Tag Archives: konspirasi

Lagu Baru Konspirasi: Mantra Provokasi

Seperti halnya agama, di Indonesia musik memang lebih berguna sebagai candu ketimbang alat pencerah jiwa. Agama dan musik kerap digunakan, kalau bukan selalu, untuk menutupi kebusukan. Untuk memalingkan wajah kita dari kenyataan.

Coba saja perhatikan, berapa banyak ceramah agama yang mengajak kita berhenti korupsi? Alih-alih melakukan itu, rumah-rumah ibadah malah membuka tangan lebar-lebar menerima sumbangan dari koruptor kelas kakap. So sick!

Berapa banyak lagu di radio dan televisi yang menyuarakan kenyataan pahit? Perasaan teralienasi, depresi, sakitnya tumbuh jadi remaja yang banyak masalah, dan ketidakadilan yang menimpa kita? Bisa dihitung dengan jari! Hampir semua semata bicara soal cinta. Alangkah membosankan. Dan dangkal.

Kedangkalan. Itulah tema utama yang diangkat Konspirasi dalam lagu terbaru mereka yang berjudul Mantra Provokasi. Sebuah tema yang rasanya tidak mungkin ketemu dan diramu kalau penulis liriknya tidak gemar baca koran dan buku.

Ayat-ayat kau gunakan untuk mencekik lawan-lawan politik… Demikian lirik pembuka di lagu itu. Jelas arahnya kemudian ke mana. Radikalisme, kekuatan politik yang menunggangi isu agama dan SARA, serta kedangkalan otak orang Indonesia. Semua itu kembali ditegaskan dan disimpulkan dalam lirik di bagian chorus yang berbunyi: Ancaman bangsa adalah kedangkalan!

Sejujurnya, saya berharap album baru Konspirasi berisi lagu-lagu rock manis namun jantan. Semacam Live atau Stone Temple Pilots. Tapi, menilik lagu pertama di album kedua yang bakal segera mereka rilis nuansanya seperti itu, saya sebaiknya mengubur harapan dalam-dalam.

Di satu sisi, saya sebenarnya malah senang. Ketika kondisi politik dan bangsa kacau balau seperti belakangan ini, rasanya malu mengaku sebagai fans musik rock kalau tidak ada satu pun rock band yang angkat suara soal itu dalam lagu-lagu mereka. Konspirasi, barangkali, bisa jadi alasan bagi saya untuk tetap menegakkan kepala saat berjalan dan mengaku-ngaku sebagai fans musik rock di Indonesia.

Tribute to Nirvana di @America

Tribute to Nirvana di @America

Tidak perlu jadi orang jenius untuk menduga bahwa acara “Tribute to Nirvana”, diadakan di mana pun di belahan kota Jakarta, pasti akan menarik massa. Terbukti semalam (24/1), AtAmerica yang terkubur di kotak besi berpenjagaan ketat layaknya kantor CIA di dalam gedung Pacific Place, penuh sesak!

Nirfanas, yang digawangi oleh Amar Besok Bubar (gitar), Romy Konspirasi/Omni (bas), Ryan (drum), dan Abah Jaya Roxx sebagai sound engineer meledakkan ratusan penggila grunge yang memadati kotak besi jahanam itu. Mulai dari bibir panggung hingga undakan teratas, semua bernyanyi. Sesekali audiens di bibir paggung malah nekat melakukan crowd surfing yang berujung pada pencidukan oleh aparat setempat.

Saya sendiri datang sangat telat. Hanya kebagian “Something in The Way”, “Territorial Pissing”, “Smells Like Teen Spirit”, “Lithium”, “Heart-shaped Box”, dan beberapa nomor yang saya lupa judulnya. Tapi jelas, sangat puas!

Tampil separuh mabuk, Amar terus menghantam tanpa banyak cingcong. Di penghujung penampilannya saja dia sempat beberapa kali bicara kepada audiens dan sesama anggota band. Sisanya, hajar terus seperti sedang dikejar setoran!

