Tag Archives: buku grunge lokal

Grunge, Kurangi Bicara, Banyakin Karya

Event "Grunge Angkat Bicara" (foto oleh Adi Tamtomo)
Event “Grunge Angkat Bicara” (foto oleh Adi Tamtomo)

Kita mencintai ironi. Bukan karena kita generasi yang sinis, melainkan karena dalam ironi seringkali terkandung kenyataan pahit yang nyaris puitis. Dan tajuk “Grunge Angkat Bicara”, setidaknya dalam pandangan saya, terdengar sangat ironis.

Dalam buku yang saya tulis, “Saya Ada Di Sana! Catatan Pinggir Grunge Lokal”, selama kurang lebih 5 tahun, tercatat hanya ada 17 rilisan album grunge (barangkali lebih, jika dicacah satu per satu di toko-toko musik bawah tanah). Tidak satu pun yang bersumber dari label besar. Tidak satu pun yang bersumber dari ranah mainstream.

Selama periode yang sama, tidak satu pun konser besar grunge digelar. Jangankan untuk menggelar konser yang dihadiri ribuan penonton (yang bayar tiket), gig kelas café dengan jumlah penonton di bawah 500 pun sungguh sulit terwujud.

Grunge lokal, mengacu pada dua kenyataan pahit itu, sebenarnya boleh dibilang mati. Atau, setidaknya, mati suri.

Tapi jika memantau social media yang berisi aktivis grunge lokal dan komunitasnya, bukan main ramainya. Pertengkaran tak kurang-kurang banyaknya. Adu opini, entah soal apa, seperti tak pernah surut terjadi. Makanya saya bilang tajuk “Grunge Angkat Bicara” ironis. Grunge lokal, sejauh yang saya pahami, sudah kelewat banyak bicara, tapi masih sangat minim karya.

Menilik apa yang dibicarakan dalam sesi diskusi di event “Grunge Angkat Bicara”, rasanya semakin miris. Musisi-musisi yang diundang sebagai pembicara, hampir semua tenggelam dalam nostalgia dan pengkultusan sosok Kurt Cobain. Bla… Bla… Bla… Cobain ini, Cobain itu, bla… Bla… Bla… Cobain is God. Yeah, right.

Ya, memang benar bahwa pemutaran film dokumenter “Montage of Heck” adalah salah satu menu utama. Satu dua topik membahas film itu, rasanya memang pantas. Tapi kenapa kita harus mengulang-ulang pembicaraan 20 tahun lalu? Soal kejeniusan Kurt, soal ledakan grunge, dan soal gosip sampah lainnya seputar kehidupan Kurt yang sesungguhnya biasa-biasa saja? Baca saja “Heavier Than Heaven” dan “Kurt Cobain: Journals”. Selesai.

Kenapa kita tidak bicara soal Navicula dan Besok Bubar yang baru saja mengeluarkan album baru yang segar? Atau soal Alien Sick yang sedang merekam album ketiga? Barangkali bakal menarik juga jika kita bicara soal Toilet Sounds yang kabarnya akan merilis ulang semua album terdahulu mereka, yang kemudian akan dilanjutkan dengan sebuah album baru.

Kenapa kita tidak bicara soal bagaimana menggelar konser grunge yang seru dan menguntungkan penyelenggara serta band yang jadi pengisi acara?

Intinya, kenapa kita tidak berhenti bicara soal masa lalu dan mulai bicara soal masa depan?

Grunge Cigondewah

Cigondewah Poster

Mereka, orang-orang Cigondewah, memang beda. Pada saat fans grunge umumnya berjibaku bikin konser yang hingar bingar, mereka malah bikin forum diskusi. Ya, acara yang isinya duduk-duduk manis, ngobrol, dan makan bakwan sambil ngopi.

Saya, tentu saja, senang sekali. Sebagai penulis dan pecinta buku, saya selalu suka diskusi. Bukan tipe obrolan warung kopi, apalagi debat kusir, melainkan diskusi yang membuka wawasan dan bermartabat. Itu, jika kamu mau tahu, sering kali sama mencerahkannya dengan konser gila tengah malamnya Navicula.

