Tag Archives: iwan fals

Konser Hijau Iwan Fals

Aksi Penonton Konser Hijau
Aksi Penonton Konser Hijau

Matahari sudah tergelincir ke barat bumi Leuwinanggung ketika Iwan, dengan suaranya yang masih luar biasa mempesona, mengumandangkan mantra sakti bikinan Rendra. “Banyak orang hilang nafkahnya… Aku bernyanyi menjadi saksi… Banyak orang dirampas haknya… Aku bernyanyi menjadi saksi…”

Dan ribuan orang yang menyemut di depan panggung yang adalah halaman rumahnya sendiri, mengikuti dengan khusyuk. Sore itu, dibawah siraman cahaya matahari yang keemasan, kami semua tersungkur dalam pengakuan. Dalam kesaksian.

Jika ada musisi yang bisa mengubah konser menjadi panggung spiritual, Iwan adalah orangnya. Jika ada yang mampu menyentuh hati lelaki sangar bertato yang sehari-hari cari makan di jalan dan tepian malam, tentu Iwan jugalah orangnya.

Dan sore itu memang banyak sekali lelaki bertato. Gondrong merdeka rambut mereka. Sosok-sosok kekar dan sangar itu menggeletar, menjeritkan isi hatinya sembari mengepalkan tinju ke langit biru bersama setiap lagu yang menggelinding deras seperti peluru.

Bagi mereka, Iwan adalah dewa. Lagu-lagunya, tentu saja, adalah mantra suci yang dirapal dari lubuk hati.

Duduk manis di bawah naungan atap di bangku penonton VIP, saya menikmati itu semua bersama seorang kawan lama. Mas Gowal namanya.

Di bawah sana, dihajar matahari sore yang tidak kenal ampun, tak henti mereka bernyanyi. Dari satu lagu ke lagu lainnya. Dari lagu sejuta umat macam “Badut” dan “Kesaksian” hingga ke lagu yang judulnya saja saya tidak tahu. Pemandangan seperti ini, tentu saja, tidak ada di televisi.

Dewi Gita hadir membawakan 3 lagu. Dengan genit dia menggoda penonton yang, saya duga, tidak sepenuhnya peduli.

Iwan feat Burger Kill Menghantam Penonton
Iwan feat Burger Kill Menghantam Penonton

Adalah Burger Kill yang kemudian mampu, setidaknya menurut penilaian saya, menggetarkan hati para pemuja Iwan sore itu. Dengan apik dan penuh tenaga mereka membawakan “Puing II” dan “Air Mata Api”.

Penonton, yang semula mencemooh, langsung merespon dengan meneriakkan setiap patah kata dalam kedua lagu itu. Dan mereka, terbawa aransemen Burger Kill yang keras menghantam, turut mengacungkan tangan ke udara seperti layaknya metal militia. “Air matanya… Air matanya… APIII…!!!”

Indonesia Raya versi 3 Stanza
Indonesia Raya versi 3 Stanza

Dibuka dengan “Indonesia Raya” versi 3 stanza dan kemudian ditutup dengan lagu tema konser “Pelangi” yang dibawakan sendirian saja bermodal gitar kopong, konser bertajuk “Hijau” sore itu meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Bukan semata urusan kesempurnaan penampilan Iwan dan band pendukungnya, melainkan juga tentang nilai konser itu.

Melihat ribuan penonton yang hadir dan harga tiket yang dijual, saya menaksir bahwa nilai konser sore itu mendekati angka 100 juta rupiah.

Ah, Iwan memang hebat. Gelar konser di halaman rumahnya sendiri saja bisa sampai segitu!

 

Raya (2013): Iwan Belum Berhenti Memberontak

Iwan tak henti memberontak. Barangkali, sampai mati pun dia akan tetap memberontak. Siapa pun yang bilang Iwan sekarang lembek pastilah belum beli album terbarunya yang berjudul “Raya”.

 

Peluncuran Album Raya (foto by Tribunnews.com)

 

OK. Dia memang jualan kopi. Namun, setidaknya dia jual kopi Indonesia. Dia juga tidak pernah munafik dan menampik keterlibatannya dalam soal ini. Dan, jika itu bisa menghidupi semangat bermusiknya, apa masalahnya?

Dalam “Katanya”, Iwan meratapi mimpi-mimpi kosong Indonesia. Seolah melanjutkan tangisannya di pusara Bung Karno di lagu “Negeri Kaya”, dalam lagu ini dia akhirnya memilih untuk tegar dan mengajak kita semua menghentikan kecengengan dan berdiri menghadapi segala tantangan.

“Katanya zamrud khatulistiwa. Nyatanya kilau air mata. Katanya serpihan surga. Nyatanya?”, demikian Iwan melantunkan sindiran dan sekaligus menampar kita semua.

Delapan belas lagu dalam album ini bercerita tentang banyak hal. Tentang anaknya, Raya. Tentang kecanduan kita semua pada internet. Tentang sampah. Tentang karate dan filosofi luhur yang terkandung di dalamnya. Tentang laut, petani, demonstrasi, kisah cinta orang kecil, dan tentu saja tentang penguasa yang brengsek.

“Rekening Gendut” dan “Bangsat”, terlepas dari aransemen musiknya yang tidak terlalu menggelegar, sesungguhnya sangat keras dan tajam mengkritik para penguasa bangsa. Iwan, sekali lagi, sama sekali jauh dari kesan lembek.

Album ini, sejauh yang saya tahu, tidak bisa didapatkan di toko musik biasa. Kita hanya bisa memperolehnya dengan melakukan pemesanan melalui e-mail ke tokokita@tigarambu.co.id atau melaui SMS ke 081398055110, 081210881953, dan 081210881941.

Bagi saya, dan rasanya juga kamu semua yang menggemari karya-karya Iwan, album “Raya” sangat layak dibeli, dinikmati, dan dikoleksi.