Tag Archives: folk

DDH Rasa Alam Bebas

DDH di Indofest 2017

Orang yang sering bersentuhan dengan alam bebas dan mencintai lingkungan barangkali memang jenis orang yang paling bisa tenggang rasa. Saya mendapati itu ketika menonton konser Dialog Dini Hari (DDH) di gelaran Indonesia Outdoor Festival di JCC, Jumat (12/5) malam lalu. Berdesakan di bibir panggung, tak kurang dari seratus pegiat outdoor dari beragam latar belakang tertib sekali menikmati suguhan musik. Tidak ada yang nekat berdiri karena akan menghalangi sebagian penonton lain yang duduk di kursi. Smartphone pun keluar dari kantong mereka seperlunya saja.

Asal kamu tahu saja, saya pernah terpaksa berdiri di barisan belakang saat nonton konser yang didesain untuk dinikmati sambil duduk, karena banyak orang brengsek yang memilih untuk berdiri dan merangsek ke depan panggung, menafikkan hak orang lain. Fuck them assholes.

Malam itu, bintangnya jelas Denny. Permainan drum-nya sungguh memukau. Empuk, fun, bertenaga, dan berteknik tinggi. Dengan santai, dia membuat permainan drum kelas dewa seperti itu seolah pekerjaan mudah. Pas. Tidak berlebihan. Sepanjang konser pun dia terbilang banyak tersenyum. Sesekali bahkan tertawa.

Setelah belasan kali melihatnya tampil secara langsung, saya berani bilang bahwa Denny adalah salah satu drummer terbaik di negeri ini. Kalau bukan yang terbaik.

Pohon Tua, melanjutkan mood-nya ketika tampil di gelaran Jakarta Record Store Day beberapa minggu lalu, sesekali berceloteh tentang kondisi politik Jakarta dan Indonesia. Soal Ahok yang dipenjara. Juga Rizieq Shihab yang mendadak hilang entah di mana rimbanya, meninggalkan banyak tuntutan hukum atas dirinya tertunda. Konsep hidup saling tenggang rasa di bawah bendera Indonesia, bagi Pohon Tua, jelas merupakan hal yang penting.

Zio, membawakan sepotong lagu yang merupakan materi solo album perdananya, tampil cool seperti biasa. Dengan kacamata hitam dan jin, dia terlihat ganteng. Demikian ganteng sampai-sampai beberapa fans perempuan berulang kali mengabadikan dirinya dari bibir panggung melalui smartphone mereka.

Ah, Zio! Jangan biarkan wajah gantengnya menipu kalian. Di dalam sana bersemayam jiwa seorang virtuoso. Juga keseriusan bermusik yang sama sekali tidak main-main.

Malam itu penampilan DDH memang sangat ciamik. Tata suara dan mood mereka benar-benar sedang bagus. Pohon Tua, Denny, dan Zio bergantian memamerkan aksi solo. Yang paling memukau tentu saja jamming session mereka di lagu Oksigen.

Pohon Tua membuka dengan intro gitar yang tidak biasa, dilanjutkan dengan solo drum Denny di pertengahan lagu. Seolah belum cukup, malam itu Oksigen dibelah jadi dua bagian dan dimainkan tak kurang dari 10 menit, disisipi satu lagu milik Zio yang dimainkan lengkap dengan solo bas. Shut up and take my money!

Berurutan, malam itu DDH membawakan Bumiku Buruk Rupa (saya duga ini dipilih jadi pembuka karena mereka tampil di acara bertemakan kegiatan alam bebas), Temanku Jadi Hantu, Pohon Tua Bersandar, Temui Diri, Hiduplah Hari Ini (yang judulnya saya comot jadi judul salah satu narasi dalam buku saya yang berjudul Teruntuk, Bahagia…), Kita dan Dunia, Dariku Tentang Cinta, Jalan dalam Diam, Pelangi, Oksigen, dan Tentang Rumahku.

Siapa pun fans DDH yang hadir malam itu pasti setuju, itu adalah salah satu penampilan terbaik mereka sepanjang tahun 2017 yang penuh turbulensi politik ini. Dan, omong-omong, DDH rasanya semakin kuat asosiasinya dengan acara kemping anak muda. Ha!

