Tag Archives: #bukugrungelokal

My Next Book: #DuaSenjaPohonTua

Wustuk & Pohon Tua, dalam sesi syuting #DuaSenjaPohonTua di bilangan Wijaya, Maret 2015
Wustuk & Pohon Tua, dalam sesi syuting #DuaSenjaPohonTua di bilangan Wijaya, Maret 2015

Setelah selesai menulis, menerbitkan, dan memasarkan #BukuGrungeLokal, semangat saya untuk menulis buku rasanya tidak bisa padam lagi. Hasrat itu terus menyala seperti matahari.

Bersama tim yang sama (@iduridur-desain, @drawvro-ilustrasi, @gedemanggala-penerbit, dan @wowadit-video), saat ini saya sedang menyusun sebuah buku berjudul #DuaSenjaPohonTua. Sebenarnya buku ini adalah sebuah prosa liris. Susunan kalimat dan kata di dalamnya berima, nyaris seperti puisi.

Inti buku ini sederhana, pesan bahwa manusia, dalam kondisi terjepit sekalipun, selalu punya pilihan. Kita selalu bisa memaksa diri untuk melahirkan kebaikan.

Yang menarik, setidaknya bagi saya sehingga mati-matian menuliskannya, buku ini mengambil inspirasi dari kisah nyata Pohon Tua. Saya memungut ide dari kehidupannya yang memang pernah tersungkur hingga ke titik paling mengenaskan.

Begitu dalam dia pernah terpuruk, ungkapan “Sakitnya tuh, di sini!” yang belakangan marak kita dengar jadi kehilangan makna.

Ketika pertama kali menulis naskah buku ini, saya mengirimkannya ke Pohon Tua. Saya minta ijin sekaligus pendapatnya. Tak berapa lama, tanggapannya muncul dalam wujud sket lagu. Ya, sket lagu! Pohon Tua, di luar pengetahuan saya saat itu, ternyata sedang menulis sebuah album baru. Albumnya sendiri. Bukan Navicula ataupun Dialog Dini Hari.

Jadilah kemudian kami bertukar ide, inspirasi, dan karya. Saya kirimi dia naskah buku, bagian per bagian. Dia kirimi saya sket lagu, satu per satu. Kolaborasi seperti ini, antara dua orang yang kemampuannya berbeda, antara dua pekerja kreatif yang wujud karyanya tidak sama, sungguh menyenangkan.

Dalam perjalannya, buku #DuaSenjaPohonTua dan solo album Pohon Tua saling mempengaruhi. Tanpa direncanakan sebelumnya, bagian penutup dari buku ini disempurnakan oleh sebuah lagu yang ditulis Pohon Tua setelah membaca sebagian naskahnya.

Kebetulan? Barangkali. Takdir? Entahlah.

Bagi saya, kebetulan-kebetulan yang bernuansa positif seperti itu bukan barang baru. Ketika menulis #BukuGrungeLokal, saya banyak sekali dibantu oleh kebetulan satu dan lainnya yang seolah merangkai diri sendiri. Mulai dari munculnya Topang yang menawarkan bantuan pembuatan video, terbukanya kesempatan crowdfunding di Wujudkan.com yang seperti turun dari langit, hingga tersedianya sebuah kedai ciamik di bilangan Kuningan sebagai tempat menyelenggarakan konser launching. Semua terjadi dan tersedia begitu saja.

Saya percaya bahwa satu kebaikan akan memanggil kebaikan lainnya. Dan, lagi-lagi tidak disengaja, begitu juga dengan Pohon Tua. Dalam sesi wawancara di Wijaya, dia berkata, “Lirik laguku adalah do’a. Adalah mantra. Maka aku paksa diri untuk selalu menulis kebaikan”.

Bung, Berkaryalah!

SAYA ADA DI SANA - KONSER small

Bahwa sesungguhnya kita punya pilihan untuk terus berkarya, tanpa perlu terlalu peduli bagaimana pencapaiannya nanti. Bahwa sebenarnya kita selalu bisa berbuat lebih, tanpa perlu terlalu tunduk pada segala keterbatasan. Bahwa manusia, pada akhirnya, memang dilahirkan untuk mencipta.

