Tag Archives: guns n’ roses

GNR Singapura: Lima Remaja pada Masanya dan Seorang Pemuda Masa Kini

Bagaikan mata kail yang tajam dan jitu, melodi-melodi gitar yang dimainkan Slash malam itu menyambar dan mengait jiwa. Melodi yang menghiasi masa remaja saya itu menancap di relung hati dan kemudian menyeret saya ke sungai kenangan. Seperti seekor ikan yang nasibnya terkait kail, saya ikut saja. Tanpa daya. Demikian deras sungai kenangan itu sampai-sampai saya tenggelam di dalamnya dan baru bisa muncul ke permukaan tiga jam kemudian, saat konser Guns N’ Roses di Singapura ditutup dengan lagu Paradise City.

Well, Singapura.

Changi Airport (foto oleh Nito)

Pengalaman perdana saya menginjakkan kaki di negara itu tidak bisa dibilang menggembirakan. Sabtu (25/2) siang, saya mencicipi galaknya imigrasi mereka. Paspor yang sudah lengkap rupanya dirasa kurang memuaskan. Saya diminta mengeluarkan KTP. Sebelumnya, saya diminta membuka topi dan menunjukkan rambut gondrong, sesuai dengan foto di lembar paspor. Itu pun ternyata tidak mencukupi. Paspor saya ditahan, diperiksa oleh petugas khusus, dan kemudian saya diinterogasi. Pernah ditangkap polisi? Kerja di mana? Sebagai apa? Dan lain sebagainya.

Prosesnya tidak lama. Sekitar 15 menit. Tapi terasa sangat tidak menyenangkan.

Selesai urusan imigrasi, saya melanjutkan perjalanan bersama Tikko dan Nito, dua kawan dari komunitas Pearl Jam Indonesia (PJID). Siang itu kami hanya bertiga. Dua kawan lainnya, Haikal dan Hilman, akan bergabung sore nanti di kawasan Bugis, tempat kami akan menginap.

Omong-omong, Hilman memulai perjalanannya kali ini dengan tensi tinggi. Separuh jalan menuju bandara Soekarno-Hatta, dia baru ingat tiket konsernya tertinggal di rumah. Alhasil, terpaksa kirim pakai taksi.

Dari Terminal 1 Changi Airport kami menumpang sky train dan kemudian meneruskan perjalanan menumpang MRT. Kami melewati bangunan-bangunan baru dan lama yang semua terlihat bersih. Sungai dan kanal pun bersih dari sampah, meski airnya tidak bening.

Turun di stasiun Bugis, kami berjalan kaki mencari Five Stones Hostel yang sudah dipesan sebelumnya. Cuaca panas dan gerah pertanda mau hujan. Dan kami merasa lapar.

Kota ini sungguh tertib dan rapi. Menyeberang jalan, bahkan yang besar sekali pun, terasa aman. Tidak ada mobil dan bus yang menyerobot. Banyak mobil sudah berhenti bahkan saat lampu masih berwarna kuning. Trotoarnya lebar, bersih, dan terasa nyaman. Soal itu semua, Jakarta harus banyak belajar. Bukan saja pemerintahnya, melainkan terlebih masyarakatnya.

Nasi lemak 8,5 SGD

Menu makan siang kami kurang memuaskan. Untuk makanan dan minuman dengan total harga 11 SGD (sekitar Rp100.000), cita rasanya terbilang lumayan, tapi waktu tunggunya luar biasa lama. Demi Tuhan, jangan sekali-sekali meminta orang lapar menunggu makanan!

Dari sana kami bergeser sedikit ke kedai kopi. Kebetulan nama kedainya sama dengan salah satu judul lagu Pearl Jam. ARC. Kopinya pun, menurut selera saya, enak. Es kopi pahit di tengah udara Singapura yang semakin gerah. Nikmat sekali.

Tak berapa lama, Haikal dan Hilman bergabung.

Sore itu kami habiskan waktu untuk beristirahat di hostel. Kamar kecil yang bersih (karena semua penghuni diharuskan pengelola hostel meletakkan alas kaki di pintu masuk di setiap lantai) dan AC-nya sejuk itu berisi 3 ranjang tingkat. Lima sudah terisi oleh kami, sementara satu lagi ternyata diisi oleh orang Bandung. Yudi namanya. Dia juga ke Singapura dalam rangka nonton konser Guns. Klop!

