Tag Archives: bali

Candu Baru dari Zat Kimia

Ada rasa sepi yang memaksamu berkelana jauh ke alam pikiran. Seperti rindu yang nyaris terlupakan, namun ternyata masih ada di sana. Laksana kenangan masa remaja yang mendadak menyentak. Candu Baru, album perdana Zat Kimia yang dirilis pada pengujung Agustus 2017 ini, saya rasa adalah gabungan semua yang kita rindukan dari musik rock Indonesia.

Ketukan yang terkadang ganjil berkelindan dengan liarnya raungan gitar yang, anehnya, terdengar harmonis. Teriakan vokal yang kerap nyaris meleset nadanya jatuh sempurna di antara gebukan drum dan bas yang berdentum, sebuah pagar suara yang memastikan agar petualangan bunyi yang terentang dalam 10 lagu itu berakhir baik-baik saja.

Feromon, yang diletakkan di urutan ketiga, itulah dia. Kenangan manis yang menyentak. Struktur lagunya terdengar klise namun sekaligus segar. Sebuah lagu cinta yang sepenuhnya bicara cinta, namun dalam rangkaian narasi suara yang juga sepenuhnya terasa baru.

Sejak lagu pertama, Reaktan, Zat Kimia sudah menyeret kita ke dalam sebuah petualangan. Tidak terdengar nada-nada yang dipaksakan. Mereka tidak berusaha menjadi rock. Tidak kepingin vintage, tidak juga modern. Tikungan bunyi, sergapan tema, hingga kegeraman vokal yang bergetar menggulung tiada henti. Dengarkanlah Ennui, maka kalian akan mengerti.

Bagi kumpulan rock asal Bali bernama Zat Kimia, rupanya tidak tersedia kotak musik. Bagi mereka, musik adalah perjalanan bunyi yang membebaskan semua orang untuk mengambil arahnya sendiri.

Tentu saja ada Aku, yang akhirnya didaulat menjadi pamungkas, penutup album dahsyat ini. Sebuah narasi lirih tentang manusia yang angkuh. Sebuah cermin bagi kita yang barangkali sudah kelewat sibuk untuk sekadar sejenak berhenti dan bertanya tentang arti hidup.

Sejak kali pertama mendengarkan album penuhnya malam ini, bagi saya Zat Kimia benar-benar telah jadi sebuah candu baru.

A Conscious Cup: Fuck!

IMG_20150611_223237

Seperti kaki kiri saya yang sudah seminggu pincang lantaran asam urat, Bendot, mobil tua milik Dadang, terseok-seok membawa kami dari Sunset Road ke Uluwatu. Puncaknya adalah di sebuah simpang jalan yang menanjak. Tanpa peringatan, Bendot menyerah. Mesinnya mati dan kami berdua cuma bisa tertawa masam.

Kap mesin dibuka dan membubunglah asap tebal dari radiator. Dalam film-film, pekatnya barangkali setara dengan kabut beracun di tanah Mordor.

Tentu saja kami tidak berhenti, apalagi menyerah. Saya dan Dadang adalah jiwa-jiwa merdeka. Kami adalah generasi rock n’ roll sesungguhnya. Bring it on, baby!

Dinginkan mesin setengah jam dan isi ulang air radiator sampai muncrat dan Bendot pun kembali ngesot. Tartatih dia melahap tanjakan demi tanjakan sebelum akhirnya kembali menyerah tepat di parkiran The Cashew Tree, Uluwatu, lokasi gig malam itu.

Oh, ya. Kali ini Dadang bukan bersama Navicula, Dialog Dini Hari, atau proyek solo #KubuCarik. Dia punya proyek lain lagi. Namanya A Conscious Coup. Isinya hanya dia sebagai gitaris/vokalis dan Adam, bule Australia sebagai penggebuk drum. Sehari-harinya Adam berprofesi sebagai guru.

