Tag Archives: folk

Pralaya – Single Teranyar DDH

Kalau kita memahami Dialog Dini Hari (DDH) sebatas Tentang Rumahku, maka tentulah kita akan merasa seperti tersesat saat mendengar Pralaya, single teranyar mereka. Benar-benar tersesat.

Pralaya seolah sebuah arah yang sama sekali berbeda. Serius, megah, mewah. Ia tidak lagi bicara soal “aku yang begini dan begitu” melainkan soal kita. Soal bangsa Indonesia. Atau, setidaknya, soal perkiraan mereka tentang masa depan bangsa kalau pertikaian politik yang memalukan ini terus kita lakoni.

Entah disengaja atau tidak, rasanya tidak ada waktu yang lebih tepat untuk merilis Pralaya ketimbang sekarang, beberapa saat setelah sidang MK yang memamerkan kepandiran politik usai. Sidang yang membuang begitu banyak waktu dan biaya, dan nyatanya hanya bisa menyisakan ancaman demo lanjutan dan skenario usang jabat tangan bagi-bagi kekuasaan.

Tentu saja tidak ada muatan politik dalam Tentang Rumahku. Manis, lurus, demikian mudah untuk dicintai. Tapi penikmat musik waras di seluruh dunia tentu tak mau terima kalau entitas folk sesakti DDH hanya menulis lagu cinta. Mereka punya kewajiban moral untuk menuliskan kenyataan. Merekam zaman dalam susunan nada dan lirik abadi. Menjadi saksi dalam setiap lagunya.

Dan, kalau kita sudah cukup lama mengenal mereka, sebenarnya ada sebuah EP yang dirilis DDH pada tahun 2010. Di situ ada Nyanyian Langit dan Manuskrip Telaga, yang dalam banyak aspek – terutama spiritual – sangat layak diberi predikat sebagai bahu raksasa di mana Pralaya disandarkan.

Dalam kemegahan lukisan suaranya, Pralaya menghadirkan kembali pernyataan seni yang menyentak, bahwa musik memang sejatinya tidak boleh dan tidak bisa tercerabut dari situasi sosial politik yang menggulung penulisnya. DDH, pada akhirnya, memang bukan band biasa-biasa saja.

Kado Ultah Terindah: Dialog Dini Hari!

Adakah yang lebih indah dari semua ini? Rumah mungil dan cerita cinta yang megah…

Lirik lagu Tentang Rumahku milik Dialog Dini Hari (DDH) itu sungguh tepat untuk menggambarkan harian Kompas yang hari itu merayakan ulang tahun ke-53. Tempat saya cari makan dalam 14 tahun terakhir itu memang kecil dan sarat cerita. Sebagian indah, sebagian menjengkelkan, tapi hampir semuanya membanggakan. Itulah kiranya harian Kompas bagi saya.

Ketika DDH mengomando ratusan fans-nya untuk bernyanyi bersama di pelataran Bentara Budaya Jakarta semalam (28/6), saya larut dalam kenangan. Lagu itu – yang saya cintai sejak pertama kali sketnya dimainkan Dankie pada siang yang panas di sebuah rumah di bilangan Ulujami, Jakarta sebelum malamnya dia manggung dalam pagelaran Pearl Jam Nite V di MU Café tahun 2010 – mendadak punya makna yang semakin dalam. Sebuah kado ulang tahun yang sangat berkesan.

Dankie memulai set DDH dengan sedikit kikuk. Barangkali dia grogi. Tampil di hadapan puluhan penulis cerpen papan atas dalam acara resmi yang digelar oleh institusi berita paling berpengaruh di Indonesia mungkin membuat rambut gimbalnya mengkerut. Bisa dimaklumi.

Bukan Dankie namanya kalau tidak bisa keluar dari tekanan. Setelah unjuk kepiawaian gitar di lagu keempat, Temui Diri, dia memberi “kata sambutan” yang – di luar kebiasaan – terdengar sangat mengesankan sebelum kemudian memainkan Aku adalah Kamu. Sedikit sentilan soal pilkada dan keyakinannya pada keberagaman. Ratusan orang pun serentak mengamini dan bertepuk tangan ketika dia, dengan cool, menyatakan, “Tak apa kita berbeda agama, yang penting satu iman.”

Dankie. You boleh!

Malam itu DDH membawakan 10 lagu. Pohon Tua Bersandar yang gelap, Lengkung Langit yang cerah, Pelangi yang menyentuh, Temui Diri yang terasa jazzy, Satu Cinta yang penuh perasaan, Sediakala yang luar biasa fresh, Aku adalah Kamu yang menyulut kor massal, Oksigen (disambung lagu dari album solo Zio) yang penuh atraksi, Pagi yang sarat kenangan manis, dan Tentang Rumahku yang membuat rindu jatuh ke pelukan malam. Satu jam penuh yang sungguh meneduhkan.