Cigondewah Crowd

Pada 26 April 2015 yang lalu, saya berkesempatan nimbrung diskusi mereka, yang ternyata adalah kali pertama. Diskusi mengambil tempat di sebuah galeri dan studio musik bernama 133 Public Space di bilangan Cigondewah, kota tekstil di pinggiran Bandung.

Dalam diskusi santai namun serius itu hadir beberapa nama legendaris dari scene grunge lokal Bandung. Sebut saja Fanny Beatheaven dan Eski Cupumanik yang sempat menyuguhkan nomor-nomor akustik ciamik berjudul “Tenggelam”, “Kala Patah Hati”, “Hiba Hamba”, dan “Ibu”.  Juga kang A’ang yang adalah pencetus web direktori band metal terlengkap se-Bandung, Dadi Yeehaw, dan Ojel.

Apa yang dibahas? Sebagian besar adalah soal dokumentasi scene grunge lokal, baik itu poster konser, rilisan album, hingga buku. Topik yang lumayan berat, mengingat orang Indonesia pada umumnya tidak doyan mencatat. Kita seperti alergi dengan literatur. Doyannya omong kosong dan mengandalkan kalimat-kalimat basi seperti “Temen gua bilang…”, “Jaman gua dulu tuh…”, atau “Kalo gak salah ingat…”.

Meskipun dalam diskusi itu saya ditunjuk menjadi salah satu nara sumber, sebenarnya #BukuGrungeLokal tidak saya tulis dalam kerangka dokumentasi. Buku itu tidak pernah dirancang untuk jadi sebuah arsip scene grunge lokal yang mumpuni. #BukuGrungeLokal tidaklah lengkap dan sangat subjektif. Buku itu lahir semata karena memang saya suka konsernya, musiknya, dan terlebih lagi, saya suka berbagi cerita.

Sejujurnya, saya tidak tahu mau ke mana mereka melangkah, orang-orang Cigondewah itu. Apakah benar akan berbuat lebih, atau kembali jalan di tempat, seperti terjadi di seluruh pelosok negeri selama ini.

Apa pun yang terjadi, saya mengharapkan yang terbaik. Karena, sederhana saja, sejak dulu saya memang suka grunge, terlepas dari embel-embel marketing yang selama ini (dipaksa) melekat ke dirinya.

Cigondewah, kami tunggu karya kalian selanjutnya.

Bung, Berkaryalah!

SAYA ADA DI SANA - KONSER small

Bahwa sesungguhnya kita punya pilihan untuk terus berkarya, tanpa perlu terlalu peduli bagaimana pencapaiannya nanti. Bahwa sebenarnya kita selalu bisa berbuat lebih, tanpa perlu terlalu tunduk pada segala keterbatasan. Bahwa manusia, pada akhirnya, memang dilahirkan untuk mencipta.

Dan benarlah, semalam (8/12) di Gusto Tapas & Wine Bar, Epiwalk, konser akustik #BukuGrungeLokal bisa menggelinding dengan mulus dalam segala keterbatasannya.

Mandy dan beberapa rekan dari Wujudkan.com hadir dalam kapasitasnya sebagai penyedia lapak crowdfunding platform. Itu, jika kamu benar-benar mau tahu, adalah kendaraan paling sakti mandraguna untuk mewujudkan berbagai ide kreatif kita. Jika kamu mau kerja keras, tentu saja. Bukan jadi pengemis yang menunggu hujan emas jatuh dari langit.

Para pembaca dan pembeli #BukuGrungeLokal, juga donatur yang mendukung crowdfunding, hadir. Teman-teman dari Pearl Jam Indonesia (PJID), anak grunge Jabodetabek (yang herannya sebagian besar ternyata masih remaja) dan pecinta musik lintas genre macam Rebekah Moore dan Rudolf Dethu juga tak ketinggalan. Mereka menyempatkan diri berkelit dari macetnya jalanan Jakarta yang jahanam dan duduk manis hingga konser selesai.

Robi, Dankie, Che, Pheps, Olitz, Jessy, dan Arie PT, para pengisi acara malam itu, di luar kebiasaan orang Indonesia pada umumnya, datang tepat waktu. Barangkali kecerewetan saya, seperti biasa, ada gunanya juga. Boy yang bertugas menjadi MC (sekaligus supir antar kota antar propinsi) jelas sumringah. Jam 8 tepat dan konser akustik inipun kick off!

