Tag Archives: grunge

Candu Baru dari Zat Kimia

Ada rasa sepi yang memaksamu berkelana jauh ke alam pikiran. Seperti rindu yang nyaris terlupakan, namun ternyata masih ada di sana. Laksana kenangan masa remaja yang mendadak menyentak. Candu Baru, album perdana Zat Kimia yang dirilis pada pengujung Agustus 2017 ini, saya rasa adalah gabungan semua yang kita rindukan dari musik rock Indonesia.

Ketukan yang terkadang ganjil berkelindan dengan liarnya raungan gitar yang, anehnya, terdengar harmonis. Teriakan vokal yang kerap nyaris meleset nadanya jatuh sempurna di antara gebukan drum dan bas yang berdentum, sebuah pagar suara yang memastikan agar petualangan bunyi yang terentang dalam 10 lagu itu berakhir baik-baik saja.

Feromon, yang diletakkan di urutan ketiga, itulah dia. Kenangan manis yang menyentak. Struktur lagunya terdengar klise namun sekaligus segar. Sebuah lagu cinta yang sepenuhnya bicara cinta, namun dalam rangkaian narasi suara yang juga sepenuhnya terasa baru.

Sejak lagu pertama, Reaktan, Zat Kimia sudah menyeret kita ke dalam sebuah petualangan. Tidak terdengar nada-nada yang dipaksakan. Mereka tidak berusaha menjadi rock. Tidak kepingin vintage, tidak juga modern. Tikungan bunyi, sergapan tema, hingga kegeraman vokal yang bergetar menggulung tiada henti. Dengarkanlah Ennui, maka kalian akan mengerti.

Bagi kumpulan rock asal Bali bernama Zat Kimia, rupanya tidak tersedia kotak musik. Bagi mereka, musik adalah perjalanan bunyi yang membebaskan semua orang untuk mengambil arahnya sendiri.

Tentu saja ada Aku, yang akhirnya didaulat menjadi pamungkas, penutup album dahsyat ini. Sebuah narasi lirih tentang manusia yang angkuh. Sebuah cermin bagi kita yang barangkali sudah kelewat sibuk untuk sekadar sejenak berhenti dan bertanya tentang arti hidup.

Sejak kali pertama mendengarkan album penuhnya malam ini, bagi saya Zat Kimia benar-benar telah jadi sebuah candu baru.

Acoustic Tribute to Chris Cornell

Ini hasil jepretan siapa? Let me know! Thx.

Setelah tiga botol bir dingin, segelas arak Bali, dan lebih dari 20 lagu berlalu, tidak banyak yang bisa saya ingat. Yang jelas, malam itu kami tak henti bernyanyi. Nomor-nomor dari Soundgarden, Audioslave, proyek solo, hingga cover songs yang pernah dibawakan Chris Cornell sepanjang karirnya disuguhkan. Paviliun 28, malam itu (23/5), berubah menjadi altar pemujaan bagi dewa grunge yang tutup usia sepekan lalu.

Dandi Ukulele

Tribut akustik dibuka oleh Dandi Ukulele sekitar jam 21.30. Sesuai namanya, dia memainkan lagu-lagu gubahan Cornell dalam aransemen ukulele.

Dracill

Berikutnya adalah Dracill. Separuh mabuk, dia menyuguhkan sesuatu yang tak terduga. Empat lagu yang dia mainkan dengan gitar kopong malam itu bernuansa Britrock. Oasis dan Beatles.

Ini adalah kali kedua saya melihat Dracill tampil solo di panggung. Dibanding penampilan pertamanya dua tahun lalu di bedah lagu Jiwa Yang Berani di Studio Sang Akar, Tebet, penampilannya malam itu terasa lebih jujur dan rileks. Bir dingin memang membantu.

Hot Rod (Nito-Andi) feat Amank

Sesi ketiga adalah salah satu yang ditunggu. Nito, Andi, Hendra, dan Amank bersatu menyuguhkan nomor-nomor legendaris macam Fell On Black Days, Be Yourself, Hunger Strike, hingga River of Deceit. Dengan gitar kopong hitamnya, Nito menunjukkan dengan sangat ciamik betapa tinggi teknik dan cita rasa permainan gitar dalam lagu-lagu gubahan Cornell.

Nito. The best, dah!

Tidak diduga, setidaknya oleh saya, Fadly Padi menggabungkan diri. Bersama Amank dia membawakan Can’t Change Me dengan apik. Sejurus kemudian, Che sumbang suara di nomor Black Hole Sun.

Che-Amank-Fadly-Nito

Sudah sejak tadi audiens turut bernyanyi. Ketika kemudian The Weekend Rockstar menutup malam dengan rendisi luar biasa dahsyat dari Like A Stone, You Know My Name, dan Sunshower, semua merasa lepas. Lega. Kesedihan biarlah tanggal dari hati dan kita kubur jadi kenangan saja.