Tentu saja besoknya DDH tidak bisa pulang langsung ke Bali karena gunung Agung meletus dan semua penerbangan ke Bali dihentikan. Jadilah mereka kemudian terbang ke Surabaya dan meneruskan perjalanan menggunakan transportasi darat.

Itulah kiranya hidup. Penuh kejutan. Seperti juga hidupnya harian Kompas yang kini berada di tikungan tajam. Apa yang menunggu di depan, kita hanya bisa menduga-duga saja.

DDH Rasa Alam Bebas

DDH di Indofest 2017

Orang yang sering bersentuhan dengan alam bebas dan mencintai lingkungan barangkali memang jenis orang yang paling bisa tenggang rasa. Saya mendapati itu ketika menonton konser Dialog Dini Hari (DDH) di gelaran Indonesia Outdoor Festival di JCC, Jumat (12/5) malam lalu. Berdesakan di bibir panggung, tak kurang dari seratus pegiat outdoor dari beragam latar belakang tertib sekali menikmati suguhan musik. Tidak ada yang nekat berdiri karena akan menghalangi sebagian penonton lain yang duduk di kursi. Smartphone pun keluar dari kantong mereka seperlunya saja.

Asal kamu tahu saja, saya pernah terpaksa berdiri di barisan belakang saat nonton konser yang didesain untuk dinikmati sambil duduk, karena banyak orang brengsek yang memilih untuk berdiri dan merangsek ke depan panggung, menafikkan hak orang lain. Fuck them assholes.

Malam itu, bintangnya jelas Denny. Permainan drum-nya sungguh memukau. Empuk, fun, bertenaga, dan berteknik tinggi. Dengan santai, dia membuat permainan drum kelas dewa seperti itu seolah pekerjaan mudah. Pas. Tidak berlebihan. Sepanjang konser pun dia terbilang banyak tersenyum. Sesekali bahkan tertawa.

Setelah belasan kali melihatnya tampil secara langsung, saya berani bilang bahwa Denny adalah salah satu drummer terbaik di negeri ini. Kalau bukan yang terbaik.

Pohon Tua, melanjutkan mood-nya ketika tampil di gelaran Jakarta Record Store Day beberapa minggu lalu, sesekali berceloteh tentang kondisi politik Jakarta dan Indonesia. Soal Ahok yang dipenjara. Juga Rizieq Shihab yang mendadak hilang entah di mana rimbanya, meninggalkan banyak tuntutan hukum atas dirinya tertunda. Konsep hidup saling tenggang rasa di bawah bendera Indonesia, bagi Pohon Tua, jelas merupakan hal yang penting.

Zio, membawakan sepotong lagu yang merupakan materi solo album perdananya, tampil cool seperti biasa. Dengan kacamata hitam dan jin, dia terlihat ganteng. Demikian ganteng sampai-sampai beberapa fans perempuan berulang kali mengabadikan dirinya dari bibir panggung melalui smartphone mereka.

Ah, Zio! Jangan biarkan wajah gantengnya menipu kalian. Di dalam sana bersemayam jiwa seorang virtuoso. Juga keseriusan bermusik yang sama sekali tidak main-main.

Malam itu penampilan DDH memang sangat ciamik. Tata suara dan mood mereka benar-benar sedang bagus. Pohon Tua, Denny, dan Zio bergantian memamerkan aksi solo. Yang paling memukau tentu saja jamming session mereka di lagu Oksigen.

Pohon Tua membuka dengan intro gitar yang tidak biasa, dilanjutkan dengan solo drum Denny di pertengahan lagu. Seolah belum cukup, malam itu Oksigen dibelah jadi dua bagian dan dimainkan tak kurang dari 10 menit, disisipi satu lagu milik Zio yang dimainkan lengkap dengan solo bas. Shut up and take my money!

Berurutan, malam itu DDH membawakan Bumiku Buruk Rupa (saya duga ini dipilih jadi pembuka karena mereka tampil di acara bertemakan kegiatan alam bebas), Temanku Jadi Hantu, Pohon Tua Bersandar, Temui Diri, Hiduplah Hari Ini (yang judulnya saya comot jadi judul salah satu narasi dalam buku saya yang berjudul Teruntuk, Bahagia…), Kita dan Dunia, Dariku Tentang Cinta, Jalan dalam Diam, Pelangi, Oksigen, dan Tentang Rumahku.

Siapa pun fans DDH yang hadir malam itu pasti setuju, itu adalah salah satu penampilan terbaik mereka sepanjang tahun 2017 yang penuh turbulensi politik ini. Dan, omong-omong, DDH rasanya semakin kuat asosiasinya dengan acara kemping anak muda. Ha!