Tag Archives: atamerica

Navicula Menggila di @America

PhotoGrid_1432088087666

Satu atau dua rock band terbaik di dunia, berkebalikan dari fitrahnya yang hingar bingar, justru dikenang sepanjang masa karena suguhan akustiknya yang demikian transenden hingga melampaui batas bunyi dan makna. Siapa yang bisa melupakan pesona Eddie Vedder dan Kurt Cobain dalam dua konser akustik berbeda besutan MTV? Penghujung “Black” dan “Where Do You Sleep Last Night” adalah momen ketika pertunjukan musik terangkat ke langit lalu menyusup masuk ke relung hati yang paling rahasia.

Dua dekade kemudian, kita punya Navicula. Setelah 7 album dan berkali-kali digilas kenyataan, mereka memutuskan untuk menyuguhkan 8 lagu yang sepenuhnya akustik di album ke-8 mereka, “Tatap Muka”.

Navicula, nenek-nenek mau beranak juga tahu, adalah rajanya distorsi. Di lubang neraka yang sempit dan pengap atau di panggung besar nan megah, mereka selalu menghantam dengan gelombang distorsi yang keras namun harmonis. Larut dalam konser-konser mereka rasanya seperti membiarkan ombak besar menggulung diri kita. Tiba-tiba kamu tersadar dan mati, lalu terlahir kembali sebagai seorang fan.

Kenapa akustik dan dalam format video? Tanya saja sendiri ke mereka.

Satu hal yang pasti, screening sealbum penuh “Tatap Muka”, talk show, dan live performance mereka semalam (19/5) di @America sungguh luar biasa mempesona. Itu, jika kamu mau tahu, adalah salah satu suguhan konser rock akustik terbaik yang pernah saya tonton secara langsung.

Di tangan mereka yang sarat bakat, suguhan akustik tidak menjadi lemah. Tidak serta merta jadi menye-menye. Sebaliknya, musik mereka terdengar lebih bertenaga dan sangat dinamis. “Tatap Muka”, saya duga, akan sampai ke spektrum audiens yang lebih lebar dari sekadar penggemar grunge dan pada saat bersamaan menjadi pencapaian bermusik yang signifikan bagi Navicula.

Sudah, ah! Gak sabar pengen nonton konser akustiknya lagi di Paviliun 28, Jumat 22 Mei 2015 ini. Hey ho, let’s gooo…!!!

Tribute to Nirvana di @America

Tribute to Nirvana di @America

Tidak perlu jadi orang jenius untuk menduga bahwa acara “Tribute to Nirvana”, diadakan di mana pun di belahan kota Jakarta, pasti akan menarik massa. Terbukti semalam (24/1), AtAmerica yang terkubur di kotak besi berpenjagaan ketat layaknya kantor CIA di dalam gedung Pacific Place, penuh sesak!

Nirfanas, yang digawangi oleh Amar Besok Bubar (gitar), Romy Konspirasi/Omni (bas), Ryan (drum), dan Abah Jaya Roxx sebagai sound engineer meledakkan ratusan penggila grunge yang memadati kotak besi jahanam itu. Mulai dari bibir panggung hingga undakan teratas, semua bernyanyi. Sesekali audiens di bibir paggung malah nekat melakukan crowd surfing yang berujung pada pencidukan oleh aparat setempat.

Saya sendiri datang sangat telat. Hanya kebagian “Something in The Way”, “Territorial Pissing”, “Smells Like Teen Spirit”, “Lithium”, “Heart-shaped Box”, dan beberapa nomor yang saya lupa judulnya. Tapi jelas, sangat puas!

Tampil separuh mabuk, Amar terus menghantam tanpa banyak cingcong. Di penghujung penampilannya saja dia sempat beberapa kali bicara kepada audiens dan sesama anggota band. Sisanya, hajar terus seperti sedang dikejar setoran!

Dan dia, seperti biasa, memang tampil apa adanya. Seolah tanpa beban atau misi apapun juga.

Tentu saja itu bohong. Amar, sejauh yang saya kenal, punya pemikiran serius soal grunge, musik rock, lirik, dan pergerakan scene bawah tanah. Hanya saja dia memang selalu tampil seperti orang bodoh. Barangkali itu memang disengaja. Barangkali justru di situlah letak kecerdasannya.

