Tag Archives: navicula

Cupumanik dan Navicula jadi Saksi KPK

Robi dan Che di Festival Suara Anti-Korupsi (foto oleh @ayyiex)

Saya kurang bisa menikmati orasi, baik yang diumbar di mimbar gereja, melalui toa masjid, dari atas mobil bak terbuka saat demonstrasi buruh, atau di panggung musik rock. Namun, setelah 42 kali menonton aksi panggung Robi bersama Navicula, saya harus menerima bahwa di dalam darahnya memang mengalir deras darah orator. Dan untungnya, orasi yang jadi pengantar lagu Busur Hujan dalam Festival Suara Anti-Korupsi gelaran KPK di Plaza Festival, Kuningan semalam (30/11) sejauh ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah dia sampaikan.

Malam itu adalah kali kedua saya menyaksikan Navicula dengan formasi baru, setelah Gembul berhenti dan Made pergi tak mungkin kembali. Kalau boleh beropini, formasi teranyar ini super kick ass. Navicula jadi lebih muda. Keras, penuh tenaga seperti biasa. Dan terasa lebih fun.

Bukan hanya formasi baru itu saja yang semalam membuat sebagian besar orang – tidak termasuk saya, karena dua hari sebelumnya Dankie (dengan sedikit congkak) sudah kasih bocoran – tercengang. Bintang tamu yang ditampilkan Navicula sesungguhnya boleh dibilang di luar kewajaran. Di posisi gitar, menggantikan Dankie yang pada momen bersamaan sedang konser bersama Dialog Dini Hari di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, adalah Endah Widiastuti!

Ya. Endah yang di Endah N’ Rhesa (EAR). Masa kamu gak tahu? Ckckck…

Endah di Festival Suara Anti-Korupsi (foto oleh @wowadit)

Kalau saja saya tidak sedang menulis buku perjalanan karier indie EAR (seperti biasa, bersama Tim Edraflo), barangkali saya akan terbelalak kaget. Betapa mumpuni permainan gitar Endah malam itu. Dengan santai dia menyikat semua part yang seharusnya dimainkan Dankie. Mulai dari nomor anyar seperti Di Depan Layar, Biarlah Malaikat, dan Nusa Khatulistiwa, sampai lagu-lagu tersakti Navicula yang sudah jadi milik sejuta umatnya macam Aku Bukan Mesin, Mafia Hukum, Busur Hujan, dan Metropolutan. Endah yang biasanya tampil “lembut” bersama EAR malam itu mendadak sangar. Kalau kata generasi alay sekarang, wagelaseh!

Menu penutup malam itu – yang saya tunggu sampai kaki pegal – adalah Cupumanik. Sudah lama sekali rasanya saya tidak menonton konser mereka. Bukan hanya karena belakangan ini saya sibuk dengan urusan kantor, melainkan juga sepertinya jadwal konser mereka di Jakarta memang kini terbilang agak jarang.

Tampil dengan formasi penuh, Cupumanik menutup malam dengan sedikit masalah. Gitar Eski beberapa kali mengalami gangguan teknis.

Ketika akhirnya Cupumanik membawakan Syair Manunggal, saya mendadak seperti diingatkan kembali kenapa dulu bisa jatuh cinta pada mereka. Lagu yang manis sekaligus terdengar sendu, megah dan penuh tenaga di bagian coda, dengan untaian lirik yang merupakan renungan mendalam tentang kehidupan. Itulah Cupumanik yang saya suka.

Robi tampil sebagai bintang tamu. Dia membawakan lagu yang merupakan single perdana Cupumanik di jagat musik Indonesia: Maharencana.

Sejujurnya, saya tidak tahu apakah kampanye anti-korupsi melalui musik yang sudah digelar KPK selama beberapa tahun terakhir membuahkan hasil seperti yang mereka harapkan. Korupsi, dalam pemahaman saya, adalah perkara hati yang serakah. Obatnya, barangkali, adalah menumbuhkan kesadaran baru dalam jiwa orang-orang Indonesia, bahwa esensi hidup adalah soal memberi. Bukan mengambil.

Apakah kesadaran seperti itu bisa ditumbuhkan melalui musik? Entahlah.

Bagaimana pun, saya tentu berterima kasih pada KPK yang sudah menghadirkan dua entitas grunge kesukaan saya. Biarlah dunia semakin gila dan semua orang berlomba mengumpulkan harta. Cukuplah bagi saya hidup untuk menikmati musik yang utuh seperti yang malam itu disuguhkan Cupumanik dan Navicula.

Single Baru Navicula: Ibu (2018)

Ibu – Apple Music

Tak akan ada Ibu Bumi kedua… Bila Ibu Bumi telah tiada… Kujaga dia, kujaga selamanya… Kar’na kutahu dia pun jaga kita… Ini jelas khas Navicula. Keras, harmonis, penuh tenaga, dan sarat cinta.

Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, Navicula merilis single teranyar yang mereka beri judul Ibu. Bukan tentang ibunya Robi atau Dankie. Bukan juga tentang ibumu, melainkan ibu kita semua. Bumi.

Single ini adalah bagian dari album yang kabarnya sudah rampung direkam beberapa waktu sebelum Made meninggal dalam kecelakan mobil tunggal di daerah Sukawati sepulang dari konser di Ubud, Bali. Rest in peace, Brother.

Chorus lagu ini benar-benar enak dinyanyikan bersama. Sangat melodius tanpa sedikit pun kehilangan tenaganya. Saya bisa membayangkan serunya berteriak sampai suara parau, bersatu dalam keringat bersama penonton yang berdesakan di bibir panggung, sementara Robi memberi aba-aba dengan kibasan rambut gondrongnya. Akan terasa nyaris seperti ritual di rumah-rumah ibadah. Bedanya, tidak ada doktrin “us vs. them”. Yang ada hanyalah mantra “we are one” dan ajakan untuk mencintai Ibu Bumi.

