Tag Archives: cupumanik

Cupumanik Rilis Single Anyar “Yang Kan Terjalani”

Siapa pun yang pernah jatuh hati pada album perdana Cupumanik (rilis 2005) dipastikan bakal suka single teranyar mereka yang berjudul “Yang Kan Terjalani” (rilis 2020). Apa pasal? Dalam single itu termuat semua yang sebelumnya jadi ramuan maut Cupumanik: lagu manis yang nyaris terdengar syahdu, lirik serius nan puitis, permainan instrumen yang harmonis, dan vokal yang terdengar seperti lelaki kesepian yang baru saja dihantam badai kehidupan. Ramuan yang anehnya mereka lupakan saat menyusun album kedua (Menggugat, 2014).

Barangkali saat itu mereka kehilangan Rama. Atau mungkin Che sedang kepengin marah-marah. Entah.

Tapi “Yang Kan Terjalani” jelas jadi bukti bagaimana indahnya Cupumanik kalau hadir secara utuh. Dan kita bisa cermati – juga nikmati – betapa sesungguhnya Che bisa bernyanyi dengan cara yang sama sekali berbeda.

Saat ini kita masih terperangkap dalam badai korona. Belum ada titik terang sedikit pun. Manusia seperti dipaksa untuk mengurung diri di rumah dan banyak merenung. Tentang hidup, relasi, dan tentu saja tentang dirinya sendiri. “Yang Kan Terjalani” terasa pas sekali, karena lagu itu memang bicara soal relasi manusia. Tentang cinta.

“Biar/tumbuh liar dalam kalbuku/kutunggu kau jinakkan hasrat/tentang dirimu/” begitu Che berulang menyanyikan chorus. Sesekali pelan, sesekali kuat. Nyaris tercekat.

Dalam balutan bunyi yang disuguhkan Cupumanik kali ini, penggalan lirik itu terdengar seperti bisik lirih lelaki yang memasrahkan hatinya. Berhadapan dengan cinta, lelaki memang hanya bisa pasrah. Tidak ada satu pun kekuatan yang bisa memaksakan cinta. Biarkan saja cinta tumbuh dengan kekuatannya sendiri.

Biar… biar…

Cupumanik dan Navicula jadi Saksi KPK

Robi dan Che di Festival Suara Anti-Korupsi (foto oleh @ayyiex)

Saya kurang bisa menikmati orasi, baik yang diumbar di mimbar gereja, melalui toa masjid, dari atas mobil bak terbuka saat demonstrasi buruh, atau di panggung musik rock. Namun, setelah 42 kali menonton aksi panggung Robi bersama Navicula, saya harus menerima bahwa di dalam darahnya memang mengalir deras darah orator. Dan untungnya, orasi yang jadi pengantar lagu Busur Hujan dalam Festival Suara Anti-Korupsi gelaran KPK di Plaza Festival, Kuningan semalam (30/11) sejauh ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah dia sampaikan.

Malam itu adalah kali kedua saya menyaksikan Navicula dengan formasi baru, setelah Gembul berhenti dan Made pergi tak mungkin kembali. Kalau boleh beropini, formasi teranyar ini super kick ass. Navicula jadi lebih muda. Keras, penuh tenaga seperti biasa. Dan terasa lebih fun.

Bukan hanya formasi baru itu saja yang semalam membuat sebagian besar orang – tidak termasuk saya, karena dua hari sebelumnya Dankie (dengan sedikit congkak) sudah kasih bocoran – tercengang. Bintang tamu yang ditampilkan Navicula sesungguhnya boleh dibilang di luar kewajaran. Di posisi gitar, menggantikan Dankie yang pada momen bersamaan sedang konser bersama Dialog Dini Hari di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, adalah Endah Widiastuti!

Ya. Endah yang di Endah N’ Rhesa (EAR). Masa kamu gak tahu? Ckckck…

Endah di Festival Suara Anti-Korupsi (foto oleh @wowadit)

Kalau saja saya tidak sedang menulis buku perjalanan karier indie EAR (seperti biasa, bersama Tim Edraflo), barangkali saya akan terbelalak kaget. Betapa mumpuni permainan gitar Endah malam itu. Dengan santai dia menyikat semua part yang seharusnya dimainkan Dankie. Mulai dari nomor anyar seperti Di Depan Layar, Biarlah Malaikat, dan Nusa Khatulistiwa, sampai lagu-lagu tersakti Navicula yang sudah jadi milik sejuta umatnya macam Aku Bukan Mesin, Mafia Hukum, Busur Hujan, dan Metropolutan. Endah yang biasanya tampil “lembut” bersama EAR malam itu mendadak sangar. Kalau kata generasi alay sekarang, wagelaseh!

Menu penutup malam itu – yang saya tunggu sampai kaki pegal – adalah Cupumanik. Sudah lama sekali rasanya saya tidak menonton konser mereka. Bukan hanya karena belakangan ini saya sibuk dengan urusan kantor, melainkan juga sepertinya jadwal konser mereka di Jakarta memang kini terbilang agak jarang.

Tampil dengan formasi penuh, Cupumanik menutup malam dengan sedikit masalah. Gitar Eski beberapa kali mengalami gangguan teknis.

Ketika akhirnya Cupumanik membawakan Syair Manunggal, saya mendadak seperti diingatkan kembali kenapa dulu bisa jatuh cinta pada mereka. Lagu yang manis sekaligus terdengar sendu, megah dan penuh tenaga di bagian coda, dengan untaian lirik yang merupakan renungan mendalam tentang kehidupan. Itulah Cupumanik yang saya suka.

