Tag Archives: megadeth

Theatre of Deth

Tiket konser Megadeth di Singapura 2017

Ini kali kedua saya berkunjung ke Singapura. Kali pertama berkunjung adalah ketika saya bersama beberapa kawan menonton konser GNR (baca di sini: GNR Singapura). Waktu itu, saya ditahan sebentar di imigrasi. Petugasnya bilang, berkas saya diperiksa lebih teliti. Pada kunjungan kedua ini pun, untuk menonton konser Megadeth, sama saja. Saya ditahan dengan alasan pemeriksaan yang lebih teliti. Whatever, Singapore. You suck. Big time!

Senin siang (1/5) saya berangkat bersama Rudi, orang yang mendesain semua buku yang pernah saya terbitkan bersama Edraflo. Dia adalah juga salah satu kawan minum kopi terbaik yang saya kenal. Beberapa jam menunggu di Changi, malamnya Ridwan bergabung. Saya baru kenal dia malam itu. Dialah yang menyediakan akomodasi selama kami di Singapura. Thx, bro!

Terlalu ganteng untuk dibiarkan lewat begitu saja oleh imigrasi Singapura

Besoknya, Selasa (2/5), saya dan Rudi berkunjung ke Orchard Road. Makan siang dan main ke toko buku. Sialnya, dari ratusan novel grafis yang dipajang di rak, tidak satu pun yang menyentuh hati. Alhasil, saya ke luar toko tanpa membeli satu buku pun.

Sorenya, kami meluncur ke Kallang Theatre, tempat konser Megadeth akan digelar. Setelah menunggu sebentar dan mengantri untuk menukarkan tiket, kami masuk ke gedung pertunjukan. Sebuah teater kecil. Kapasitas teater itu hanya 1.744 tempat duduk. Menurut saya, terlalu kecil bagi band pemenang Grammy sekelas Megadeth. Tapi, tahu apa saya soal cara menggelar konser yang menguntungkan?

Tidak ada hingar bingar penonton dan antrian mengular seperti saat menonton GNR dua bulan sebelumnya. Wajar. Jumlah penonton Megadeth barangkali hanya sepersepuluh GNR waktu itu atau bahkan kurang. Akibatnya, mengantri terasa sangat santai. Hampir seperti mengantri makan di kantin kantor, bukan seperti mengantri konser metal kelas dunia. Saya jadi bingung, harus bersyukur atau kecewa. Entahlah.

Official merchandise Megadeth

Official merchandise yang dijual pun tidak seberapa banyak. Hanya ada beberapa jenis kaos, topi, dan CD. Saya sendiri tidak pernah suka dengan kaos metal. Gambarnya terlalu besar dan sangar. Kalau saya mengenakan kaos Megadeth, dengan rambut yang gondrong kriwil seperti saat ini, saya khawatir nanti orang-orang di kereta menyingkir karena takut, ha-ha-ha!

Jam delapan malam dan teater itu sudah penuh terisi. Saya, Rudi, dan Ridwan duduk di balkon. Ya, balkon. Ini teater tempat pertunjukan drama dan balet digelar, ingat?

Penonton yang semula duduk rapi di bangku-bangku di depan panggung mendadak berlarian ke bibir panggung dan berdesakan. Mereka akan terus berada di posisi seperti itu nantinya hingga konser selesai. Well, ini kan konser metal. Duduk di depan panggung rasanya sangat tidak pantas. Terlebih kalau yang berdiri di panggung adalah King Dave. Sangat tidak pantas!

Lupakan bangku. Ini konser metal, bung!

Jam delapan lebih sedikit dan Megadeth pun mengisi panggung. Tanpa perkenalan, mereka langsung menghantam dengan Hangar 18. Sebagai orang yang baru pertama kali menonton Megadeth, saya jelas sangat antusias. Finally. King Dave. Fuck, yeah!

Berurutan mereka kemudian memainkan Wake Up Dead, In My Darkest Hour, The Threat Is Real, Conquer or Die!, Lying in State, Sweating Bullets, Trust, She-Wolf, Tornado of Souls, Poisonous Shadows, Fatal Illusion, A Tout Le Monde, Dystopia, Symphony of Destruction, Peace Sells, dan Holy Wars… The Punishment Due.

