Tag Archives: ddh

Album Terbaru Dialog Dini Hari: Parahidup (2019)

Manusia terlahir dengan segala ketidaksiapan. Dalam perjalanan hidup, kita menemukan apa yang kemudian kita suka, cinta, dan kuasai. Juga yang kemudian hilang dan kita rindukan. Menikmati Dialog Dini Hari (DDH), rasanya tidak ada yang lebih dekat dibanding perasaan seperti itu. Perasaan yang demikian dekat, seperti melihat diri sendiri: lahir, tumbuh, dan berkembang.

Bicara soal perkembangan musik mereka, sudahi sajalah. Sejak Lengkung Langit yang kemudian diikuti Tentang Rumahku, DDH seperti tak terhentikan. Menikung mereka, menanjak, bahkan terkadang seperti terbang bebas. Bebas lepas dalam berkarya. Tak henti menyentak dan memberi rasa hangat di dalam hati. Perasaan nyaman yang seperti berbisik lekat di telinga, “Tenang, mas. Di sini, di negeri yang semakin kering keberanian berkarya ini, masih ada kami.”

Rasanya saya bakal pensiun dini menulis opini soal lagu-lagu mereka. Sudahlah. Nikmati saja. Hidup, Peran Terakhir, Jerit Sisa, Kuingin Lihat Wajahmu dan semuanya. Dan semuanya. Ini melampaui semua yang pernah ada.

Pralaya – Single Teranyar DDH

Kalau kita memahami Dialog Dini Hari (DDH) sebatas Tentang Rumahku, maka tentulah kita akan merasa seperti tersesat saat mendengar Pralaya, single teranyar mereka. Benar-benar tersesat.

Pralaya seolah sebuah arah yang sama sekali berbeda. Serius, megah, mewah. Ia tidak lagi bicara soal “aku yang begini dan begitu” melainkan soal kita. Soal bangsa Indonesia. Atau, setidaknya, soal perkiraan mereka tentang masa depan bangsa kalau pertikaian politik yang memalukan ini terus kita lakoni.

Entah disengaja atau tidak, rasanya tidak ada waktu yang lebih tepat untuk merilis Pralaya ketimbang sekarang, beberapa saat setelah sidang MK yang memamerkan kepandiran politik usai. Sidang yang membuang begitu banyak waktu dan biaya, dan nyatanya hanya bisa menyisakan ancaman demo lanjutan dan skenario usang jabat tangan bagi-bagi kekuasaan.

Tentu saja tidak ada muatan politik dalam Tentang Rumahku. Manis, lurus, demikian mudah untuk dicintai. Tapi penikmat musik waras di seluruh dunia tentu tak mau terima kalau entitas folk sesakti DDH hanya menulis lagu cinta. Mereka punya kewajiban moral untuk menuliskan kenyataan. Merekam zaman dalam susunan nada dan lirik abadi. Menjadi saksi dalam setiap lagunya.

Dan, kalau kita sudah cukup lama mengenal mereka, sebenarnya ada sebuah EP yang dirilis DDH pada tahun 2010. Di situ ada Nyanyian Langit dan Manuskrip Telaga, yang dalam banyak aspek – terutama spiritual – sangat layak diberi predikat sebagai bahu raksasa di mana Pralaya disandarkan.

Dalam kemegahan lukisan suaranya, Pralaya menghadirkan kembali pernyataan seni yang menyentak, bahwa musik memang sejatinya tidak boleh dan tidak bisa tercerabut dari situasi sosial politik yang menggulung penulisnya. DDH, pada akhirnya, memang bukan band biasa-biasa saja.

Kado Ultah Terindah: Dialog Dini Hari!

Adakah yang lebih indah dari semua ini? Rumah mungil dan cerita cinta yang megah…

Lirik lagu Tentang Rumahku milik Dialog Dini Hari (DDH) itu sungguh tepat untuk menggambarkan harian Kompas yang hari itu merayakan ulang tahun ke-53. Tempat saya cari makan dalam 14 tahun terakhir itu memang kecil dan sarat cerita. Sebagian indah, sebagian menjengkelkan, tapi hampir semuanya membanggakan. Itulah kiranya harian Kompas bagi saya.

Ketika DDH mengomando ratusan fans-nya untuk bernyanyi bersama di pelataran Bentara Budaya Jakarta semalam (28/6), saya larut dalam kenangan. Lagu itu – yang saya cintai sejak pertama kali sketnya dimainkan Dankie pada siang yang panas di sebuah rumah di bilangan Ulujami, Jakarta sebelum malamnya dia manggung dalam pagelaran Pearl Jam Nite V di MU Café tahun 2010 – mendadak punya makna yang semakin dalam. Sebuah kado ulang tahun yang sangat berkesan.

Dankie memulai set DDH dengan sedikit kikuk. Barangkali dia grogi. Tampil di hadapan puluhan penulis cerpen papan atas dalam acara resmi yang digelar oleh institusi berita paling berpengaruh di Indonesia mungkin membuat rambut gimbalnya mengkerut. Bisa dimaklumi.

Bukan Dankie namanya kalau tidak bisa keluar dari tekanan. Setelah unjuk kepiawaian gitar di lagu keempat, Temui Diri, dia memberi “kata sambutan” yang – di luar kebiasaan – terdengar sangat mengesankan sebelum kemudian memainkan Aku adalah Kamu. Sedikit sentilan soal pilkada dan keyakinannya pada keberagaman. Ratusan orang pun serentak mengamini dan bertepuk tangan ketika dia, dengan cool, menyatakan, “Tak apa kita berbeda agama, yang penting satu iman.”

Dankie. You boleh!

Malam itu DDH membawakan 10 lagu. Pohon Tua Bersandar yang gelap, Lengkung Langit yang cerah, Pelangi yang menyentuh, Temui Diri yang terasa jazzy, Satu Cinta yang penuh perasaan, Sediakala yang luar biasa fresh, Aku adalah Kamu yang menyulut kor massal, Oksigen (disambung lagu dari album solo Zio) yang penuh atraksi, Pagi yang sarat kenangan manis, dan Tentang Rumahku yang membuat rindu jatuh ke pelukan malam. Satu jam penuh yang sungguh meneduhkan.

Tentu saja besoknya DDH tidak bisa pulang langsung ke Bali karena gunung Agung meletus dan semua penerbangan ke Bali dihentikan. Jadilah mereka kemudian terbang ke Surabaya dan meneruskan perjalanan menggunakan transportasi darat.

Itulah kiranya hidup. Penuh kejutan. Seperti juga hidupnya harian Kompas yang kini berada di tikungan tajam. Apa yang menunggu di depan, kita hanya bisa menduga-duga saja.