Robi tampil sebagai bintang tamu. Dia membawakan lagu yang merupakan single perdana Cupumanik di jagat musik Indonesia: Maharencana.

Sejujurnya, saya tidak tahu apakah kampanye anti-korupsi melalui musik yang sudah digelar KPK selama beberapa tahun terakhir membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan. Korupsi, dalam pemahaman saya, adalah perkara hati yang serakah. Obatnya, barangkali, adalah menumbuhkan kesadaran baru dalam jiwa orang-orang Indonesia, bahwa esensi hidup adalah soal memberi. Bukan mengambil.

Apakah kesadaran seperti itu bisa ditumbuhkan melalui musik? Entahlah.

Bagaimana pun, saya tentu berterima kasih pada KPK yang sudah menghadirkan dua entitas grunge kesukaan saya. Biarlah dunia semakin gila dan semua orang berlomba mengumpulkan harta. Cukuplah bagi saya hidup untuk menikmati musik yang utuh seperti yang malam itu disuguhkan Cupumanik dan Navicula.

Bedah Klip Video: Detail Keindahan Semesta

Menonton Klip Syair Manunggal (foto oleh Adi Tamtomo)
Menonton Klip Syair Manunggal (foto oleh Adi Tamtomo)

Tema Syair Manunggal yang sangat kental bernafaskan spiritual Islam bukanlah arah musik Cupumanik di masa depan. Itu hanyalah bagian kecil dari keseluruhan dimensi musik dan karya artistik mereka. Sebaliknya, aransemen Syair Manunggal justru merupakan gaya lama mereka, saat Rama (gitaris) masih jadi bagian dari Cupumanik. Demikian penjelasan resmi Eski dan Che menjawab pertanyaan saya selaku moderator dalam acara bedah klip video yang digelar di Paviliun 28, Jakarta, pada hari Minggu (27/11) lalu.

Dalam kesempatan itu, semua anggota Cupumanik juga bergantian memaparkan dinamika kreatif mereka saat ini. Tinggal di 3 kota berbeda (Jakarta, Bogor, dan Bandung), Cupumanik kini mengandalkan teknologi komunikasi semacam e-mail dan WhatsApp untuk berkirim sket lagu. Dalam proses kreatif mereka, Che, Doni, dan Iyak terbilang cukup sering jamming bersama. Sementara Eski yang tinggal di Bandung biasanya baru gabung saat sosok lagu sudah benar-benar rampung.

Bedah klip dan diskusi sore itu dihadiri sekitar 50-an Cupumaniak yang berasal dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bandung, Cirebon, dan Surabaya. Mereka terlihat sangat menikmati suguhan klip di layar bioskop kecil yang memang membuat Syair Manunggal semakin terasa nuansa kemegahan alamnya.

Soal arah musik, selintas Eski menyebutkan “semesta rakyat” sebagai tema besar yang akan diangkat dalam album ketiga Cupumanik. Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa tema itu berkisar seputar people power dan jati diri orang Indonesia dalam pergumulan mereka untuk meraih hidup yang lebih baik.

Ketika dikonfirmasi soal tema tersebut, anggota Cupumanik lainnya malah bilang bahwa ini kali pertama mereka dengar konsep itu disampaikan Eski. Nah, lho?

Adi dan Chicco, duo-sutradara yang menggarap klip video Syair Manunggal, didaulat untuk menjelaskan proses di balik layar. Bermodalkan stok foto yang diproyeksikan ke layar bioskop kecil, mereka memaparkan bagaimana klip tersebut disusun, mulai dari brainstorming, survey, pengambilan gambar, hingga proses editing. Sesi yang sangat menyenangkan.

Ketika ditanya apa filosofi utama di balik klip video tersebut (yang sangat banyak menampilkan keindahan alam secara detail menggunakan macro shot), Adi menjelaskan bahwa dirinya sengaja melakukan itu. Tuhan menciptakan keindahan yang detail, demikian dia menjelaskan. Klip video itu ingin mengajak penontonnya kembali memahami itu. Menjadi peka terhadap anugerah. Betapa detail keindahan alam yang sudah diciptakan Tuhan untuk kita, manusia.

Cupumanik di Paviliun 28
Cupumanik di Paviliun 28

Bedah klip video kemudian dilanjutkan dengan sesi akustik. Lokasi acara berpindah dari bioskop kecil ke ruang utama kedai. Mobikin asal Jakarta, Tajam asal Bandung, Artificial Sun (yang digawangi Adi) yang sedang menyiapkan album perdana, dan Cupumanik jadi penampil. Bergantian mereka membawakan lagu demi lagu, mulai dari The Beatles, Deep Purple, Pearl Jam, hingga lagu-lagu karangan mereka sendiri.

Sambil duduk di balkon, saya menikmati itu semua bersama Rudi dan Topang. Selain sudut pandangnya unik, posisi itu membuat saya leluasa menghindar dari sergapan asap rokok.

Cupumanik membawakan 9 lagu, termasuk lagu yang membuat saya pertama kali jatuh cinta pada mereka, Perkenankan Aku Mencintainya. Semua dibawakan dalam versi akustik. Semua terdengar apik. Cupumanik, dalam nuansa bunyi yang lebih sunyi dibanding biasanya, terasa sangat kontemplatif dan dalam.

Diskusi musik yang asyik, dilanjutkan sesi akustik. Ah, betapa saya merindukan acara berkelas semacam itu. Mengupas dimensi lain dari musik. Dimensi yang, menurut saya, terasa sangat akademis. Mencerahkan!