DDH: Jakarta, Jagalah Rumah Kalian

DDH di Record Store Day Jakarta (foto oleh Topang)

Rasanya tidak ada ajakan mengarungi bahtera hidup dalam kasih yang lebih indah dari apa yang dinyanyikan Dialog Dini Hari (DDH) dalam konsernya di Record Store Day di Kuningan City, Jakarta, Jumat (21/4) malam. Dengan suara paraunya yang hangat, Pohon Tua melantunkan bait ini: Perempuanku, genggam tanganku… Lalu menyusurlah bersamaku… Jika suaramu tak terdengar… Ku ‘kan berteriak bersamamu…

Setelah dibuka oleh Zio yang membawakan tiga lagu dari solo album-nya yang bakal segera rilis, DDH menyejukkan gerahnya udara malam dengan delapan lagu. Berurutan mereka membawakan Pohon Tua Bersandar, Temui Diri, Kita dan Dunia, Jalan dalam Diam, Pelangi, Renovasi Otak, Aku Adalah Kamu, dan Tentang Rumahku.

Semalam adalah konser Pohon Tua (tunggal atau bersama DDH) ke-28 yang saya tonton. Dan, anehnya, baru semalam saya akhirnya benar-benar sadar, DDH bukanlah sekadar band bagus dengan lagu-lagu dan live performance bagus, melainkan sebuah band hebat yang mengusung pesan-pesan penting dalam karya dan keseluruhan kehadirannya. Mereka adalah permata Indonesia. Sebagai fans, saya merasa bangga.

Pohon Tua boleh saja tinggal di Bali. Sosoknya pun seperti enggan bicara soal ide-ide hebat nan melangit layaknya banyak musisi lain. Namun dia sama sekali tidak buta politik. Sebaliknya, dia sangat melek. Dan punya pandangan yang luar biasa jernih tentang itu.

Sambil terkekeh, dia menggoda penonton sebelum membawakan Jalan dalam Diam. “Senang sekali. Malam ini wajah kalian ceria semua. Sumringah. Mungkin karena mau dapat rumah baru, ya?” Kontan semua tertawa dan kemudian bersatu menyanyikan keseluruhan lagu itu. Sebenarnya, kami semua yang hadir di situ bernyanyi bersama dari awal konser hingga usai. Delapan lagu penuh. Sepenuh jiwa.

Tentu saja DDH bukanlah band politik. Lagu-lagu mereka rasanya tidak ada yang bicara terbuka soal itu. Di setiap gelombang nada, lekuk lirik, dan penjuru tikungan harmoni lagu-lagu mereka kita bisa menemukan kekuatan hidup. Bukan kekerasan. Apalagi kebencian.

Susana politik Jakarta yang beberapa bulan terakhir direkayasa oleh beberapa pihak sedemikian rupa hingga memunculkan perpecahan antar-umat beragama, di mata DDH, adalah hal yang sangat disayangkan. Namun demikian, bukan sesuatu yang harus dibenci, melainkan bersama diperbaiki.

Dengan semangat itu, DDH kemudian membawakan satu lagu lama tentang kebersamaan. Tentang kenyataan yang sering kita lupakan, bahwa umat manusia sesungguhnya adalah satu, bahwa ketika saya menyakitimu, sebenarnya saya sedang menyakiti diri sendiri. Aku adalah Kamu.

Gamblang dan jelas, juga dengan sangat lembut seperti biasanya, Pohon Tua menyampaikan pesan kasihnya itu sebelum menutup konser dengan Tentang Rumahku. Dalam suaranya tidak ada paksaan untuk setuju. Untuk satu suara. Yang terdengar hanyalah ajakan untuk kembali mendengarkan suara hati dan menjalani hidup dalam harmoni.

“Jakarta,” begitu katanya. “Jagalah rumah kalian.”

Nyanyian Langit yang Mencari Diri

Mempertemukan Tim Buku #HappinessIs dengan Pohon Tua di Menteng
Mempertemukan Tim Buku #HappinessIs dengan Pohon Tua di Menteng

Dialog Dini Hari (DDH) menyudahi konser rumahnya – konser yang digelar di sebuah rumah di bilangan Menteng – dengan Nyanyian Langit. Inilah lagu yang membuat saya jatuh cinta pada mereka, khususnya Pohon Tua. Nyanyian Langit, bagi saya, adalah gerbang bagi jiwa untuk berkelana di alam pemikiran. Kemegahan yang anehnya terasa sangat intim dan personal dari lagu itu seperti kanal mistis yang memungkinkan saya menyelami kepala saya sendiri untuk bertanya, menggugat, dan kemudian menemukan diri sendiri.