Dan dia, seperti biasa, memang tampil apa adanya. Seolah tanpa beban atau misi apapun juga.

Tentu saja itu bohong. Amar, sejauh yang saya kenal, punya pemikiran serius soal grunge, musik rock, lirik, dan pergerakan scene bawah tanah. Hanya saja dia memang selalu tampil seperti orang bodoh. Barangkali itu memang disengaja. Barangkali justru di situlah letak kecerdasannya.

Seumur hidup, saya belum pernah melihat cover band memainkan Nirvana dengan sempurna. Bahkan Nirvana-nya sendiri pun, dalam banyak kesempatan, tampil berantakan. Setidaknya, itu yang saya simpulkan dari beberapa keping DVD konser Nirvana yang saya punya. Dan malam tadi, Nirfanas juga bukannya tanpa kekurangan.

Namun demikian, sebagai penyuka grunge, tentu saya sangat menikmati konser ini. Dan melihat sebagian audiens yang menyesaki AtAmerica semalam ternyata berusia remaja, setidaknya lebih muda dibanding saya, rasanya sungguh bangga!

Grunge, meski sudah divonis mati oleh sebagian besar orang di seluruh dunia, ternyata masih hidup. Masih ada nafasnya. Masih kick ass!!!

Grunge Wangi a la Konspirasi di RSI

Terlambat nyaris satu jam dari jadual, Konspirasi langsung menghantam café Rolling Stone Indonesia dengan 15 lagu (3 diantaranya di-medley), Kamis, 18 September 2014 lalu. “Down”, “Shine”, “Jeremy”, “Israel’s Son”, “Black Hole Sun”, dan “Spoonman” adalah beberapa nomor cover yang mereka suguhkan, disamping tentu saja lagu milik sendiri macam “Arogan”, “Melawan Rotasi”, “Lelaki”, “Melacak Jejak Purba”, dan “Dilema”.

Tampil full team dengan konstum kemeja hitam, mereka meledakkan café yang malam itu dipadati audiens dengan distorsi maksimal.

Omong-omong soal audiens, berbeda dari kebanyakan konser grunge lokal yang sering saya datangi, audiens Konspirasi terbilang wangi. Cewek-ceweknya cantik dan bersih. Sangat memanjakan mata. Sementara cowok-cowoknya, saya tidak peduli.

Sejujurnya, asyik juga mengamati mereka penuh semangat ikut bernyanyi di hits sejuta umat macam “Shine” dan “Jeremy”. Sebagian, sepertinya yang memang fans garis keras Konspirasi, turut bersenandung bersama “Melawan Rotasi”.

Bagi saya, yang beberapa kali sempat menyaksikan mereka beraksi, baik itu di lapak mungil di kantor majalah HAI! ataupun di arena besar seperti Java Rockingland, penampilan Konspirasi malam itu rasanya bukan yang paling kick ass. Che, setidaknya, terlihat kesulitan karena memang dia sedang terserang flu berat. Alhasil, “Melacak Jejak Purba”, nomor kedoyanan saya dari album perdana mereka, meluncur nyaris seadanya saja.

Namun demikian, konser malam itu berjalan seru dan intim. Tak kurang dari Olitz Alien Sick, Ryo Domara dari Sonic Wood, dan beberapa personil Omni Band yang turut sumbang bakat dalam sesi jamming.

Distorsi, bir dingin, dan canda tawa kawan dekat. Jika kamu sama cintanya pada musik seperti saya maka sesungguhnya sajian rock seperti inilah yang kita butuhkan. Juga rindukan.

Di tengah kebisingan kota Jakarta, di sela kesibukan hidup yang menggelinding semakin tak terkendali, suguhan musik seperti inilah yang dapat kita andalkan agar tetap waras. Konser rock yang kick ass dan, pastinya, jujur!