Review Film: LOGAN (2017)

Tentu saja ada beberapa orang yang membawa anak di bawah umur dan bahkan balita untuk menonton Logan. Meski kode umur film jelas tertera di tiket dan banyak himbauan beredar di social media, orang Indonesia memang sepertinya terlahir pandir.

Well, Indonesian. Tidak perlulah berharap terlalu banyak pada mereka. Lihat saja kelakukan kampungan mereka dalam Pilgub DKI Jakarta.

Sebagai fans DC, kali ini saya terpaksa mengakui Marvel sukses menghadirkan film superhero layak tonton bagi kelompok umur dewasa. Logan, tidak seperti film keluaran Marvel lainnya yang umumnya penuh humor dan ringan, terasa berat, serius, dan sangat gelap.

Gelap dalam artian bagus. Sangat bagus.

Soal anak-anak di bawah umur dan balita tadi, film ini memang penuh adegan keras dan sadis. Darah muncrat sejak menit pertama dan tidak berhenti muncrat sampai film berakhir. Kecuali kamu mau saya golongkan dalam kelompok orang Indonesia pandir, sebaiknya jangan bawa anak dan balitamu.

Sosok Logan (atau Wolverine, kalau kamu lebih suka itu) tampil utuh di film ini. Secara fisik dan emosional. Pergulatan batinnya menyeret kita untuk sesekali terpaksa berpikir tentang hidup kita sendiri. Tentang nasib sial yang menimpa dan keputusan-keputusan yang kita ambil. Tentang penyesalan dan godaan untuk menyerah kalah.

Tidak perlulah berpanjang lebar cerita soal Logan. Film ini sangat bagus bahkan di mata fans DC seperti saya yang selalu keki melihat keberhasilan Marvel.

GNR Singapura: Lima Remaja pada Masanya dan Seorang Pemuda Masa Kini

Bagaikan mata kail yang tajam dan jitu, melodi-melodi gitar yang dimainkan Slash malam itu menyambar dan mengait jiwa. Melodi yang menghiasi masa remaja saya itu menancap di relung hati dan kemudian menyeret saya ke sungai kenangan. Seperti seekor ikan yang nasibnya terkait kail, saya ikut saja. Tanpa daya. Demikian deras sungai kenangan itu sampai-sampai saya tenggelam di dalamnya dan baru bisa muncul ke permukaan tiga jam kemudian, saat konser Guns N’ Roses di Singapura ditutup dengan lagu Paradise City.

Well, Singapura.

Changi Airport (foto oleh Nito)

Pengalaman perdana saya menginjakkan kaki di negara itu tidak bisa dibilang menggembirakan. Sabtu (25/2) siang, saya mencicipi galaknya imigrasi mereka. Paspor yang sudah lengkap rupanya dirasa kurang memuaskan. Saya diminta mengeluarkan KTP. Sebelumnya, saya diminta membuka topi dan menunjukkan rambut gondrong, sesuai dengan foto di lembar paspor. Itu pun ternyata tidak mencukupi. Paspor saya ditahan, diperiksa oleh petugas khusus, dan kemudian saya diinterogasi. Pernah ditangkap polisi? Kerja di mana? Sebagai apa? Dan lain sebagainya.

Prosesnya tidak lama. Sekitar 15 menit. Tapi terasa sangat tidak menyenangkan.

Selesai urusan imigrasi, saya melanjutkan perjalanan bersama Tikko dan Nito, dua kawan dari komunitas Pearl Jam Indonesia (PJID). Siang itu kami hanya bertiga. Dua kawan lainnya, Haikal dan Hilman, akan bergabung sore nanti di kawasan Bugis, tempat kami akan menginap.

Omong-omong, Hilman memulai perjalanannya kali ini dengan tensi tinggi. Separuh jalan menuju bandara Soekarno-Hatta, dia baru ingat tiket konsernya tertinggal di rumah. Alhasil, terpaksa kirim pakai taksi.