Kamis (11/6) malam dan tempat itu penuh sesak. Sepertinya hanya saya, Dadang, dua orang crew panggung, dan pelayan restoran yang pribumi. Sisanya, seperti yang nanti banyak menghampiri dan memberi salut ke Dadang secara pribadi setelah konser usai, adalah turis dari Australia, Afrika Selatan, Swedia, hingga Aljazair. Mengutip Adam, yang sambil menenggak birnya (kalau tidak salah hitung, adalah botol kelima) berkelakar, “Fuck! I was 10 years late living in Bali. See? There are tons of hot girls from Brazil, Sweden, and pretty much from all over the world here. Just randomly pick them, right? But I’m married, now, and very happy. Fuck!”

Set pertama A Conscious Coup diisi gitar akustik. Dua lagu pertama Dadang tampil sendirian. Seperti biasa, dia bawakan nomor-nomor milik Dylan. Saya memperhatikan audiens, terutama yang perempuan, menegakkan duduknya dan menyimak. Sebagian memotret atau merekam video. Satu perempuan, saat set pertama berakhir, menghampiri Dadang dan berkata, “Your guitar play is great. You also have a beautiful voice. I know you’ll be great. I know.”

Setelah rehat sekitar 30 menit, sesi kedua dimulai. Dadang mengganti gitar akustiknya dengan gitar listrik. Adam, yang di sesi pertama sudah terlihat penuh tenaga, kian menggila. Dan kemudian meledaklah semua.

Saya tidak kenal lagu-lagu asli A Conscious Coup. Pada dasarnya, lagu-lagu mereka adalah semburan energi jamming yang pekat bernuansa blues rock berkecepatan tinggi dengan pukulan drum penuh tenaga yang beat-nya sangat-sangat berbau party. Yang saya kenali, meski sudah diubah menjadi seperti warna musik mereka, adalah “Come as You Are” milik Nirvana dan “Another Brick in The Wall” milik Pink Floyd. Kedua lagu itu, dimuntahkan dalam tingkat energi seperti itu, jujur saya katakan, is fucking awesome!

Selama 45 menit sesi kedua itu, ratusan bule yang sebagian besar sudah seperti kesurupan, berjingkrakan dan menari-nari di bibir panggung. Sebagai orang yang doyan nonton konser grunge tengah malam, rasanya pemandangan ini saya kenal betul.

Sebagian surfer yang malam itu hadir, membawa ukulele. Jelas mereka adalah musisi. Dan semua, surfer dengan ukulele itu, ditambah puluhan lelaki gondrong berotot namun berdandan ala hippie lainnya, tak berkedip menatap Dadang. Mereka terpukau dengan permainan slide, petikan yang seperti berlari menunggang angin, dan deru distorsi yang bersatu dengan gebukan drum yang seperti tak henti mengajak semua audiens menari. Bergoyang seperti orang gila. Fuck! This is heavy. Fuck!

Ketika semua ledakan itu berlalu, ucapan selamat dan salut selesai, saya dan Dadang kembali ke kenyataan. Kembali ke Bendot yang mogok.

Dan memang benar, akhirnya malam itu kami berpisah di pom bensin, meninggalkan Bendot di tepi jalan. Dadang mencari taksi dan membawa perlengkapan manggungnya ke rumah, sementara saya membonceng motor Trigan, soundman malam itu, kembali ke hotel.

What a rock n’ rolling night it was. Fuck!

Konser #TolakReklamasiBali di RSI

Navicula di Konser #TolakReklamasiBali di RSI
Navicula di Konser #TolakReklamasiBali di RSI

Tidak kurang dari 2.050 orang hadir dalam konser bertajuk #TolakReklamasiBali di Rolling Stone Indonesia, Selasa (30/9) semalam. Bukan sekedar menonton suguhan penuh tenaga dari Navicula, Seringai, dan Superman is Dead, mereka juga datang untuk memberi dukungan pada perjuangan rakyat Bali mempertahankan tanah dan kehidupannya dari rakusnya kuasa uang para pengusaha.

Ya, tagar #TolakReklamasiBali sejatinya adalah perlawanan paling keras terhadap rencana reklamasi Benoa yang dapat dipastikan, berdasarkan kajian ilmiah, menghancurkan alam sekaligus kehidupan dan tatanan sosial masyarakat sekitar.

