Tag Archives: grunge

Single Baru Navicula: Ibu (2018)

Ibu – Apple Music

Tak akan ada Ibu Bumi kedua… Bila Ibu Bumi telah tiada… Kujaga dia, kujaga selamanya… Kar’na kutahu dia pun jaga kita… Ini jelas khas Navicula. Keras, harmonis, penuh tenaga, dan sarat cinta.

Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, Navicula merilis single teranyar yang mereka beri judul Ibu. Bukan tentang ibunya Robi atau Dankie. Bukan juga tentang ibumu, melainkan ibu kita semua. Bumi.

Single ini adalah bagian dari album yang kabarnya sudah rampung direkam beberapa waktu sebelum Made meninggal dalam kecelakan mobil tunggal di daerah Sukawati sepulang dari konser di Ubud, Bali. Rest in peace, Brother.

Chorus lagu ini benar-benar enak dinyanyikan bersama. Sangat melodius tanpa sedikit pun kehilangan tenaganya. Saya bisa membayangkan serunya berteriak sampai suara parau, bersatu dalam keringat bersama penonton yang berdesakan di bibir panggung, sementara Robi memberi aba-aba dengan kibasan rambut gondrongnya. Akan terasa nyaris seperti ritual di rumah-rumah ibadah. Bedanya, tidak ada doktrin “us vs. them”. Yang ada hanyalah mantra “we are one” dan ajakan untuk mencintai Ibu Bumi.

Cara Robi bernyanyi sungguh aduhai. Nada-nada yang dipilihnya anggun menyatu dengan liku gitar Dankie yang kadang beriak, kadang menggelora, dan dalam beberapa kesempatan menggulung. Meraung.

Siapa pun yang bertanggung jawab meracik lagu ini boleh berpuas diri. Semua energi liar itu bisa dibuat menyatu dalam sebuah lagu keras yang demikian harmonis sampai nyaris terdengar manis. You did one hell of a great job, Sir!

Dominasi: Hari Kartini Versi Konspirasi

Dominasi, single Konspirasi

Di Indonesia saat ini barangkali hanya Che yang berani (dan bisa) menulis lirik bermuatan politik, agama, dan sekaligus gugatan sosial dalam satu badan lagu yang sama. Memang banyak musisi folk muncul belakangan ini. Tapi, sayangnya, sebagian besar mereka bicara soal tidur siang, piknik di taman, dan cerita-cerita yang selayaknya disimpan dalam catatan harian saja.

Tentu saja Che banyak membaca buku. Dan surat kabar. Volume bacaannya mengimbangi volume foto-fotonya di social media. Cukup adil.

Kelahiran mereka tak diharapkan… Harus dilenyapkan… Pembawa sial…

Demikian dia menulis dalam single teranyar milik Konspirasi berjudul Dominasi. Bukan kebetulan kalau lagu bertema sindiran terhadap rekayasa dominasi pria atas perempuan yang didukung budaya dan agama itu dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Konspirasi adalah grunge wangi. Setidaknya, begitulah banyak orang menyebut mereka. Ganteng, kaya, dan nge-grunge. Di telinga saya, musik mereka enak. Sangat bertenaga. Yang paling penting, liriknya layak didengar dan bahkan direnungkan.

Dominasi memiliki keanggunan rock khas Alice in Chains yang nyaris terdengar seperti metal dan keluwesan Stone Temple Pilots yang menyeret kepala untuk tak henti mengangguk. Bukan hal yang aneh mengingat semua anggota Konspirasi memang memuja dua band legendaris tersebut.

Pada Hari Kartini, lagu ini membuat saya sedih. Seratus tahun lebih setelah Kartini pergi, perempuan masih saja ditindas atas nama adat, agama, dan konsep-konsep usang lainnya.

Candu Baru dari Zat Kimia

Ada rasa sepi yang memaksamu berkelana jauh ke alam pikiran. Seperti rindu yang nyaris terlupakan, namun ternyata masih ada di sana. Laksana kenangan masa remaja yang mendadak menyentak. Candu Baru, album perdana Zat Kimia yang dirilis pada pengujung Agustus 2017 ini, saya rasa adalah gabungan semua yang kita rindukan dari musik rock Indonesia.

Ketukan yang terkadang ganjil berkelindan dengan liarnya raungan gitar yang, anehnya, terdengar harmonis. Teriakan vokal yang kerap nyaris meleset nadanya jatuh sempurna di antara gebukan drum dan bas yang berdentum, sebuah pagar suara yang memastikan agar petualangan bunyi yang terentang dalam 10 lagu itu berakhir baik-baik saja.

Feromon, yang diletakkan di urutan ketiga, itulah dia. Kenangan manis yang menyentak. Struktur lagunya terdengar klise namun sekaligus segar. Sebuah lagu cinta yang sepenuhnya bicara cinta, namun dalam rangkaian narasi suara yang juga sepenuhnya terasa baru.

Sejak lagu pertama, Reaktan, Zat Kimia sudah menyeret kita ke dalam sebuah petualangan. Tidak terdengar nada-nada yang dipaksakan. Mereka tidak berusaha menjadi rock. Tidak kepingin vintage, tidak juga modern. Tikungan bunyi, sergapan tema, hingga kegeraman vokal yang bergetar menggulung tiada henti. Dengarkanlah Ennui, maka kalian akan mengerti.

Bagi kumpulan rock asal Bali bernama Zat Kimia, rupanya tidak tersedia kotak musik. Bagi mereka, musik adalah perjalanan bunyi yang membebaskan semua orang untuk mengambil arahnya sendiri.

Tentu saja ada Aku, yang akhirnya didaulat menjadi pamungkas, penutup album dahsyat ini. Sebuah narasi lirih tentang manusia yang angkuh. Sebuah cermin bagi kita yang barangkali sudah kelewat sibuk untuk sekadar sejenak berhenti dan bertanya tentang arti hidup.

Sejak kali pertama mendengarkan album penuhnya malam ini, bagi saya Zat Kimia benar-benar telah jadi sebuah candu baru.