Tag Archives: nirvana

Nirvana vs. Pearl Jam yang Damai Sentosa

Che Cupumanik membawakan "Porch" dan "Alive"
Che Cupumanik membawakan “Porch” dan “Alive”

Sebotol bir dingin dan puluhan lagu sakti milik Nirvana dan Pearl Jam jadi menu utama di RedBox, Wijaya. Malam tadi (Selasa, 24/11), saya mengisi energi di sebuah konser dengan tajuk yang (menurut saya) rada basi, “Nirvana vs. Pearl Jam”. Tak apa. Banyak konser yang judulnya bagus tapi isinya payah. Konser malam tadi sebaliknya. Kick ass!

Bagi saya, konser rock, di panggung raksasa maupun kelas kambing, sejatinya adalah kesempatan untuk kembali mengisi energi. Konser rock membuat saya merasa seperti ikan yang kembali ke samudera. Dalam beberapa kesempatan, kalau saya sedang beruntung, konser-konser itu bahkan bisa transendental.

Telat masuk ke arena gig, saya kebagian separuh suguhan Marigold. Tiga pria berbadan subur itu sukses menghibur. Dengan tutup kepala dan kacamata khas Kurt Cobain, gitaris sekaligus vokalis Marigold menghadirkan nomor-nomor milik Nirvana dengan penuh tenaga. Kegigihan mengopi citra Kurt seperti itulah yang disinggung oleh Wenzrawk (Managing Editor Rollingstone.co.id) dalam kata pengantarnya untuk buku “Rock Memberontak”.

Immortality, cover band khusus Pearl Jam asal Cianjur, jadi menu berikutnya. Saya pernah menonton penampilan mereka di perhelatan “Pearl Jam Nite” di tempat yang sama, sekitar satu tahun yang lalu. Mereka tetap OK dengan pilihan setlist oktan tingginya. Malam itu mereka kembali membuktikan bahwa band keren tidak selalu harus berasal dari ibu kota.

Usai Immortality hadirlah Pogo Zombie. Dimotori Uncal yang lebih saya kenal sebagai fans garis keras Layne Staley, tiga pria dari beragam latar belakang selera musik itu menghantam malam. Sebagian lagu kehilangan momentum, beberapa berakhir penuh pesona. “In Bloom” yang katanya khusus dibawakan untuk saya dan “Breed” yang disuguhkan bersama Amar Besok Bubar adalah dua di antaranya. Kedua lagu itu benar-benar maknyus!

Di sesi Pogo Zombie itulah crowd surfing mulai menggulung dan tidak berhenti hingga malam berganti pagi.

Perfect Ten, dengan segudang musisi tamunya, adalah menu terakhir yang saya nikmati malam itu, meski saya tahu menu pamungkas sesungguhnya adalah Bulldozer yang bakal membawakan lagu-lagu Nirvana. Bahkan seorang pemberontak seperti saya pun tetap harus tunduk pada kebutuhan balita akan sebotol susu dini hari, hihihi…

Ghayoung, yang malam itu menjadi MC bersama Irsya, berkelakar, “Ini baru anak band. Efeknya banyak!” Memang seperti itulah Perfect Ten yang sudah saya kenal selama 6 tahun lamanya. Mereka selalu serius setengah mati kalau sudah urusan Pearl Jam.

Amank OMNI, Amar Besok Bubar, Jon Angels, Nial Bunga, Dendi Mike’s Apartment (dulu saya mengenal dia sebagai Dendi Kunci), Jimmy Pitstop, Tapenk, Olitz Alien Sick, Adi Artificial Sun, Ryo Domara, dan Che Cupumanik adalah beberapa musisi tamu yang malam tadi unjuk gigi (tentu saja itu hanya nama yang saya ingat, karena saya pastikan jumlahnya lebih banyak dari itu!).

Amank menggila dengan “Evenflow”. Joget kejang, geleng-geleng kepala seperti kesetanan, dan orasi suka-suka jadi gayanya. Saya sempat khawatir kepalnya copot saat dia kelojotan di penghujung lagu. Setengah mabuk, Amar Besok Bubar membawakan “Do The Evolution” dengan sangat mantap. Salah satu versi terbaik yang pernah saya saksikan sejauh ini.

Semua membawakan lagu Pearl Jam jatahnya masing-masing dengan sepenuh hati. Namun demikian, justru “I Believe in Miracles” yang dibawakan Perfect Ten bersama Jimmy Pitstoplah yang bikin saya berdiri dari kursi. Gesture tubuh dan caranya bernyanyi, cool. Saya serasa melihat Eddie Vedder muda yang intens dan mencurahkan cintanya pada The Ramones. Suka!