Dari Terminal 1 Changi Airport kami menumpang sky train dan kemudian meneruskan perjalanan menumpang MRT. Kami melewati bangunan-bangunan baru dan lama yang semua terlihat bersih. Sungai dan kanal pun bersih dari sampah, meski airnya tidak bening.

Turun di stasiun Bugis, kami berjalan kaki mencari Five Stones Hostel yang sudah dipesan sebelumnya. Cuaca panas dan gerah pertanda mau hujan. Dan kami merasa lapar.

Kota ini sungguh tertib dan rapi. Menyeberang jalan, bahkan yang besar sekali pun, terasa aman. Tidak ada mobil dan bus yang menyerobot. Banyak mobil sudah berhenti bahkan saat lampu masih berwarna kuning. Trotoarnya lebar, bersih, dan terasa nyaman. Soal itu semua, Jakarta harus banyak belajar. Bukan saja pemerintahnya, melainkan terlebih masyarakatnya.

Nasi lemak 8,5 SGD

Menu makan siang kami kurang memuaskan. Untuk makanan dan minuman dengan total harga 11 SGD (sekitar Rp100.000), cita rasanya terbilang lumayan, tapi waktu tunggunya luar biasa lama. Demi Tuhan, jangan sekali-sekali meminta orang lapar menunggu makanan!

Dari sana kami bergeser sedikit ke kedai kopi. Kebetulan nama kedainya sama dengan salah satu judul lagu Pearl Jam. ARC. Kopinya pun, menurut selera saya, enak. Es kopi pahit di tengah udara Singapura yang semakin gerah. Nikmat sekali.

Tak berapa lama, Haikal dan Hilman bergabung.

Sore itu kami habiskan waktu untuk beristirahat di hostel. Kamar kecil yang bersih (karena semua penghuni diharuskan pengelola hostel meletakkan alas kaki di pintu masuk di setiap lantai) dan AC-nya sejuk itu berisi 3 ranjang tingkat. Lima sudah terisi oleh kami, sementara satu lagi ternyata diisi oleh orang Bandung. Yudi namanya. Dia juga ke Singapura dalam rangka nonton konser Guns. Klop!

Selagi istirahat di hostel, Nito mengalami kejadian lucu. Dia terkunci di tangga darurat akibat salah kira itu pintu menuju kamar mandi. Untung Tikko dengar suara Nito menggedor dan kemudian membukakan pintu. Mulanya Hilman mengira itu suara tukang yang sedang merenovasi gedung. Kalau saja nasib berkata lain, barangkali kejadian itu akan berakhir horor.

Hipster’s Spot (foto oleh Nito)

Seperti sudah diduga, hujan turun dengan deras dan cukup lama. Saya lega. Itu artinya cuaca malam nanti bakal cerah. Dalam benak saya sudah terbayang kenikmatan yang menanti: nonton Guns di bawah langit cerah, menyanyikan (lebih tepatnya, meneriakkan) lagu demi lagu yang saya hapal di luar kepala bersama kawan seperjalanan, sambil menenggak bergelas-gelas bir dingin.

Apa lacur, mimpi indah itu pada akhirnya tidak jadi kenyataan. Angan-angan saya harus berakhir di comberan.

Shuttle Bus

Tanda-tanda petaka sudah terlihat ketika kami tiba di Singapore Expo untuk menumpang shuttle bus. Antrian pembeli tiket mengular. Untung, atas saran Hilman yang sebelumnya tersiksa saat nonton konser Metallica tahun 2013, Tikko sudah membeli tiket untuk kami sejak di Jakarta. Bagaikan tamu VIP kami melenggang melewati ratusan orang yang mengantri, langsung menuju deretan shuttle bus yang siap mengantar.

Dan tentu saja jalanan macet.

Guns belok kanan karena they are always right!

Tiba di lokasi konser, matahari sudah nyaris sembunyi. Antrian penonton di pintu masuk Pen A dan Pen B membuat perut mulas. Tak punya pilihan lain, kami menceburkan diri. Tak kurang dari tiga puluh menit terbuang dalam antrian itu. Tiket ditukar gelang penanda yang bisa diisi uang untuk belanja makanan dan minuman di dalam area konser.

