Tag Archives: bali

Lagu Tersakti Dialog Dini Hari: Ku Ingin Lihat Wajahmu

Sejak nada pertama, lagu ini sudah menghantam jiwaku. Menusuk dalam di hati. Mencincang perasaan kesepian yang pekat menggelayut.

Memang, kala itu aku rapuh. Sangat rapuh. Hidupku seperti terpelanting ditendang nasib. Tercabik dan terburai di lantai. Aku tengah mati-matian dan asal-asalan mencari pegangan. Pun demikian, nyaris setahun setelah itu semua, ketika aku memberanikan diri untuk kembali mendengarkan lagu ini, sama saja. Hancur.

Nyaris setahun setelah “Ku Ingin Lihat Wajahmu” dimainkan di Rossi, Jakarta, badai dalam hidupku sepertinya sudah berlalu. Setidaknya, mereda. Tapi tentu saja luka terserak di mana-mana. Di dalam dada orang-orang yang aku sayangi. Di dalam hati orang yang telah pergi. Dan terlebih, di relung batinku sendiri. Luka itu masih basah menganga.

Bagiku, sejak kali pertama mendengarnya di YouTube, lagu ini seperti menyuarakan isi hatiku. Isi hati yang mengerikan, karena pada saat bersamaan meneriakkan tiga nama berbeda: anakku, istriku, dan kekasih rahasiaku. Bisakah kau bayangkan jiwa yang terbelah tiga? Tiga. Bukan dua.

“Tangismu ajarkan aku sejuknya cinta, dalamnya rindu / Ketakutanku akan kehilangan waktuku ‘tuk menjagamu tetap hidup,” demikian Dadang bernyanyi. Parau suaranya, seperti pengelana yang sudah berhari-hari tak berjumpa air. Dan ketika cello masuk menyayat, usailah semuanya. Kesedihan dan kesepianku bersatu, menjadi lumpur hidup yang menyerapku sempurna.

Sungguh celaka, memang akhirnya hidupku banjir air mata.

Bagiku, “Ku Ingin Lihat Wajahmu” adalah lagu paling mengerikan yang pernah dilahirkan Dialog Dini Hari. Tanggal semua citra indie unyu-unyu mereka. Citra musisi indie pada umumnya yang belakangan kian kurasa dibuat-buat belaka. Bagiku, inilah wajah sesungguhnya mereka. Tiga makhluk bunyi yang besar kemungkinan tidak berasal dari dunia tempatku berpijak.

Butuh keberanian luar biasa untukku berani mendengarkannya lagi. Dan hari ini, aku memutuskan untuk berani. Karena bagaimana pun, hidupku tentu harus terus berlanjut.

Merdeka 100%, 100% Menyegarkan

Apa yang dapat dilakukan lelaki yang sedang patah hatinya? Memainkan blues. Apa yang dapat dilakukan rakyat jelata yang terhimpit hidupnya? Menertawakan kenyataan. Lalu apa yang dapat dilakukan lelaki melarat yang sedang limbung kehilangan cinta? Mendengarkan Made Mawut!

Ya. Betul sekali. Mendengarkan lagu-lagu Made Mawut di album “Merdeka 100%” seperti sebuah perjalanan bunyi yang menyadarkan bahwa hidup seratus persen bisa dan memang perlu ditertawai. Nasib sial memang terasa pahit, namun itu tidak perlu sampai menghanguskan keberanian untuk terus berjalan. Yang sengsara dan patah hatinya boleh tetap hidup. Bahkan tersenyum. Meski kecut.

Dengan suara gitar yang seperti berasal dari tahun 50-an, lirik-lirik Made Mawut terbang bebas. Terdengar lucu tanpa bermaksud melawak. Terasa perih tanpa keinginan meminta belas kasihan.

Dalam Lingkaran Setan, ia menyoroti payahnya pendidikan formal di negeri ini. Dari zaman dulu sampai sekarang, metode pendidikan kita ya gitu-gitu aja. Sama sekali tidak menginspirasi. Simak petikan liriknya ini: Tangan terlipat di atas meja… Mata ke depan seperti kuda… Hati berdebar-debar… Karena gurunya seram…

Betapa gambaran itu sangat relevan bahkan sampai sekarang. Proses belajar di sekolah meletakkan siswa sebagai objek penderita. Sama sekali jauh dari menyenangkan!

Simak juga Blues Kamar Mandi yang bicara soal air. Barang sepele di negeri yang curah hujannya demikian tinggi seperti Indonesia. Namun nyatanya, karena air sekarang dikuasai pengusaha dan jadi barang yang mahal, Made Mawut secara hiperbola menceritakan bahwa dirinya sampai tidak bisa mandi. Bukan karena malas, melainkan karena airnya tidak tersedia.

Air kini hari, barang yang mahal… Air bersih, barang yang lekang… Air dikuasai para pengusaha…

Blues, di ujung jari dan pita suara Made, terdengar menghibur. Jauh dari usaha berlebihan untuk menjadi serius. Namun sama sekali tidak kehilangan bobotnya. Di era yang sudah kelewat sesak dengan lagu-lagu indie yang mengasihani diri sendiri, “Merdeka 100%” terasa menyegarkan. Sangat menyegarkan.

Candu Baru dari Zat Kimia

Ada rasa sepi yang memaksamu berkelana jauh ke alam pikiran. Seperti rindu yang nyaris terlupakan, namun ternyata masih ada di sana. Laksana kenangan masa remaja yang mendadak menyentak. Candu Baru, album perdana Zat Kimia yang dirilis pada pengujung Agustus 2017 ini, saya rasa adalah gabungan semua yang kita rindukan dari musik rock Indonesia.

Ketukan yang terkadang ganjil berkelindan dengan liarnya raungan gitar yang, anehnya, terdengar harmonis. Teriakan vokal yang kerap nyaris meleset nadanya jatuh sempurna di antara gebukan drum dan bas yang berdentum, sebuah pagar suara yang memastikan agar petualangan bunyi yang terentang dalam 10 lagu itu berakhir baik-baik saja.

Feromon, yang diletakkan di urutan ketiga, itulah dia. Kenangan manis yang menyentak. Struktur lagunya terdengar klise namun sekaligus segar. Sebuah lagu cinta yang sepenuhnya bicara cinta, namun dalam rangkaian narasi suara yang juga sepenuhnya terasa baru.

Sejak lagu pertama, Reaktan, Zat Kimia sudah menyeret kita ke dalam sebuah petualangan. Tidak terdengar nada-nada yang dipaksakan. Mereka tidak berusaha menjadi rock. Tidak kepingin vintage, tidak juga modern. Tikungan bunyi, sergapan tema, hingga kegeraman vokal yang bergetar menggulung tiada henti. Dengarkanlah Ennui, maka kalian akan mengerti.

Bagi kumpulan rock asal Bali bernama Zat Kimia, rupanya tidak tersedia kotak musik. Bagi mereka, musik adalah perjalanan bunyi yang membebaskan semua orang untuk mengambil arahnya sendiri.

Tentu saja ada Aku, yang akhirnya didaulat menjadi pamungkas, penutup album dahsyat ini. Sebuah narasi lirih tentang manusia yang angkuh. Sebuah cermin bagi kita yang barangkali sudah kelewat sibuk untuk sekadar sejenak berhenti dan bertanya tentang arti hidup.

Sejak kali pertama mendengarkan album penuhnya malam ini, bagi saya Zat Kimia benar-benar telah jadi sebuah candu baru.