Tag Archives: eddie vedder

Apa yang Ada di Kepala Eddie Saat Ini?

Untuk memastikan diri mereka tidak terlanjur jadi tragedi berikutnya, Eddie Vedder kemungkinan akan membubarkan Pearl Jam dan melanjutkan hidup dengan berjualan es kelapa muda di Hawaii. Mungkin sesekali dia menulis lagu dan memainkan ukulele di pesta-pesta kecil di depan api unggun. Itulah pikiran gila yang bergentayang di kepala saya dua hari terakhir ini.

Sebenarnya, pikiran itu tidaklah kelewat gila. Coba sabar sebentar. Saya akan urutkan satu per satu argumennya. Meski demikian, saya sarankan kalian janganlah terlalu memercayai ide ini. Anggap saja ini adalah obrolan warung kopi. Seru, mungkin saja terjadi, tapi tidak punya landasan fakta yang meyakinkan sama sekali. Tidak jauh beda dengan pertengkaran Pilkada DKI yang ramai beberapa bulan belakangan ini.

Kebangkitan Soundgarden, kalau boleh disebut demikian, tak lepas dari dukungan penuh Pearl Jam. Mereka membebaskan Matt Cameron dari jadwal tur demi merekam King Animal (rilis 2012), album pertama Soundgarden setelah 16 tahun vakum dan yang ternyata jadi album terakhir mereka. Mereka juga mengosongkan jadwal tur Pearl Jam demi memberi kesempatan bagi Matt Cameron tur bersama Soundgarden tahun ini. Kematian Chris Cornell, bagi yang belum mengetahuinya, terjadi beberapa jam setelah Soundgarden melakoni konser di Detroit, AS yang merupakan bagian dari rangkaian tur singkat tahun 2017.

Tidak berhenti di situ, rumor menyebutkan bahwa Telephantasm, album kompilasi yang rilis tahun 2010, juga menggunakan materi yang dikumpulkan oleh manajemen Pearl Jam. Belum lagi studio untuk latihan dan tenaga pengelola website. Semua itu, meski sepertinya tidak tercatat dalam pemberitaan resmi media massa, bermuara pada satu kesimpulan: Pearl Jam punya andil sangat besar dalam kebangkitan Soundgarden satu dekade terakhir.

Sekarang, pertanyaannya adalah: kalau ternyata kebangkitan itulah yang memberi beban berlebih pada jiwa Chris Cornell sehingga memutuskan untuk mencabut nyawanya sendiri (seperti yang dinyatakan secara resmi oleh kepolisian), bagaimana perasaan Eddie Vedder dan kawan-kawan?

Semua orang tahu bahwa Eddie Vedder punya kecenderungan memboikot dirinya sendiri. Menolak membuat album “pasaran” dan kemudian menelurkan No Code, menyatakan perang melawan Ticket Master, dan menimbang untuk berhenti bermusik setelah tragedi kematian 9 fans di Roskilde tahun 2000, semua sudah dia lakoni. Dan bukan tanpa gembar-gembor.

Kalau kemudian kematian Chris Cornell jadi genderang kesadaran bagi dirinya, kita bisa apa? Bagaimana kita bisa memahami seperti apa rasanya jadi satu-satunya suara grunge yang bertahan hidup setelah ditinggal mati Kurt Cobain, Layne Staley, dan kini Chris Cornell? Dengan semua mata di dunia menatap tajam ke dirinya, apa Eddie Vedder bisa tahan?

Kenyataan bahwa Eddie Vedder menulis Sirens setelah mendengar jeritan sirene tangah malam yang mengingatkan dirinya akan rapuhnya kehidupan, menyadarkan dirinya bahwa setiap saat bisa saja sirene itu menjerit untuk dirinya, sama sekali tidak menenangkan hati. Kematian tidak pernah jauh dari benaknya.

Sudah larut dan saya masih belum mengantuk. Pikiran gila seperti ini sebaiknya disuruh berhenti saja.