Info lengkap tentang perjuangan berbendera #TolakReklamasiBali dapat dibaca di www.ForBALI.org

Masuk ke lokasi konser setelah menyumbang Rp.100.000, saya bersama beberapa kawan kemudian berdiri manis sedikit jauh dari bibir panggung. Bukan karena malas, melainkan karena audiens sudah menyemut, bahkan sejak performer pertama tampil.

Saya masih kebagian sebagian setlist Nosstress yang kemudian dilanjutkan oleh Kill The DJ. Setelah sesi penjelasan kampanye dari panitia dan sedikit banyolan segar dari duet Soleh Solihun-Arie Dagienkz, tampillah alasan utama saya hadir malam itu: Navicula!

Tampil tanpa banyak basa-basi, Navicula langsung menghantam dengan nomor keras andalan mereka beberapa tahun belakangan: “Menghitung Mundur”. Dan audiens, yang sepertinya memang sudah mulai bosan menunggu, langsung melumat lagu itu. Beberapa bahkan kelewat menikmati sampai naik ke panggung segala, joget-joget sebentar, sebelum akhirnya stage diving dengan sukses.

“Mafia Hukum” menggelinding, disusul berturut-turut nyaris tanpa jeda oleh “Orangutan”, “Kali Mati”, “Aku Bukan Mesin”, dan nomor pamungkas “Metropolutan”.

Hah? Nomor pamungkas? Cuma 6 laguuu???

Ya, gitu deh. Saya sih bisa maklum. Konser dengan fokus penyebaran kampanye seperti ini, yang pasti diisi banyak sekali musisi, pastilah memaksa setlist menjadi pendek dan kurang memuaskan bagi fans. Tidak mengapa.

Mungkin kesadaran itu jugalah yang menyebabkan sebagian remaja pecinta grunge di bibir panggung habis-habisan menikmati malam dengan berteriak bersama, crowd surfing, hingga stage diving.

Setelah Navicula ada Djenar Maesa Ayu. Selanjutnya Melanie Subono tampil dengan band-nya. Setelah sedikit kekacauan di barisan penonton, Seringai tampil. Selama sesi ini, saya mojok bersama beberapa kawan, membicarakan proyek #BukuGrungeLokal (Lihat Cuplikan Buku dan Lihat Video) dan satu lagi proyek buku yang akan kami garap, yang tak kalah menggetarkan jiwa temanya, hahaha…

Seringai belum selesai, saya memutuskan untuk pulang. Maklum, di rumah ada bayi. Namun betapa kekinya saya ketika di jalan pulang mendapat kiriman foto WhatsApp berisi Iwan Fals sedang memainkan gitarnya. Syit! Ternyata bang Iwan tampil dadakan, menyumbangkan “Bongkar” dan “Hio”. Faaakkk!!!

Dalam perjalanan pulang, saya bertanya, apakah suguhan seperti ini memang tepat untuk meningkatkan pemahaman audiens muda akan pentingnya perjuangan #TolakReklamasiBali?

Sejujurnya, saya rasa tidak terlalu tepat. Meski pulang membawa oleh-oleh brosur, pemahaman saya tentang perjuangan ini tidak mendadak lebih baik dibanding sebelumnya, ketika saya hanya mengamati lalu-lintas informasi via Twitter.

Namun yang jelas, suguhan malam itu berhasil mengumpulkan dana yang cukup lumayan sebagai bahan bakar perjuangan yang dapat dipastikan mati-matian dikerdilkan pemerintah Bali sendiri, bahkan mungkin pemerintah negeri ini. Dan diatas segalanya, suguhan semalam seolah menjadi gong yang bergema sangat kuat, masuk ke dalam nurani kita semua, mengusik kepedulian.

Yah, pada akhirnya, perjuangan memang akan selalu dimenangkan oleh orang-orang yang peduli, bukan oleh yang punya paling banyak uang. Pejuang-pejuang #TolakReklamasiBali, semoga kalian menjadi pemenang!