Sudah hampir jam dua belas malam dan saya segera bergegas ke pintu keluar. “Nirvana vs. Pearl Jam” jelas bukan konser terbaik yang pernah saya hadiri. Meski demikian, konser semalam sudah memberi apa yang saya cari. Energi.

Where Did You Sleep Last Night

Dari semua lagu yang ditampilkan Nirvana dalam sesi MTV Unplugged di New York bulan November 1993, “Where Did You Sleep Last Night” adalah yang paling membekas dalam ingatan saya. Bukan hits mereka semacam “Come as You Are” atau “All Apologies”. Bukan.

 

 

Cara Kurt Cobain membawakan lagu ini, terutama di verse penghabisannya, luar biasa mencekam. Jeritannya terasa demikian pedih. Sepi. Menancap hingga ke relung jiwa yang paling gelap.

Sampai hari ini, 19 tahun kemudian, saya terperangkap dalam suasana yang sama setiap kali mendengarkan lagu ini. Tercekat.

Dan kebetulan, setelah sekian lama, hari ini saya iseng-iseng memutar kembali lagu ini.

Benar saya tetap tercekat, namun kali ini saya melakukan sesuatu yang lebih jauh. Saya membuka Wikipedia dan mencari literatur tentang lagu ini.

Lagu ini, berdasarkan apa yang tertulis disana, ternyata adalah sebuah folk asli Amerika yang tidak jelas sejarahnya. Siapa penciptanya, sama sekali tidak diketahui. Versi liriknya pun, tidak bisa disebutkan mana yang asli.

Judith McCulloh, dalam disertasinya tahun 1970 mengungkapkan bahwa “Where Did You Sleep Last Night” sedikitnya punya 160 permutasi (versi)!

Wajar, mengingat lagu ini adalah lagu rakyat yang sudah sangat tua. Bahkan ahli sejarah musik hanya berani memastikan bahwa lagu ini sudah hadir sejak tahun 1870-an. Versi rekaman pertama bertahun 1925. Selebihnya, semua soal opini belaka, tanpa landasan fakta yang bisa dipegang kebenarannya.

Lalu, versi mana yang dibawakan oleh Nirvana dalam sesi akustik legendaris itu? Banyak orang meyakini itu adalah versi Lead Belly tahun 1940-an, yang dikenalkan oleh Mark Lanegan pada Kurt Cobain dalam sebuah sesi rekaman album The Winding Sheet (1990).

Versi manapun itu, yang jelas versi Nirvana, dengan jeritan memilukan Kurt Cobain di penghujung lagu, dipastikan telah menjadi versi yang paling menghantui. Setidaknya, untuk generasi saya…

Grunge is Dead

Andy Wood, dengan proyek Mother Love Bone-nya bersama Stone Gossard dan Jeff Ament yang di kemudian hari akan membentuk Pearl Jam, adalah percikan pertama gelombang Seattle sound yang mulai membesar di akhir ‘80an. Percikan pertama dalam definisi major label tentunya, yang jauh dari definisi ‘orisinil’ ala The Melvins atau Mudhoney yang nantinya jadi kiblat Nirvana dan akhirnya menjadi ‘definisi resmi’ dari grunge.

 


Paperback: 478 pages
Publisher: ECW Press (April 1, 2009)
Language: English
ISBN-10: 1550228773
ISBN-13: 978-1550228779
Product Dimensions: 9.8 x 6.7 x 1 inches

 

Proyek itu kandas di tengah jalan, tentu saja. Karena Andy keburu meninggal akibat gangguan pernafasan yang diduga kuat terkait kebiasaan buruknya mengkonsumsi heroin.

Adalah Soundgarden yang jadi pembuka pintu bagi grunge. Louder Than Love, yang aslinya berjudul Louder Than Shit (beberapa sumber malah menyebutkan Louder Than Fuck), adalah karya pertama mereka dibawah major label, setelah dua album sebelumnya diluncurkan melalui salah satu indie label paling terkenal di dunia, Sub Pop.

Namun secara komersial, Alice in Chains-lah yang jadi raja pertama grunge. Facelift, album pertama mereka, menjadi album pertama dari generasi grunge yang terjual 1 juta kopi!

Kenyataan yang sangat menyakitkan bagi semua perintis grunge, karena sound Alice in Chains tidak mengandung unsur punk sedikitpun, melainkan metal dan hard rock, dua jenis musik yang sebenarnya dibenci oleh The Melvins serta Mudhoney.

