Tag Archives: dialog dini hari

See The Sun by ZIO

Ketika petang menjelang dan lelah menghantam, solo album perdana Zio jadi pilihan pelarian. Penat dan letih sejenak jadi tertanggungkan. Alunan lagu-lagunya yang lembut dan elegan terasa hangat di telinga. Juga di jiwa.

Tentu saja warna musik di album bertajuk See The Sun itu jauh berbeda dari warna musik Dialog Dini Hari, band tempat Zio menjadi basis. Sangat jauh berbeda.

See The Sun yang dipilih jadi nomor pembuka, Terindah, dan Love from Above adalah lagu-lagu yang terdengar mahal. Ada groove yang asyik di sana. Ada juga harmoni yang tersusun rapi. Yang tidak ada adalah pameran skill bermain bas. Bagus juga. Kalau ada, barangkali album itu akan tergelincir jadi ajang pamer ego yang, saya rasa, sama sekali tidak diperlukan bagi Zio.

Hampir terdengar seperti album lounge jazz, See The Sun menyuguhkan 8 nomor yang semuanya empuk di telinga. Rasanya tidak mungkin mendengarkan album ini tanpa membayangkan segelas wine dingin yang enak, sebuah buku yang bagus, dan sofa empuk untuk rebahan. Bagi saya, di album ini Zio seperti meminta pendengarnya melupakan semua ketegangan. Rileks. Menikmati waktu yang menggelinding perlahan.

Dan ketika akhirnya matahari sempurna menghilang di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, lantunan apik dari album itu tersisa di telinga. Nada-nada itu berbisik merdu. Dan mesra. Istirahatlah.

DDH Rasa Alam Bebas

DDH di Indofest 2017

Orang yang sering bersentuhan dengan alam bebas dan mencintai lingkungan barangkali memang jenis orang yang paling bisa tenggang rasa. Saya mendapati itu ketika menonton konser Dialog Dini Hari (DDH) di gelaran Indonesia Outdoor Festival di JCC, Jumat (12/5) malam lalu. Berdesakan di bibir panggung, tak kurang dari seratus pegiat outdoor dari beragam latar belakang tertib sekali menikmati suguhan musik. Tidak ada yang nekat berdiri karena akan menghalangi sebagian penonton lain yang duduk di kursi. Smartphone pun keluar dari kantong mereka seperlunya saja.

Asal kamu tahu saja, saya pernah terpaksa berdiri di barisan belakang saat nonton konser yang didesain untuk dinikmati sambil duduk, karena banyak orang brengsek yang memilih untuk berdiri dan merangsek ke depan panggung, menafikkan hak orang lain. Fuck them assholes.

Malam itu, bintangnya jelas Denny. Permainan drum-nya sungguh memukau. Empuk, fun, bertenaga, dan berteknik tinggi. Dengan santai, dia membuat permainan drum kelas dewa seperti itu seolah pekerjaan mudah. Pas. Tidak berlebihan. Sepanjang konser pun dia terbilang banyak tersenyum. Sesekali bahkan tertawa.

Setelah belasan kali melihatnya tampil secara langsung, saya berani bilang bahwa Denny adalah salah satu drummer terbaik di negeri ini. Kalau bukan yang terbaik.

Pohon Tua, melanjutkan mood-nya ketika tampil di gelaran Jakarta Record Store Day beberapa minggu lalu, sesekali berceloteh tentang kondisi politik Jakarta dan Indonesia. Soal Ahok yang dipenjara. Juga Rizieq Shihab yang mendadak hilang entah di mana rimbanya, meninggalkan banyak tuntutan hukum atas dirinya tertunda. Konsep hidup saling tenggang rasa di bawah bendera Indonesia, bagi Pohon Tua, jelas merupakan hal yang penting.

Zio, membawakan sepotong lagu yang merupakan materi solo album perdananya, tampil cool seperti biasa. Dengan kacamata hitam dan jin, dia terlihat ganteng. Demikian ganteng sampai-sampai beberapa fans perempuan berulang kali mengabadikan dirinya dari bibir panggung melalui smartphone mereka.

Ah, Zio! Jangan biarkan wajah gantengnya menipu kalian. Di dalam sana bersemayam jiwa seorang virtuoso. Juga keseriusan bermusik yang sama sekali tidak main-main.

Malam itu penampilan DDH memang sangat ciamik. Tata suara dan mood mereka benar-benar sedang bagus. Pohon Tua, Denny, dan Zio bergantian memamerkan aksi solo. Yang paling memukau tentu saja jamming session mereka di lagu Oksigen.

Pohon Tua membuka dengan intro gitar yang tidak biasa, dilanjutkan dengan solo drum Denny di pertengahan lagu. Seolah belum cukup, malam itu Oksigen dibelah jadi dua bagian dan dimainkan tak kurang dari 10 menit, disisipi satu lagu milik Zio yang dimainkan lengkap dengan solo bas. Shut up and take my money!