The Weekend Rockstar

Amar yang malam itu kelewat banyak menenggak Arak, memaksa setlist melampaui rencana semula. Asyik memainkan gitar sambil duduk, dia memaksa yang lain memainkan The Day I Tried to Live, Say Hello to Heaven, Spoonman, dan entah apa lagi. Semua tidak ada dalam rencana sebelumnya. Saya sendiri sudah agak kebanyakan minum bir sehingga sulit mengingat urutan lagu.

Amar sudah mabuk arak Bali

Nyaris jam dua belas malam dan keriangan itu pun usai. Dalam hati tentu masih terasa perih. Ditinggal mati musisi yang mengisi hari-hari remaja hingga dewasa seperti sekarang ini, tidak semua orang bisa mengerti. Biar saja. Saya dan kamu, kita semua tahu. Cornell adalah pahlawan kita. Dulu, sekarang, dan selamanya.

Apa yang Ada di Kepala Eddie Saat Ini?

Untuk memastikan diri mereka tidak terlanjur jadi tragedi berikutnya, Eddie Vedder kemungkinan akan membubarkan Pearl Jam dan melanjutkan hidup dengan berjualan es kelapa muda di Hawaii. Mungkin sesekali dia menulis lagu dan memainkan ukulele di pesta-pesta kecil di depan api unggun. Itulah pikiran gila yang bergentayang di kepala saya dua hari terakhir ini.

Sebenarnya, pikiran itu tidaklah kelewat gila. Coba sabar sebentar. Saya akan urutkan satu per satu argumennya. Meski demikian, saya sarankan kalian janganlah terlalu memercayai ide ini. Anggap saja ini adalah obrolan warung kopi. Seru, mungkin saja terjadi, tapi tidak punya landasan fakta yang meyakinkan sama sekali. Tidak jauh beda dengan pertengkaran Pilkada DKI yang ramai beberapa bulan belakangan ini.

Kebangkitan Soundgarden, kalau boleh disebut demikian, tak lepas dari dukungan penuh Pearl Jam. Mereka membebaskan Matt Cameron dari jadwal tur demi merekam King Animal (rilis 2012), album pertama Soundgarden setelah 16 tahun vakum dan yang ternyata jadi album terakhir mereka. Mereka juga mengosongkan jadwal tur Pearl Jam demi memberi kesempatan bagi Matt Cameron tur bersama Soundgarden tahun ini. Kematian Chris Cornell, bagi yang belum mengetahuinya, terjadi beberapa jam setelah Soundgarden melakoni konser di Detroit, AS yang merupakan bagian dari rangkaian tur singkat tahun 2017.

Tidak berhenti di situ, rumor menyebutkan bahwa Telephantasm, album kompilasi yang rilis tahun 2010, juga menggunakan materi yang dikumpulkan oleh manajemen Pearl Jam. Belum lagi studio untuk latihan dan tenaga pengelola website. Semua itu, meski sepertinya tidak tercatat dalam pemberitaan resmi media massa, bermuara pada satu kesimpulan: Pearl Jam punya andil sangat besar dalam kebangkitan Soundgarden satu dekade terakhir.

Sekarang, pertanyaannya adalah: kalau ternyata kebangkitan itulah yang memberi beban berlebih pada jiwa Chris Cornell sehingga memutuskan untuk mencabut nyawanya sendiri (seperti yang dinyatakan secara resmi oleh kepolisian), bagaimana perasaan Eddie Vedder dan kawan-kawan?

Semua orang tahu bahwa Eddie Vedder punya kecenderungan memboikot dirinya sendiri. Menolak membuat album “pasaran” dan kemudian menelurkan No Code, menyatakan perang melawan Ticket Master, dan menimbang untuk berhenti bermusik setelah tragedi kematian 9 fans di Roskilde tahun 2000, semua sudah dia lakoni. Dan bukan tanpa gembar-gembor.

Kalau kemudian kematian Chris Cornell jadi genderang kesadaran bagi dirinya, kita bisa apa? Bagaimana kita bisa memahami seperti apa rasanya jadi satu-satunya suara grunge yang bertahan hidup setelah ditinggal mati Kurt Cobain, Layne Staley, dan kini Chris Cornell? Dengan semua mata di dunia menatap tajam ke dirinya, apa Eddie Vedder bisa tahan?

Kenyataan bahwa Eddie Vedder menulis Sirens setelah mendengar jeritan sirene tangah malam yang mengingatkan dirinya akan rapuhnya kehidupan, menyadarkan dirinya bahwa setiap saat bisa saja sirene itu menjerit untuk dirinya, sama sekali tidak menenangkan hati. Kematian tidak pernah jauh dari benaknya.

Sudah larut dan saya masih belum mengantuk. Pikiran gila seperti ini sebaiknya disuruh berhenti saja.