Lagu terakhir, berdasarkan keterangan di Setlist.FM adalah encore. Sejujurnya, saya sulit membedakan mana encore dan mana yang bukan, karena setiap tiga atau empat lagu sekali panggung digelapkan dan personil Megadeth menghilang ke balik layar. Saat konser usai, saya berpikir malah mereka belum memainkan encore. What an idiot!

Penampilan Megadeth malam itu, jangan ditanya. Mereka memainkan musik metal dengan presisi dan energi tingkat tinggi. Setiap lagu menderu dengan kekuatan penuh. Setelah melihat secara langsung bagaimana lagu-lagu Megadeth dimainkan, barulah saya sepenuhnya bisa memahami keindahan harmoni. Betapa kekerasan, kecepatan, dan ledakan energi bisa demikian anggun dan menyentuh hati. Megadeth malam itu, bagi saya, adalah suguhan metal yang sangat enak untuk dinikmati.

Megadeth waving goodbye

Dave dan Kiko membuat permainan gitar metal terlihat gampang. Sambil berkeliling area panggung, keduanya berganti memainkan lead. Jari tangan mereka bergerak demikian cepat dan membuat saya berpikir: seandainya mau, kedua orang itu bisa jadi copet yang sangat sukses. Tapi tentu saja tidak ada copet yang penghasilannya lebih besar dibanding penulis lagu metal yang sudah menjual jutaan kopi album.

Omong-omong, sneaker birunya Dave bagus banget!

Seratus menit menggelinding begitu cepat. Nyaris tidak terasa. Ketika akhirnya Megadeth melambaikan selamat tinggal dan mengucapkan terima kasih, kuping saya separuh budek. Teater sepertinya bukan lokasi yang tepat untuk menikmati konser metal. Meski kualitas tata suara Megadeth malam itu terbilang sangat ciamik, gelombang distorsi dan gebukan drum yang menghantam tiada henti benar-benar membuat saya kehilangan pendengaran untuk sementara.

“Hah? Apa? Oh, ya!” adalah kalimat yang bisa saya ucapkan saat Rudi dan Ridwan mengajak ke luar ruangan.

Bubaran konser

Baru kali itu saya menonton konser metal sambil duduk. Meski tidak bisa dibilang duduk manis, karena sepanjang konser saya tak henti menganggukkan kepala, menggerakkan kaki seolah sedang bermain drum, dan menggerakkan badan mengikuti ritme musik Megadeth. Not bad. Not bad at all.

Kalau pun ada yang kurang, itu adalah kor penonton menirukan lead guitar atau riff di lagu-lagu legendaris. Dan kepalan tangan di udara. Dan teriakan histeris yang memecah malam. Dan bir dingin. Seingat saya, dari balkon, kor itu hanya terdengar ketika intro lagu Symphony of Destruction dimainkan.

Yah, barangkali saya akan mendapatkan itu semua di Hammersonic, Jakarta, akhir pekan nanti.

Mustaine

“Mustaine”. Demikian buku setebal 400 halaman terbitan “!t Books” tahun 2010 itu diberi judul. Sebuah otobiografi mungil berisi kisah hidup dari gitaris/vokalis/penulis lagu yang sangat bertanggung jawab pada ledakan musik metal di akhir ’80-an, Dave Mustaine. Kisah gelap, saya maksud benar-benar gelap dan mengerikan, yang rasanya hanya masuk akal jika diceritakan sendiri oleh… Setan!

 

Paperback: 400 pages
Publisher: It Books; Reprint edition (August 9, 2011)
Language: English
ISBN-10: 0061714402
ISBN-13: 978-0061714405
Product Dimensions: 9 x 6 x 1.1 inches

 

Menjadi pengedar ganja di usia belasan tahun, tak perlu waktu lama bagi dirinya untuk kemudian tenggelam dalam seks bebas, konsumsi alkohol berlebihan, hingga kecanduan heroin dan kokain.