Saat masuk ke hall yang luas dan tinggi, matahari sudah sepenuhnya menghilang. Ribuan orang mengantri di bar, merchandise outlet, dan tempat mengisi saldo gelang. Saya isi 60 SGD dan Tikko isi 50 SGD. Nantinya gelang-gelang celaka itu akan jadi masalah yang membuat marah ribuan penonton dan barangkali jadi kejatuhan LAMC selama-lamanya.

Merchandise outlet

Wolfmother sudah lama undur diri dari panggung. Bersama ribuan penonton lainnya kami bergerak ke Pen B. Yang pertama mencuri perhatian adalah antrian di semua bar dan outlet makanan. Sedikitnya 100 orang per antrian. Berhubung kami lapar, jadi saya memaksakan diri ikut mengantri. Bersama Haikal saya antri di outlet Black Boys (sandwich), sementara Tikko antri di outlet minuman. Saya kemudian memisahkan diri dari Haikal untuk antri di outlet Churros. Hilman dan Nito masih antri di outlet penjual merchandise di hall.

Asal tahu saja, baru dua jam kemudian kami mendapatkan sandwich yang ditunggu. Tepatnya setelah Guns memainkan lagu kesebelas mereka, New Rose. Itulah nasib buruk yang harus ditanggung oleh Hilman dan Haikal. Menikmati Guns dari antrian makanan!

Persetan dengan penyelenggaraan konser yang payah. Malam itu saya jauh-jauh ke Singapura untuk melihat Axl Rose, Slash, dan Duff McKagan memainkan lagu-lagu yang jadi soundtrack kegilaan masa remaja. Bukan menilai ini itu dan menggerutu.

Tanpa bir dingin dan dengan perut menahan lapar, saya memulai perjalan memutar waktu. It’s So Easy, Mr. Brownstone, dan Chinese Democracy jadi menu pembuka. Tidak ada yang salah dari mereka. Tiga Serangkai yang jadi pahlawan masa remaja saya itu menghantam Singapura dengan kekuatan tak terbantahkan.

Terlebih ketika Slash menggoda penonton dengan raungan gitar yang sangat akrab di telinga. Dalam hati saya menduga, pastilah lagu itu. Dan memang benar adanya. Axl yang terlihat gendut tapi dalam mood yang sangat bagus, meneriakkan kalimat pembuka yang jadi mantra bagi jutaan penggemar Guns di dunia. You know where you are? You’re in the jungle, baby. You’ re gonna diii…eee!!!

Dengan itu, gerbang kegilaan tengah malam khas Guns di Singapura resmi dibuka.

Berturut-turut kemudian menghantam Welcome to The Jungle, Double Talkin’ Jive, Better, Estranged, Live and Let Die, Rocket Queen, You Could Be Mine, New Rose, This I Love, Civil War, Coma, Slash Guitar Solo, Speak Softly Love (Godfather’s OST), Sweet Child O’ Mine, Yesterdays, Out Ta Get Me, Wish You Were Here (Pink Floyd), November Rain, Knockin’ on Heaven’s Door (Bob Dylan), Nightrain. Encore diisi dengan Sorry, Patience, The Seeker (The Who), dan Paradise City.

Slash on the big screen (foto oleh Haikal)

Setelah menonton Slash bersama Myles Kennedy di Senayan dan Guns versi Axl di Ancol, saya bisa bilang bahwa penampilan Slash malam itu sungguh luar biasa. Permainan gitarnya membawa Guns ke tingkat tertinggi konser rock yang rasanya sulit ditandingi. Lagu-lagu masa remaja saya, di ujung jemarinya, malam itu mewujud sempurna dan menancap ke dalam jiwa.

Solo guitar di penghujung Double Talkin’ Jive panjangnya tak kurang dari dua menit empat puluh detik! Duetnya dengan Fortus di Wish You Were Here yang mereka bawakan secara instrumental sungguh manis. Keduanya bergantian memainkan posisi gitaris pertama dan kedua. Dan permainan gitarnya di Speak Softly Love, alamak!