Robi menjadi menu pembuka. Bertelanjang kaki dan mengenakan topi terbalik, dia asyik memainkan lagu-lagu yang menginspirasinya selama ini. Dan selera musiknya, seperti bisa diduga, teramat sangat beragam.

Malam itu dia memainkan lagu rock hingga disko. Dari “Black Hole Sun”-nya Soundgarden, “Every You Every Me”-nya Placebo,  “Lake of Fire”-nya Meat Puppets, sampai “Suara Hati” milik Navicula yang, seingat saya, belum pernah dirilis resmi. Tapi yang jelas, setidaknya menurut dia, semua lagu itu adalah lagu-lagu keren, tidak peduli dari genre mana lagu itu berasal.

“Lagu bagus,” begitu cerita Robi, “Akan menjadi lagu keren jika diberi bumbu berupa punk attitude.” Dengan kata lain, tanpa jiwa memberontak, tanpa semangat menggugat, sebuah lagu hanya akan berakhir menjadi lagu bagus. Bukan lagu keren.

Berikutnya muncul Che. Bermodalkan satu gitar akustik, dia membawakan “Pesan dari Surga”, “Syair Manunggal”, dan “Broken Home”. Bagi saya pribadi, sisi muram seperti inilah yang sejak awal membuat saya sangat menyukai Cupumanik. Dalam lirik dan warna lagu, Cupumanik bisa benar-benar membius.

Saya hanya bisa berharap perjudian Cupumanik untuk meluncurkan klip video “Syair Manunggal” berbuah manis. Lagu seperti itu, jika eksekusi kreatif visualnya tidak mampu berada di level yang sama, rasanya akan sangat disayangkan.

Pheps dan Arie PT tampil membawakan kegemaran mereka, Foo Fighters. Disusul kemudian dengan satu nomor dari proyek sampingan Pheps selain Respito.

Olitz, seperti janjinya, membawakan lagu baru yang akan masuk ke album ketiga Alien Sick. “Ritual” jadi kali pertama lagu itu dimainkan ke hadapan publik, dalam format akustik pula. Berikutnya adalah “Revolusi”.

Adalah Jessy yang membuat saya mendadak merindukan BB’s Café. Sumpah mati! Vokal aduhainya di “Fell On Black Days” dan “Rooster” benar-benar melempar saya pada kenangan manis yang terkubur bersama tutupnya kafe legendaris di bilangan Menteng itu.

Membocorkan satu aransemen dari album ke-8 mereka yang akan segera diluncurkan, Robi dan Dankie menutup malam itu dengan sempurna. Sembilan belas tahun bersama, dalam musik dan segala yang menyertainya, membuat mereka tampil layaknya satu entitas. Bernas!

“Mafia Hukum”, “Merdeka”, “Ingin Kau Datang”, dan “Over Konsumsi” mengalir penuh pesona. Dalam distorsi maupun akustik yang sunyi, Navicula sepertinya tidak pernah kehilangan energi.

Navicula, Cupumanik, Alien Sick, Respito, Perfect Ten, atau bahkan tanpa band sekalipun, musisi tetap bisa berkarya. Tidak perlu membatasi diri. Sama sekali tak ada paksaan untuk membebani diri dengan segala embel-embel pencapaian kelas dunia.

Eddie Vedder pernah bilang, tidak mungkin kamu memainkan gitar di kamar, menulis lagu, dan berpikir bahwa karyamu akan disukai orang sedunia. Tidak mungkin! Kamu hanya perlu menulis lagu dan memainkannya. Mungkin untuk teman atau dirimu sendiri.

Dave Grohl, dalam film seri terbarunya yang berjudul “Sonic Highways” sama saja. Saat pertama kali bermain drum, bahkan setelah cukup lama bermain bersama Nirvana, dia tidak pernah bermimpi bahwa musiknya akan disukai ratusan juta orang di seluruh dunia.

Dia, seperti juga Eddie Vedder, menulis lagu dan bermain musik terutama untuk dirinya sendiri. Kebutuhan mereka untuk berkarya, untuk terus mencipta, sama sekali tidak ada urusannya dengan mimpi menjadi tenar atau kaya raya.

Intinya, saya cuma mau bilang: berkaryalah, karena tidak ada yang lebih menyakitkan hati dibanding rasa menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang berarti saat kamu masih punya waktu dan energi.