Tag Archives: java preanger

Kopi Java Preanger

Preanger, Priangan dan Parahyangan. Tiga nama, satu arti. Rumahnya para dewa. Ya, betul. Ketiga nama tersebut juga mengacu pada satu tempat saja. Wilayah pegunungan di Jawa Barat.

 

 

Wilayah ini bukan saja sejuk, indah dan kaya akan perempuan-perempuan cantik, melainkan juga kopi. Dan kopinya, enak sekali!

Dari wilayah ini dunia mengenal apa yang kini disebut sebagai kopi Java Preanger. Jenis kopi bagus yang hanya bisa tumbuh dengan baik di ketinggian 1.400-1.600 mdpl. Adalah Belanda yang pertama kali menanam kopi ini di Indonesia, dengan membuka ladang kopi Arabika pertamanya pada abad ke-16 di kota Garut.

Hari ini saya dapat kiriman 100 gram kopi Java Preanger dari seorang teman. Paketnya bagus. Tertera juga di bungkusnya jenis kopi, ketinggian lokasi tanam, cara roasting, aroma, keasaman dan cita rasa dari kopi ini. Semua lengkap. Benar-benar paket yang baik bagi penikmat kopi amatir seperti saya, yang memang butuh panduan cita rasa agar tidak bingung menikmati beragam rasa kopi yang ada.

Tertulis di bungkus paket itu bahwa aroma kopi Java Preanger adalah gula-madu bakar dan umbi-umbian. Tingkat keasaman medium. Sementara cita rasa adalah segar dengan tekstur yang lembut.

Itu adalah hasil dari lidah dan hidung para ahli kopi. Tentu saja itu benar. Mereka adalah orang-orang yang diberkati dengan bakat khusus dan mendapatkan pelatihan khusus juga. Tapi saya selalu suka mendeksripsikan rasa kopi dengan cara saya sendiri. Berdasarkan lidah, hidung dan pengalaman selama ini. Meski biasanya, hasilnya beda, hahaha!

Setelah diseduh dalam bentuk kopi tubruk (tanpa disaring dan tidak diberi gula), kopi ini menghasilkan warna coklat keemasan yang terang. Sama sekali tidak pekat.

Menurut penciuman saya, Java Preanger memiliki aroma manis seperti gula terbakar (hampir seperti bau karamel tapi jauh lebih lembut) dan rempah-rempah yang lumayan tajam. Sesap sedikit dan lidah saya merasakan sensasi sedikit berminyak, kopi yang segar, encer, agak asam dan spicy. Setelah diteguk, kerongkongan terasa baik-baik saja. Tidak ada rasa pekat yang tertinggal di sana. Ciamik!

Saya memang suka kopi yang lembut. Tidak pekat dan keras seperti layaknya sajian espresso di kedai-kedai ibu kota. Sebagian besar kopi yang saya minum diseduh menggunakan French press, pour-over atau syphon. Kecuali, tentu saja, es kopi Vietnam yang pekat, keras dan manis untuk hari-hari yang panas.

Java Preanger, seperti namanya, memang kopi yang layak disajikan di kediaman para dewa.