Category Archives: Music

Konspirasi, Mau Dibawa Kemana?

Dengan 5 nominasi (satu akhirnya benar-benar dibawa pulang), Kirana seharusnya berada di perayaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2012 yang diselenggarakan di Tennis Indoor Senayan, semalam (4/7). Namun dia memutuskan untuk berada di Borneo House, Kemang yang padat, panas, dan bising. Bermain drum untuk Konspirasi.

Untuk komitmennya yang luar biasa itu, saya angkat topi. Segan!

Dalam konser intimnya semalam, yang sepertinya juga adalah pesta peluncuran album perdana mereka, Konspirasi menghantam dengan tak kurang dari 12 lagu. Dua diantaranya adalah lagu milik Iwan Fals, yang merupakan sosok idola bagi anak-anak Konspirasi.

 

Sampul album “Teori Konspirasi (2012)”

 

Dari total 11 lagu di album perdana yang mereka beri judul “Teori Konspirasi” itu, jika saya tidak salah ingat, hanya “Simfoni Luka” yang semalam tidak mereka bawakan.

Dibantu oleh seorang additional guitar player, Konspirasi membuka konser intimnya sekitar pukul 22:30 dengan satu nomor keras. “Koruptor”.

Selanjutnya meluncur “Melacak Jejak Purba”, “Lelaki”, “Arogan”, “Melawan Rotasi”, “Kekuatanku”, “Belum Ada Judul”, “Air Mata Api”, “Dilema”, “Stigma”, “Libidinal”, dan terakhir adalah “I Want It All”.

Bagi saya, “Arogan” adalah yang terbaik malam itu. Fucking kick ass!

Kehadiran gitar kedua memberi landasan suara yang memadai bagi Edwin untuk kemudian bermanuver dengan asyik, sehingga (tidak seperti pada beberapa kesempatan konser sebelumnya), energi dalam lagu itu benar-benar bisa terasa, persis seperti dalam album.

Tentu saja audiens bernyanyi bersama di “Melawan Rotasi”. Saya sebenarnya mau juga ikut-ikutan nyanyi. Tapi belakangan ini hidup saya agak terlalu gelap untuk bisa dinyanyikan dengan manis, seperti lagu itu.

“Kekuatanku” jadi yang paling menarik. Ada cerita disitu.

Ketika pertama kali mendengarkan lagu ini, saya sudah menduga bahwa didalamnya terkandung makna relijius. Setidaknya, punya nuansa seperti itu. Sesuatu tentang motivasi hidup.

Namun saya tidak menyangka bahwa di mata Edwin, yang jadi sumber kekuatan bagi seseorang untuk bertahan hidup dan terus berjuang adalah sosok seorang anak. Itulah makna sesungguhnya dari “Kekuatanku”.

“Ini lagu buat anak gue, dalam nuansa grunge,” demikian Edwin menjelaskan.

Dengan komitmen demikian besar dari Kirana, motivasi kuat dari Edwin, bakat serta upaya dari Che dan Romy, kekuatan finansial dan manajemen media yang baik, Konspirasi boleh dibilang punya segalanya untuk berbuat banyak. Bagi diri mereka sendiri, grunge, dan musik nasional.

Pertanyaan selanjutnya, seperti judul lagu yang dinyanyikan Kirana dan berhasil menggondol penghargaan “Produser Musik Terbaik AMI 2012”, semua itu mau dibawa kemana?

One Cool Nite

Akhirnya saya bisa menyaksikan seorang Nito memainkan nada-nada dan sound gitar yang gelap. Nuansa yang tak mungkin muncul ketika dia bermain bersama Perfect Ten yang spesialis memainkan lagu-lagu Pearl Jam.

 

No Excuses’ First Gig (foto oleh Uncal)

 

Bersama No Excuses, proyek barunya, dia menggeber tak kurang dari 21 lagu Alice in Chains (AIC) di Borneo House, Kemang, semalam (30/6). Pencapaian yang boleh dibilang sangat memuaskan dari sebuah band yang baru beberapa kali saja latihan bersama.

