Tag Archives: bukan atas nama cinta

Atas Nama Cinta, Sebuah Pesan dari Seorang Kawan

Dadang (Dialog Dini Hari a.k.a DDH) dan Endah (Endah N Rhesa a.k.a EAR) adalah dua dari sedikit (sekali) orang yang melihat pertumbuhan sajak-sajakku. Dari beberapa baris, sajak itu tumbuh jadi lebih dari seratus enam puluh, dan akhirnya dipangkas untuk kemudian lahir sebagai buku berjudul “Bukan Atas Nama Cinta”. Kumpulan sajak tanpa pemanis buatan yang mengisahkan fase tergelap dalam hidupku sejauh ini yang aku terbitkan bersama Edraflo Books pada 1 Juni 2020 lalu.

Baru kali ini aku merasa sangat butuh pandangan orang lain dalam sebuah proses kreatif. Biasanya aku menulis dengan ketidakpedulian tingkat paling tinggi. Barangkali karena kumpulan sajak ini bicara soal diriku sendiri yang di dalamnya berkelindan kisah dan nasib buruk orang-orang yang paling aku kasihi. Barangkali.

Dadang dan Endah, yang kalau digabung telah menulis lebih dari seratus lagu dan sudah menjalani ratusan ribu jam terbang di dunia musik indie, punya suara yang nyaris identik: terbitkan saja! Jadilah.

Tapi tulisanku kali ini bukan soal buku itu, melainkan soal sebuah lagu yang baru saja dirilis oleh DDH. Judul lagunya “Atas Nama Cinta”. Betapa itu terasa seperti sebuah kebetulan yang mencurigakan, kan?

Kali pertama melihat draft naskah buku sajakku, Dadang tidak banyak komentar. Ia hanya bertanya apakah aku baik-baik saja. Tentu saja tidak, tukasku. Eko Wustuk yang aku kenal minggat entah ke mana. Caraku memahami dunia runtuh tak bersisa. Aku sama sekali tidak baik-baik saja. Aku kepengin mati.

Tak sampai sepekan sebelum DDH merilis EP berjudul Setara, tiba-tiba akun IG mereka memunculkan foto Dadang dengan buku sajakku di tangannya. Mengingat hubunganku dengan dirinya yang memang kerap menggelinding menjadi karya-karya liar, dalam hatiku lahir perasaan harap-harap cemas. Di satu sisi aku jelas berharap Dadang akan melahirkan sesuatu yang terkait buku sajakku, namun di sisi lainnya aku juga merasa itu sesuatu yang berlebihan. Nyaris tidak mungkin.

Sampai kemudian pada suatu hari Dadang menyampaikan melalui pesan WA, memintaku melihat lagu kedua yang tercantum dalam poster perilisan EP mereka. Di poster yang bergambar kaus itu tertera 4 judul lagu. Lagu kedua judulnya “Atas Nama Cinta”. Dammit.

Pesan itu tidak berhenti di situ. Kalimat berikutnya yang membuatku nyaris menangis bahagia. Dadang menulis pesan: Sudah aku bilang, aku akan memelintir bukumu. Ah, ini sungguhan terjadi! Rasa yang termuat dalam kumpulan sajakku merembes menjadi sebuah lagu.

Kalau dikonfrontasi, Dadang, seperti biasa, tentu akan mengelak. Bisa saja lagu itu memang ditulis merespon buku sajakku. Sebaliknya, bisa saja aku yang besar kepala. Mengada-ada. Apa pun itu, “Atas Nama Cinta” mengusung nuansa bunyi baru dari DDH yang sangat aku suka. Megah, berani, sedikit gelap, dan menyimpan banyak tikungan dan arah yang tak pasti. Seperti hidup itu sendiri.

Coba simak lirik pembukanya: “Bukankah begini seharusnya cinta / Bertahan sekuatnya hadapi derita / Bukankah begini sejatinya rasa / Bertahan segagahnya walau terluka / Apa yang bisa engkau petik dari semua yang kau tanam?”

Sebagian diriku merasa ditampar. Sebagian lainnya merasa dikuliahi. Dan sisanya, bagian yang paling besar, merasa sedang mendengar pandangan dari seorang kawan. Tulus. Jujur. Tanpa pemanis buatan.

Jangan berhenti di situ. Teruslah ikuti lagunya dan simak juga apa yang dinyanyikan Dadang di bagian chorus: “Oh, perkecil dirimu / Hidup bagai padang liar / Subur kala musim hujan / Dan terbakar kemarau.”

Dari jarak dan dunia yang terpisah demikian jauh, Dadang seperti kepengin bicara padaku. Melalui lagunya, ia titipkan pesan untuk lebih santai menjalani hidup. Untuk memahami dan menerima bahwa manusia memang tempatnya salah. Kita, selama masih bernafas, tentu akan melakukan kesalahan dan terjatuh dalam hidup yang susah. Yang resah.

Oh, well. Pesan itu tentu saja sampai. Dan seperti tadi sudah kutulis, lagu ini bisa saja tidak ada hubungannya dengan buku sajakku. Aku tidak lagi terlalu peduli. Yang penting bagiku kini adalah bahwa melalui lagu-lagunya, Dadang dan DDH sekali lagi sudah berhasil menyentuh hatiku. Membasuh luka yang menumpuk di sana.