Dan benarlah, semalam (8/12) di Gusto Tapas & Wine Bar, Epiwalk, konser akustik #BukuGrungeLokal bisa menggelinding dengan mulus dalam segala keterbatasannya.

Mandy dan beberapa rekan dari Wujudkan.com hadir dalam kapasitasnya sebagai penyedia lapak crowdfunding platform. Itu, jika kamu benar-benar mau tahu, adalah kendaraan paling sakti mandraguna untuk mewujudkan berbagai ide kreatif kita. Jika kamu mau kerja keras, tentu saja. Bukan jadi pengemis yang menunggu hujan emas jatuh dari langit.

Para pembaca dan pembeli #BukuGrungeLokal, juga donatur yang mendukung crowdfunding, hadir. Teman-teman dari Pearl Jam Indonesia (PJID), anak grunge Jabodetabek (yang herannya sebagian besar ternyata masih remaja) dan pecinta musik lintas genre macam Rebekah Moore dan Rudolf Dethu juga tak ketinggalan. Mereka menyempatkan diri berkelit dari macetnya jalanan Jakarta yang jahanam dan duduk manis hingga konser selesai.

Robi, Dankie, Che, Pheps, Olitz, Jessy, dan Arie PT, para pengisi acara malam itu, di luar kebiasaan orang Indonesia pada umumnya, datang tepat waktu. Barangkali kecerewetan saya, seperti biasa, ada gunanya juga. Boy yang bertugas menjadi MC (sekaligus supir antar kota antar propinsi) jelas sumringah. Jam 8 tepat dan konser akustik inipun kick off!

Robi menjadi menu pembuka. Bertelanjang kaki dan mengenakan topi terbalik, dia asyik memainkan lagu-lagu yang menginspirasinya selama ini. Dan selera musiknya, seperti bisa diduga, teramat sangat beragam.

Malam itu dia memainkan lagu rock hingga disko. Dari “Black Hole Sun”-nya Soundgarden, “Every You Every Me”-nya Placebo,  “Lake of Fire”-nya Meat Puppets, sampai “Suara Hati” milik Navicula yang, seingat saya, belum pernah dirilis resmi. Tapi yang jelas, setidaknya menurut dia, semua lagu itu adalah lagu-lagu keren, tidak peduli dari genre mana lagu itu berasal.

“Lagu bagus,” begitu cerita Robi, “Akan menjadi lagu keren jika diberi bumbu berupa punk attitude.” Dengan kata lain, tanpa jiwa memberontak, tanpa semangat menggugat, sebuah lagu hanya akan berakhir menjadi lagu bagus. Bukan lagu keren.

Berikutnya muncul Che. Bermodalkan satu gitar akustik, dia membawakan “Pesan dari Surga”, “Syair Manunggal”, dan “Broken Home”. Bagi saya pribadi, sisi muram seperti inilah yang sejak awal membuat saya sangat menyukai Cupumanik. Dalam lirik dan warna lagu, Cupumanik bisa benar-benar membius.

Saya hanya bisa berharap perjudian Cupumanik untuk meluncurkan klip video “Syair Manunggal” berbuah manis. Lagu seperti itu, jika eksekusi kreatif visualnya tidak mampu berada di level yang sama, rasanya akan sangat disayangkan.

Pheps dan Arie PT tampil membawakan kegemaran mereka, Foo Fighters. Disusul kemudian dengan satu nomor dari proyek sampingan Pheps selain Respito.

Olitz, seperti janjinya, membawakan lagu baru yang akan masuk ke album ketiga Alien Sick. “Ritual” jadi kali pertama lagu itu dimainkan ke hadapan publik, dalam format akustik pula. Berikutnya adalah “Revolusi”.

Adalah Jessy yang membuat saya mendadak merindukan BB’s Café. Sumpah mati! Vokal aduhainya di “Fell On Black Days” dan “Rooster” benar-benar melempar saya pada kenangan manis yang terkubur bersama tutupnya kafe legendaris di bilangan Menteng itu.

