Tag Archives: nosstress

Konser #TolakReklamasiBali di RSI

Navicula di Konser #TolakReklamasiBali di RSI
Navicula di Konser #TolakReklamasiBali di RSI

Tidak kurang dari 2.050 orang hadir dalam konser bertajuk #TolakReklamasiBali di Rolling Stone Indonesia, Selasa (30/9) semalam. Bukan sekedar menonton suguhan penuh tenaga dari Navicula, Seringai, dan Superman is Dead, mereka juga datang untuk memberi dukungan pada perjuangan rakyat Bali mempertahankan tanah dan kehidupannya dari rakusnya kuasa uang para pengusaha.

Ya, tagar #TolakReklamasiBali sejatinya adalah perlawanan paling keras terhadap rencana reklamasi Benoa yang dapat dipastikan, berdasarkan kajian ilmiah, menghancurkan alam sekaligus kehidupan dan tatanan sosial masyarakat sekitar.

Info lengkap tentang perjuangan berbendera #TolakReklamasiBali dapat dibaca di www.ForBALI.org

Masuk ke lokasi konser setelah menyumbang Rp.100.000, saya bersama beberapa kawan kemudian berdiri manis sedikit jauh dari bibir panggung. Bukan karena malas, melainkan karena audiens sudah menyemut, bahkan sejak performer pertama tampil.

Saya masih kebagian sebagian setlist Nosstress yang kemudian dilanjutkan oleh Kill The DJ. Setelah sesi penjelasan kampanye dari panitia dan sedikit banyolan segar dari duet Soleh Solihun-Arie Dagienkz, tampillah alasan utama saya hadir malam itu: Navicula!

Tampil tanpa banyak basa-basi, Navicula langsung menghantam dengan nomor keras andalan mereka beberapa tahun belakangan: “Menghitung Mundur”. Dan audiens, yang sepertinya memang sudah mulai bosan menunggu, langsung melumat lagu itu. Beberapa bahkan kelewat menikmati sampai naik ke panggung segala, joget-joget sebentar, sebelum akhirnya stage diving dengan sukses.

“Mafia Hukum” menggelinding, disusul berturut-turut nyaris tanpa jeda oleh “Orangutan”, “Kali Mati”, “Aku Bukan Mesin”, dan nomor pamungkas “Metropolutan”.

Hah? Nomor pamungkas? Cuma 6 laguuu???

Ya, gitu deh. Saya sih bisa maklum. Konser dengan fokus penyebaran kampanye seperti ini, yang pasti diisi banyak sekali musisi, pastilah memaksa setlist menjadi pendek dan kurang memuaskan bagi fans. Tidak mengapa.

Mungkin kesadaran itu jugalah yang menyebabkan sebagian remaja pecinta grunge di bibir panggung habis-habisan menikmati malam dengan berteriak bersama, crowd surfing, hingga stage diving.

Setelah Navicula ada Djenar Maesa Ayu. Selanjutnya Melanie Subono tampil dengan band-nya. Setelah sedikit kekacauan di barisan penonton, Seringai tampil. Selama sesi ini, saya mojok bersama beberapa kawan, membicarakan proyek #BukuGrungeLokal (Lihat Cuplikan Buku dan Lihat Video) dan satu lagi proyek buku yang akan kami garap, yang tak kalah menggetarkan jiwa temanya, hahaha…

Seringai belum selesai, saya memutuskan untuk pulang. Maklum, di rumah ada bayi. Namun betapa kekinya saya ketika di jalan pulang mendapat kiriman foto WhatsApp berisi Iwan Fals sedang memainkan gitarnya. Syit! Ternyata bang Iwan tampil dadakan, menyumbangkan “Bongkar” dan “Hio”. Faaakkk!!!

Dalam perjalanan pulang, saya bertanya, apakah suguhan seperti ini memang tepat untuk meningkatkan pemahaman audiens muda akan pentingnya perjuangan #TolakReklamasiBali?

Sejujurnya, saya rasa tidak terlalu tepat. Meski pulang membawa oleh-oleh brosur, pemahaman saya tentang perjuangan ini tidak mendadak lebih baik dibanding sebelumnya, ketika saya hanya mengamati lalu-lintas informasi via Twitter.

Namun yang jelas, suguhan malam itu berhasil mengumpulkan dana yang cukup lumayan sebagai bahan bakar perjuangan yang dapat dipastikan mati-matian dikerdilkan pemerintah Bali sendiri, bahkan mungkin pemerintah negeri ini. Dan diatas segalanya, suguhan semalam seolah menjadi gong yang bergema sangat kuat, masuk ke dalam nurani kita semua, mengusik kepedulian.

Yah, pada akhirnya, perjuangan memang akan selalu dimenangkan oleh orang-orang yang peduli, bukan oleh yang punya paling banyak uang. Pejuang-pejuang #TolakReklamasiBali, semoga kalian menjadi pemenang!