Sepanjang hidupnya (ya, Mustaine masih hidup, aktif menulis lagu, dan tetap bermain di Megadeth hingga hari ini, jika kamu penasaran), dia sudah 17 kali masuk rehab. Bukan angka yang sedikit, untuk ukuran orang yang masih bernafas dan berfungsi di level tertinggi musik metal dunia.

Dua ratus halaman pertama buku ini terasa seperti perjalanan wisata ke neraka.

Bagi saya, yang idolanya adalah Pearl Jam, band kecil dari Seattle yang notabene tidak gemar narkoba dan cenderung anti groupies, membaca “jeroan” Megadeth dalam buku ini benar-benar memberi pamahaman baru tentang musik metal dan segala atribut sampingannya.

“Whoa!”, “Shit!”, atau “Dear, God!” adalah reaksi yang muncul setiap dua atau tiga halaman sekali, hahaha!

Namun, tentu saja, Mustaine adalah gitaris dan penulis lagu yang luar biasa hebat. Dan dia, tak diragukan lagi, adalah musisi sejati. Jenis yang paling mengerikan dari semuanya: musisi yang tak henti berkembang menjadi semakin baik dan tak segan memecat rekan satu band jika kemampuan bermusiknya dirasakan tidak lagi mampu mengikuti perkembangan dirinya. Dan Mustaine, sungguh tidak memiliki rasa sungkan untuk melakukannya!

Hingga detik ini, sudah 18 orang yang pernah menjadi personil resmi Megadeth, dengan Mustaine sebagai satu-satunya anggota asli yang tak tergantikan. Jika kamu adalah musisi metal yang super berbakat, barangkali Megadeth adalah tempat terakhir yang akan kamu datangi untuk mencari pekerjaan bergaji tinggi.

Awal karir musiknya, keikutsertaannya membangun Metallica, dendam kesumatnya pada Lars Ulrich, terbentuknya Megadeth, kesuksesan internasional yang diraihnya, hingga kecanduan narkoba dan kekacauan hidup yang kemudian melanda seiring kesuksesan tersebut, semua diceritakan dengan lugas. Tanpa polesan. Lurus dan keras, seperti sayatan gitarnya.

Terlalu lurus untuk ukuran orang awam seperti saya, sehingga saat membacanya saya mual dan kepala terasa sedikit pusing.

Bagaimanapun, seratus halaman terakhir buku ini, menurut saya, adalah perjalanan yang penuh inspirasi. Sebuah fase hidup yang mungkin tidak semua orang bisa rasakan. Sebuah periode dimana Mustaine lama hancur berantakan, dan kemudian, layaknya burung Phoenix, Mustaine baru muncul dari abu kehancuran itu.

Ini adalah potongan cerita hidupnya yang bisa disederhanakan menjadi dua hal saja: cinta dan Tuhan.

Ya, betapapun miripnya Mustaine dengan sosok iblis, ternyata dia masih bisa diselamatkan (lebih tepatnya, menyelamatkan dirinya sendiri) dari kehancuran total. Adalah istrinya yang cantik dan keyakinannya pada Tuhan yang akhirnya menjadi cahaya pemandu, menuntunnya keluar dari lorong gelap kehidupan yang puluhan tahun telah memerangkap jiwanya.

Alkohol, heroin, kokain, dan seks bebas, beberapa tahun belakangan ini sudah tak lagi menjadi keseharian baginya. Semua sudah menjadi masa lalu. Sampai kapan? Hanya dia, dan barangkali Tuhan, yang tahu.

Mustaine, dengan Megadeth-nya, masih terdengar mengerikan dan 100% metal. Namun hatinya, jika semua yang tertuang dalam otobiografi ini benar-benar jujur, sepertinya sudah penuh dengan cahaya kehidupan. Tak ada lagi dendam disana. Tak ada lagi kegelapan.

Lalu, bagaimana dengan Lars Ulrich?

“Semua dendam itu tak lagi penting. Aku rasa aku sudah memahami peranan Lars dalam hidupku. Yang terpenting adalah menghargai apa yang sudah kuraih. Bukan menyesali segala yang seharusnya bisa kuraih, namun kenyataannya tidak,” demikian Mustaine berujar, menutup babak gelap dari empat puluh tahun pertama hidupnya…