Membocorkan satu aransemen dari album ke-8 mereka yang akan segera diluncurkan, Robi dan Dankie menutup malam itu dengan sempurna. Sembilan belas tahun bersama, dalam musik dan segala yang menyertainya, membuat mereka tampil layaknya satu entitas. Bernas!

“Mafia Hukum”, “Merdeka”, “Ingin Kau Datang”, dan “Over Konsumsi” mengalir penuh pesona. Dalam distorsi maupun akustik yang sunyi, Navicula sepertinya tidak pernah kehilangan energi.

Navicula, Cupumanik, Alien Sick, Respito, Perfect Ten, atau bahkan tanpa band sekalipun, musisi tetap bisa berkarya. Tidak perlu membatasi diri. Sama sekali tak ada paksaan untuk membebani diri dengan segala embel-embel pencapaian kelas dunia.

Eddie Vedder pernah bilang, tidak mungkin kamu memainkan gitar di kamar, menulis lagu, dan berpikir bahwa karyamu akan disukai orang sedunia. Tidak mungkin! Kamu hanya perlu menulis lagu dan memainkannya. Mungkin untuk teman atau dirimu sendiri.

Dave Grohl, dalam film seri terbarunya yang berjudul “Sonic Highways” sama saja. Saat pertama kali bermain drum, bahkan setelah cukup lama bermain bersama Nirvana, dia tidak pernah bermimpi bahwa musiknya akan disukai ratusan juta orang di seluruh dunia.

Dia, seperti juga Eddie Vedder, menulis lagu dan bermain musik terutama untuk dirinya sendiri. Kebutuhan mereka untuk berkarya, untuk terus mencipta, sama sekali tidak ada urusannya dengan mimpi menjadi tenar atau kaya raya.

Intinya, saya cuma mau bilang: berkaryalah, karena tidak ada yang lebih menyakitkan hati dibanding rasa menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang berarti saat kamu masih punya waktu dan energi.

Getzcoustic

Poster Getzcoustic (desain oleh Roel)
Poster Getzcoustic (desain oleh Roel)

Selain insiden penjambretan smartphone milik Ega dan tiadanya bid terhadap lelang poster ciamik konser Pearl Jam di Berlin karya Ames/Klausen, “Getzcoustic” yang digelar di Getz Café, Jl. Jatipadang Raya No.4 semalam (16/11) berlangsung asyik. Hangat, cair, dan sangat menyenangkan.

The Mind Charger, NXCS, Artificial Sun, Andmore, dan jam session jadi suguhan musik sehat bagi jiwa. Apalagi di jam session saya sempat menyumbangkan suara – dan ini benar-benar sumbang – di nomor “Off He Goes”.

Bagi saya sendiri, jelas, sesi paling berkesan adalah ketika saya diberi kesempatan menceritakan seluk-beluk pembuatan #BukuGrungeLokal. Mulai dari ide, proses, tim, hingga penggalangan dana publik untuk pencetakan gelombang ke-2 di sini: http://wujudkan.com/project/Buku-Grunge-Lokal/view

Hasley, tidak seperti biasanya, kali ini bukan menyanyi melainkan bertanya ke saya. Dia tanya, bagaimana pendapat dan sikap saya soal kritikus?

Sejujurnya saya menjawab, saya sama sekali tidak suka kritikus. Menurut saya, itu profesi omong kosong! Jika saya tidak suka pada sebuah karya musik lokal, entah itu berbentuk CD atau konser, maka saya memilih untuk tidak menuliskannya. Itulah bentuk dukungan saya pada musik lokal, khususnya yang bernuansa grunge. Kritik, menurut hemat saya, sebaiknya disampaikan ke diri sendiri saja supaya kita bisa menjadi orang yang lebih baik, bukan ditujukan pada orang lain, terlebih pada seniman yang sudah sepenuh jiwa menghasilkan karya.

Mengutip Hegarty dalam bukunya yang berjudul “Hegarty on Creativity: There are No Rules”, syarat utama untuk berkarya adalah menjauhkan diri dari sifat sinis. Ya! Sinisme tidak akan menghasilkan apa-apa! Meski terkesan cerdas, orang-orang sinis adalah musuh utama bagi kita, orang-orang yang berusaha kreatif dan memberanikan diri berkreasi.

