Tag Archives: board game

Pengakuan Seorang Newbie Board Game

Board Game Challenge (foto oleh Didit)
Board Game Challenge (foto oleh Didit)

Generasi saya, yang dibesarkan dengan Guns N’ Roses, Metallica, Nirvana, dan Pearl Jam sebagai musik latar masa remajanya, tidak punya masalah dengan kebersamaan. Kami adalah generasi terakhir yang bermain di jalanan. Kami jugalah generasi terakhir yang sepenuhnya memahami, dan memuja, kenikmatan mendengarkan kaset baru sembari menenggelamkan diri dalam keindahan sampul album, artwork, dan lirik lagu. Kami adalah analog.

Generasi sekarang? Saya tidak begitu paham. Namun, dari apa yang saya amati sehari-hari, mereka sepertinya tidak sebahagia kami. Mereka seolah terpenjara oleh gadget dalam genggamannya. Mereka, barangkali, tidak terlalu menikmati dunia ini. Mungkin karena bagi mereka, dunia menyempit secara signifikan menjadi hanya seluas layar kaca yang tak henti berpendar, smartphone mereka itu.

Kali pertama bertatap muka dengan board game (tentu saja gara-gara tercebur dalam proyek #BoardGameChallenge), anehnya, saya sama sekali tidak merasa asing. Memegang kemasan board game yang besar, berbobot, dan didesain dengan sangat menarik, rasanya nyaris seperti menggenggam kemasan vinyl, piringan hitam. Terasa sangat personal dan penting. Terasa nyata. Saya kenal betul perasaan semacam itu.

Ketika akhirnya saya benar-benar berkesempatan memainkan (dan membeli sebagian) “Mat Goceng”, “Mahardika”, “Niagara”,  “Labyrinth”, dan “Carcassone”, saya sadar bahwa saya menemukan cinta baru, selain pada buku dan musik yang sudah tak terukur lagi dalamnya.

Begini ceritanya…

Beberapa bulan lalu, saya beli “Carcassone” dari FolksID, melalui Instagram (I’m not THAT analog, OK?). Harganya, jika saya tidak salah ingat, nyaris setengah juta rupiah. Fuck! Mihil bingits!

Sekitar dua hari kemudian, paket tiba di kantor. Besar. Dibungkus busa-busa plastik berwarna pucat. Sangat kontras dengan tumpukan buku dan kabel yang sudah duluan ada di sana. Intinya, seperti beli kulkas dari Mars. Meja saya mendadak penuh.

Seperti Tukul, saya sobek-sobek bungkusan busa itu. Bret! Bret! Bret! Muncullah kemasan aslinya yang bernuansa biru langit dengan gambar ksatria dan kastil. Dalam hati saya masih bertanya, Fuck, is this worth it?

Saya amati kemasan luar “Carcassone”, tampak depan, belakang, samping, atas, dan bawah. Tertera di sudut kemasan tulisan yang terjemahannya kira-kira “Sudah dicetak 10 juta kopi di seluruh dunia”. OK. Setidaknya ada 10 juta orang lainnya yang tertipu selain saya, jika game ini ternyata payah.

Puas mengamati kemasan luar, saya kemudian membuka kotak dan mengeluarkan semua isinya satu per satu. Di situ saya merasa terharu.

Tersusun rapi di beberapa kompartemen dalam kotak itu, bidak-bidak beragam warna dalam satu bungkus plastik transparan, papan jalan berwarna cokelat muda, buku panduan bermain yang terdiri dari beberapa lembar tulisan dan gambar, dan tile yang masih terpasang di helai-helai karton tebal (yang kemudian harus dilepaskan satu per satu). Semua disusun begitu rapi dan dicetak dengan demikian bagus. Wow!

Mendadak saya merasa penting. Merasa dimanusiakan. “Carcassone”, yang hadir dalam kemasan berkualitas vinyl, terang-terangan menyatakan bahwa dirinya penting. Penuh kualitas. Game ini, dengan caranya sendiri, seolah mengerti bahwa sebagai manusia, waktu saya sangatlah penting. “Carcassone” tidak akan membuang percuma waktu saya.

Bagi saya, itu bahasa yang sepenuhnya saya pahami, karena buku dan musik, cinta saya yang lebih dulu hadir, bicara tepat seperti itu.