Tag Archives: blues

Kembalinya GBS di AtAmerica

Sekembalinya dari tur mereka ke Amerika Serikat, Gugun Blues Shelter tidak banyak berubah. Permainan live mereka tetap kick ass dan secara personal mereka tetap rendah hati dan asyik. Perubahan yang cukup terlihat, setidaknya di mata saya, adalah permainan drum Bowie. Dia kini tak lagi mengumbar tenaga. Pukulannya mantap dan sesuai kebutuhan. Sangat dewasa.

 

Gugun Blues Shelter di AtAmerica

 

Dalam konsernya di AtAmerica yang penuh sesak pada Jumat (1/2) malam lalu, mereka menyuguhkan penampilan yang barangkali boleh disebut sebagai “mind blowing” atau “jaw dropping”. Liar, funky, solid sekaligus penuh canda. Sebuah pertunjukan musik yang nyaris sempurna.

Ya, nyaris sempurna, karena dalam pertunjukan malam itu setlist mereka kekurangan unsur lembut dan melankolis. Hanya dua nomor yang saya ingat terdengar manis. “Trampled Rose” dan “When I See You Again”. Sisanya, kencang semua!

Materi Gugun Blues Shelter, sejauh ini, memang tidak banyak memuat lagu-lagu manis yang dapat dijadikan bahan sing along. Tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormat saya pada integritas mereka sebagai musisi jempolan negeri ini, saya rasa itulah pekerjaan rumah terbesar mereka: menulis balada.

Dalam bayangan saya, betapa akan sangat menyenangkannya ber-sing along di satu-dua nomor manis setelah sebelumnya diterpa badai power blues yang luar biasa bertenaga. Pasti muncrat!

Tapi, tentu saja, mereka menutup konser malam itu dengan sangat manis.

“When I See You Again”, yang sepanjang lagu dinyanyikan bersama ratusan audiensnya, menjadi bukti bahwa sebenarnya Gugun Blues Shelter masih menyimpan potensi luar biasa yang hingga saat ini belum sepenuhnya dikeluarkan: lagu blues bernuansa balada yang menancap di hati!

Lengkung Langit (2012): Bersyukur itu Indah

Beruntunglah Sahabat Pagi yang semalam (14/6) datang ke konser peluncuran album “Lengkung Langit (2012)” milik Dialog Dini Hari (DDH) bersama pacar, istri, atau kekasih gelapnya. Mereka bisa enak-enakan duduk di lantai, berpegangan tangan, dan saling membisikkan bualan tentang cinta, dengan diiringi belasan lagu merdu DDH yang terentang dari album pertama hingga keempat!

 

Sampul album Lengkung Langit (desain oleh Davro)

 

Omong-omong, “Lengkung Langit (2012)” adalah album ketiga mereka. Album keempat masih dalam tahap penggodokan.

Bersyukur. Saya sering sekali mendengar kata ini diucapkan dalam pidato tahunan Jakob Oetama. Tak pernah lelah, dan juga tak pernah bosan, beliau selalu menekankan pentingnya bersyukur dalam menjalani hidup yang semakin hari semakin ruwet ini.

Rupanya itu jugalah semangat “Lengkung Langit (2012)”. Bersyukur.

Pohon Tua, disela-sela penampilannya di Triss Living, Kemang semalam, menyampaikan bahwa album “Lengkung Langit (2012)” adalah

perwujudan rasa syukur DDH atas keindahan hidup dan musik yang sudah mereka reguk selama ini.

Album yang diluncurkan dalam bentuk piringan hitam dengan jumlah sangat terbatas ini juga, dikatakan dengan sangat bangga olehnya, adalah pencapaian musikal yang signifikan bagi DDH dari sisi recording.

Adrian Adioetomo membuka konser intim semalam dengan 4 nomor delta blues. Dua diantaranya disuguhkan menggunakan teknik slide guitar yang sungguh mumpuni. Luar biasa!

Usai konser, dalam sesi ngobrol santai di halaman, dia menyinggung soal gitar yang dipakainya malam itu. Sebuah dobro yang cantik, produksi tahun ‘30an. Alamak!

Sesi DDH dimulai dengan penayangan klip video lagu “Lengkung Langit”. Dalam klip itu, DDH menampilkan wajahnya yang lucu, ceria, dan penuh canda.

“Manuskirp Telaga” dibawakan Pohon Tua sendirian saja, bertemankan gitar kopong andalannya dan harmonika. Suasana mendadak jadi syahdu. Nyaris mistis.

Berturut-turut kemudian DDH menyuguhkan “Beranda Taman Hati”, “Pelangi”, “Satu Cinta”, “Renovasi Otak”, “Rehat Sekejap”, “Aku Dimana”, “Pohon Tua Bersandar”, “Tentang Rumahku”, “Pagi”, “Aku adalah Kamu”, “Lagu Cinta” dan “Lengkung Langit” feat Tika, “Oksigen”, serta “Hati-hati di Jalan”.

Koor audiens paling seru, seperti biasa, terjadi saat “Pagi” dan “Oksigen” membahana. Ruang Triss Living yang disesaki Sahabat Pagi malam itu bergemuruh. Konser akustik, dengan band, audiens, tata suara, dan rancang ruang yang tepat, sungguh bisa benar-benar menggetarkan jiwa!

Bagi saya, tentu saja, “Tentang Rumahku” adalah yang paling indah. Sebuah lagu sederhana yang membongkar definisi usang kita tentang konsep rumah. Sebuah lagu tentang jiwa yang merdeka. Indah…

Keceriaan, keintiman, dan semangat kegembiraan malam itu mendadak sirna ketika “Pohon Tua Bersandar” berkumandang.

Udara di sekitar Pohon Tua seolah tersedot habis. Hampa.

Semburat aura gelap menyeruak dari dirinya. Pohon Tua, dalam meditasi lagunya, seakan terhisap kembali ke masa-masa gelap dalam hidupnya. Ke periode yang demikian menekan dan menghancurkan. Ke sumber sesungguhnya dari mana lagu ini berasal. Ke kepedihan…

“Pohon Tua Bersandar”, sebagaimana pernah dia ceritakan kepada saya dalam sebuah kesempatan, adalah ibu dari semua lagu. Itulah lagunya lagu. Sesungguhnya lagu.

Namun DDH bukanlah kegelapan. DDH adalah jawaban manis pada pahitnya kehidupan. DDH adalah rasa syukur. DDH adalah cinta.

Maka sesuai namanya, Pohon Tua, Brozio, dan Deny akhirnya benar-benar menyuguhkan dialog dalam nada, ketika dengan ringan, elegan, dan luar biasa mempesona mereka membawakan “Aku Dimana” sembari bertukar kata sesama mereka dan ke Sahabat Pagi yang setia menikmati, menyesap wine, dan menyuguhkan aksi solo menggunakan instrumennya masing-masing.

Wine yang mereka reguk malam itu, omong-omong, rasanya nikmat sekali! Sayang saya hanya bisa mencuri segelas saja.

Malam itu, di hadapan segenap Sahabat Pagi, DDH meluncurkan album terbarunya. Dalam damai musiknya, DDH menyampaikan pesannya pada dunia: tak peduli sekalut apapun hidup ini, kita selalu bisa mengandalkan cinta. Cinta, cinta, dan hanya cinta…

So, Sahabat Pagi di seluruh Indonesia, salam beribu cinta!