Selagi istirahat di hostel, Nito mengalami kejadian lucu. Dia terkunci di tangga darurat akibat salah kira itu pintu menuju kamar mandi. Untung Tikko dengar suara Nito menggedor dan kemudian membukakan pintu. Mulanya Hilman mengira itu suara tukang yang sedang merenovasi gedung. Kalau saja nasib berkata lain, barangkali kejadian itu akan berakhir horor.

Hipster’s Spot (foto oleh Nito)

Seperti sudah diduga, hujan turun dengan deras dan cukup lama. Saya lega. Itu artinya cuaca malam nanti bakal cerah. Dalam benak saya sudah terbayang kenikmatan yang menanti: nonton Guns di bawah langit cerah, menyanyikan (lebih tepatnya, meneriakkan) lagu demi lagu yang saya hapal di luar kepala bersama kawan seperjalanan, sambil menenggak bergelas-gelas bir dingin.

Apa lacur, mimpi indah itu pada akhirnya tidak jadi kenyataan. Angan-angan saya harus berakhir di comberan.

Shuttle Bus

Tanda-tanda petaka sudah terlihat ketika kami tiba di Singapore Expo untuk menumpang shuttle bus. Antrian pembeli tiket mengular. Untung, atas saran Hilman yang sebelumnya tersiksa saat nonton konser Metallica tahun 2013, Tikko sudah membeli tiket untuk kami sejak di Jakarta. Bagaikan tamu VIP kami melenggang melewati ratusan orang yang mengantri, langsung menuju deretan shuttle bus yang siap mengantar.

Dan tentu saja jalanan macet.

Guns belok kanan karena they are always right!

Tiba di lokasi konser, matahari sudah nyaris sembunyi. Antrian penonton di pintu masuk Pen A dan Pen B membuat perut mulas. Tak punya pilihan lain, kami menceburkan diri. Tak kurang dari tiga puluh menit terbuang dalam antrian itu. Tiket ditukar gelang penanda yang bisa diisi uang untuk belanja makanan dan minuman di dalam area konser.

Saat masuk ke hall yang luas dan tinggi, matahari sudah sepenuhnya menghilang. Ribuan orang mengantri di bar, merchandise outlet, dan tempat mengisi saldo gelang. Saya isi 60 SGD dan Tikko isi 50 SGD. Nantinya gelang-gelang celaka itu akan jadi masalah yang membuat marah ribuan penonton dan barangkali jadi kejatuhan LAMC selama-lamanya.

Merchandise outlet

Wolfmother sudah lama undur diri dari panggung. Bersama ribuan penonton lainnya kami bergerak ke Pen B. Yang pertama mencuri perhatian adalah antrian di semua bar dan outlet makanan. Sedikitnya 100 orang per antrian. Berhubung kami lapar, jadi saya memaksakan diri ikut mengantri. Bersama Haikal saya antri di outlet Black Boys (sandwich), sementara Tikko antri di outlet minuman. Saya kemudian memisahkan diri dari Haikal untuk antri di outlet Churros. Hilman dan Nito masih antri di outlet penjual merchandise di hall.

Asal tahu saja, baru dua jam kemudian kami mendapatkan sandwich yang ditunggu. Tepatnya setelah Guns memainkan lagu kesebelas mereka, New Rose. Itulah nasib buruk yang harus ditanggung oleh Hilman dan Haikal. Menikmati Guns dari antrian makanan!

Persetan dengan penyelenggaraan konser yang payah. Malam itu saya jauh-jauh ke Singapura untuk melihat Axl Rose, Slash, dan Duff McKagan memainkan lagu-lagu yang jadi soundtrack kegilaan masa remaja. Bukan menilai ini itu dan menggerutu.

Tanpa bir dingin dan dengan perut menahan lapar, saya memulai perjalan memutar waktu. It’s So Easy, Mr. Brownstone, dan Chinese Democracy jadi menu pembuka. Tidak ada yang salah dari mereka. Tiga Serangkai yang jadi pahlawan masa remaja saya itu menghantam Singapura dengan kekuatan tak terbantahkan.