“Aku dan dia realita… Aku dan dia realita…” demikian Pohon Tua berulang menyanyikan mantranya. Siapa ‘dia’ yang disebutnya berulang kali itu, hanya Pohon Tua yang tahu. Apakah kekasih, alter egonya sendiri, atau malah Tuhan. Entahlah.

Yang jelas, saya yakin sepenuhnya kalau Nyanyian Langit adalah lagu yang ditulis dari jiwa. Kepada jiwa-jiwa yang serupa lagu itu bicara. Hanya kepada mereka.

Di penghujung lagu, DDH terdengar – bahkan terasa – seperti Kantata Takwa. Energi mereka menyatu. Untuk sesaat, mereka seperti tidak berada di sana. Dalam detik-detik transenden itu, bersama mantra yang diteriakkan suara Pohon Tua yang separuh parau namun penuh tenaga, malam menutup sempurna.

Dua puluh tujuh kali menonton DDH dan Pohon Tua, saya berani bilang bahwa penghujung Nyanyian Langit malam tadi adalah salah satu pencapaian terbaik suguhan musik live mereka.

Tentu saja setelah itu ada encore. Pagi. Dan semua bernyanyi. Dan lampu-lampu dinyalakan. Dan tiba saatnya melihat kembali sosok DDH yang kini sudah semakin luas dicintai publik. Saya bahagia untuk mereka.

Kalau mau jujur, setlist DDH malam itu memang terbilang lain dari biasanya. Setidaknya, dari yang biasa mereka bawakan dua tahun belakangan.

Empat lagu pertama nuansanya gelap dan sarat kontemplasi. Bumiku Buruk Rupa, Sahabatku Jadi Hantu, Ucapkan Kata-katamu (musikalisasi puisi Widji Thukul), dan Pohon Tua Bersandar. Kalau saja Zio dan Denny tidak menyuguhkan banyak improvisasi bas dan drum yang membuat lagu-lagu tersebut lebih groovy dari aslinya, saya akan menduga bahwa mood Pohon Tua sedang buruk malam tadi.

Bicara soal improvisasi, malam itu saya seperti melihat DDH yang sedang mencari bentuk baru. Pencapaian musikal di album keempat, Tentang Rumahku, tentu bukan tantangan yang main-main. Bahkan mereka sendiri pun belum tentu mampu menyamai atau melampaui.

Sisa setlist malam itu, mulai dari Temui Diri, Oksigen, Gurat Asa, Kita dan Dunia, Pelangi, Tentang Rumahku, hingga Jalan dalam Diam disuguhkan dalam bentuk yang nyaris semuanya eksperimental. Siapa pun yang cukup lama mengenal DDH pasti bisa merasakan bahwa mereka semakin menguasai lagu-lagu mereka sendiri. Ke mana pun mereka bawa – menukik menjadi folk/rock atau bahkan menyerempet jazz sekali pun – lagu-lagu itu selalu terasa punya jiwa.

Kalau itu merupakan bagian dari pencarian musikal mereka, saya berani bertaruh bahwa kita masih perlu menunggu sedikit lebih lama lagi untuk melihat kelahiran album kelima DDH. Bukan saja karena pencarian mereka akan melebar ke segala arah, melainkan juga mereka akan sangat menikmatinya. Kita hanya bisa berdoa, semoga DDH tidak tersesat dalam kenikmatan pencarian itu.

Oh, ya. Semalam Pohon Tua banyak sekali bercerita tentang pengalaman hidup masa remajanya di Lombok. Tentang keluarganya. Tentang pertemuannya dengan gitar, musik, dan Navicula. Tentang kekasih, anak, dan keluarga.

Mungkin dia rindu kekasih dan anaknya yang kini tinggal di Slovakia. Entahlah. Sedekat apa pun saya mengenal Pohon Tua, di mata batin saya selamanya dia seperti samudera. Luas. Dalam. Dan punya banyak sekali ruang rahasia.