Tag Archives: eddie vedder

A Star is Born is Wickedly Beautiful

Ini adalah salah satu film yang membuat saya sedih. Bukan karena jelek. Sebaliknya, karena film ini punya jalan cerita yang sangat saya pahami dan terasa luar biasa dekat.

Saya sangat mencintai musik. Bagi saya, musik lebih dari sekadar latar. Bukan bunyi-bunyian harmonis yang saya nikmati dari musik, melainkan pesan yang terkandung dalam keseluruhan kehadirannya. Keresahan – bahkan kemarahan – keindahan, cinta, dan juga kepedihan. Dalam musik saya melihat kehidupan secara utuh. Tepat itulah yang disuguhkan A Star is Born, film debutan Bradley Cooper sebagai sutradara.

Selain jadi sutradara, Cooper juga membantu menulis naskah dan tentu saja membintangi film ini. Perannya sebagai Jackson Maine – rock star paruh baya dari Arizona – sungguh memukau. Siapa pun yang menghabiskan masa remajanya dengan mendengarkan Pearl Jam tentu paham kalau sosok Jack dalam film ini mengopi Eddie Vedder. Versi sekarang, tentu saja: matang, berewokan, dan menyimpan kepedihannya sendiri dalam-dalam.

Pedih. Kiranya itulah pesan utama film ini.

Karier musik Jack sedang redup. Saking redupnya, dia bahkan terpaksa merelakan peran penyanyi utama diberikan ke musisi yang lebih muda dan berpuas diri memainkan satu dua chord sebagai gitaris pengiring dalam pagelaran Grammy. Dalam pagelaran itu pula Ally (diperankan Lady Gaga) – saat itu sudah menjadi istri Jack – menerima Grammy sebagai Best New Artist.

Di satu sisi, Jack sangat bahagia Ally menerima apa yang memang selayaknya dia dapatkan. Sejak awal pertemuan mereka di sebuah bar waria, Jack sepenuhnya meyakini bahwa Ally adalah penulis lagu dan musisi sejati. Potongan lagu dan lirik yang dibuat Ally secara spontan saat keduanya menghabiskan malam di parkiran supermarket digubah menjadi lagu utuh oleh Jack dan kemudian melejitkan Ally menjadi ikon baru musik Amerika. Shallow, itu judul lagunya.

Di lain sisi, Jack seperti melihat mataharinya tenggelam. Karier musiknya sudah usai. Dalam dekapannya kini terlelap Ally, bintang masa depan. Kesadaran itu memukul jiwanya dengan sangat keras. Lebih parah, kecanduannya pada alkohol dan obat-obatan terlarang membuat Jack merasa menjadi penghalang bagi kecemerlangan Ally. Dia adalah beban bagi orang yang teramat dicintainya. Dalam kalut akhirnya Jack sampai pada kesimpulan fatal.

Jackson Maine, rock star paruh baya yang menemukan cinta dan semangat hidup baru melalui sosok Ally, memutuskan bahwa hidup tidak lagi memiliki arti.

Dan tinggallah saya terjaga sepanjang malam. Betapa film ini luar biasa menyayat hati, karena sebagian musisi kesukaan saya di dunia nyata memang memilih jalan yang sama dengan yang ditempuh Jack di pengujung film: Kurt Cobain, Chris Cornell, dan Chester Bennington.

Damn you, Bradley. Damn you and your beautiful movie.

Apa yang Ada di Kepala Eddie Saat Ini?

Untuk memastikan diri mereka tidak terlanjur jadi tragedi berikutnya, Eddie Vedder kemungkinan akan membubarkan Pearl Jam dan melanjutkan hidup dengan berjualan es kelapa muda di Hawaii. Mungkin sesekali dia menulis lagu dan memainkan ukulele di pesta-pesta kecil di depan api unggun. Itulah pikiran gila yang bergentayang di kepala saya dua hari terakhir ini.

Sebenarnya, pikiran itu tidaklah kelewat gila. Coba sabar sebentar. Saya akan urutkan satu per satu argumennya. Meski demikian, saya sarankan kalian janganlah terlalu memercayai ide ini. Anggap saja ini adalah obrolan warung kopi. Seru, mungkin saja terjadi, tapi tidak punya landasan fakta yang meyakinkan sama sekali. Tidak jauh beda dengan pertengkaran Pilkada DKI yang ramai beberapa bulan belakangan ini.

Kebangkitan Soundgarden, kalau boleh disebut demikian, tak lepas dari dukungan penuh Pearl Jam. Mereka membebaskan Matt Cameron dari jadwal tur demi merekam King Animal (rilis 2012), album pertama Soundgarden setelah 16 tahun vakum dan yang ternyata jadi album terakhir mereka. Mereka juga mengosongkan jadwal tur Pearl Jam demi memberi kesempatan bagi Matt Cameron tur bersama Soundgarden tahun ini. Kematian Chris Cornell, bagi yang belum mengetahuinya, terjadi beberapa jam setelah Soundgarden melakoni konser di Detroit, AS yang merupakan bagian dari rangkaian tur singkat tahun 2017.

Tidak berhenti di situ, rumor menyebutkan bahwa Telephantasm, album kompilasi yang rilis tahun 2010, juga menggunakan materi yang dikumpulkan oleh manajemen Pearl Jam. Belum lagi studio untuk latihan dan tenaga pengelola website. Semua itu, meski sepertinya tidak tercatat dalam pemberitaan resmi media massa, bermuara pada satu kesimpulan: Pearl Jam punya andil sangat besar dalam kebangkitan Soundgarden satu dekade terakhir.

Sekarang, pertanyaannya adalah: kalau ternyata kebangkitan itulah yang memberi beban berlebih pada jiwa Chris Cornell sehingga memutuskan untuk mencabut nyawanya sendiri (seperti yang dinyatakan secara resmi oleh kepolisian), bagaimana perasaan Eddie Vedder dan kawan-kawan?

Semua orang tahu bahwa Eddie Vedder punya kecenderungan memboikot dirinya sendiri. Menolak membuat album “pasaran” dan kemudian menelurkan No Code, menyatakan perang melawan Ticket Master, dan menimbang untuk berhenti bermusik setelah tragedi kematian 9 fans di Roskilde tahun 2000, semua sudah dia lakoni. Dan bukan tanpa gembar-gembor.

Kalau kemudian kematian Chris Cornell jadi genderang kesadaran bagi dirinya, kita bisa apa? Bagaimana kita bisa memahami seperti apa rasanya jadi satu-satunya suara grunge yang bertahan hidup setelah ditinggal mati Kurt Cobain, Layne Staley, dan kini Chris Cornell? Dengan semua mata di dunia menatap tajam ke dirinya, apa Eddie Vedder bisa tahan?

Kenyataan bahwa Eddie Vedder menulis Sirens setelah mendengar jeritan sirene tangah malam yang mengingatkan dirinya akan rapuhnya kehidupan, menyadarkan dirinya bahwa setiap saat bisa saja sirene itu menjerit untuk dirinya, sama sekali tidak menenangkan hati. Kematian tidak pernah jauh dari benaknya.

Sudah larut dan saya masih belum mengantuk. Pikiran gila seperti ini sebaiknya disuruh berhenti saja.