Terlebih ketika Slash menggoda penonton dengan raungan gitar yang sangat akrab di telinga. Dalam hati saya menduga, pastilah lagu itu. Dan memang benar adanya. Axl yang terlihat gendut tapi dalam mood yang sangat bagus, meneriakkan kalimat pembuka yang jadi mantra bagi jutaan penggemar Guns di dunia. You know where you are? You’re in the jungle, baby. You’ re gonna diii…eee!!!

Dengan itu, gerbang kegilaan tengah malam khas Guns di Singapura resmi dibuka.

Berturut-turut kemudian menghantam Welcome to The Jungle, Double Talkin’ Jive, Better, Estranged, Live and Let Die, Rocket Queen, You Could Be Mine, New Rose, This I Love, Civil War, Coma, Slash Guitar Solo, Speak Softly Love (Godfather’s OST), Sweet Child O’ Mine, Yesterdays, Out Ta Get Me, Wish You Were Here (Pink Floyd), November Rain, Knockin’ on Heaven’s Door (Bob Dylan), Nightrain. Encore diisi dengan Sorry, Patience, The Seeker (The Who), dan Paradise City.

Slash on the big screen (foto oleh Haikal)

Setelah menonton Slash bersama Myles Kennedy di Senayan dan Guns versi Axl di Ancol, saya bisa bilang bahwa penampilan Slash malam itu sungguh luar biasa. Permainan gitarnya membawa Guns ke tingkat tertinggi konser rock yang rasanya sulit ditandingi. Lagu-lagu masa remaja saya, di ujung jemarinya, malam itu mewujud sempurna dan menancap ke dalam jiwa.

Solo guitar di penghujung Double Talkin’ Jive panjangnya tak kurang dari dua menit empat puluh detik! Duetnya dengan Fortus di Wish You Were Here yang mereka bawakan secara instrumental sungguh manis. Keduanya bergantian memainkan posisi gitaris pertama dan kedua. Dan permainan gitarnya di Speak Softly Love, alamak!

Estranged dan November Rain, jangan ditanya. Slash menyayat langit malam Singapura dan membuat ribuan orang meneteskan air mata bahagia.

Malam itu akhirnya saya sadar. Guns sesungguhnya punya dua vokalis: Axl dan Slash. Yang satu bernyanyi menggunakan gitarnya.

Energi Guns di You Could Be Mine, Civil War, Nightrain, dan Paradise City tidak mungkin terbantahkan. Malam itu mereka memuncratkan semua keganasanan rock yang indah di sana. Singapura, kalian sungguh beruntung.

Tiga jam dan semua berakhir dengan manis. Guns memberi salam perpisahan dengan bersama membungkukkan badan ke puluhan ribu penonton yang tak henti mengelu-elukan mereka.

Bubaran Guns

Sebelum konser berakhir, seorang kawan dari PJID bernama Urip (yang ternyata esok harinya ulang tahun) dengan baik hati membelikan kami segelas bir dingin dan beberapa gelas soft drink. Jadilah konser itu lumayan sempurna bagi saya. Meski, tentu saja, kami kemudian kembali masuk neraka karena panitia menolak refund saldo gelang dan kami harus mengantri shuttle bus lebih dari satu jam lamanya.

Well, apa mau dikata. Itulah yang terjadi. Saya menerima semua dengan besar hati.

All in all, Slash is fucking diamond in the sky. Guns still kicking ass. And fuck you, Singapore!

Duff McKagan: It’s So Easy and Other Lies

Siapapun yang menyukai permainan drum Steven Adler di album Appetite for Destruction seharusnya berterima kasih kepada Duff McKagan. Kenapa? Karena dia dan Izzy Stradlin-lah yang memaksa Adler meninggalkan gaya permainan metalnya dan mengeluarkan gaya baru yang kemudian jadi panduan drum heavy metal selama satu dekade berikutnya.

Paperback: 384 pages
Publisher: Touchstone; Reprint edition (March 20, 2012)
Language: English
ISBN-10: 1451606648
ISBN-13: 978-1451606645
Product Dimensions: 9.1 x 6.2 x 1 inches

 

 

Dan, seperti musisi rock kelas dunia lainnya, Duff dan Izzy melakukannya dengan gaya yang sangat khas.