Kebencian itu semakin meninggi karena Alice in Chains mengelilingi dirinya dengan cewek-cewek cantik nan seksi, khas band-band aliran metal lainnya! Meski, tentu saja, Layne Staley tidak pernah menyentuh seorang pun dari cewek-cewek itu, mengingat dia luar biasa pemalu dan minat utamanya adalah heroin, bukan tubuh molek para groupies.

Dan kemudian datanglah Nirvana

Smells Like Teen Spirit meledak bahkan sebelum single-nya diluncurkan. Ketika akhirnya Nevermind, album kedua Nirvana yang dirilis dibawah major label Geffen, setelah Sub Pop menjual hak manajemen mereka ke label yang disaat bersamaan sedang menangani Guns n’ Roses ini, lahir ke muka bumi, maka wajah musik rock, juga musik pop, berubah!

Selama dua tahun penuh, Nirvana menghantam dunia seperti badai!

Begitu kerasnya badai bernama Nirvana, sampai-sampai Michael Jackson terlempar dari singgasana penjualan album pop dunia. Nevermind bercokol gagah di sana selama beberapa waktu, dan sukses menjadikan Seattle sebagai kota penting dalam sejarah musik rock dunia.

Hingga kemudian Pearl Jam berkibar dan mengambil alih semuanya…

Ten, album pertama Pearl Jam yang dirilis dalam periode waktu yang sama dengan Nevermind, ternyata adalah album bermesin disel. Penjualannya tidak meledak dalam waktu singkat seperti Nevermind, namun terus berlari kencang dan stabil sepanjang waktu, hingga hari ini.

Pendekatan bisnis yang luar biasa fokus dari Jeff Ament dan Stone Gossard menjadikan Pearl Jam sebagai rock band  dengan prosedur konser yang sangat menakjubkan. Tidak ada omong kosong soal rock star, pesta drugs maupun seks di belakang panggung. Bagi mereka, semua adalah tentang musik dan fans.

Bahkan Mark Arm yang semula menuding mereka sebagai band industrialis yang sama sekali tidak berbau grunge, karena tidak memiliki unsur punk, pun akhirnya mengakui.

“Pada akhirnya, diantara semuanya, Pearl Jam-lah yang paling punk! Merekalah satu-satunya band yang benar-benar berani dan bisa mengatakan: ‘Fuck! Kami tidak mau melakukannya!’ pada major label,” demikian ujarnya.

Ini, tentu saja, merujuk pada keputusan Pearl Jam menolak peluncuran Black sebagai single, sekaligus penolakan terhadap pembuatan video clip-nya, dan perang terhadap monopoli Ticketmaster yang cara berbisnisnya merugikan fans.

Di tahun 1994 dunia menyaksikan betapa Seattle dengan telak mengalahkan Liverpool sebagai pusat semesta musik rock sepanjang masa. Pada tahun itu, 4 band asal Seattle bergantian duduk di singgasana penjualan album dunia: Alice in Chains, Nirvana, Soundgarden, dan Pearl Jam!

Semua begitu indah. Begitu sempurna. Bagi Seattle maupun panggung rock n’ roll dunia…

Sampai kemudian Kurt Cobain ditemukan bunuh diri di rumahnya. Disusul dengan berhentinya mesin suara bernama Soundgarden. Lahirnya poser-poser murahan, gerombolan musisi yang mencontek musik Seattle, yang disebut Eddie Vedder sebagai pseudo-Seattle. Hingga kematian Layne Staley akibat over dosis heroin.

Semua kehilangan menyakitkan itu seolah menjadi lonceng kematian bagi musik Seattle, yang selama separuh dekade telah tanpa tanding menguasai dunia. Ya, grunge sudah mati…

Dan semua cerita ini, semua kehebatan, kepedihan, kejayaan, dan kehancuran musik Seattle, terangkum dengan indah dan menggetarkan hati dalam sebuah buku terbitan 2009 yang berjudul “Grunge is Dead: The Oral History of Seattle Rock Music”. Buku setebal 478 halaman yang disusun oleh jurnalis rock bernama Greg Prato melalui tak kurang dari 130 wawancara dalam rentang waktu 3 tahun.

Dan jika kamu penggemar grunge, maka kamu akan temukan semua nama yang bertanggung jawab terhadap lahirnya grunge di dunia, dalam buku ini. Buang semua majalah dan omong kosong media yang selama ini telah kamu percayai sepenuh hati! Karena di buku ini kamu akan menemui kebenaran tentang grunge, yang tidak kamu ketahui sebelumnya…