Beranggotakan Nito, Andi, Kopet, dan Uncal, No Excuses rasanya punya masa depan yang menarik. Keempat musisi ini, terutama yang disebut paling belakangan, memiliki penjiwaan yang baik sekali terhadap karya-karya AIC.

Dalam beberapa kesempatan, meski tidak sepanjang penampilannya malam itu, mereka punya apa yang menjadikan AIC demikian besar dan menarik banyak fans:  the coolness while playing heavy sound.

Semalam, mereka sama sekali tidak terlihat mencoba. Memainkan AIC sepertinya alami sekali bagi keempat orang ini.

Dimulai satu jam terlambat dari jadual, Them Bones menjadi band pembuka malam itu. Mereka membawakan “All Secrets Known”, “Your Decision”, dan “Dam That River”.

Selanjutnya No Excuses menghajar tak terbendung.

“Bleed The Freak”, “Angry Chair”, “Sea of Sorrow”, “Junkhead”, “We Die Young”, “Them Bones”, “Rain When I Die”, “Dirt”, “Queen of The Rodeo”, “It Ain’t Like That”, “Again”, “Down in The Hole”, “Heaven Beside You”, “Nutshell”, “Don’t Follow”, “No Excuses”, “Check My Brain”, , “Would?”, “Rooster”, “Man in The Box”, dan “Brother” mengisi dua jam yang hingar-bingar itu.

Terselip diantaranya adalah “I Don’t Know Anything” dan “River of Deceit” milik Mad Season serta satu nomor masing-masing dari Stone Temple Pilots dan Red Hot Chili Peppers.

Turut jamming di pangung adalah Olitz Alien Sick, Amar Besok Bubar, dan Tony Bunga.

Seperti biasa, konser intim malam itu memang diakhiri dengan sesi jamming dan gila-gilaan. Menyenangkan sekali!

Setelah sering sekali menikmati Pearl Jam Nite, beberapa kali menghadiri Nirvana Nite, kali ini akhirnya hasrat mencicipi AIC Nite kesampaian juga. Berikutnya, Soundgarden Nite, anyone?

Tanpa Televisi, Grunge Tiada Arti

Tanpa siaran televisi, mustahil musik grunge bisa dikenal luas. Setidaknya, itulah yang ditunjukkan oleh data Google Insight Search mengenai audiens musik grunge di Indonesia.

Selama semester pertama 2012, tingkat pencarian kata “grunge” melalui mesin pencari Google di Indonesia terbilang stabil. Tidak ada lonjakan atau penurunan serius. Artinya, di Indonesia, grunge ya gitu-gitu aja. Penggemarnya selalu ada, namun tidak banyak bertambah ataupun berkurang.

Tapi ternyata tidak demikian halnya dengan tingkat pencarian kata “Navicula” dan “Cupumanik”. Kedua band beraliran grunge asli Indonesia ini mengalami peningkatan pencarian yang signifikan untuk dua periode waktu berbeda.

Lihat grafik berikut ini!

Data Google Insight Search Indonesia Januari-Juni 2012

 

Apa penjelasan dari lonjakan pencarian itu? Sederhana: siaran televisi!

Pencarian kata “Navicula” melejit pada periode 26 Februari – 3 Maret 2012, sementara lonjakan pencarian kata “Cupumanik” terjadi selama rentang waktu 8-14 April 2012.

Kesamaannya apa? Pada dua periode berbeda itulah Navicula (1/3) dan Cupumanik (13/4) tampil di siaran televisi nasional bertajuk RadioShow!

Jadi, Navicula harus berhati-hati ketika mereka menyanyikan “Televishit” dimasa mendatang. Kalimat perintah “Matikan TV! Matikan TV!” harus ditujukan untuk siaran penuh omong-kosong seperti berita artis, sinetron, dan reality show. Bukan untuk musik grunge dan sajian musik asyik lainnya, hahaha!