 tahun berturut-turut, akhirnya JRL terpaksa dikubur. Ini, tentu saja, sangat erat kaitannya dengan putusnya kerja sama bisnis Java Production selaku penyelenggara dengan sponsor utama mereka, Gudang Garam.

Festival rock terbesar se-Asia Tenggara itu menemui ajalnya di tengah derasnya hujan sindiran dan hujatan calon penonton.

Sejak penjualan tiket pre-sale dibuka dua minggu yang lalu, tak satu pun nama beken yang tercantum di daftar performer JRL 2012. Ini membuat geram sebagian calon penonton, termasuk saya yang memang setiap tahun membeli tiket terusan tanpa terlalu peduli siapa bintang yang bakal dipanggungkan nantinya.

Hawa lesu semakin santer terasa, karena bahkan dua minggu sebelum perhelatan, masih tak ada nama mentereng dari luar negeri yang tercantum di jadual resmi. Sungguh mengkhawatirkan!

Maka ketika gong kematian itu akhirnya benar-benar berbunyi, sebenarnya dampaknya tidaklah terlalu mengagetkan. Jauh-jauh hari, di dalam hati, kita semua juga sudah menduganya.

Ah!Setelah hati nurani pejabat publik mati, sekarang giliran musik rock.

Ya, ya, ya… Di Indonesia, rock is dead!

Rearview Magazine Edisi Kedua

Rearview Magazine (RVM). Dari namanya saja sudah bisa ditebak bahwa majalah yang satu ini kental bicara soal Pearl Jam (PJ) dan kumpulan Pearl Jam Indonesia (PJID). Memang betul!

Cover RVM edisi kedua (desain oleh Davro)

Lha, bukannya berita soal PJ tuh banyak sekali berceceran di internet? Ngapain repot-repot beli majalah ini?

Jawabannya kawan, karena dalam RVM edisi kedua ini justru termuat banyak cerita yang tidak akan bisa kamu temui di media manapun di dunia!

Gak percaya?

Siapa yang cukup gila untuk menulis prediksi mengenai warna album ke-10 PJ yang bahkan Stone Gossard sendiri pun belum berani memastikan kapan tanggal rilisnya? Tentu saja, RVM!

Dan, omong-omong, apakah kamu tahu bahwa ada anak Indonesia asli yang desainnya dipakai dalam t-shirt resmi PJ? Tidak tahu? Ya sudah, gak usah bingung lebih lama lagi, beli dan baca RVM edisi kedua ini!

Rencananya RVM edisi kedua akan diluncurkan dalam event “PJID Blog Award Concert” di Allure Music Cafe, Jl. Jalak Harupat No. 19, Bogor (dekat lapangan Sempur), Minggu, 1 Juli 2012 nanti.

Di acara tersebut akan berlangsung pemberian penghargaan pada juara “Lomba Blog PJID 2012”, peluncuran majalah, dan konser akustik. Feel free to join us!

Twitter: @RVMagz | RVMagz Video Channel | RVMagz Facebook Page