Alih-alih mengajak Adler berdiskusi, keduanya malah mencuri perlengkapan drum Adler satu per satu, setiap kali mereka berlatih, hingga akhirnya drum set Adler terdiri dari perangkat yang sangat minim saja!

Cerita-cerita kecil di balik kehebatan Guns N’ Roses era Appetite for Destruction seperti itulah yang jadi bagian paling menarik dari buku setebal 384 halaman ini. Sebuah buku yang disajikan dengan sangat terbuka.

Ada juga kisah mengenai pertengkarannya dengan Axl Rose yang berujung pada keluarnya dia dan Slash dari Guns N’ Roses. Kemudian cerita tentang kegilaannya dalam mengkonsumsi alkohol dan berbagai jenis narkoba, serta usahanya yang sangat keras untuk tetap berkarya dalam musik.

Semua itu mengalir deras, tersusun dalam kata-kata dan kalimat lugas yang lebih terasa seperti novel dibanding sebuah otobiografi.

Jika semua informasi di dalam buku ini benar, maka teranglah sosok Duff McKagan bagi kita semua, seperti sebutir batu di dasar sungai yang berair bening.

Buku ini, seperti kebanyakan buku otobiografi rocker senja usia lainnya, tentu saja menceritakan perubahan kepribadian sang rocker. Mulai dari remaja miskin yang tak kenal lelah memberontak, menjalani hidup penuh resiko, hingga menjadi bintang dunia dan akhirnya dipaksa kembali ke kenyataan, menjadi seorang manusia biasa berusia tua yang mensyukuri karunia terhebat miliknya: kehidupan.

Jika Dave Mustaine kembali kepada Tuhan, maka Duff McKagan mencari keselamatan melalui martial art dan menu olahraga keras lainnya, seperti hiking dan mountain biking.

Dia juga sangat banyak menulis. Tak tanggung-tanggung, yang ditulisnya adalah topik-topik berat seperti kolom finansial di sebuah koran lokal Seattle. Dan tentu saja, tentang musik.

Setelah membaca buku ini, saya memandang sosok Duff McKagan dengan rasa hormat yang berbeda. Sebelumnya saya menghormatinya semata karena kehebatannya bermain bas di Guns N’ Roses. Namun kini, saya menghormatinya karena kehebatannya bertahan sebagai manusia, setelah semua yang dilaluinya. Duff McKagan, di mata saya kini, adalah seorang survivor sejati.

Ancol Paradise City!

Dengan kaos lengan kuntung bergambar The Who dan jenggot panjang yang dikuncir, Bumblefoot terlihat benar-benar menikmati penampilannya bersama Guns N’ Roses (GN’R). Ditambah aksi mencuri hatinya dengan memainkan lagu Indonesia Raya, yang diamini 7.000-an lebih audiens Mata Elang International Stadium (MEIS), Ancol, resmilah Bumblefoot jadi gitaris favorit terbaru saya, hahaha!

 

Guns N’ Roses di MEIS Ancol Jakarta 2012 (foto oleh Bobo)

 

Sehari sebelumnya, semua fans GN’R mendadak panik ketika jam 1 siang Polda Metro Jaya, melalui akun Twitter mereka, mengumumkan bahwa konser GN’R yang seharusnya digelar di Lapangan D Senayan diundur dan dipindahkan lokasinya. Alasannya: faktor keamanan dan cuaca. WTF!

Maka tertawalah semua orang yang sejak awal memang menyimpan kebencian (atau setidaknya sinisme) pada GN’R formasi baru ini. “Tuh kan! Gua bilang juga apa?!” Barangkali itulah kalimat yang melintas cepat di kepala mereka. Fuckers.

Namun semua keraguan dan sindiran itu segera masuk ke comberan ketika Welcome to The Jungle, dengan seluruh kengerian jeritan buas Axl Rose dan kebisingan musik khas GN’R meledak di MEIS, Minggu (16/12) siang, sekitar jam 13:30 WIB.

Tangan terangkat ke udara. Jeritan histeris membahana. Ladies n’ gentlemen, please welcome… GUNS N’ FUCKIN’ ROSEEESSS!!!