Seumur hidup, saya belum pernah melihat cover band memainkan Nirvana dengan sempurna. Bahkan Nirvana-nya sendiri pun, dalam banyak kesempatan, tampil berantakan. Setidaknya, itu yang saya simpulkan dari beberapa keping DVD konser Nirvana yang saya punya. Dan malam tadi, Nirfanas juga bukannya tanpa kekurangan.

Namun demikian, sebagai penyuka grunge, tentu saya sangat menikmati konser ini. Dan melihat sebagian audiens yang menyesaki AtAmerica semalam ternyata berusia remaja, setidaknya lebih muda dibanding saya, rasanya sungguh bangga!

Grunge, meski sudah divonis mati oleh sebagian besar orang di seluruh dunia, ternyata masih hidup. Masih ada nafasnya. Masih kick ass!!!

Lightning Bolt Listening Party

Kapan terakhir kali kamu membeli album musik? Seperti saya, barangkali, baru-baru saja. Kapan terakhir kali kamu beramai-ramai mendengarkan album baru bersama teman-temanmu sesama fans? Lagi-lagi seperti saya, barangkali, sudah lamaaa… sekali!

 

Lightning Bolt Listening Party (poster oleh Davro)
Lightning Bolt Listening Party (poster oleh Davro)

 

Beramai-ramai mendengarkan album baru, dalam istilah asingnya, disebut listening party. Pengalaman ini sungguh menyenangkan. Berbagi gairah dan suka cita di antara sesama fans musik. Berbagi opini dan penerimaan juga.

Jika pernah mengalaminya, maka kamu pasti tidak keberatan untuk mengulanginya sekali lagi. Sebaliknya, jika belum pernah, maka kamu sebaiknya segera mencobanya.

Listening party adalah pengalaman komunal. Rasanya seperti makan bersama, ngopi bareng, atau naik gunung rame-rame. Seru!

Atas nama gairah komunal itulah kemudian Pearl Jam Indonesia (PJID) berencana menggelar listening party. Objeknya kali ini adalah album teranyar Pearl Jam berjudul “Lightning Bolt” yang akan segera dirilis di seluruh dunia.

“Lightning Bolt Listening Party”, demikian tajuk perhelatan kali ini, akan digelar di AtAmerica, Pacific Place Mal, pada hari Minggu, 20 Oktober 2013, pukul 13:00-15:00 WIB. Tidak perlu bayar tiket. Tidak perlu pesan tempat duduk. Dan, terus-terang saja, kamu juga tidak perlu jadi fans Pearl Jam terlebih dulu!

Dalam acara ini tentu saja bakal ada pertunjukan musik. Kabar burung menyebutkan bahwa dua nomor dari album teranyar Pearl Jam itu akan dibawakan secara live! Lagunya yang mana saja? Lihat saja sendiri nanti.

Bakal ada juga diskusi dengan berbagai nara sumber. Roy Boomerang akan kita mintai pendapatnya seputar makna merilis album bagi eksistensi sebuah rock band di era digital. Ezra Zi Factor akan kita interogasi, bagaimana ceritanya dulu dia bisa nongkrong bareng Eddie Vedder cs di Hawaii dan benarkah saat konser di sana Eddie mematahkan leher seorang fan ketika stage diving?

Tarlen, jauh-jauh dari Bandung, akan menjelaskan perkembangan Pearl Jam dari sisi lirik dan aspek visual. Yuka, seorang produser musik, akan diminta menyimpulkan arah perubahan musik yang ditempuh Pearl Jam di album terbarunya ini. Dan Krishna dari Black Rock Entertainment, seperti dugaan banyak orang, akan ditodong soal seluk-beluk penyelenggaraan konser kelas dunia di Indonesia.

Melengkapi itu semua, sebuah sesi teleconference dengan fans yang berdomisili di Amerika Serikat dan pameran koleksi barang-barang terkait Pearl Jam yang langka akan kita selenggarakan.

OK. Cukuplah kiranya semua omong-kosong ini. Silahkan datang dan nikmati sendiri “Lightning Bolt Listening Party”!