Estranged dan November Rain, jangan ditanya. Slash menyayat langit malam Singapura dan membuat ribuan orang meneteskan air mata bahagia.

Malam itu akhirnya saya sadar. Guns sesungguhnya punya dua vokalis: Axl dan Slash. Yang satu bernyanyi menggunakan gitarnya.

Energi Guns di You Could Be Mine, Civil War, Nightrain, dan Paradise City tidak mungkin terbantahkan. Malam itu mereka memuncratkan semua keganasanan rock yang indah di sana. Singapura, kalian sungguh beruntung.

Tiga jam dan semua berakhir dengan manis. Guns memberi salam perpisahan dengan bersama membungkukkan badan ke puluhan ribu penonton yang tak henti mengelu-elukan mereka.

Bubaran Guns

Sebelum konser berakhir, seorang kawan dari PJID bernama Urip (yang ternyata esok harinya ulang tahun) dengan baik hati membelikan kami segelas bir dingin dan beberapa gelas soft drink. Jadilah konser itu lumayan sempurna bagi saya. Meski, tentu saja, kami kemudian kembali masuk neraka karena panitia menolak refund saldo gelang dan kami harus mengantri shuttle bus lebih dari satu jam lamanya.

Well, apa mau dikata. Itulah yang terjadi. Saya menerima semua dengan besar hati.

All in all, Slash is fucking diamond in the sky. Guns still kicking ass. And fuck you, Singapore!

My Next Book: Sesuatu tentang Yoga!

Tim Edraflo, Lisa, dan Tjijil

Rupanya sudah dua bulan sejak kali terakhir saya menulis blog. Ah, lama sekali! Sungguh terlalu.

Selain urusan kantor, belakangan ini saya disibukkan dengan dua proyek buku. Yang pertama adalah buku tentang entrepreneurship. Naskahnya sudah nyaris rampung. Sayang. Sepertinya buku tersebut harus dipetieskan. Pemilik konsepnya ditawari posisi menggiurkan di BUMN terkaya Indonesia. Jelas tidak pantas kalau seorang karyawan, setinggi apa pun posisinya, bicara soal entrepreneurship, kan?

Buku kedua bicara soal yoga. Iya. Yoga. Hahaha! Dan, kalau tidak ada aral melintang, buku itu akan terbit pertengahan Maret 2017, bertepatan dengan Hari Kebahagiaan Internasional.

Sejauh ini, buku yang saya susun bersama Tim Edraflo (Rudi-Desainer, Davro-Ilustrator, dan Gede-Penerbit) itu diberi judul “Teruntuk, Bahagia… A Woman Who Sees Life Through Yoga”. Isinya adalah kisah-kisah seputar kebahagiaan dan konsep hidup bahagia dari seorang pegiat dan pemilik studio yoga bernama Lisa Samadikun.

Pernah dengar Bikram Yoga? Nah, itulah Lisa.

Secara singkat, buku itu terbagi menjadi 3 bab: Love, Learn, dan Live. Semua narasi di dalamnya didasarkan pada pengalaman nyata Lisa dan orang-orang di sekitarnya.

Bagi saya, buku itu unik. Saya menulis narasi-narasi tersebut dalam perspektif yang berbeda-beda. Kadang saya jadi orang pertama, kadang jadi orang ketiga. Kadang bahkan jadi seekor binatang, hahaha!

Rencananya, buku itu akan dicetak sebanyak 1.000 kopi. Dari sudut pandang industri/bisnis, itu adalah angka yang paling masuk akal. Lebih dari itu kemungkinan sulit terjual habis, sementara kalau kurang dipastikan ongkos produksinya jadi sangat tinggi.

Menulis buku dan menjalankan self-publishing, pada akhirnya, adalah meniti tali keseimbangan antara kesenian dan keuangan. Tentu saja sangat menantang. Dan luar biasa menyenangkan!