Mulai detik itu, hingga tiga jam kemudian, GN’R menghantam seperti badai. Bukan badai sempurna memang, mengingat di banyak kesempatan Axl Rose lari ke belakang panggung, meninggalkan teman-temannya ber-jamming, unjuk kebolehan solo gitar, piano, atau bahkan membawakan lagu-lagu yang bukan milik GN’R.

Apa yang sebenarnya dilakukan Axl Rose di belakang panggung? Hanya Tuhan yang tahu!

Tapi yang pasti, itu adalah tiga jam paling mengharukan dalam hidup saya, selain pernikahan saya tempo hari 🙂

Semua kenangan masa remaja mengalir deras di kepala. Berlari dalam darah, menghangatkan dada dan kemudian meluncur keluar melalui teriakan, acungan tangan ke udara dan aksi lompat-lompat di atas bangku yang sesungguhnya, norak.

Mau bagaimana lagi? Bersama Nirvana dan Pearl Jam, GN’R adalah musik yang benar-benar merasuk dalam kehidupan remaja saya. The soundtrack of my fucked up teenage life, hahaha!

Chinese Democracy , Welcome to the Jungle, It’s So Easy, Mr. Brownstone, Estranged, Rocket Queen, Live and Let Die, This I Love, Better, Catcher in the Rye, Street of Dreams, You Could Be Mine, Sweet Child O’ Mine, November Rain, Don’t Cry, Civil War, Knockin’ on Heaven’s Door, Nightrain, Patience dan Paradise City jadi amunisi utama GN’R sore itu, ditambah beberapa cover song milik The Who , Led Zeppelin dan Pink Floyd.

Omong-omong soal sore, dalam nada bercanda, Axl Rose memberi salam kepada audiens Jakarta. “I’d like to say something I didn’t often say to you all: good AFTERNOON!”

Ya, bukan rahasia lagi jika konser GN’R hampir selalu telat sehingga baru dimulai menjelang tengah malam. Konser mereka di Jakarta yang dilangsungkan siang hingga sore hari jadi sesuatu yang diluar kebiasaan.

Namun sore itu bukan hanya jadualnya saja yang diluar kebiasaan. Mood Axl Rose pun, diluar dugaan, ternyata sedang sangat bagus!

Sepanjang konser dia berlari-lari dari ujung panggung ke ujung lainnya. Menari. Tertawa. Bercanda.

Dalam satu kesempatan dia bahkan dengan iseng mengikat kaki DJ Ashba, yang sedang memainkan solo, menggunakan selotip merah. Dan vokalnya, untuk ukuran rocker yang sudah berusia 50 tahun dan jelas kelebihan berat badan, layak diacungi dua jempol!

Axl Rose sore itu sama sekali bukan sosok yang belakangan ini digambarkan oleh nyaris seluruh media di dunia sebagai rocker tua biang onar yang sudah tidak kuat bernyanyi dan hanya bisa membuat kesal penggemarnya.

Sore itu, semua fans GN’R di MEIS Ancol boleh dibilang sebagai golongan fans yang paling beruntung! Hell, yeah!

Jika drumer dan basis GN’R saat ini memang tidak bisa disebut sebagai yang terbaik di kelasnya, sementara tambahan satu kibordis untuk menemani Dizzy Reed lebih terasa sebagai pemborosan, maka tidak demikian halnya dengan tiga gitaris mereka.

Richard Fortus yang membawa warna blues, Bumblefoot dengan nuansa metal namun berpenampilan santai dan bebas, serta DJ Ashba yang mewakili generasi paling modern, sungguh mampu menyuguhkan kualitas musik kelas dunia. Ketiganya barangkali memang tidak sanggup menulis lagu dan melodi gitar sehebat Slash, namun dalam konser di Ancol itu, perpaduan ketiganya membuat saya, dan barangkali juga fans GN’R lainnya, tidak lagi kelewat merindukan kehadiran Slash di panggung.

Orang boleh bicara apa saja tentang Axl Rose dan formasi GN’R terbarunya ini. Namun yang jelas, bagi saya, tiga jam bersama mereka kemarin sore adalah salah satu pengalaman musik terbaik yang bisa saya rasakan.

Demi masa remaja yang sudah berlalu dan tak akan pernah bisa kembali, tiup peluitmu sekerasnya dan hanyutlah bersama Paradise City… Priiiitttt!!!