Cara Robi bernyanyi sungguh aduhai. Nada-nada yang dipilihnya anggun menyatu dengan liku gitar Dankie yang kadang beriak, kadang menggelora, dan dalam beberapa kesempatan menggulung. Meraung.

Siapa pun yang bertanggung jawab meracik lagu ini boleh berpuas diri. Semua energi liar itu bisa dibuat menyatu dalam sebuah lagu keras yang demikian harmonis sampai nyaris terdengar manis. You did one hell of a great job, Sir!

Navicula Kali Ketiga Puluh Sembilan

Konser Navicula di Noname Bar
Konser Navicula di Noname Bar

Noname Bar di Poins Square, Lebak Bulus, semalam (1/11) full house. Ratusan fans Navicula memadati lokasi gig, dari pintu masuk hingga ke bibir panggung. Sebagian – yang sepertinya semua berprofesi sebagai fotografer lepas – malah duduk di area panggung.

Siapa pun yang hadir malam itu, terlebih kalau memang doyan Navicula, pasti bersyukur. Gembira luar biasa. Bagaimana tidak? Robi memenuhi janjinya di social media untuk menyuguhkan long set. Malam itu, long set Navicula terdiri dari 20 lagu. Beberapa adalah lagu langka yang jarang mereka bawakan lagi dan beberapa dibawakan bersama bintang tamu yang tidak terduga.

Amar, tentu saja, bisa kita duga. Setelah potong rambut dan kehilangan beberapa kilo berat badan, dia benar-benar terlihat seperti pedagang kain dari India. Setidaknya, itulah opini Robi yang disampaikannya sambil terpingkal di panggung.

Amar Besok Bubar (Menghitung Mundur)
Amar Besok Bubar (Menghitung Mundur)

Meminjam gitar Robi, Amar dengan fasih kemudian jamming bersama Navicula, membawakan salah satu lagu paling sakti mereka, Menghitung Mundur. Robi yang kemudian bernyanyi sambil jalan ke sana ke mari, akhirnya menerjukan diri ke kerumunan penonton. Dia crowd surfing!

Tentu saja penonton menggila. Dan gelas pecah. Sejak lagu ketiga, Like A Motorbike, penonton sudah sinting dan bergantian crowd surfing. Benar, kan? Lagu langka.

Bintang tamu kedua, sungguh tidak terduga. Endah dari folks duo Endah N’ Rhesa. Really? Dan kalian tahu lagu apa yang dipilih Endah untuk dibawakan bersama Navicula? Aku Bukan Mesin! Fuck!

Bermodalkan gitar pinjaman dari Dankie, Endah menyikat bersih Aku Bukan Mesin, dari intro hingga solo guitar. Siapa pun yang hanya mengenalnya dari lagu-lagu folks lembut yang kebanyakan bertema cinta pasti menganga. OMG. Aku Bukan Endah!

Endah (Aku Bukan Mesin)
Endah (Aku Bukan Mesin)

Malam itu, secara berurutan Navicula membawakan Intro (saya tidak tahu judul lagu instrumental ini), Everyone Goes to Heaven, Like A Motorbike, Kali Mati, Orangutan, Love Bomb, Menghitung Mundur (feat Amar Besok Bubar), Busur Hujan, Alive (Pearl Jam), Aku Bukan Mesin (feat Endah), Tomcat, Di Rimba, All Apologies (Nirvana), Spoonman (hanya intro), Mafia Hukum (seharusnya dibawakan bersama Iga Barasuara, tapi batal karena yang bersangkutan sakit), Harimau! Harimau!, Mawar dan Melati, Televishit, Saat Semua Semakin Cepat Bali Berani Berhenti, lagu reggae (saya tidak tahu judulnya, dimainkan Robi untuk menghormati band pembuka yang memang beraliran reggae, Magic Seaweed), dan Metropolutan.

Bagi saya, konser ke-39 Navicula yang saya tonton semalam adalah salah satu yang terbaik. Energi mereka meledak di ruang sempit. Seperti biasa, Navicula bermain layaknya rock band kelas dunia. Tight, super fueled, and fucking kick ass. Menonton mereka, kalau standar performanya seperti itu, rasanya tidak mungkin bosan. 100 kali lagi juga saya masih bersedia. Barangkali saya akan mempertimbangkan untuk pindah ke Bali.

Dankie dua kali ganti gitar. Dan di pengujung Televishit dia ugal-ugalan. Mencabik gitar sembari crowd surfing. Dem!

Sialnya, saya tidak melihat aksinya itu sampai dia diturunkan di bibir panggung, karena saya menikmati raungan gitarnya sambil memejamkam mata. Asap rokok, celakalah kalian semua, memaksa saya kerap memejamkan mata, bahkan mencucinya dengan air mineral di meja.

Di tengah lagu Mawar dan Melati, Made unjuk skill dengan memainkan solo bass. Gembul, jangan ditanya. Dari awal hingga akhir, gebukannya menghantam seperti peluru. Keras dan cepat. Tanpa ampun. Di akhir lagu Metropolutan, yang sekaligus menjadi lagu pamungkas Navicula malam itu, dia menggila. Rusuh!

Sudah lewat tengah malam dan saya ngantuk berat. Mata perih karena asap rokok dan mulut asam akibat menyesap sopi kepala. Itu, kalau kalian mau tahu, adalah minuman alkohol yang diproduksi oleh masyarakat di pulau Pura, Alor. Saatnya pulang. Dan tertidur lelap. Dan mimpi indah. Karena Navicula, sekali lagi, telah menerbangkan saya ke langit melalui suguhan konser rock penuh energinya.