Berurutan, malam itu DDH membawakan Bumiku Buruk Rupa (saya duga ini dipilih jadi pembuka karena mereka tampil di acara bertemakan kegiatan alam bebas), Temanku Jadi Hantu, Pohon Tua Bersandar, Temui Diri, Hiduplah Hari Ini (yang judulnya saya comot jadi judul salah satu narasi dalam buku saya yang berjudul Teruntuk, Bahagia…), Kita dan Dunia, Dariku Tentang Cinta, Jalan dalam Diam, Pelangi, Oksigen, dan Tentang Rumahku.

Siapa pun fans DDH yang hadir malam itu pasti setuju, itu adalah salah satu penampilan terbaik mereka sepanjang tahun 2017 yang penuh turbulensi politik ini. Dan, omong-omong, DDH rasanya semakin kuat asosiasinya dengan acara kemping anak muda. Ha!

DDH: Jakarta, Jagalah Rumah Kalian

DDH di Record Store Day Jakarta (foto oleh Topang)

Rasanya tidak ada ajakan mengarungi bahtera hidup dalam kasih yang lebih indah dari apa yang dinyanyikan Dialog Dini Hari (DDH) dalam konsernya di Record Store Day di Kuningan City, Jakarta, Jumat (21/4) malam. Dengan suara paraunya yang hangat, Pohon Tua melantunkan bait ini: Perempuanku, genggam tanganku… Lalu menyusurlah bersamaku… Jika suaramu tak terdengar… Ku ‘kan berteriak bersamamu…

Setelah dibuka oleh Zio yang membawakan tiga lagu dari solo album-nya yang bakal segera rilis, DDH menyejukkan gerahnya udara malam dengan delapan lagu. Berurutan mereka membawakan Pohon Tua Bersandar, Temui Diri, Kita dan Dunia, Jalan dalam Diam, Pelangi, Renovasi Otak, Aku Adalah Kamu, dan Tentang Rumahku.

Semalam adalah konser Pohon Tua (tunggal atau bersama DDH) ke-28 yang saya tonton. Dan, anehnya, baru semalam saya akhirnya benar-benar sadar, DDH bukanlah sekadar band bagus dengan lagu-lagu dan live performance bagus, melainkan sebuah band hebat yang mengusung pesan-pesan penting dalam karya dan keseluruhan kehadirannya. Mereka adalah permata Indonesia. Sebagai fans, saya merasa bangga.

Pohon Tua boleh saja tinggal di Bali. Sosoknya pun seperti enggan bicara soal ide-ide hebat nan melangit layaknya banyak musisi lain. Namun dia sama sekali tidak buta politik. Sebaliknya, dia sangat melek. Dan punya pandangan yang luar biasa jernih tentang itu.

Sambil terkekeh, dia menggoda penonton sebelum membawakan Jalan dalam Diam. “Senang sekali. Malam ini wajah kalian ceria semua. Sumringah. Mungkin karena mau dapat rumah baru, ya?” Kontan semua tertawa dan kemudian bersatu menyanyikan keseluruhan lagu itu. Sebenarnya, kami semua yang hadir di situ bernyanyi bersama dari awal konser hingga usai. Delapan lagu penuh. Sepenuh jiwa.

Tentu saja DDH bukanlah band politik. Lagu-lagu mereka rasanya tidak ada yang bicara terbuka soal itu. Di setiap gelombang nada, lekuk lirik, dan penjuru tikungan harmoni lagu-lagu mereka kita bisa menemukan kekuatan hidup. Bukan kekerasan. Apalagi kebencian.

Susana politik Jakarta yang beberapa bulan terakhir direkayasa oleh beberapa pihak sedemikian rupa hingga memunculkan perpecahan antar-umat beragama, di mata DDH, adalah hal yang sangat disayangkan. Namun demikian, bukan sesuatu yang harus dibenci, melainkan bersama diperbaiki.

Dengan semangat itu, DDH kemudian membawakan satu lagu lama tentang kebersamaan. Tentang kenyataan yang sering kita lupakan, bahwa umat manusia sesungguhnya adalah satu, bahwa ketika saya menyakitimu, sebenarnya saya sedang menyakiti diri sendiri. Aku adalah Kamu.

Gamblang dan jelas, juga dengan sangat lembut seperti biasanya, Pohon Tua menyampaikan pesan kasihnya itu sebelum menutup konser dengan Tentang Rumahku. Dalam suaranya tidak ada paksaan untuk setuju. Untuk satu suara. Yang terdengar hanyalah ajakan untuk kembali mendengarkan suara hati dan menjalani hidup dalam harmoni.

“Jakarta,” begitu katanya. “Jagalah rumah kalian.”