Pengalaman saya menyusun dan jumpalitan mengkampanyekan #BukuGrungeLokal selama 3 bulan terakhir menunjukkan betapa akuratnya Hegarty. Sinisme datang dari berbagai sudut dan dalam beragam bentuk. Saya, seperti biasa, tetap melangkah sambil berkata, “Fuck it!”

Bagi sebagian besar orang, saya arogan. Bagi yang mengerti dan mengapresiasi, apa yang saya tulis dan wujudkan dalam #BukuGrungeLokal adalah kebenaran. Adalah kenyataan. Adalah perasaan dari banyak orang yang juga ada di sana. Dalam hingar bingar yang mencerahkan. Dalam keindahan bunyi yang selamanya tidak akan pernah dipahami oleh orang-orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri.

The Mind Charger, dengan Andra yang sekarang bergelar haji, membawakan aransemen akustik yang rapi seperti biasanya. Nomor-nomor dari The Foo Fighters, Three Doors Down, dan Pearl Jam mereka suguhkan dengan ciamik. Jika ada kekurangan maka itu adalah waktu yang rasanya terlampau pendek. Hanya setengah jam!

NXCS kembali tampil dengan formasi baru, yang sudah mereka sajikan di gig di BepBop tempo hari. Andi dan Nito berduet membawakan harmoni vokal a la Cantrell/Staley. Not bad! Beberapa kali latihan lagi maka mereka akan siap menghantam di konser khusus yang kabarnya bakal digelar bulan Januari nanti.

Dan sesi ini, bagi saya, adalah yang paling asyik! Kenapa? Ya karena NXCS, dalam rangka memberi ucapan selamat ulang tahun ke saya, membawakan “Scalpel”. Yeah! Fucking awesome!

Artificial Sun adalah menu berikutnya. Setlist awal mereka, saya sama sekali tidak ingat. Namun rendisi “Eldery Woman” yang disambut koor meriah audiens jelas membuat merinding. Dalam momen yang singkat itu, saya kembali teringat kenapa hingga sekarang saya gemar sekali nongkrong di PJID. Ya karena ini, nyanyi-nyanyi gila tengah malam sepenuh hati. Meneriakkan lirik dari lagu-lagu yang saya kenal baik seperti telapak tangan saya sendiri.

Lanjut dengan “Nothingman”, Artificial Sun kemudian menutup penampilan mereka dengan… “Black!”. Tidak usah ditanya, suara curut-curut-curut membahana tak kurang dari dua menit lamanya, sebelum akhirnya lagu itu benar-benar dituntaskan.

Andmore tampil sebagai menu pamungkas. Seperti biasa, mereka menyuguhkan aransemen akustik minimalis dari lagu-lagu Pearl Jam dalam nuansa yang sepenuhnya berbeda. “Go” jadi terdengar asing dengan kocokan dan petikan gitar yang bertempo lambat dan membelit. Nomor-nomor lain, sejujurnya, saya lupa karena asyik ngobrol dengan beberapa kawan lama yang kebetulan malam tadi mampir.

Keceriaan malam itu akhirnya benar-benar disudahi dengan jam session yang menghadirkan Che, Anne, Niken, dan saya. Che, bersama Nito, Uwie, dan Made membawakan “Release” dan “River of Deceit” dengan aduhai. Sementara Anne, dibantu Amus, membawakan “Black”, Niken membawakan “Smile”, dan saya kebagian “Off He Goes”.

Surya, yang semalam hadir jauh-jauh dari Cikarang, merangkum semua dalam kalimat singkat yang menohok, saat saya ajak dia ngobrol di tengah lagu “Heaven Beside You”. Sambil tertawa dia bilang, “Sori, lagi enak, nih! Soalnya kerjaan di kantor boring…”

Semoga bakal lebih banyak gig mungil yang asyik seperti “Getzcoustic”, supaya kita tidak lekas mati bosan di kantor. Amin!